LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 257


__ADS_3

Happy reading ..


*******************


London, Inggris...


Mobil yang ditumpangi Putra bersama empat orang lainnya, telah berada di sebuah daerah di pinggiran kota London.


“Remember, do not try to make any stupid thing if you still want to make me spare your life ( Ingat, jangan mencoba melakukan hal yang bodoh jika kau masih menginginkan aku untuk mengampuni nyawamu )”


Putra berbicara pada pria yang berada disebelahnya saat ini.


Pria yang merupakan satu dari dua penguntit suruhan untuk memata-matai Hiz berdasarkan perintah seseorang yang bernama Gaines, yang tertangkap oleh Putra dan kawanannya.


“Y-es, Sir (I-ya, Tuan) ..” jawab si pria yang disuruh Putra untuk menyetir mobil yang ditumpangi oleh pria itu dan dua saudara lelakinya yang duduk mengapit rekan si pria penguntit yang masih belum sadar dari pingsannya, setelah Putra memotong lidahnya tanpa ampun.


“Good ..”


Putra menyungging miring.


Lalu pria penguntit yang ditugaskan Putra untuk menyetir mobil dibawah tekanan berikut ancaman itu kembali melajukan mobil yang ia kemudikan secara perlahan, untuk mendekat pada sebuah bangunan yang tampak tersusun oleh batu bata.


Namun sebelumnya, Richard sudah menghampiri mobil yang ditumpangi Putra dengan Damian dan Garret yang juga ada di dalamnya, selain dua orang penguntit Hiz tersebut. Richard baru saja kembali setelah memastikan rekan-rekannya sudah dalam posisi saat tiga Tuan mereka yang berada dalam satu mobil itu telah beraksi.


**


Mobil yang ditumpangi telah berada di pintu masuk bangunan yang terbangun dari susunan batu bata yang nampak sudah berusia puluhan tahun. Kusam, namun masih nampak kokoh, selain gelap disekelilingnya.


Cahaya yang ada hanya dari dalam bangunan tersebut. Itupun bagian dalam yang terlihat dari beberapa jendela yang ada tersusun pada dinding luarnya, selain cahaya dari nyala api yang ada di dalam sebuah tong.


“Wag, what’s wrong?! ( ada apa?! ) ..”seorang pria yang memegang senjata datang mendekat pada mobil yang ditumpangi oleh Putra, Damian dan Garret. Pria itu menatap rekannya yang ia panggil Wag dengan tatapan heran, karena memperhatikan juga pada Putra yang nampak asing.


Mobil yang dikemudikan oleh salah satu penguntit Hiz, dimana memang itu adalah perintah Putra padanya, masuk dengan mudah karena mobil yang dikemudikan oleh pria yang dipanggil Wag oleh salah seorang pria lainnya yang berada di pintu gerbang bangunan itu, adalah mobil yang Wag dan rekannya gunakan.


Yang mana dikenali oleh pria yang menegur Wag, serta beberapa pria bersenjata lain, sehingga tidak kecurigaan apapun saat mobil tersebut mendekat pada bangunan dan masuk begitu saja hingga ke pelataran parkirnya. “Big trouble! ( Masalah besar! )”


Wag berseru pada pria yang disinyalir adalah rekannya itu.


“Who is he? ( Siapa dia? )..”


Pria yang sedari tadi berbicara pada Wag itu menanyakan soal Putra yang ia lihat di kursi penumpang depan. Pria itu belum memperhatikan kursi penumpang depan.


“He’s Mister Gaines man ( Dia orangnya Tuan Gaines )..” jawab Wag sesuai seperti perintah Putra untuk menjawab seperti itu saat telah sampai ke ‘sarang’ suatu organisasi kriminal yang menaungi pria bernama Wag itu dan satu rekannya yang telah mendapat eksekusi dari Putra dan masih tak sadarkan diri.


“New guy ( Orang baru? )” tanya rekan Wag yang wajahnya masih memindai wajah Putra.


“Yes!”


Wag menyahut cepat.


“Mister Gaines just left and he didn’t say anything if he sent a new man? ( Tuan Gaines baru saja dari sini dan dia tidak mengatakan apapun soal orang baru? )”


Rekan Wag berbicara lagi.


“And th ( Dan me )—“


“No time to explain! Regan it’s hurting very bad! ( Tidak ada waktu untuk menjelaskan! Regan terluka parah! )”


Wag langsung memotong dan berbicara seolah panik pada rekannya itu, hingga membuat dua rekannya yang lain-yang juga berada di pelataran depan bangunan batu bata tersebut mendekat.


“What happened to him?! ( Apa yang terjadi padanya?! )” tanya rekan Wag dengan panik, dan dua lainnya juga nampak panik melihat rekannya yang telah dipapah Garret keluar dari mobil itu terlihat tak berdaya dan tak sadarkan diri.


Tiga orang rekan Wag itu saling tatap setelah meraih rekan mereka yang bernama Regan itu dari Garret, dan mengernyit bingung, karena tubuh rekannya itu kaku.


“Is he dead? ( Apa dia meninggal? )..” tanya rekan Wag soal Regan.

__ADS_1


“No, he’s get shocked because his tongue were bleeding cause it’s was cut! ( Tidak, dia mengalami syok karena mengeluarkan banyak darah pada lidahnya yang dipotong! )”


“WHAT?!..” Tiga orang rekan Wag itu memekik bersamaan dengan wajah yang nampak ngeri.


“Better bring him in and give him some treat! ( Sebaiknya bawa dia masuk dan obati dia! )”


Wag berseru dan tiga orang rekannya itu mengiyakan, lalu dua orang segera memapah Regan dan satu lagi berjalan cepat dibelakang dua orang yang memapah pria bernama Regan tersebut. “Boss is still here. You should go and report to him now! ( Tuan Gaines ada disini bersama Bos. Kau sebaiknya segera menghadap dan memberi laporan pada mereka sekarang )”


Satu rekan Wag yang berjalan di depan Wag itu berbicara pada pria tersebut, dan Wag dengan cepat mengiyakan.


Yang mana tanpa rekan-rekan Wag itu sadari, Putra, Damian dan Garret sudah saling mengkode mata.


Lalu ketiganya saling mengangguk.


Wag menghentikan langkahnya dan langsung menoleh pada Putra, ketiga tiga rekannya dengan dua yang memapah rekan mereka yang bernama Regan itu telah menaiki tangga kecil pada bagian depan bangunan.


Putra paham maksud Wag tanpa pria itu bicara. Sesuai perjanjian, tugas Wag hanya sampai mengantar Putra dan kawanan ke ‘sarang’ organisasinya lalu setelahnya Putra akan membiarkannya pergi. Putra pun menggerakkan kepalanya yang berarti Putra memperbolehkan Wag untuk pergi dan kabur.


“Hei W—“


Sreett.


Rekan Wag yang berada didepan pria itu menyadari saat Wag hendak melangkah menjauh.


Namun sebelum pria itu selesai dengan kalimatnya, Putra sudah lebih dulu menyayat dalam batang leher orang tersebut, lalu Damian dan Garret juga sudah melakukan hal yang sama pada dua orang yang lengah karena memapah rekan mereka yang bernama Regan tersebut.


Disaat yang sama, Richard empat orang rekannya sudah masuk ke pelataran dengan cepat bersama Devoss dan memposisikan diri di belakang Putra, Damian dan Garret yang sudah hendak masuk ke area dalam bangunan tersebut.


karena memang Richard, Devoss dan empat orang lainnya telah juga bersiap untuk segera bergerak setelah melihat gelagat Putra dan kedua saudara lelakinya tersebut.


Dimana posisi mereka memang berada dalam jarak yang dekat dengan Putra, Damian, serta Garret. Selain dalam jarak aman, untuk mengantisipasi jika ada hal yang berada diluar dugaan.


Namun setelah Putra, Damian dan Garret menghabisi tiga orang tadi dengan cepat, tidak ada yang nampak keluar dari dalam bangunan bata tersebut.


Mungkin tidak ada kecurigaan dari dalam, mengingat Putra, Damian dan Garret menghabisi tiga orang yang tadinya berjaga di pelataran depan bangunan tersebut dengan cepat dan cukup sunyi.


“How about him? ( Bagaimana dengan dia? )” tanya Damian pada Putra.


“Let him enjoy his ‘sleep’ here ( Biarkan dia menikmati ‘tidurnya’ disini )” jawab Putra.


Damian mengangguk, lalu menyingkirkan tubuh pria bernama Regan yang sudah tersungkur saat kedua rekannya yang membantu memapah pria itu dicengkram dan dihabisi dengan cepat oleh Damian dan Garret yang pada akhirnya, masing-masing memutuskan untuk juga membawa sebilah pisau sebagaimana Putra.


Yang ternyata memang berguna untuk membantai dengan cepat dan tanpa suara.


Putra dan mereka yang bersamanya saat ini saling lempar tatap, kemudian juga saling menganggukkan kepala saat telah bersiap untuk masuk ke area dalam bangunan.


Setelah juga tubuh tiga orang yang telah dihabisi nyawanya disingkirkan dari jalan mereka.


Stan dan Jules kemudian berpencar ke sisi yang berbeda dari tempat Putra dan lainnya berada.


Setelah keduanya membaca gelagat Putra dan tujuh orang lainnya bersiap untuk masuk.


*


“Let us ,Sir ( Biar kami saja, Tuan )..”


Richard berucap pelan dan cepat, sambil ia melesat ke depan Putra yang sudah hendak membuka pintu utama bangunan di hadapan mereka itu.


Putra pun mengangguk cepat dan samar. Dan Richard segera mengkode satu rekannya untuk segera melesat ke satu sisi pintu lainnya.


Richard dan rekannya sudah berdiri tegak di hadapan pintu dengan tangan yang sudah siap pada senjata serbu yang telah Richard dan rekannya genggam erat dengan kedua tangan mereka.


Richard menoleh pada Putra, saat ia dan rekannya telah siap untuk masuk ke area dalam bangunan tersebut.


Putra mengangguk sekali lagi, dengan dua buah senjata yang kini ia pegang di kedua tangannya, menggantikan pisau yang telah Putra masukkan lagi ke tempatnya.

__ADS_1


Dan didetik berikutnya ...


BRAG!!!.


Pintu yang ditendang dengan keras oleh Richard itu langsung terbuka lebar, setelah rekannya memastikan jika pintu dihadapan mereka itu tidak terkunci walau secara kasat mata.


Dan didetik yang sama pula, keterkejutan menghampiri mereka yang tadinya nampak sedang bersantai di area dalam bangunan bata yang baru saja dimasuki oleh Richard bersama lainnya, termasuk Putra dan para saudara lelakinya.


Richard dan satu rekan yang bersamanya di bagian depan, langsung membagi diri ke sisi kiri dan kanan mereka, dimana Putra yang berdiri di belakangnya bersama Damian langsung juga melesat cepat ke dalam bagian bangunan yang mereka masuki,  dengan sudah mengacungkan senjata mereka sekaligus memuntahkan isinya.


Putra dan enam orang yang bersamanya, dengan sigap membagi diri untuk menembaki setiap orang yang mereka lihat di dalam bangunan tersebut tanpa lagi pandang bulu.


Tujuh orang tersebut terus melepas tembakan, tanpa memberikan kesempatan bagi musuhnya untuk mengambil senjata mereka dan melakukan perlawanan balik.


“We’ll go to the back side! ( Kami akan ke bagian belakang! )”


Richard berseru sekaligus bergerak dengan cepat bersama dua rekannya ke arah belakang lantai satu bangunan tersebut, dengan kedua tangannya yang tetap menggengam kuat senjata serbu nya, serta satu tangan dengan jari telunjuk yang siaga pada pelatuknya.


Sementara Putra, Damian, Garret dan Devoss masih menembak ke beberapa sisi, dimana orang-orang yang disinyalir adalah anggota suatu organisasi kriminal yang ‘sarangnya’ sedang diserbu oleh Putra dan kawanannya ini masih bermunculan dari beberapa titik bangunan.


Keadaan pun belum berubah.


Suara desingan senjata masih mewarnai bangunan bata tersebut.


“Open up your eyes bigger and make sure you’re not running out of bullets! ( Buka lebih lebar mata kalian dan pastikan tidak kehabisan peluru! ) ---“


Putra berseru.


“More from upstair! ( Banyak lagi dari atas! )”


Putra kembali berseru pada Damian, Garret dan Devoss.


Dimana ketiga orang tersebut dengan spontan melirik ke arah tangga menyambung yang nampak hanya ada pada satu sudut saja.


“I think this home of all criminals in England ( Aku rasa ini adalah rumah para kriminal di Inggris )”


Garret berkelakar dengan nada setengah sinis.


“Seems so ( Sepertinya begitu )” Devoss menimpali.


“Tired ( Lelah ), huh?” kekeh Putra sambil mengisi kembali kamar peluru pada pistol revolvernya.


Lalu Putra kembali mengarahkan dua pistolnya ke beberapa sisi, dimana banyak lagi orang-orang yang merupakan anggota organisasi kriminal dalam sarang tersebut gencar bermunculan dengan memberikan tembakan balasan pada Putra dan kawanannya.


Beruntung ada beberapa anak buah Putra yang sudah berada dalam posisi di atas mereka, jadi orang-orang dari organisasi kriminal tersebut yang baru berdatangan dapat mereka robohkan dengan peluru dari senjata mereka.


Namun begitu, para anggota organisasi kriminal dalam sarang mereka ini seolah tiada habisnya berdatangan dari lantai atas bangunan bata yang kiranya enam tingkat itu. Sehingga Putra dan kawanannya harus lebih awas dengan mata sekaligus cekatan dengan tangan mereka untuk terus memberikan perlawanan dengan peluru.


“JULES THROW ME TOMMY! ( JULES LEMPARKAN TOMMY PADAKU! )” Putra berseru kencang pada Jules yang berada pada satu bagian jendela yang berhubungan dengan tangga bagian luar, yang merupakan sebuah balkon kecil dengan tangga yang akan terbentang saat di tarik.


“Here Sir ( Ini Tuan! )” Jules langsung melemparkan pada Putra yang sudah ada di dekat sudut bawah tempat Jules berada - apa yang pria itu minta padanya barusan.


Putra langsung menangkap dengan sigap apa yang dilemparkan Jules padanya.


Sebuah senapan sub mesin Thompson atau yang lebih dikenal sebagai ‘Tommy Gun’ telah berada di tangan Putra saat ini, setelah dua pistol Putra ia masukkan ke dua saku mantel tebalnya disaat yang sama ia meminta senapan tersebut pada Jules yang kini sedang sibuk juga di luar, karena suara desingan senjata juga kian gencar terdengar dari luar.


“COVER ME! ( LINDUNGI AKU! )”


Putra berseru kencang dengan sudah menyiagakan dirinya menggenggam sebuah senapan submesin berpeluru penuh di tangannya.


Dan Damian, Garret serta Devoss pun langsung saling lempar tatap saat Putra telah keluar dari balik pilar tempatnya menamengi diri dan melangkah ke bagian tengah lantai bangunan tempat mereka berada saat ini untuk lebih dekat menghadapi para anggota suatu organisasi yang masih terus berdatangan dari lantai atas tersebut.


“***!* ( Sial! )Putra!”


***

__ADS_1


To be continue ...


Terima kasih untuk kalian yang masih setia.


__ADS_2