
Happy reading..
“Putra ..” Sapa Gadis.
“Sudah selesai bekerja?”
“Anthony, mana?”
“Dia di rumah. Sudah kuantar tadi”
“Lalu kamu .. sedang apa disini?”
“Menjemputmu”
“A-pa?! Menjemput aku???..”
“Hu’um..”
“Ta-pi..”
“Sudah ada janji dengan orang lain?”
“Yaa.. tidak sih”
“Ya sudah kalau begitu. Mari”
“Eum ..”
“Kenapa mau menolak?”
“Bu ..”
“Kamu tahu kalau aku ..”
“Tidak menerima penolakan!”
Gadis langsung menyambar sebelum Putra sempat menyelesaikan ucapannya.
“Aku sudah tahu apa kelanjutannya”
“Hu’um”
“Aku mau mengambil tasku terlebih dahulu”
Putra pun mengangguk dan menyunggingkan senyuman tipis saat Gadis berlalu.
“Eum, Putra....” Panggil Gadis dan Putra langsung menyahut.
“Ada apa?”
“Aku masih harus merapihkan mejaku. Takutnya kamu terlalu lama menunggu nanti, mungkin kamu bisa menunggu di dalam”
“Apa akan lama sekali?”
“Tidak sih”
“Kalau begitu aku menunggu di sini saja”
“Ya sudah” Gadis mengangguk lalu melanjutkan untuk berjalan masuk ke ruang khusus perawat di depannya.
******
Senang.
Yang Putra rasa saat ini.
Tadinya Putra pikir perawat kesayangannya Anthony itu akan menolak saat ia katakan kalau kedatangannya adalah untuk menjemput Gadis dan mengantarkannya pulang.
Putra juga sudah membayangkan akan kembali berdebat kecil dengan Gadis dan dia harus mempersiapkan kata – kata untuk dapat memojokkan Gadis hingga perawat cantik itu tidak punya pilihan andai dia tidak mau diantar Putra pulang.
**
“Putra????”
Putra yang sedang berdiri menatap taman didepannya sembari memasukkan kedua tangan dalam saku celananya itu spontan menoleh saat mendengar suara seorang wanita namun bukan Gadis yang memanggil namanya.
“Oh. Doctor Ilse” Ucap Putra dan wanita berpakaian Dokter yang disebut namanya oleh Putra itu tersenyum dengan manisnya.
“How are you ( Apa kabarmu ), Putra?”
“I am good ( Aku baik ) Doctor Ilse”
“Please, don’t be such that formal to me ( Tolong, jangan terlalu formal padaku )”
“I just try to be polite ( Aku hanya mencoba untuk sopan )”
“But we known each other ( Tetapi kita mengenal satu sama lain )”
Putra hanya menarik tipis satu sudut bibirnya.
Lalu Ilse nampak sedikit celingak – celinguk.
“By the way, where is Anthony? .. ( Ngomong – ngomong, dimana Anthony? ) ..”
“He.. ( Dia ) ..”
“I miss him however! .. ( Aku merindukannya bagaimanapun juga ) ..” Sambar Ilse. Lalu mata Ilse mengarah ke ruangan khusus perawat. “Is he inside? ( Apa dia di dalam? ) with that nurse? ( bersama perawat itu? )”
“No ( Tidak )”
“Oh ya?”
“Hem” Sahut Putra sedikit malas – malasan dan ia melirik arlojinya.
“Then, what are you doing here? ( Lalu, kamu sedang apa disini? )”
“For a thing ( Untuk melakukan sesuatu )”
“May I know what is that?. Maybe I can help ( Boleh aku tahu apa itu?. Mungkin aku dapat membantu )”
__ADS_1
Putra kembali hanya menarik tipis satu sudut bibirnya.
“Thank you, but I think that I don’t need your help ( Terima kasih, tapi aku pikir aku tidak membutuhkan bantuanmu )”
“Putra..... Can I ask your time?..... ( Bisakah aku meminta waktumu ) .....”
‘Hish! What take her so long??? ( Hish! Apa yang membuatnya begitu lama )???’
Putra mulai tak sabaran.
Pasalnya Gadis tak muncul – muncul dari dalam ruang khusus perawat dan Putra sudah merasa semakin malas untuk menanggapi Dokter Ilse yang mengajaknya mengobrol.
“Putra.....”
“Hem?”
“You haven’t answer my question ( kamu belum menjawab pertanyaanku )”
“And you asked me about? ( Dan kau bertanya padaku tentang? )”
“You seem not focus to me? ( Kamu sepertinya tidak fokus padaku? )”
“Should I? ( Haruskah aku fokus padamu? )”
“Putra.....”
Meski ucapan Putra sebelumnya terdengar sedikit sarkastik di telinga Dokter Ilse, namun Dokter wanita yang muda dan cantik, meski tak secantik Gadis di mata Putra itu tetap menunjukkan sikap ramah berikut senyum manisnya pada Putra.
“I really sorry for the way I behave to Anthony before ... ( Aku mohon maaf atas sikapku pada Anthony sebelumnya ... )” Terang Dokter Ilse. Sementara Putra lagi – lagi tidak memperhatikannya.
‘Tsk!’
“I just... worried about Anthony if he get closed to someone that... he just know without knowing the background of that person ... ( Aku hanya ... khawatir tentang Anthony jika dia dekat dengan seseorang yang ... baru saja dia kenal tanpa tahu latar belakang orang tersebut ... )”
“Gadis?” Sambar Putra. “Is she, that what you mean? ( Dia, yang kau maksud? )”
“Yes”
“Look Doctor Ilse, I know my Boy very well. And when he likes someone and he feel comfortable with that person, means there is no such thing that I have to worry about. No matter what the background of the person is”
“( Begini Dokter Ilse, aku paham betul tentang anak lelakiku. Dan saat dia menyukai seseorang dan merasa nyaman bersama orang tersebut, itu berarti tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Tidak perduli apapun latar belakang orang tersebut )”
“Ya but... ( tetapi ) ...”
“Please excuse me ( Maaf aku permisi )” Potong Putra pada Dokter yang kembali hendak bicara lagi.
“Putra...” Dokter Ilse menahan tangan Putra yang hendak pergi dari hadapannya.
“Behave ( Jaga sikap ) , Doctor Ilse...”
“You need to listen to me after I finish talking ( Kamu setidaknya dengarkan aku bicara hingga selesai dulu )”
“And I don’t have any responsibility to listen to you ( Dan aku tidak memiliki kewajiban untuk mendengarkanmu ) ... If I don’t want to ( Jika aku tidak mau )”
Putra memberikan ketegasan lewat kata – katanya, meski datar saja nada bicaranya pada Dokter Ilse.
Putra melirik tangan Ilse di lengannya sembari memberikan pandangan menuntut pada Dokter wanita tersebut untuk menjauhkan tangannya dari tangan Putra. Dokter Ilse pun dengan berat melepaskan cekalan pelannya di lengan Putra.
“Next time, don’t ever impudently touch me without my permission ( Lain kali, jangan lancang menyentuhku tanpa seijinku )”
Putra pun bergegas pergi dari hadapan Ilse menuju ruang khusus perawat untuk menyusul Gadis yang tidak kunjung muncul dari dalam sana.
***
Dengan sedikit kesal Putra melangkahkan kakinya menuju ruangan khusus perawat untuk menyusul Gadis. ‘Is she fled away? ( Apa dia melarikan diri? )’.
Putra membatin.
‘I’m going to give her a lesson if she did that ( Aku akan memberinya pelajaran jika dia melakukan itu )’
***
Langkah Putra serta merta terhenti sebelum ia benar – benar berhadapan kembali dengan Gadis saat ia mendapati pemandangan yang semakin menambah kekesalannya.
“Apa kau lupa kalau aku sedang menunggumu? Gadis ....?????!!! ....”
Putra menatap tajam pada Gadis yang nampak masih duduk di manis dibelakang meja dan seorang Dokter pria yang seusia dengan dirinya itu berdiri disamping Gadis dengan sedikit merunduk, dimana satu tangannya berada di kepala sandaran kursi yang diduduki Gadis, dan satu tangannya sedang menunjuk pada satu buku yang terbuka diatas meja di bawah tangan Gadis.
Suara Putra yang terdengar ketus dan sedikit bernada tinggi itu membuat beberapa orang yang berada di ruang khusus perawat tersebut sontak menoleh ke sumber suara.
“Iy – ya maaf. Ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan Putra”
“Masih belum selesai? Masih lama?”
“Tidak, ini sudah hampir selesai”
“Kalau begitu segerakan lah untuk menyelesaikannya” Ucap Putra.
Gadis mengangguk sembari mengigit bibir bawahnya sendiri.
Sementara itu Dokter Pria yang tadi berada sangat dekat dengan Gadis sudah menegakkan tubuhnya dan memandangi Putra yang juga sedang memandanginya.
“Apa kamu akan pulang bersamanya Gadis?”
“Ya!”
Putra yang langsung menjawab tanpa memalingkan pandangannya dari Dokter pria tersebut.
“Saya bertanya pada Gadis Tuan”
“Jawabannya akan sama saja” Timpal Putra.
“Kalau begitu, apa anda memaksanya?”
“Maksud?”
“Karena asumsi saya, anda sepertinya memaksa Gadis untuk selalu bersama anda?”
“Aku rasa itu bukan urusanmu”
__ADS_1
Putra sedikit mendongakkan kepalanya dan mengayunkan satu langkahnya ke hadapan Dokter pria yang bernama Bajra itu.
“Aku sudah selesai!” Gadis yang merasa tak enak dengan aura dingin dua pria di depannya itu langsung menyela dan membuat Putra serta Bajra teralihkan dan sama – sama spontan menoleh pada Gadis.
“Mungkin Dokter ini ingin mengantarmu pulang juga. Jadi dia sembarangan saja bicara dengan asumsinya bahwa aku yang memaksamu, Suster Gadis...”
Putra berbicara pada Gadis, namun kini ia kembali menatap pada Dokter Bajra.
“Jadi aku tanya, apa kamu ingin pulang bersamaku atas keinginanmu sendiri, atau kamu ingin pulang dengan diantar olehnya?”
“Denganmu” Gadis menyahut cepat.
Putra tersenyum miring.
Raut wajah Dokter Bajra sedikit tak enak.
Sementara Gadis sendiri, ia tidak mau ada keributan di Rumah Sakit tempatnya bekerja ini meskipun tidak ada baku hantam di antara dua orang pria yang sepertinya sedang memperebutkan dirinya itu.
“Apa kamu merasa terpaksa?” Putra menoleh pada Gadis.
“Tidak”
“Maka katakan itu padanya”
“.........”
Putra masih berdiri berhadapan dan menatap pada Dokter Bajra.
“Aku sudah janjian memang untuk pulang bersama Putra”
“.........”
“Dan dia sama sekali tidak memaksaku”
“Kau dengar itu?”
Putra kembali tersenyum miring pada Dokter Bajra.
Sementara Dokter Bajra nampak tak puas.
“Ehm!... Mari Putra”
“Aku menunggumu melangkahkan kaki ..”
“Oh, iya! ...” Ucap Gadis dengan kikuk, lalu dia melangkah untuk mendekat pada Putra dan membawa pria itu segera keluar dari ruangan.
“Sayang ....” Tangan Putra melingkar dengan cepat di pinggang Gadis yang membuat perawat itu membulatkan matanya terlebih saat Putra memanggilnya dengan sebutan ‘Sayang’.
Gadis masih mengerjap – ngerjapkan matanya sembari melongo menatap Putra yang sedang tersenyum penuh arti padanya, mengabaikan Dokter Bajra dibelakang dirinya yang sudah dibimbing Putra untuk berjalan dengan tangan pria itu yang masih melingkar di pinggangnya.
‘Heh! Seenaknya saja kau merangkul bahunya tadi. Sekarang kubuat kau iri dengan merangkul pinggangnya’ Batin Putra. ‘Soon ( Secepatnya ), aku akan membuatmu lebih terbakar nanti’
Putra tersenyum penuh arti sembari menatap Gadis seraya berjalan dari ruang khusus perawat. Sedikit geli juga melihat wajah Gadis yang nampak sangat terkejut itu. Namun ada sedikit rasa puas atas tindakannya pada Dokter yang Putra yakini kalau Dokter tersebut memiliki ‘rasa’ pada Gadis.
***
“Apa sudah bisa kamu hilangkan wajah konyol mu itu sekarang?...”
Putra berbisik di telinga Gadis yang masih ia rangkul pinggulnya sat mereka tengah berjalan itu.
Gadis terkesiap seketika, lalu menunduk sembari mengaitkan sedikit rambutnya ke belakang telinga.
Gadis nampak canggung terlebih dia menyadari kalau satu tangan Putra masih bertengger di pinggangnya.
“Putra?! ..”
“Selamat sore, Dokter ....”
Putra dan Gadis bersisipan dengan Dokter Ilse yang ternyata masih berada di tempatnya tadi.
“Excuse us! ( Kami permisi )”
Putra langsung menyambar berkata, sebelum Gadis melanjutkan kalimatnya yang menyapa Dokter Ilse.
Putra nampak tidak perduli pada raut wajah Ilse yang terlihat terkejut melihat Putra keluar dari ruang khusus perawat dengan melingkarkan salah satu tangannya di pinggang seorang suster yang ia ketahui sangat disukai oleh anak laki – laki dari pria tersebut.
“Wait! ( Tunggu! )”
Dokter Ilse nampak penasaran.
“Are you and her.... ( Apa kamu dan dia...... )” Tanya Dokter Ilse yang lagi – lagi menahan lengan Putra.
“None of your business ( Bukan urusanmu )”
“But ... ( Tapi ) ...”
“As I told you before, don’t ever impudently touch me without my permission”
“( Seperti yang sudah kukatakan padamu sebelumnya, jangan pernah lancang menyentuhku tanpa seijinku )”
Putra memberikan tatapan datarnya pada Ilse, sembari menggerakkan pelan tangannya yang setengahnya berada di dalam saku celana, lalu berjalan menjauhi Dokter Ilse untuk melanjutkan langkahnya bersama Gadis yang merasa tidak enak sendiri pada Dokter wanita yang merupakan Dokter idola banyak pasien di Rumah Sakit tersebut.
“Aku rasa, kamu sedikit kasar padanya ...”
“Tidak perlu kamu pikirkan ....”
“Tapi...”
“Diamlah atau tanganku ini tidak hanya merangkul pinggangmu, tapi akan ku gunakan untuk mengangkat tubuhmu .....”
“Dasar pemaksa!” Gadis merutuki Putra dalam gumamannya.
“Sekaligus akan kucium bibirmu yang baru saja mencibir ku itu tanpa ragu”
Gluk!
***
To be continue.....
__ADS_1