LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 374


__ADS_3

Happy reading .....


***************


London, Inggris ...


“He’s my commendably. You understand what I mean, don’t you ( Dia adalah titipanku. Kau mengerti maksudku, bukan? ) ...”


Adalah Putra yang sedang berbicara pada seorang pria, ketika kapal kargo yang ditumpanginya telah merapat kembali ke pelabuhan asal.


“I understand ( Aku mengerti )”


Pria yang sedang Putra ajak bicara itu kemudian menyahut pada Putra yang nampak santai dan tenang saja pembawaannya, meski pria itu datang bersama beberapa aparat kepolisian.


Yang mana memang Putra tidak punya alasan merasa gusar dengan adanya beberapa aparat kepolisian yang sudah berhambur sebagian ke atas kapal kargo tempatnya berada itu dikarenakan beberapa aparat kepolisian itu ada di bawah kekuasaan seseorang yang ayahnya memiliki kekuatan yang cukup berpengaruh di kepolisian London.


Berbeda dengan Jaeden yang tadinya sempat percaya diri dan kembali pongah, kini ia nampak gusar setelah apa yang dia pikirkan ternyata jauh sekali dari ekspektasinya.


Alih-alih terbebas dan bisa berbalik menghancurkan Putra dan mereka yang bersamanya, Jaeden justru dihadapkan pada kenyataan jika dirinya memang sudah tidak punya jalan keluar---setelah melihat pria yang ayahnya sulit sekali untuk Jaeden rangkul, malah sudah berpihak pada Putra.


Pria yang sedang Putra ajak bicara itu memang bukan bagian dari kepolisian London, tapi pengaruh sang ayah yang teramat besar di lembaga keamanam London seolah memberikan pengaruh kasat mata untuk pria tersebut mewakili sang ayah yang memiliki hubungan sangat akrab dengan almarhum ayah Putra.


Fakta yang lagi-lagi tidak Jaeden ketahui.


“Tell your father that I really appreciate everything that he has done for me until today.”


( Katakan pada ayahmu jika aku benar-benar menghargai apa yang telah ia lakukan untukku sampai dengan hari ini )


Putra kembali berbicara pada pria yang Jaeden ketahui identitasnya itu.


“He left a message that you must come to play chess with him after you already have nothing to do ( Dia berpesan jika kau harus datang untuk bermain catur dengannya saat kau sudah santai nanti )”


Dan pria yang Putra ajak bicara itu kemudian juga berujar pada Putra dengan tutur bahasa yang santun.


“And you, owe me one shot ( Dan kau, berhutang padaku segelas minuman )” ucap pria yang sedang bercakap dengan Putra itu, dengan terarah pada Damian yang menampakkan senyuman lebar pada salah satu saudara angkat Putra tersebut.


Dan dengan dirinya yang kini mengetahui fakta jika Putra memiliki hubungan baik dengan seseorang yang ia ketahui identitasnya, dimana orang tersebut sudah pernah coba untuk dirinya ‘rangkul’ dengan beragam tawaran namun selalu ditolak mentah-mentah---dan orang tersebut memiliki kekuatan yang sangat kuat di London, bahkan juga nampaknya berhubungan baik dengan Damian---Jaeden kini merasa jika ia sudah benar-benar akan ‘tamat’.


Hingga saat dirinya dibawa oleh dua orang petugas kepolisian setelah diambil alih dari anak buah Putra, Jaeden hanya bisa pasrah.


Terlebih saat pria yang merupakan anak dari seorang yang memiliki kekuasaan dan kekuatan sangat kuat di London itu mengatakan sesuatu padanya.


“Jarvis can’t come---But maybe you can say ‘Hi’ to him at jail  ( Jarvis tidak bisa datang--- Tapi mungkin kau bisa bilang ‘Hai’ padanya di penjara ) ...“


Dimana ucapan pria tersebut, sudahlah membuat Jaeden lemas seketika. Karena nama orang yang disebutkan oleh pria yang merupakan anak dari seseorang yang kuat di London itu, adalah harapan terakhirnya untuk bisa lepas dari cengkraman Putra.


Bahkan Jaeden sudah sempat tertawa dalam hatinya, karena yakin ia akan membalikkan posisi Putra menjadi ke posisinya---lalu ia akan memberikan ganjaran kejam pada Putra dan kawanannya sekaligus kembali merampas apa yang sebelumnya ia kumpulkan, termasuk terbayang-bayang akan harta tak terkira keluarga Kingsley Smith nan tersembunyi yang telah sempat ditunjukkan Putra padanya---yang Jaeden sudah bayangkan jika ia akan menjadi seseorang yang sangat berpengaruh di London, bahkan Inggris.


Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.

__ADS_1


Jaeden sudah tidak ada harapan lagi untuk mewujudkan keinginannya itu. Yah jangankan mewujudkan, Jaeden bahkan akan sulit kabur jika sudah berada di tangan seseorang yang memiliki kekuatan dan pengaruh yang cukup signifikan di London juga Inggris itu.


Sungguh sial! Sangat sial!


Bagaimana Jaeden merutuki dirinya sendiri.


“Take a good rest then. And let me know when you guys want to ‘visit’ him.”


( Beristirahatlah dengan baik. Dan beritahukan padaku kapan kalian mau ‘mengunjungi’ nya )


Pria yang katakanlah adalah sekutu Putra itu berujar pada Putra yang langsung menanggapi ucapannya dengan anggukkan.


“Guard him with your life ( Awasi dia dengan nyawamu )...” ucap Putra pada pria yang memiliki nama belakang Holmes itu. “Because if Jaeden Zepeto can escape, I’ll take your life for the replacement. No matter who’s Holmes is ( Karena jika Jaeden Zepeto sampai melarikan diri, aku akan mengambil nyawamu sebagai gantinya. Tidak peduli siapa itu Holmes )”


Putra berucap santai, namun sarat makna. Yang ucapan Putra tersebut diiyakan dengan anggukan paham dari pria bermarga Holmes tersebut.


--


Beberapa saat setelah pria bermarga Holmes itu pergi dengan membawa serta Jaeden dan beberapa orang yang ditunjukkan oleh Garret sebagai perwakilan untuk memberitahu bahwasanya ada beberapa orang sekutu Jaeden yang juga mereka amankan, dimana sebagian besar sudah dalam kondisi tidak bernyawa---suasana pelabuhan sudah tidak lagi ramai.


Hanya ada sedikit aparat yang telah ditugaskan untuk mengamankan beberapa tempat di pelabuhan yang kiranya akan dimasukkan dalam berkas laporan kepolisian.


Dan tentunya itu akan dipakai sebagai tambahan dalam tuduhan Jaeden dan para sekutunya yang masih hidup di mata hukum, meskipun ada yang sudah dimanipulasi juga dan tentunya hal itu dilakukan atas dasar ucapan Putra.


“Stan!” seru Putra memanggil salah seorang anak buah yang terpercaya.


“Call Thomas to move now ( Hubungi Thomas untuk pindah sekarang )”


“Yes, Boss”


--


Udara malam musim dingin yang menusuk, sudah baru kian dirasa Putra dan para kawanannya itu setelah mereka selesai dengan ‘kegiatan’ mereka.


Namun hal itu tidak mengurungkan Putra, Damian, Garret dan Accursio untuk berdiri saling berhadapan untuk sekedar menghisap sebatang rokok.


“Seems that we have time to buy some christmas presents before we go to Salisbury and fly back to Indo ( Sepertinya kita memiliki waktu untuk membeli hadiah natal sebelum kita ke Salisbury dan terbang kembali ke Indo )”


Damian membuka pembicaraan di sesi merokoknya serta tiga orang yang bersamanya itu. Santai, namun kemudian Damian diam sambil menelisik menatap Putra.


“Don’t say you’ll choose to stay here for that motherfcker and miss to spend christmas at Indo* ( Jangan katakan kau akan memilih untuk tinggal di sini demi si keparat itu dan melewatkan natal di Indo )...”


“We haven’t finish here ( Kita belum selesai di sini ), Dami...” sahut Putra.


****


Indonesia ...


“Sayang ...“

__ADS_1


Sebuah suara lembut memanggil seorang bocah tampan yang sedang berdiri di dekat jendela sebuah hunian yang cukup besar, dan nampak memandangi arah luar jendela dengan pandangan seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.


“Mama ...”


Bocah tampan itupun lantas menoleh ketika suara lembut yang menyebut namanya itu ia dengar di telinganya sambil ia menegur pelan orang yang memanggilnya itu.


“Papa, Daddy Dami and Garret seems won’t come and celebrate christmas with us right? ( Papa, Daddy Dami dan Garret sepertinya tidak akan datang dan merayakan natal dengan kita bukan? ) ...”


Kemudian bocah tampan yang adalah Anthony itu bertutur pelan dan lirih pada seorang wanita yang menegur dan sudah berada di sampingnya itu, sambil wanita tersebut memposisikan dirinya agar sejajar dengan Anthony.


“Whereas Papa has made promise to me ( Padahal Papa sudah berjanji )” lirih Anthony lagi.


Wanita yang sedang bersimpuh mensejajarkan diri dengan Anthony, yang adalah Gadis itu, tersenyum lembut pada bocah tampan tersebut.


“But now, he’s breaking his promise ( Tetapi sekarang, dia mengingkari janjinya )” ucap Anthony dengan wajahnya yang nampak muram.


Bocah tampan itu mengeluarkan keluhannya pada Gadis yang kini telah mengusap pucuk kepala Anthony dengan masih tersenyum lembut.


“Listen ( Dengar ) ...” Gadis baru bersuara. Sambil ia membalikkan tubuh Anthony dengan perlahan dan lembut hingga menghadap padanya. “I’m sure that Papa Putra, never want to break his promise to you ( Aku yakin kalau Papa Putra, tidak pernah mau mengingkari janjinya padamu )”


Gadis bertutur lembut, seperti selalunya. Karena memang Gadis adalah pribadi yang santun dan lembut dalam kesehariannya, dan memang seperti itulah Gadis adanya---selain tulus hatinya serta wanita yang begitu sabar. Dan dengan kesabaran serta kelembutan yang ia punya itu, Gadis selalu akan mencoba memberi pengertian pada Anthony.


Walaupun Gadis masih terkadang harus merangkai kata – kata di kepalanya terlebih dahulu sambil menelaah ucapan Anthony yang masih kental sekali bahasa Inggrisnya itu. ‘Kalimatku sudah benar belum itu ya tadi? ...’ batin Gadis.


--


“But I still feel dissapoint if Papa ( Tetapi aku masih merasa kecewa jika Papa ) –“


‘Haaah,’ lega Gadis dalam hatinya. ‘Sepertinya kalimatku benar ...’ batin Gadis lagi.


“Don’t you, Mama ( Apa Mama tidak )? ...”


“Heum?” gugu Gadis yang sedikit terkesiap.


“Don’t you feel dissapoint if Papa not gather with us now to celebrate christmas, Mama ( Tidakkah Mama merasa kecewa jika Papa tidak berkumpul bersama kita untuk merayakan natal )?”


Gadis kembali tersenyum dan mengusap lagi pucuk kepala Anthony dengan lembut. “I do ( Tentu ) ...” ucap Gadis kemudian. “I do will feel dissapoint ( Tentu aku akan merasa kecewa )”


“......”


“But, I will think positive. Maybe, Papa, Daddy Damian and Garret, are still busy at there. Or, have a problem, so they can’t comeback here right on christmas.”


“( Tapi, aku akan berpikir positif. Mungkin, Papa, Daddy Damian dan Garret, masih sibuk di sana. Atau, ada masalah, sehingga mereka tidak bisa datang ke sini tepat di hari natal )”


“Mama Gadis was right ( Mama Gadis benar ), Anth.”


*****


To be continue .....

__ADS_1


__ADS_2