LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 444


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia ...


“Putra!” Adalah Gadis yang berseru memanggil sembari mengejar Putra yang sempat berdiri berhadapan, namun sudah lagi berjalan menjauhinya.


Pun, Putra tidak menghentikan langkahnya, meski Gadis sempat melirih dengan mata berkaca – kaca. Memohon agar Putra mengurungkan niatnya yang Gadis anggap mengerikan.


“Tidak Putra! Tunggu!”


Gadis kembali berseru, dan kali ini ia langsung memposisikan dirinya di hadapan Putra. Guna menghadang jalan suaminya itu.


“Kembali ke kamar Gadis!”


Dimana Putra langsung berkata tajam pada istrinya itu.


“Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak akan membiarkan kamu membunuh orang Putra –“


“Silahkan saja jika memang kamu sanggup menahanku ...”


Balasan Putra pada bantahan Gadis yang sedang menjegal langkahnya itu.


**


“Tidak Putra! Berhenti! Putraa!! ...“


Gadis kembali lagi berseru.


Namun kali ini hanya mampu berseru dari tempatnya, tanpa Gadis bisa lagi mengejar Putra.


Karena kini tubuh Gadis sedang dipegangi Damian setelah mendapat kode dari mata dan ucapan Putra beberapa detik sebelumnya.


“Leave him, Gadis. You can’t do anything if Putra already made a decision ( Biarkan dia, Gadis. Kamu tidak dapat melakukan apa – apa kalau Putra sudah membuat keputusan )” Damian yang kemudian angkat suara menanggapi sikap Gadis yang setengah histeris dalam pegangannya.


Sementara Putra terus melangkah meniti anak tangga untuk sampai ke lantai bawah tanpa lagi menengok pada Gadis yang kini sudah – katakanlah – dikerubungi oleh empat orang yang tengah membujuk seraya menenangkan Gadis, yakni Damian, Bruna, Ramone dan Garret yang telah keluar lagi dari kamar Bruna dan Addison, setelah memastikan jika Anthony benar – benar tertidur pulas.


Putra mantap melangkah. Namun saat sudah hampir mencapai lantai bawah, Putra spontan menghentikan langkahnya.


“Jika kamu tetap bersikeras melakukan rencana gila kamu, aku pastikan aku akan pergi dari sini!”


Karena seruan Gadis, terdengar sebagai sebuah ancaman bagi Putra.


“Apa kamu baru saja mengancamku, Gadis? ...” ucap Putra yang kini telah berbalik badan di tempatnya.


“Semata karena aku tidak ingin suamiku menjadi pembunuh,” jawab Gadis.


“Heh!” respons Putra yang mendengus dan tersenyum sinis di tempatnya.


Yang didetik berikutnya mulut Putra terkatup rapat, dengan matanya yang fokus memandang pada Gadis.


**


“Nyatanya kamu sudah menikah dengan seorang pembunuh Gadis.”


Putra lalu kembali bicara, sambil ia kembali melangkahkan kakinya.


Namun langkah Putra bukan menuju ke lantai bawah, melainkan ia sudah membalikkan badannya dengan mantap untuk menghampiri Gadis.


“Apa kamu tahu bagaimana mereka di Italia menyebutku?” ucap Putra lagi yang kini sudah berhadapan dengan Gadis yang sudah tidak lagi dipegangi Damian.


Dimana Gadis kini juga sedang memandangi Putra yang sedang bicara sambil lekat memandangnya.


“I Nero Fuoco. Sang Api Hitam,” lanjut Putra. “Ingin tahu apa sebabnya? ...” sambung Putra dengan mendominasi. “Aku selalu ‘melahap dan membakar’ habis semua orang yang mengancam keselamatan Anthony dan kedua orang tuanya. Kamu tidak ingin aku jadi pembunuh?? ... aku bahkan sudah membunuh orang lebih banyak dari umurmu sebelum kita bertemu dengan ragam alasan yang menjadi keputusanku untuk menyelesaikan kontrak mereka hidup di dunia ...”


**


“Terkejut, hm? Seharusnya tidak. Karena rasanya aku sudah pernah mengatakan padamu bagaimana hidupku sebelum bertemu denganmu, walau belum semua. Pun bekas luka tembakan atau tusukan di beberapa bagian tubuhku, seharusnya dapat membuat kamu menebak seperti apa hidup yang aku jalani, orang yang seperti apa aku ini ... aku, suamimu ini, sudah banyak menghilangkan nyawa orang. Dengan se – nga – ja. Jelas? –“


“Ya Tu – haan, Put – ra –“


“Menyesal? –“


“Aku –“

__ADS_1


“Percuma.”


Putra terus menukas setiap Gadis bersuara.


“Kamu mengancam hendak pergi meninggalkanku?”


Putra mulai kembali mendominasi.


“Coba saja ...” ucap Putra lagi. “Tapi ingat satu hal ... Kamu tak akan aku lepas meski begitu kuat kamu berusaha melepaskan diri dariku, Gadis.”


“Kamu tidak bisa seenaknya memaksa seseorang untuk hidup bersama kamu jika orang itu tidak ingin, sekalipun aku begitu mencintaimu, Putra ... aku bisa terima sesuram apa masa lalu kamu, tapi sekarang kamu menjalani hidup yang baru bukan? Jadi hal tentang menghilangkan nyawa seseorang meski dengan alasan yang kamu anggap kuat sudah harusnya kamu hentikan ...”


“Sayangnya aku tidak bisa membiarkan orang yang sudah merugikanku hidup dengan tenang –“


“Kalau begitu aku tetap pada keputusanku ...”


“Ingin tetap pergi meninggalkanku jika aku tidak batal menghabisi ibu dan saudari tirimu? –“


“Iya –“


“Heh! Benar – benar ...” Putra menggumam dan terkekeh kecil.


**


Namun kekehan kecil Putra, kiranya bukan bermakna ia merasa lucu pada sesuatu.


Ada makna tak percaya dengan sikap Gadis, sebabnya Putra terkekeh itu.


Selain ada makna meremehkan di dalamnya. Pun ada rasa tak senang yang kemudian menjalar dalam hati Putra atas ancaman Gadis padanya itu.


“Baiklah kalau begitu ...” Putra berujar sambil ia manggut – manggut pelan. “Aku tidak akan membatalkan niatku untuk mengirim ibu dan saudari tirimu ke neraka sekalipun kamu mengancam hendak melaporkanku ke polisi.”


Lalu Putra kembali berujar dengan tenangnya pada Gadis yang juga masih Putra pandangi.


“Jadi jika kamu ingin pergi ...” ujar Putra lagi dengan tenangnya. “Silahkan saja ...” bahkan ada senyum di bibirnya. “I promise I won’t stop you if you want to go from me now ( Aku janji aku tidak akan menahanmu jika kamu ingin pergi dariku sekarang )” tambah Putra, yang terlihat tanpa beban mengucapkan kalimatnya yang kini ia cetuskan dalam bahasa Inggris pada Gadis.


Yang membuat Gadis jadi terperangah hingga tertegun memandangi Putra.


“Son ...”


Ramone, Damian, Bruna dan Garret langsung sama melirih selepas Putra mengatakan jika ia mempersilahkan Gadis jika memang istrinya itu ingin meninggalkannya yang tidak akan merubah keputusannya untuk menghabisi ibu dan saudari tiri Gadis.


“Go ahead istriku sayang, pergilah jika kamu ingin pergi ... aku tidak akan menahan atau mencegahmu ...”


Putra menukas lirihan Ramone, Damian, Bruna dan Garret dengan menyambar dan bicara lagi pada Gadis yang matanya sudah berkaca – kaca, namun tak gentar terlihat menghadapi Putra.


“Aku akan membereskan barangku kalau begitu,” ucap Gadis kemudian. sambil ia menghapus bulir air matanya yang sudah jatuh ke pipi.


“Bawa saja semua uang yang ada di dalam brankas kamar kita,” timpal Putra dengan menampakkan lagi senyum tipis di bibirnya.


**


“Kamu akan membutuhkannya jika benar – benar bisa dapat pergi jauh dariku –“


“Aku hanya akan membawa milikku –“


“Bawa saja uang itu, agar dapat sejauh mungkin pergi jauh dariku,” potong Putra. “Berusahalah betul – betul agar aku tidak pernah bisa menemukanmu –“


“Putra stop –“


“Karena setelah kamu melangkah pergi dan aku bisa menemukanmu kembali, Gadis ... aku akan membuatmu tinggal di tempat dimana kamu tidak akan lagi pernah tahu bagaimana hari berganti, sekalipun kamu wanita yang aku sangat cintai.”


Putra yang masih lanjut bicara meski sergahan dari Ramone agar Putra menahan dirinya yang nampak seperti sedang menantang Gadis meski dengan tenangnya, kemudian mengeluarkan ucapan yang membuat Gadis membeku kelu di tempatnya.


“I’m off now.”


Putra tak lagi terfokus pada Gadis.


“Let her if she really want to go ( Biarkan dia jika dia ingin pergi )”


Putra berucap lagi.


Dimana kini ia telah membelakangi Gadis.


Dan sekarang Putra menatap empat orang keluarganya yang lain.

__ADS_1


“I want to see, how far she can run and hide from me ... and I’ll be waiting for that ( Aku ingin lihat, sejauh mana ia dapat lari dan bersembunyi dariku ... dan aku menunggu saat itu ) ...”


Putra sedikit memiringkan tubuhnya lalu menatap kembali pada Gadis yang masih membeku kelu di tempatnya, sambil Putra tersenyum miring – yang mana senyuman Putra itu membuat Gadis cukup bergidik, pun ucapan yang dikatakan suaminya itu sebelum ia kembali melangkah menuju tangga untuk sampai ke lantai bawah villa.


“Merasakan lagi kesenangan akan ‘berburu’.”


**


Putra terus melangkah tanpa bicara atau berbalik lagi, bahkan sekedar melirik ke belakang – nampak melenggang dengan tenang setelah – katakanlah menekan Gadis sampai sebegitunya – bahkan terlihat tega mengancam istrinya sendiri dengan tanpa beban.


Padahal sesungguhnya tidak seperti yang terlihat.


‘Maaf, jika aku begitu keras padamu sampai mengancammu seperti tadi.’


Karena dalam hatinya, Putra merasa iba pada Gadis dan tak tega setelah memperlihatkan keras dan kejam dirinya pada Gadis walau tak ada kekerasan secara fisik yang Putra lakukan pada istrinya itu.


Namun begitu, Putra sadar, jika lisannya yang begitu menekan Gadis dengan disertai ancaman secara tidak langsung dan dengan tanpa kekerasan pun – akan mempengaruhi psikis Gadis.


Tapi Putra tidak punya pilihan. Selain Gadis sudah mengusik sabarnya duluan.


‘Aku mencintaimu Gadis, tapi aku sungguh tidak akan memaafkan, jika kamu berani pergi dariku.’


**


“You quite hard to Gadis, you know? ( Kau cukup keras pada Gadis, tahu? )”


Damian yang bicara ini.


Dimana pria itu sudah duduk di samping Putra dalam mobil yang sudah lebih dulu Putra masuki.


“I know ( Aku tahu )” sahut Putra pada Damian yang saat Putra telah melangkah turun dari lantai dua villa kemudian sempat menenangkan Gadis yang lalu meluruh setelah kepergian Putra dengan Gadis yang melorot di tempatnya berdiri, Damian segera menyusul Putra.


Damian tersenyum tipis setelah mendengar jawaban Putra. “Just like Vader said, don’t be too hard to Gadis and you supposed not treat a woman that you love just like that ( Seperti yang Vader katakan, jangan terlalu keras pada Gadis dan seharusnya kau tidak memperlakukan wanita yang kau cintai seperti tadi ) ...”


Putra lalu menghembuskan sedikit berat nafasnya.


“I have to, since she’s become stubborn and naive ( Aku harus seperti itu, karena dia keras kepala dan naif )”


Kemudian Putra menjawab ucapan Damian.


“And I have to, because I want her to become stronger and not easy to be foolish anymore ( Dan memang aku harus seperti itu, karena aku ingin dia menjadi lebih kuat dan tidak mudah dibodohi lagi ) –“


“Hem ...” angguk Damian. “So ... Gadis said that she wants to leave you, if you killed her mother and step sister? ( Jadi ... Gadis mengatakan jika ia ingin meninggalkanmu, jika kau membunuh ibu dan saudari tirinya? ) –“


“Hem ...” jawab Putra.


**


“You gave her permission to go, but you threatened her too ( Kau memberi ijin baginya untuk pergi, tapi kau mengancamnya juga )”


“Don’t mean to ( Tidak bermaksud begitu ) –“


“Ya, ya ... don’t mean to, but you quite enough pushed her ( tidak bermaksud, tapi kau cukup menekannya )”


**


“What else you said to her except that you will hunt her if she dare to go from you? Because Gadis looks shocked and afraid ( Apalagi yang kau katakan padanya selain jika kau akan memburunya jika dia berani pergi darimu? Karena Gadis terlihat syok dan takut ) –“


“I will put her in the place where she unable to see sun and moon until the rest of her life ( Aku akan menempatkannya di tempat dimana dia tidak dapat melihat matahari dan bulan sampai akhir hidupnya ) ... If she dare to go and I can find her ( Jika dia berani pergi dan aku dapat menemukannya )”


“Damned.”


Damian tercengang.


“No wonder Gadis looks that shocked ( Tidak heran Gadis terlihat syok begitu )”


“Yeah, but she’s quite stubborn that you thought ... make me curious how big her guts to do her threaten about leaving me ( tapi dia lebih keras kepala dari yang kau kira ... membuatku penasaran seberapa besar nyalinya untuk melakukan ancamannya tentang meninggalkanku )”


“And if Gadis really do that? ... leaving you ... will you do your threaten to her? About placing her in the place that you said ( Dan jika Gadis benar – benar melakukannya? ... meninggalkanmu ... apa kau akan mewujudkan ancamanmu padanya? Menempatkannya di tempat yang seperti tadi kau katakan )” tanya Damian lagi.


Dan Putra langsung merespons pertanyaan Damian tersebut dengan wajah yang datar namun tersirat sebuah keseriusan dalam ucapannya.


“Yes,” kata Putra. “I’ll do it with no hesitation ( Aku akan melakukannya tanpa keraguan )”


🔵🔵🔵

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2