LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 99


__ADS_3

Happy reading..


♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣


“Hey, what happened, My dear?..... ( Hey, apa yang terjadi, Sayangku? ) ....”


Pertanyaan tersebut langsung terlontar dari mulut Addison, sekaligus pria itu segera bangkit dari duduknya, kala melihat Bruna dengan wajah yang nampak sendu, datang kembali  ke tempat dimana tadi Bruna duduk bercengkrama bersama Addison, Garret dan Damian selepas makan malam.


“Nothing.... ( Bukan apa-apa )”


“Then why you look like that you just crying?....”


“( Lalu mengapa kau terlihat seperti habis menangis? )...”


“Just can’t hold myself when I saw Anth and Putra in their room .....”


“( Hanya tidak bisa menahan diriku sendiri saat aku melihat Anth dan Putra di kamar mereka )...”


“What’s wrong?... ( Mengapa? ) ...” Tanya Addison lagi.


“Is Anth missing Rery and Madelaine again? ....”


“( Apakah Anth sedang merindukan Rery dan Madelaine lagi?..... )”


Bruna mengangguk seraya duduk kembali di tempatnya tadi dengan Addison yang tadi langsung berdiri menghampirinya.


Addison, Damian dan Garret sama-sama menghela nafas mereka.


Sama seperti halnya Putra dan Bruna, hati ketiga pria tersebut selalunya rasa mencelos jika melihat Anthony bersedih saat bocah tersebut teringat pada kedua orang tuanya yang telah tiada.


***


“Papa ...” Panggil Anthony.


“Heemm?.....” Sahut Putra.


“If Daddy and Mommy can hear me, it means that they also can they see me, from there? ... ( Jika Daddy dan Mommy bisa mendengarku, itu artinya mereka juga dapat melihatku, dari sana? )..”


Putra mengangguk seraya tersenyum.


Anthony juga menampakkan senyum cerianya pada Putra.


Lalu Anthony kembali menatap ke arah langit dengan tetap mempertahankan senyumnya.


“Daddy, Mommy, can both of you see my smile? .... ( apa kalian bisa melihat senyumku? ... )”


“..........”


“I’m happy here, so both of you should be happy also, okay?... ( Aku bahagia disini, jadi kalian berdua juga harus bahagia, oke?..... )”


Anthony menempelkan kedua telapak tangan pada bibir mungilnya, lalu melepaskannya dan mengarahkannya ke arah langit. Sebuah sun jauh yang Anthony lakukan ke arah langit dengan tersenyum.


“I love you, Daddy, Mommy!” Ucap Anthony, lalu kembali menoleh pada Putra dan memeluknya erat. “And I love you too ( Dan aku menyayangimu juga ), Papa ...”


“I love you more ( Aku lebih menyayangimu ), Anth ....”


*****


“Padre! Madre! Two Daddies!”


“Hey, Anth!”


Addison langsung menangkap tubuh Anthony yang berhambur ke arahnya, saat bocah tersebut menyambanginya dan tiga lainnya yang masih duduk bercengkrama di tempat mereka sebelumnya.


“Already goes to sleep?..... ( Sudah akan pergi tidur? ) .....”


Anthony mengangguk antusias pada Addison yang langsung menarik sudut bibirnya, begitu juga Bruna, Damian, Garret dan Putra.


“Alright! Nitey nite, then ( Baiklah! Selamat malam, kalau begitu )” Addison mengecupi kedua pipi Anthony.


“Nitey nite to you too ( Selamat malam untukmu juga ) , Padre!”


Hal yang sama seperti Addison lakukan pada Anthony, juga dilakukan oleh Bruna, Damian dan Garret.


Suatu kebiasaan memang, dari sejak Rery masih hidup. Jika Anthony beranjak tidur, dan semua pamannya sedang berkumpul di rumahnya dan orang tuanya dulu di Ravenna, Rery dan Madelaine membiasakan pada Anthony untuk mengucapkan selamat malam pada semua pamannya itu sebelum beranjak tidur di kamarnya sendiri.


Dan Putra membiasakan Anthony untuk melanjutkan kebiasaan kecil itu dikehidupan mereka yang dapat dikatakan baru ini.


“See you all tomorrow.... ( Sampai jumpa lagi besok.... )”


“See you too tomorrow Anth... ( Sampai jumpa besok juga Anth... )”


“And I lovee all of youuu!!!!... ( Dan aku menyayangii kalian semuaa!!!! )...”


Addison, Bruna, Damian, Garret dan Putra spontan tersenyum lebar mendengar ucapan Anthony yang hendak dibawa kembali oleh Putra ke kamar mereka.

__ADS_1


“We love you more! ( Kami lebih menyayangimu! )”


Addison, Bruna, Damian dan Garret menjawab ucapan sayang Anthony dengan serentak juga.


Sementara Putra tersenyum lebar, lalu membawa Anthony kembali ke kamar mereka serta menemani Anthony hingga bocah itu terlelap.


***


“Was Anth missed Rery and Madelaine again?.... ( Apakah Anth merindukan Rery dan Madelaine lagi?..... )”


“I heard when you and Anth was talked at your room, when I want to ask you whether you want a cup of coffee”


“( Aku tadi mendengar pembicaraanmu dan Anth di kamar kalian, saat aku ingin menawarkan secangkir kopi padamu )”


Bruna menimpali ucapan Damian yang barusan bertanya pada Putra, yang langsung manggut-manggut.


“Yes he was ( Iya )” Sahut Putra yang kemudian tersenyum getir. “If only, I still stayed at Ravenna that day, maybe I still can save them...... ( Jika saja, aku tetap tinggal di Ravenna hari itu, mungkin aku masih bisa menyelamatkan mereka .... )”


Putra tertunduk lesu dengan menopangkan keningnya di atas kedua tangan Putra yang ia topangkan di atas pahanya.


“Or at least, maybe better if I end there also just like Rery, Madelaine and all our brothers  who were dead that day ..... ( Atau setidaknya, mungkin akan lebih baik jika aku pun berakhir disana seperti Rery, Madelaine dan semua saudara kita yang tewas pada hari itu ) .....”


“..........”


“Then I have the very big regret that I couldn’t stop Anth to be an orphan, and take and feel this big wound of my sorrow inside my heart for my entire life .....”


“( Daripada aku harus merasa menyesal karena tidak bisa untuk menghentikan Anth menjadi yatim piatu, dan membawa serta merasakan luka atas dukaku, selama hidupku ini ) .....”


Putra berkata dengan lirih. Ia menghela nafasnya dengan berat.


“It’s torturing you know? ..... ( Ini sangat menyiksa tahu? ..... )”


Putra menggelengkan kepalanya, menatap empat saudaranya dengan mata berkaca-kaca berikut suara Putra yang terdengar sedikit parau.


Damian, Garret, Addison dan Bruna hanya melipat bibir mereka.


Menghela juga nafas mereka yang berat sebagaimana Putra.


Damian, Garret, Addison dan Bruna kiranya paham dengan apa yang Putra rasakan.


Toh sedikit banyak, mereka memiliki duka yang sama sebagaimana Putra.


Hanya memang, mungkin, sakit yang Putra rasa lebih lebar dan dalam dari mereka, mengingat betapa dekat dan kuatnya ikatan antara Putra dan Rery.


“Leave it ( Sudahlah ), Putra .....” Damian meletakkan tangannya di bahu Putra sembari meremat nya pelan, tanda dukungan, ungkapan kepedulian. “The very bad thing that befall to Rery and other at Ravenna that day..... it wasn’t your fault..... ( Hal sangat buruk yang menimpa Rery dan yang lainnya di Ravenna hari itu ..... bukanlah salahmu ) .....”


“I were very inattentive .....”


“( Aku sudah sangat lengah ..... )”


“Not only you!..... But all of us .....”


“( Bukan hanya kau! ..... Tapi kita semua ) .....”


Addison menyambar.


“All of us were very inattentive ( Kita semua sudah sangat lengah ) .....”


Addison mengatakan sudut pandangnya, yang juga sudut pandang dari tiga orang lainnya.


“So stop blaming yourself for what was befall to Rery, Madelaine and all of our brothers .....”


“( Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri untuk apa yang sudah menimpa Rery, Madelaine dan saudara-saudara kita itu ..... )”


“Ad was right ( Ad benar ) .....” Timpal Garret. “Stop blaming yourself ..... you are not alone Putra ( Berhenti menyalahkan dirimu sendiri..... kau tidak sendirian Putra ) You have us ..... ( Kau punya kami ..... )”


“Ya, right! Of course! We haven’t lose yet! ..... what befall to Rery and other was beyond our control, beyond your hand ( Ya, benar! Tentu saja! Kita belum kalah! ..... apa yang menimpa Rery dan yang lain diluar kuasa kita, diluar kuasamu ) , Putra .....” Addison menimpali ucapan Damian.


“We have Anth, remember? ..... ( Kita memiliki Anth, remember? ).....”


“Of course I won’t forget that we have Anth!..... He’s our responsible. My responsible.....”


“( Tentu saja aku tidak akan lupa jika kita punya Anth!..... Dia itu tanggung jawab kita. Tanggung jawabku ) .....”


Putra menyahut.


“Then let’s focus to Anth! Become stronger for him! Just like our aim! Take back everything that was stolen from us, include Rery, Madelaine and our brothers life! Life for life!”


“( Kalau begitu kita fokus pada Anth! Menjadi lebih kuat untuknya! Seperti tujuan kita! Mengambil kembali apa yang sudah dicuri dari kita, termasuk nyawa Rery, Madelaine dan saudara-saudara kita! Nyawa untuk nyawa! )”


Putra pun manggut-manggut.


“We bear it together ( Kita akan menanggungnya bersama )”


“We fight together ( Kita berjuang bersama )”

__ADS_1


"For this family! ( Untuk keluarga ini! )"


“Also, we’ll enjoy the victory together! ( Juga, kita akan merasakan kemenangan bersama! )


“Amen!”


*****


“Release your guilty feeling to what befall to Rery and Madelaine ..... beside, you have done a lot for Anth ..... ( Lepaskan rasa bersalahmu atas apa yang telah menimpa Rery dan Madelaine ..... lagipula, kau sudah melakukan banyak hal untuk Anth ..... )” Ucap Addison.


“Indeed ..... ( Benar ).....” Bruna menimpali.


“Also Anth have us ( Juga Anthony punya kami ) ...”


Garret ikut menimpali.


“And Anth know it very well. How we care and sincerely love him that much ..... ( Dan Anth tahu betul itu. Betapa kita perduli dan tulus menyayanginya dengan sangat ) ..... ”


Damian juga ikut menimpali.


“Indeed! ( Benar! )” Sambar Addison. “The most important that Anth is save, healthy, become better in every single day, and he seems happy now! ( Yang terpenting adalah Anth aman, sehat, menjadi lebih baik disetiap harinya, dan dia nampak bahagia sekarang! )”


“And, that! Were those things that we have to take responsible in Anth life! Our duty to keep Anth in that way ( Dan, itu! Adalah hal-hal yang menjadi tanggung jawab kita dalam hidup Anth! Tugas kita untuk memastikan Anth terus hidup seperti itu )”


Putra manggut-manggut.


“You guys were right ..... but still if Rery and Madelaine were still alive, then Anth will be more happy by having a perfect complete family in his life ..... parents ..... a perfect, complete, couple of parents.....”


“( Kalian memang benar ..... tapi tetap saja jika seandainya Rery dan Madelaine masih hidup, Anth pasti akan lebih bahagia memiliki keluarga lengkap yang sempurna dalam hidupnya ..... orang tua ..... yang sempurna, lengkap, sepasang ayah dan ibu ) .....”


“Then make it happen! ( Ya buatlah itu terjadi! )”


Bruna menyambar.


“That’s why I always said to both of you! to get marry as soon as possible”


“Itulah kenapa aku sering mengatakan pada kalian berdua! Untuk menikah secepatnya”


“I’m not talking about me and Ad..... I’m talking about you! ( Aku tidak bicara tentangku dan Ad..... Aku bicara tentangmu! )” Tukas Bruna yang menunjuk pada Putra.


“Me? ..... ( Aku? ) .....” Putra menunjuk dirinya sendiri.


“Yes you! ( Iya kau! )”


Putra menelengkan kepalanya.


“Why me? .... ( Kenapa aku? ) .....”


“Because from all of Daddies that Anth has here, you, is Anth love more. You, is Anth ‘Papa’ ..... your meaning in Anth’s life now, is the same way like what meaning of Rery for him .....”


“( Karena dari semua ayah yang Anth miliki disini, kau, yang Anthony lebih sayangi. Kau, adalah ‘Papa’ nya Anth..... arti mu dalam hidup Anth saat ini, sama seperti arti Rery untuknya ..... )”


“..........”


“Then the perfect, complete parents things that you said, it’s on your shoulder! ( Lalu hal-hal mengenai kesempurnaan, keluarga yang lengkap yang kau katakan tadi, itu adalah tanggung jawabmu! )”


“You mean..... ( Maksudmu ).....”


“I mean, you get marry soon! With that nurse! ( Maksudku, kau menikah secepatnya! Dengan perawat itu !)”


“I ..... ( Aku ).....”


“Agreeee!!!!!..... ( Setuju!!!! ) .....”


Dan suara bocah yang gembira, berikut sosoknya yang berlari antusias segera menghambur di tempat para orang tua angkatnya sedang berkumpul.


Disaat Putra belum selesai menyahut pada ucapan Bruna.


“Anth????!!!!!.....” Lima orang tuan angkat Anthony sontak saja terkejut dengan kemunculan tiba-tiba bocah yang seharusnya sudah terlelap itu.


Dan sepertinya juga Anthony sudah pulas tertidur saat Putra meninggalkannya di kamar.


“I agree Papa!!! I agree if you get marry with Gadis! Do it tomorrow okay??? ( Aku setuju Papa!!! Aku setuju Papa menikah dengan Gadis! Besok ya menikahnya??? )”


Putra pun meringis saja.


“Come Papa! ( Ayo Papa! )”


“Where? ( Kemana? )”


“Come after Gadis to her house, so you can marry her tomorrow!”


“( Kita jemput Gadis ke rumahnya, jadi Papa bisa menikahinya besok! )”


“Haishhh .....”

__ADS_1


*****


To be continue.....


__ADS_2