LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 259


__ADS_3

Happy reading ...


***************


London, England


Putra yang telah selesai ‘mengurus’ sebuah ‘sarang’ dari suatu organisasi kriminal itu baru menyeringai sambil memandang sebentar tiga huruf yang ia ukir di dahi seorang pria yang sempat menjadi tawanannya tadi, namun kini pria tersebut sudah tak bernyawa dan bersimbah darah.


Setelah Putra mengkode Garret dan Devoss untuk ‘menghabisi’ pria tersebut, setelah Putra mengukir tiga huruf kapital di dahi pria tersebut.


Tiga huruf yang merupakan huruf pertama dari tiga penggalan nama Putra.


“These, for our brothers. For you and Madelaine, Rery.. Just a little bit more, for me to give Jaeden a horrible death, and make him suffer before.”


( Ini, untuk para saudara kita. Untukmu dan Madelaine, Rery.. Hanya tinggal sebentar lagi, untukku memberikan kematian yang menyakitkan untuk Jaeden, dan membuatnya menderita sebelum itu ).


Putra menggumam sambil memandangi pria yang telah tidak bernyawa tersebut, dimana ia telah mengukir dahi si pria menggunakan pisau miliknya yang masih ia genggam di tangan kanannya. Dan kini kaki Putra berada di atas dada pria yang merupakan pemimpin dari organisasi kriminal yang para anggota termasuk satu pemimpinnya ini telah dibantai habis oleh Putra dan kawanannya tanpa ampun dan tanpa sisa.


“Sent him away ( Bawa dia )” ucap Putra datar sambil memandang pada jasad di bawah kakinya, sambil menjauhkan kakinya itu dari dada pria yang Putra inginkan dikirim sebagai pesan untuk Jaeden.


Begitu mendengar Putra kembali mengeluarkan perintah, Richard dan para rekannya langsung mengangguk mengiyakan perintah pria yang mereka anggap sebagai Bos Besar mereka saat ini.


“Yes Sir.”


Richard dan para rekannya itu sudah tahu maksud perintah Putra barusan. Perintah yang merupakan penekanan dari perintah yang sebelumnya, yakni mengirim jasad pemimpin satu Organisasi Kriminal yang meraja di London itu ke Kasino milik Jaeden.


Dimana jasad pria yang adalah pimpinan dari Organisasi Kriminal tersebut, adalah pesan yang Putra kirimkan untuk Jaeden.


Richard kemudian yang mengambil alih untuk mengatur siapa yang akan melaksanakan perintah dari Putra barusan.


Dan sisanya akan membereskan tempat yang baru saja mereka porak porandakan ini berikut para ‘penghuninya’, dan sisanya lagi akan ikut kemana Putra dan dua saudaranya berikut Devoss pergi.


***


“Putra.”


“Hem?..”


Putra menanggapi Damian yang memanggilnya, kala ia, Damian dan Garret telah berada di pelataran parkir bangunan yang isinya telah ketiganya porak porandakan beberapa saat yang lalu, bersama orang-orang mereka.


“About the guy that you set free ( Tentang pria yang kau lepaskan )—“ ucap Damian. “Don’t you think that he might cause a problem? ( Apa kau tidak berpikir jika dia bisa saja menimbulkan masalah? )”


Damian menyampaikan sedikit kekhawatirannya. Namun Putra tersenyum samar. “I don’t think he will try it ( Aku rasa dia tidak akan mencobanya )” sahut Putra sambil mengepulkan asap ke udara dari mulutnya yang bersumber dari rokok yang sedang disesap Putra.


“Boss!” Suara Devoss terdengar, bersamaan dengan sosoknya yang muncul dari area dalam bangunan sebelum Damian dan Putra lanjut berbicara. “Here ( Ini )..”


Kemudian Devoss menyodorkan sebuah tumpukan berkas dalam satu bundel coklat pada Putra.


“What’s this? ( Apa ini? )” tanya Putra sambil menerima bundelan yang berisi lembaran kertas itu dari tangan Devoss.


“I don’t know if that will be useful for you or not, but they found it at one room which it seems that the Boss’s room ( Aku tidak tahu apa itu akan berguna untukmu, tetapi mereka menemukannya di suatu ruangan yang sepertinya adalah ruangan si Bos )”


Putra membuka bundelan yang telah Devoss berikan padanya.


“I think, It’s their members list ( Aku pikir itu daftar anggota-anggota mereka )”


“Heemm.”


Dehem Putra sambil manggut-manggut dan membaca sekilas kertas-kertas pada satu bundel tersebut.


“I really don’t care if now he go to Gaines or maybe try to meet another Jaeden’s man since that m*therf*cker is not here ( Aku sungguh tidak perduli jika sekarang dia sedang pergi menemui Gaines atau mungkin menemui orangnya Jaeden yang lain karena si keparat itu sedang tidak disini ) ---“


Lalu Putra berhenti pada satu lembar kertas yang kemudian langsung ia cabut dan berikan pada Damian, dan bundelan Putra berikan pada Devoss.


“But if you guys feel itchy to slice his throat-if he is telling Gaines or Jaeden about us, for at least you can easily hunting him ( Tapi jika kalian merasa gatal untuk mengiris tenggorokannya-jika dia mengatakan pada Gaines atau Jaeden, setidaknya kau dapat dengan mudah memburunya ) ---“


Putra menyambung ucapannya, saat Damian melihat sekaligus membaca isi pada selembar kertas yang tadi diberikan Putra padanya. Damian pun manggut-manggut sambil memilin bibirnya, lalu tersenyum miring, begitu juga Garret yang sedang melihat-lihat sekilas isi bundelan yang Putra berikan padanya.


Devoss kini berdiri bersama Putra, Damian dan Garret.


Putra menghisap kembali rokoknya, sebelum ia kembali berbicara.


“Even he meet Gaines or that m*therf*cker’s man\, all he can said that bunch of men was destroyed his hive and organization\, or Hiz has dangerous people behind him out of their sight ( Walaupun dia menemui Gaines atau orangnya keparat itu, yang dapat dia katakan hanya sekumpulan orang telah memporak porandakan sarang dan organisasinya, atau Hiz memiliki orang-orang berbahaya dibelakangnya diluar pengetahuan mereka ).....”


Lalu Putra terkekeh kecil.


“*Y*a you’re right. I bet they won’t even thought that we dare to comeback here ( Iya kau benar. Aku bertaruh mereka bahkan tidak menduga jika kita berani untuk kembali kesini )”


Damian berucap, lalu ikut terkekeh kecil seperti Putra.


Sementara Garret hanya mendengus geli saja.

__ADS_1


“Sirs, you all better off from here now ( Tuan-Tuan, sebaiknya anda semua pergi dari sini sekarang ).....”


“Jules was right Sir ( Jules benar Tuan ) ---“


Richard menimpali ucapan Jules yang baru saja menghampiri Putra, Damian, Garret dan Devoss.


“Better you all left this place because we want to blow this place just like Mister Putra told to do ( Sebaiknya anda semua meninggalkan tempat ini karena kami ingin meledakkannya seperti apa yang Tuan Putra perintahkan )”


“And before police come here, just in case Sir ( Dan berjaga-jaga sebelum polisi datang )” timpal Jules. Dan ke empat Tuan tersebut mengangguk.


“Then who will bring that jerk? ( Lalu siapa yang akan membawa bedebah itu? )”


“Me, Sir ( Saya, Tuan )”


Jules yang menjawab.


Putra, Damian, Garret dan Devoss pun mengangguk lagi.


“Alright then ( Baiklah kalau begitu )”


Putra yang kemudian menyahut.


Lalu Putra melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil, dan Damian, Garret serta Devoss mengekorinya.


“Sir!” Stan muncul dari dalam bangunan. Putra dan tiga orang yang mengekorinya sontak menjeda langkah sekaligus menoleh.


“Yes Stan?”


“How about their stuffs? ( Bagaimana dengan barang-barang mereka? )”


“Any money you guys find here? ( Ada uang yang kalian temukan disini? ).....”


Putra balik bertanya pada satu anak buah yang bernama Stan itu.


“There is Sir ( Ada Tuan )---”


Stan menjawab dengan cepat.


“But not as much as we find at the first place ( Tetapi tidak sebanyak yang kita temukan pada tempat yang pertama )”


Putra pun manggut-manggut. “Bring the money and left those trash to blow. We don’t need it ( Bawa uangnya dan tinggalkan sampah-sampah itu untuk ikut diledakkan. Kita tidak membutuhkannya )”


“Yes Sir,” jawab Stan sigap.


*****


Author’s POV


Putra dan beberapa orang anak buahnya kemudian berpencar setelah sarang sebuah organisasi kriminal telah diledakkan oleh para anak buah Putra dan saudaranya, berikut dengan banyaknya jasad bergelimpangan darah didalamnya.


Putra menyaksikan ‘sarang’ tersebut meledak dari kejauhan, namun suara dan penampakan dari meledaknya sebuah bangunan yang ia perintahkan untuk diledakkan dapat ia dengan dan lihat dengan jelas, bersama tiga orang yang berada dalam satu mobil dengannya.


Dan tak lama mobil yang ditumpangi Putra tersebut melaju dengan Devoss yang mengemudikannya untuk kembali ke mansion lama miliknya dan almarhum kedua orang tuanya.


Jika pertimbangan jatuh pada dirinya sendiri, Putra mungkin tidak akan berhenti walau hari berganti. Putra tidak akan berhenti sampai para sekutu Jaeden yang berada di Inggris, termasuk mereka yang berkhianat pada Kingsley telah ia habisi tanpa sisa.


Mengkhianati Kingsley, Putra anggap juga mengkhianati Rery.


Ikut andil secara langsung atau tidak saat Jaeden membantai Rery dan Madelaine serta saudara-saudara Putra yang pro pada Rery di Ravenna, Putra anggap sama rata dengan Jaeden.


Pembunuh Rery.


Yang tidak akan Putra beri ampunan sedikitpun.


Author’s POV


***


Salisbury, England


Kini Putra dan kawanannya - namun tak lengkap, karena sebagian telah memiliki tugas masing-masing dan sedang menjalankannya-telah kembali ke mansion lama Putra dan almarhum kedua orang tua kandungnya.


“You all go for a rest ( Kalian semua silahkan beristirahat )” ucap Putra pada beberapa anak buahnya yang tadi mengekori mobil yang ia dan tiga pria lainnya tumpangi di belakang mobil tersebut.


“Yes Sir ( Iya Tuan )”


Beberapa anak buah itu menjawab dengan serentak.


“You show them their place to take a rest ( Kau tunjukkan pada mereka tempat untuk mereka beristirahat )” Putra berbicara pada satu orang yang sudah sejak awal berada di tempat mereka berada sekarang.


Satu anak buah itupun menyahut sigap seraya mengangguk.

__ADS_1


“Yes Sir.”


“There are a lot of food and drinks in the kitchen, if you guys hungry. Don’t be bashful to take everything from there”


“( Ada banyak makanan dan minuman di dapur, jika kalian lapar. Jangan merasa sungkan untuk mengambil apapun dari sana )”


“Yes Sir. And thank you so much Sir ( Iya Tuan. Dan terima kasih banyak Tuan )”


Beberapa anak buah itupun serempak berucap pada Putra yang tersenyum tipis sambil mengangguk pada kesemuanya.


“You all feel free to leave and take a rest ( Kalian silahkan pergi dan beristirahatlah )” ucap Putra kemudian. Dan beberapa anak buah tersebut pun menyahut dan mengangguk sigap serta hormat, dan sekali lagi dengan tulus mengucapkan terima kasih pada Putra, karena Tuan yang tadi nampak tak berbelas kasih saat beraksi kala membantai banyak orang itu, ternyata tidak membeda-bedakan orang.


Yah, setidaknya pada mereka yang bukan sang Tuan anggap sebagai musuh atau ancaman.


“Thank you, once again Sir. And have a good rest to all of you ( Terima kasih sekali lagi, Tuan. Dan selamat beristirahat untuk kalian semua )” ucap salah seorang anak buah yang mewakili teman-temannya pada Putra, Damian, Garret dan Devoss yang langsung menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis pada beberapa anak buah yang tadi menyertai mereka itu.


Lalu Putra dan tiga pria yang bersamanya itu, mengayunkan langkah mereka untuk masuk ke dalam mansion, melalui pintu utama mansion pribadi milik Putra dan almarhum kedua orang tuanya tersebut.


“Putra...” Damian memanggil satu saudara angkatnya itu yang langsung menyahut, walau dengan hanya berdehem.


“What is it ( Kenapa ), Dam?” sahut Putra.


Damian langsung merangkul bahu Putra sambil mereka meneruskan langkah.


“Next time, don’t do the thing like you did at the place that we were ‘visited’ ( Lain kali, jangan melakukan hal seperti yang kau lakukan pada tempat yang kita ‘kunjungi’ tadi ) ----“


Lalu Damian berucap.


Putra melengoskan kepalanya ke arah Damian.


“Don’t forget, you are a father and a husband now ( Jangan lupa, kau adalah seorang ayah dan suami sekarang )”


Damian menghadapkan Putra dengan dirinya saat mereka sudah masuk ke area dalam mansion melalui pintu utama.


“So please, be more careful when you want to act in future until we finish here ( Jadi tolong, lebih berhati-hatilah saat kau hendak bertindak selanjutnya sampai kita selesai disini )...”


Damian melipat bibirnya.


“Because They’re waiting for you to comeback at Christmas ( Karena mereka menunggumu kembali saat Natal )”


“Dami was right ( Dami benar ) ---” timpal Garret. “We need to be alive to get back where our family is waiting ( Kita harus tetap hidup agar dapat kembali dimana keluarga kita sedang menunggu ) .. Especially you ( Terutama kau )”


“Hem.” Tukas Damian. “Anth and Gadis, would be can’t live without you ( Anth dan Gadis, tidak akan bisa hidup tanpamu ) ...”


Mendengar dua nama itu disebut oleh Damian, membuat Putra sontak menarik nafasnya yang ia tahan sejenak lalu ia hembuskan dengan pelan kemudian.


“I get it ( Aku paham )” ucap Putra sambil manggut-manggut dan tersenyum lurus.


Lalu Putra merutuki dirinya dalam hati, karena sedikit melupakan dua orang tercintanya itu, akibat api dendam yang sedang begitu membara dalam hatinya, dan mendesak untuk dikeluarkan saat Putra datang kembali ke Inggris.


“Thanks Dam, Gar ....” ujar Putra pada dua saudaranya itu yang kemudian mengapitnya sambil saling menyilangkan tangan di bahu Putra.


“We have to buy a lot of gifts before we comeback to Indo ( Kita harus membeli banyak hadiah sebelum kembali ke Indo ) ..” celoteh Garret.


Putra dan Damian pun terkekeh kecil lalu mengiyakan usulan iseng Garret itu.


Dan ketiga pria tersebut bersama dengan Devoss langsung masuk ke kamar mereka masing-masing setelah mencapai ke lantai dua mansion, setelah sebelumnya berpapasan dan mengobrol sebentar dengan Thomas dan Hiz yang masih terjaga menunggu Putra dan mereka yang menyertainya kembali ke mansion.


***


“What you guys been doing now ( Kalian sedang melakukan apa ), hem?”


Putra menggumam. Ia telah berada di kamar pribadinya saat ini.


Alih-alih membersihkan diri lalu langsung pergi untuk mengistirahatkan dirinya, Putra hanya terduduk di tepi ranjangnya, dan meraih satu pigura foto yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya.


Satu buah pigura berisikan foto termanis bagi Putra, karena di dalam pigura tersebut ada foto dirinya bersama dua orang yang teramat Putra kasihi dan cintai.


“I really miss both of you ( Aku sangat merindukan kalian berdua ), Anth, Gadis...”


Putra menggumam lagi.


“I try my best to get back home soon ( Aku akan berusaha sebaik yang dapat aku lakukan untuk pulang dengan segera )....”


Putra mengusap lembut wajah dua orang tercintanya dalam foto seraya ia tersenyum.


“But live well, if I never be home to both of you ( Tapi hiduplah dengan baik, jika aku tidak pernah bisa pulang pada kalian berdua ) ...”


***


To be continue.....

__ADS_1


Terima kasih masih setia, dan sorry jika typo masih bertebaran.


__ADS_2