
Happy reading..
********************
“Ayo kita pergi tidur,” ajak Putra. “Dan kamu juga harus pergi tidur, tidak hanya aku..”
“Kan sudah aku katakan tadi, aku tidak mau tidur malam ini.. aku ingin memandangi puas-puas wajah suamiku..”
“Aku tidak jadi pergi..” potong Putra.
Dimana Gadis yang tadinya sedang bergelayut manja di dada Putra itu secara refleks langsung mengangkat dirinya dari dada bidang nan nyaman suaminya itu.
“Barusan kamu bilang apa, Putra?” ucap Gadis yang ingin memastikan apa yang didengarnya barusan. Ia takut salah dengar, karena ucapan yang Gadis dengar barusan dari mulut Putra itu, memang yang dia harapkan.
Gadis bahkan menangkup dengan cepat wajah Putra sambil menggoyangkannya.
“Ulangi!”
Gadis nampak tak sabar.
“Cepat ulangi!....” paksa Gadis. “Tadi kamu mengucapkan sesuatu kan, Putra? ...” sambungnya.
Putra pun terkekeh.
“Bicara Putraaaa...”
Gadis merengek. Membuat Putra mempertahankan kekehannya.
“Aku tidak jadi pergi..”
Putra pun berbicara.
“Apa itu benar?!”
Putra pun mengangguk.
Dimana Gadis langsung berhambur memeluk Putra. Bahkan tanpa sadar sepertinya, Gadis sampai loncat ke atas pangkuan Putra.
Membuat Putra terkejut sesaat, namun ia terkekeh lagi kemudian.
Merasa gemas pada tingkah istrinya itu, bak anak kecil yang sedang kesenangan karena keinginannya terkabulkan.
“Ehem!” Putra berdehem. Ia memberitahu Gadis dengan matanya, untuk memberitahu jika Gadis meloncat ke atas pangkuannya.
“Benar kamu tidak jadi pergi?!”
Namun Gadis tak memperdulikan deheman Putra yang bermaksud menggodanya karena telah dengan sendirinya melompat ke atas pangkuan sang suami.
Dan Putra akhirnya tersenyum dan mengangguk.
“Oh Putra... Apa kamu tahu betapa bahagianya aku?...”
Dimana Gadis langsung memeluk Putra dengan eratnya. Putra terdiam, saat Gadis memeluknya.
Hanya satu tangan Putra merangkul pinggang Gadis, dan satunya lagi mengelus lembut punggung Gadis.
“Gadis...”
Putra menyebut nama sang istri saat Gadis masih erat memeluknya.
“Ya?”
Gadis sedikit menarik dirinya, hingga wajahnya kini berhadapan dengan wajah Putra.
Namun tangan Gadis masih melingkar di leher Putra.
Gadis masih dengan ekspresi senangnya, dan Putra tersenyum padanya. Hanya saja pancaran mata Putra, sedikit sulit diartikan oleh Gadis.
“Kenapa?...”
Gadis pun bertanya.
Putra tidak langsung menjawab.
Suami Gadis itu menghela nafasnya terlebih dahulu.
Dan setelahnya menatap Gadis, dengan tangan Putra yang kemudian mengelus lembut sebelah wajah Gadis.
“Aku memang tidak jadi pergi...”
Tak lama setelahnya Putra mulai berbicara.
“Namun bukan berarti tidak jadi pergi. Aku hanya menunda keberangkatanku...”
“Hum..."
“Aku tetap tidak dapat membatalkan kepergianku, untuk membalaskan dendam kami pada keparat yang telah membunuh orang tua Anth dan para saudara kami...”
Kemudian Putra menangkup wajah Gadis yang tersenyum, namun sorot matanya nampak sendu.
“Maafkan aku, karena aku tetap akan meninggalkanmu untuk beberapa waktu... Aku hanya menunda keberangkatanku satu hari saja. Lusa aku tetap berangkat... Maaf ya, hem?...”
“......”
“Maaf untuk keegoisanku, Gadis. Aku...”
“Tidak apa...”
Gadis memotong ucapan Putra.
“Satu hari lagi bersama kamu sebelum kamu pergi, itu cukup untukku untuk memuaskan keinginanku menghabiskan waktu denganmu.” Gadis menarik tinggi sudut bibirnya.
“Terima kasih atas pengertianmu, Gadis...”
Suara Putra sedikit melirih, sembari ia menempelkan keningnya di dahi Gadis. Gadis mendengus pelan.
Terpaan dari hembusan nafas Gadis yang helaannya terdengar sedikit berat itupun Putra rasakan menyapu wajahnya.
__ADS_1
Miris juga rasa hati Putra melihat ekspresi wajah sang istri yang ia tahu pasti sedang bersedih hati, namun coba ditutupi karena Gadis sedang tersenyum padanya sekarang.
“Dan sekali lagi maafkan keegoisanku... Aku ----”
Cup!.
Ucapan Putra terpotong, karena Gadis sudah menempelkan bibirnya di bibir suaminya itu.
“Aku maafkan.”
Gadis berucap setelah mengurai ciumannya pada Putra.
“Asal kamu berjanji besok kamu akan berada disini dan tidak pergi kemana-mana.”
“Iya, aku berjanji akan disini saja besok,” Putra mengiyakan permintaan Gadis tanpa ragu.
Cup!.
Gadis menempelkan lagi bibirnya di bibir Putra.
Yang kali ini ciuman Gadis itu Putra sambut dengan antusias, hingga ritme ciuman yang tadinya lembut menjadi kian memburu hingga udara mulai terasa panas bagi keduanya.
Tangan yang bebas dari dua insan yang sedang saling me**gut bibir itu kini sudah mulai saling menyentuh.
Putra menarik pinggang Gadis, hingga tubuh mereka kian rapat, padahal Gadis sudah berada di pangkuannya.
Sepasang suami istri itu kini nampak saling menginginkan, lebih dari sekedar berciuman dan saling menyentuh setiap inci tubuh pasangannya.
Dan saat dimana tangan Putra kini sudah menyelinap dibalik bawahan dress rumahan yang Gadis kenakan saat ini, Gadis paham jika itu sebuah sinyal dari sang suami yang Gadis mengerti apa yang harus ia lakukan.
**
Gadis bergerak secara naluriah diatas pangkuan Putra kala guliran kecupan dari sang suami itu telah bergulir ke lehernya, dan tangan Putra telah menarik turun bagian atas dress rumahannya hingga sampai ke batas pinggang.
Mata Gadis terpejam, kala lehernya sedang diserang oleh bibir Putra, sementara kedua tangan suaminya itu sedang memberikan pijatan lembut di dadanya. Gadis terbuai, terlebih kala bibir yang tadi bermain di lehernya sudah menggantikan satu tangan Putra di dada Gadis yang Putra lepas penutupnya, dihempaskan sembarang arah saja.
Putra sudah tak sanggup menahan gejolak dalam dirinya, saat Gadis mulai intens melantunkan ******* atas setiap perlakukan bibir dan tangan Putra di tubuh sang istri saat ini.
Tanpa merubah posisi, tanpa juga melepaskan pakaian secara keseluruhan, karena rasanya untuk bergeser dari posisi mereka yang begitu intim ini mereka sudah enggan. Putra sedikit mengangkat bongkahan belakang istrinya saja, hanya untuk membebaskan sesuatu yang sudah membuat sempit celana Putra.
Hingga yang tadinya dirasa sempit dan sedikit sakit untuk Putra, menjadi lega saat ia sudah membebaskannya. “Bergerak, sayang...” ucap Putra dengan suara yang sudah begitu seraknya saat ia telah merobek paksa kain penghalang dibalik bawahan dress sang istri dan membuat dirinya dan Gadis kini telah menyatu di bawah sana.
Lega rasanya Putra, kala ia telah melakukan penyatuan dengan Gadis dibawah sana.
Namun kepeningan juga langsung melanda kepala Putra, saat Gadis sudah bergerak naik turun di atasnya.
‘Bagaimana ia bisa sehebat ini?...’ batin Putra yang terperangah karena sang istri yang sedang bergerak diatas pangkuannya itu nampak sedikit liar saat ini.
Keliaran Gadis pun membuat Putra menjadi-jadi.
Sampai dimana peluh membanjiri tubuh yang sedang saling bergerak dengan nafas yang memburu dan jantung yang bertalu dengan hebatnya, kala satu gelombang yang akan membuat keduanya sampai di titik yang melegakan itu dirasa akan sampai oleh Putra dan Gadis.
Gadis lunglai di atas pangkuan sang suami kala gelombang itu telah menghampiri keduanya. Kepala gadis jatuh di pundak Putra yang masih memakai kaos rumahannya yang telah basah dengan keringat.
Putra memeluk Gadis erat, dan keduanya mengatur ritme nafas mereka agar kembali normal setelah sesi bercinta di atas sofa tanpa melepaskan seluruh pakaian itu baru saja selesai.
Dan Gadis mengangkat kepalanya dari pundak Putra sembari mengurai dekapannya setelah beberapa menit ia dan Putra menetralkan nafas mereka, dan pasokan oksigen di paru-paru Gadis sudah normal kembali.
**
Tidak Gadis pakai lagi penyangga kedua bukit kembarnya, karena selain Gadis membersihkan diri dan pada akhirnya juga akan dilepas lagi, Gadis juga tidak memperhatikan kemana penyangga dadanya itu dilempar Putra dengan sembarang.
“Untuk apa?...”
“Ya membersihkan tubuhku ini, apalagi memangnya?...”
“Sshh – Gadiss...” Putra spontan mendesis kala Gadis dengan cepat bangkit dari posisinya, hingga penyatuan mereka terlepas.
Gadis sudah berjalan menuju ke dalam walk in closet, sementara Putra mengernyit seraya memejamkan matanya, akibat merasakan ngilu di miliknya saat Gadis bangkit dengan cepat tadi.
**
“Kira-kira kapan kamu akan kembali, Putra?...”
Gadis dan Putra kini sudah berada di atas ranjangnya dan sudah sama-sama membersihkan diri dan berganti pakaian, selepas permainan panas mereka di sofa tadi.
Mereka tidak polos sepenuhnya saat saling berbagi kenikmatan di atas sofa, namun rasanya luar biasa bagi Putra, kala melihat keagresifan Gadis yang bak seorang koboi wanita yang begitu seksi diatasnya tadi.
“Aku tidak bisa menjawab dengan pasti, Gadis...” jawab Putra atas pertanyaan Gadis.
Satu tangan Putra membingkai wajah Gadis yang berada dalam pelukannya saat ini.
“Tapi aku akan mengusahakan untuk menyelesaikan dengan cepat dengan keparat yang bernama Jaeden itu.”
Meskipun tidak dapat memberi kepastian, namun setidaknya Putra memberikan jawaban yang mungkin sedikit menenangkan keresahan Gadis.
“Aku akan menjaga diriku dengan baik Gadis, keselamatanku terutama... Demi kamu, Demi Anth, Demi keluarga ini... Lagipula aku tidak rela membuatmu jadi janda, dan membuat pria lain memiliki kesempatan merasakan tungganganmu seperti tadi...”
Selanjutnya Putra pun berkelakar hingga Gadis mendaratkan sebuah pukulan dengan kepalan tangannya yang tak serius ke dada Putra yang sedang meledeknya dan mengulum senyuman jahil.
“Bagaimana kamu mempelajarinya, hem?”
Putra lanjut menggoda Gadis.
Dimana wajah Gadis bersemu, lalu kembali memukul pelan dada Putra.
“Sudah diam, jangan ingatkan aku soal itu! Akupun tidak tahu mengapa aku jadi sebinal itu.”
Putra pun terkekeh. Mendengar Gadis yang mengeluh dengan bibirnya yang mengerucut sungguh membuat Putra menjadi gemas.
“Tapi aku menyukainya.”
Putra menundukkan sedikit wajahnya yang sudah berekspresi jahil, sembari menatap wajah Gadis yang sudah ia angkat dengan dua jarinya hingga Gadis kini mendongak dan juga menatapnya.
“Dan aku ingin merasakannya lagi,” terang-terangan Putra berucap kemudian. Dan Gadis paham kemana arah ucapan Putra barusan.
Putra mengangkat tubuhnya sendiri, lalu bersandar di sandaran tempat tidur, sembari juga tangannya menghempaskan selimut yang tadi membalut tubuhnya dan Gadis, hingga selimut tersebut jatuh ke lantai.
__ADS_1
“Kemarilah.”
Putra menepuk-nepuk satu pahanya.
“Kemari dan tunggangi aku lagi,” ucap Putra tanpa mensortir ucapannya yang terdengar begitu vulgar di telinga.
“Engg...” Gadis menggigit bibir bawahnya sendiri.
Gadis sedikit agak canggung, mendengar permintaan Putra.
Memang, ia dan Putra sudah berkali-kali melakukan hubungan suami-istri, bahkan dari sejak mereka belum menikah. Tapi kalau untuk mengulangi aksinya tadi yang menguasai permainan, Gadis rasa menjadi canggung sendiri.
“Gadis...”
Putra nampak tak sabar.
Suami Gadis itu teringat lagi aksi sang istri yang berada diatasnya saat di sofa tadi, dan melakukan gerakan yang memberikan kenikmatan luar biasa hingga membuat pening kepalanya saking Putra merasakan nikmat yang menjalar di sekujur tubuhnya.
“Gadis...”
Kembali Putra terdengar memanggil Gadis dengan sorot mata yang seolah adalah sebuah perintah.
‘Ah ya sudahlah!’
Gadis pun beringsut dan naik kembali ke atas pangkuan Putra seperti saat di sofa tadi.
Dan tentu saja, seringai kepuasan yang bercampur kesenangan langsung terbit di wajah Putra, yang sedang membayangkan bagaimana sensasi luar biasa dahsyat yang tadi ia rasakan di sofa akan ia rasakan lagi, meskipun mereka belum memulainya.
**
“Papa! Mama!”
Suara imut seorang bocah dengan masih menggunakan piyama tidurnya, membuat Putra dan Gadis dengan cepat membuka mata mereka.
“Se-lamat pagi Papa, Mama!”
Siapa lagi jika bukan Anthony yang meloyor masuk ke kamar orang tuanya melalui pintu penghubung yang tersambung diantara kamarnya dan kamar orang tua angkat kesayangannya itu.
“Hey, Anth!”
“Anthony!”
Putra dan Gadis sama-sama terkesiap.
Lalu dua orang yang masih berada di atas ranjang mereka itu spontan saling memeriksa diri mereka sendiri.
Dan didetik berikutnya dua orang tersebut sama-sama menghela nafas lega, karena untungnya setelah sesi panas yang keduanya lakukan sampai tiga kali, Papa Putra dan Mama Gadis sempat menggunakan pakaian mereka kembali, meski belum sempat membersihkan diri, saking sudah kelelahan main kuda-kudaan.
Setelah dirasa aman, Gadis langsung mendelik tajam pada Putra yang Putra tahu mengapa.
Putra semalam hanya menutup pintu penghubung dan merapatkan-nya, namun tidak mengunci pintu tersebut.
Untung saja Anthony tidak terjaga saat malam tadi, ketika Papa Putra dan Mama Gadis sedang main kuda-kudaan dengan asyiknya.
Putra hanya mengulum senyumnya saja, menanggapi delikan tajam Gadis padanya.
Lalu Putra langsung memberikan kecupan selamat pagi di kening Anthony yang sudah me-nyelempit di ruang antara Putra dan Gadis di atas ranjang orang tua angkatnya itu.
Gadis juga melakukan hal yang sama seperti Putra pada Anthony dengan memberikan kecupan selamat pagi pada bocah tampan tersebut.
“Are you leaving today Papa? ( Apa Papa jadi akan pergi hari ini? )”
“No Anth, I will go tomorrow ( Tidak Anth, aku akan pergi esok hari )”
“Yeay!!!”
Anthony mengangkat tangannya ke udara.
“It means that me and Mama can spend one more day with you! ( Itu artinya aku dan Mama akan dapat menghabiskan waktu satu hari lagi denganmu! )”
Anthony berbicara dengan antusias, Putra dan Gadis pun tersenyum.
"Also with all Daddies who'll go with you! ( Juga dengan para Dad yang akan pergi bersamamu! )"
“Of course ( Tentu saja )”
Putra pun merengkuh Anthony.
“Papa?...” panggil Anthony.
“Yes?...” sahut Putra.
“Christmas in in this month right Papa? ( Natal itu dibulan ini kan Papa? )...”
“Yes it is ( Iya benar )”
Putra menjawab dengan pasti pertanyaan Anthony.
“It’s about half of the month ( Kira-kira sekitar setengah bulan lagi )”
“Can we held a christmas in this country? ( Bisakah kita merayakan natal di negara ini? )...”
Anthony menatap Putra, lalu menatap Gadis.
“Sure we can ( Tentu saja kita bisa merayakan nya ), Anthony.”
Gadis yang menjawab dengan tersenyum.
“Are you already come home when the christmas arrive here, Papa? ( Apa Papa akan sudah kembali pulang kesini saat natal tiba? )...”
Putra terdiam.
Pertanyaan Anthony barusan, rasanya sukar untuk dirinya jawab.
**
To be continue....
__ADS_1
Berikan dukungan berupa Like jika berkenan, dan jangan lupa memasukkan ke rak buku kalian di aplikasi ini, pun jika berkenan.
Terima kasih dan enjooyyyy!! ..