LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 60


__ADS_3

Happy reading ...


****************


‘Gadis?..’ Putra menyanggah dugaannya dalam hati kala tadi sepintas ia melihat pantulan seorang wanita dari spion mobil di sebelah kirinya.


Putra bahkan sampai menoleh cepat, namun seorang wanita yang sosoknya terpantul di kaca spion mobil dan tampak sedang bersama beberapa orang tadi, kini sudah tidak nampak lagi.


‘No! It can’t be! .... (Tidak! Itu tidak mungkin! ...)’


Putra kembali menolehkan kepalanya ke arah tadi dia melihat wanita yang dari jauh perawakannya mirip Gadis.


“What is it?.... (Ada apa?) .....” Tanya Danny yang sedikit heran dengan sikap Putra.


“Nothing .... (Bukan apa-apa .....)” Jawab Putra.


“Seems something for me (Sepertinya ada sesuatu kalau menurutku)”


“....”


“Feeling you see someone you know? (Merasa kau melihat seseorang yang kau kenal?)”


“I guess so (Kurasa begitu)”


“Who? (Siapa?)”


“Gadis ...”


“Gadis?” Tanya Garret lagi.


“Hu’um, maybe... (mungkin) ..” Jawab Putra yang terdengar ragu.


“Want to comeback and make sure? (Mau kembali dan memastikan?)”


“No. No need (Tidak. Tidak perlu)”


“Are you sure?. Than you feel curious? (Apa kau yakin?. Daripada kau penasaran?)”


“Never mind (Tidak apa – apa)”


“Even I’m not sure that a woman like Gadis could be in that kind of place .....”


“(Meskipun aku sendiri tidak yakin kalau wanita seperti Gadis bisa berada di tempat seperti itu)...”


“Ya I think the same way too with you .. (Aku juga berpikir sama denganmu....). Maybe just similar... (Mungkin hanya mirip....)”


“Or maybe she already overcome both your mind and heart (Atau bisa jadi dia sudah menguasai pikiran dan hatimu)”


Putra terkekeh kecil.


“Ya, maybe .. (mungkin..)”


***


Esok hari


“Are you going somewhere? (Apa kau akan pergi ke suatu tempat?)”


Bruna yang sudah bangun sejak pagi – pagi sekali dan sedang menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarganya itu spontan langsung melontarkan pertanyaan Putra yang nampak sudah rapih bahkan saat matahari pagi belum naik dengan sempurna.


Putra mengangguk. Lalu berjalan untuk membuat kopi di mesin pembuat kopi rumahan yang ada di dapur tempat tinggal mereka.


“I entrust Anth, hem? (Aku titip Anth, ya?)”


“Is Anth still sleeping? (Apa Anth masih tidur?)


“Huum ...” Putra mengangguk.


“Is there any urgent thing? ...”


“(Apa ada sesuatu yang mendesak?)”


Bruna kini sudah berdiri berhadapan dengan Putra.


“No (Tidak)”


Putra menjawab sembari berdiri dengan mensedekapkan kedua tangannya, menunggu wadah pembuat kopi yang tertempel pada mesin pembuat kopi itu terisi. Bruna mendekatinya.


“What? (Apa?)”


Putra bertanya sembari menatap Bruna yang nampak sedang memperhatikan penampilannya.


“We are going back to Villa tomorrow right? .. (Kita kembali ke Villa besok bukan?..)” Tanya Bruna.


Putra mengangguk.


“And why you look so ready in this early morning?”


“(Lalu mengapa kau begitu rapih sepagi ini?)”


“Where is Ad? .. (Mana Ad?)”


“You haven’t answer my question (Kau belum menjawab pertanyaanku)”

__ADS_1


Putra terkekeh pada Bruna yang nampak penasaran.


“Where are you going actually? (Mau kemana kau sebenarnya?), hem?”


“Come after someone (Menjemput seseorang)” Sahut Putra.


“Who? (Siapa?)”


“My future wife (Calon istriku)” Jawab Putra dengan menyunggingkan senyum penuh arti pada Bruna.


***


Hal yang berlebihan dari diri Putra adalah sikap over protective nya yang berlebihan pada Anthony semenjak wafatnya kedua orang tua Anthony.


Tapi nyatanya, kini ada hal lain yang membuat Putra sadar betul jika rasanya sikapnya kali ini juga berlebihan.


“Cih, I can’t believe that I will be like this just because a woman.. (Aku tidak percaya aku sampai begini hanya karena seorang wanita..)”


Putra menggumam sendiri dalam mobil yang ia kendarai sendiri setelah ia keluar dari tempat tinggalnya dihari yang cukup pagi.


“I wish that I still can to catch her before she goes to work .. (Aku harap jika aku masih bisa sampai sebelum dia berangkat bekerja)”


Lagi-lagi Putra menggumam. Hingga sampailah Putra disebuah kawasan pemukiman yang sudah beberapa kali ia sambangi. Putra memarkirkan mobilnya dengan rapih, karena kawasan yang biasanya sepi itu, ternyata cukup ramai saat pagi hari.


Putra celingukan saat ia sudah turun dari mobilnya. Dan tentunya ia menjadi perhatian orang-orang yang berada disekitarnya itu. Selain karena mobil yang digunakan Putra cukup terlihat mentereng, sosok dan penampilan Putra juga jadi sorotan orang-orang yang berada di tempat tersebut. Namun Putra tidak terlalu memperhatikan tatapan orang-orang tersebut.


‘I should still ask the two person I met last night to show Gadis’ house! .... (Seharusnya aku tetap meminta dua orang yang kutemui semalam untuk menunjukkan rumahnya Gadis.....)’


Putra membatin.


‘Ah whatever!.. just ask to someone I meet inside that small way .... (Ah sudahlah!.. tinggal bertanya saja pada seseorang yang kutemui dalam jalanan kecil itu..)' Batin Putra berkata lagi.


Putra mengayunkan langkahnya menuju sebuah jalanan kecil dimana terakhir Putra mengantar Gadis, dia melihat Gadis memasuki jalanan tersebut.


Putra berjalan dengan gagahnya, melemparkan senyum tipis pada orang-orang yang tidak sengaja bersinggungan tatap dengannya, yang memandang Putra dengan pandangan yang nampak terkagum padanya.


Namun Putra belum bertanya pada salah satunya, karena menunggu saja untuk bertanya pada seseorang yang ia temui nanti saat ia memasuki jalanan kecil tersebut.


Inginnya sih Putra bertemu lagi dengan dua orang yang semalam ia temui.


Selain kemungkinan besar dua orang itu mengenali Putra, dirinya juga mengingat kalau si wanita tinggal bersebelahan dengan rumahnya Gadis.


‘Lucky me (Beruntungnya aku)’


***


“Put – ra?????”


“Hi ...”


Seseorang yang amat sangat ia temui kebetulan sedang berjalan dengan cantiknya diarah selurusan Putra, dan kini wanita tersebut sudah berdiri dengan wajah yang amat sangat terkejut sembari menatapnya.


“Selamat pagi Gadis” Sapa Putra masih dengan tersenyum pada wanita berseragam perawat dengan tas yang tersampir disalah satu bahunya.


“Ha – lo ...”


Gadis membalas sapaan Putra padanya.


“Pagi juga, Putra...” Sambung Gadis.


“Mau berangkat ke Rumah Sakit?”


Gadis mengangguk pelan.


“Ka – mu kenapa disini? ...”


“Ingin menjemput dan mengantar kekasihku ke tempatnya bekerja” Jawab Putra. “Apalagi?”


***


Gadis tak bisa menolak Putra yang bilang sengaja datang untuk mencari rumahnya untuk menjemput dan mengantarnya pergi bekerja ke Rumah Sakit pagi ini. Selain Gadis tidak ingin berdebat dengan Putra yang ia mulai ingat betul jika pria tampan yang merupakan seorang ayah muda itu tidak menerima yang namanya penolakan.


Gadis juga tidak ingin jadi tontonan orang-orang yang berada dalam kawasan tempat tinggalnya yang sebagian besar ia kenal itu. Tadi saja dia sudah mendapat beberapa ledekan dari beberapa orang yang mengenalnya karena di jemput oleh seorang pria super tampan yang dari penampilannya dianggap sebagai orang dari kelas atas oleh mereka yang ada di kawasan pemukiman tersebut.


“Sudah sarapan?” Tanya Putra saat dia dan Gadis sudah berada didalam mobil dan Putra mulai melajukannya.


Gadis menggeleng.


“Belum ....”


“Tidak sepatutnya kamu tidak sarapan jika kamu harus bekerja dipagi hari seperti ini Gadis ...”


Putra melirik sesaat pada Gadis.


“Biasanya aku sempat sarapan dulu sebelum berangkat kerja jika jadwal kerjaku dipagi hari.... tapi tadi aku bangun terlambat. Jadi tidak sempat membuat sarapan” Sahut Gadis.


Putra mendengus pelan. Melirik Gadis lagi sesaat lalu memalingkan kembali pandangannya pada jalanan. ‘Apa aku harus menanyakan soal pekerjaannya yang lain selain sebagai seorang perawat di Saint?’


Putra melirik lagi pada Gadis sembari membatin. Disaat yang sama Gadis juga sedang meliriknya. Nampak ingin berbicara.


“Eemm Putra.. kenapa tahu-tahu kamu datang menjemputku? ..” Tanya Gadis. “Kamu tidak bilang akan menjemputku hari ini saat mengantarku pulang kemarin ..”


“Memang tidak ku rencanakan untuk menjemputmu pagi ini”

__ADS_1


“.........”


“Spontan saja, terbersit ingin menjemputmu jadi pagi ini aku datang”


“Hmm ..” Gadis manggut-manggut saja.


“Pukul berapa jadwal kerjamu, Gadis?”


“Jam tujuh tiga puluh”


“Sepertinya masih sempat untuk sarapan dulu”


Putra melirik arlojinya. Gadis juga ikut melirik arloji di pergelangan tangannya.


“Sepertinya sih iya ..” Sahut Gadis.


“Apa ada tempat makan yang buka sepagi ini di dekat Saint?”


“Ada. Aku juga kadang membeli atau sarapan disana jika terlambat bangun seperti tadi”


“Ya sudah..”


“Tapi tempatnya tidak sebagus restoran tempat kamu dan Anthony biasa mengajakku makan siang” Ucap Gadis. “Memang kamu belum sarapan juga?”


“Kebetulan belum. Hanya sedikit kopi saja sebelum aku berangkat untuk menjemputmu”


“Ih kamu ini. Menasehatiku bisa, tapi sendirinya juga melewatkan sarapan” Ucap Gadis dengan sedikit menggerutu.


“Demi kamu..” Ucap Putra sembari menoleh pada Gadis dan dua kata yang barusan terucap dari mulut Putra sukses membuat wajah Gadis sedikit merona.


Membuat Putra menyunggingkan senyumnya, melihat wajah malu-malu Gadis.


Gadis pun memilih untuk menolehkan kepalanya kearah jendela mobil demi menutupi kecanggungan dirinya atas ucapan Putra.


***


“Apa tidak terlalu awal jika kamu mulai bekerja di pukul tujuh tiga puluh, tapi kamu sudah tiba sepagi ini” Ucap Putra saat dia sudah diajak Gadis ke sebuah kedai kopi tak jauh juga dari Rumah Sakit tempat Gadis bekerja.


“Ya biasanya aku juga tidak sampai sepagi ini jika menggunakan bus ..” Sahut Gadis. “Aku biasanya sampai lima belas menit sebelum jam kerjaku di mulai..” Sambung Gadis.


Berbicara tentang jam kerja, Putra jadi teringat kembali soal Gadis yang memiliki pekerjaan lain selain sebagai perawat di Rumah Sakit. “Heemm..”


***


Gadis dan Putra menikmati sarapan mereka dalam diam.


Memang sudah menjadi kebiasaan Putra yang jarang berbicara jika tidak diperlukan saat makan, kecuali saat jamuan yang beberapa kali dia hadiri saat masih di Inggris dan Italia.


Dilirik Putra, Gadis yang sudah menyelesaikan sarapannya.


“Gadis..” Panggil Putra.


“Ya?”


“Aku datang ke kawasan tempat tinggalmu semalam”


“Ap – a ..? .. ka – mu apa?? ..”


Gadis nampak terkejut.


Putra menatap Gadis sembari manggut – manggut, dengan sedikit tersenyum tipis.


“Iya, aku hendak mengajakmu ke suatu tempat untuk sekedar bersantai bersama Dami, Garret dan Danny”


‘Oh Tuhan’ Batin Gadis.


Putra memperhatikan Gadis.


“Apa kamu ada di rumah semalam?”


Gadis tidak menjawab, dia seperti sedang memikirkan sesuatu di otak cantiknya. Tidak fokus pada Putra yang barusan bertanya.


“Gadis” Panggil Putra sembari menyentuh pelan lengan Gadis.


Gadis terkesiap.


“Ada apa?”


“Ah, eum.. tidak apa-apa! ..”


“Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi”


“Eum, kamu tanya apa tadi?..”


“Apa kamu ada di rumah semalam?. Karena aku tidak bisa menemukan rumahmu”


“Iyyaa, aku ada di rumah semalam..” Sahut Gadis sembari tersenyum tipis pada Putra yang sedikit lekat menatapnya.


“Heemm..”


Putra manggut-manggut.


‘Apa alasanmu berbohong padaku, Gadis?..’

__ADS_1


***


To be continue ..


__ADS_2