LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 285


__ADS_3

Happy reading....


**************


Bandung, Jawa Barat, Indonesia ...


Meninggalkan sejenak mereka yang berada di Inggris, beralih dulu kepada mereka yang tinggal pada suatu bangunan megah di atas bukit.


“Madre ---“


Diantara mereka yang berada di dalam bangunan mewah yang penghuni selalu menyebut tempat tinggal mereka itu dengan Villa, ada seorang bocah kecil yang kini sedang duduk bercengkrama bersama mereka yang tidak ikut serta ke Inggris.


Anthony, yang sedang duduk diantara sepasang orang tua angkatnya. Ia sedang menoleh kepada salah satu ibu angkatnya, Bruna.


“Yes Anth?”


Bruna langsung menyahut.


“I’m worried about Papa, Daddy Dami and Garret ( Aku khawatir tentang Papa, Daddy Dami dan Garret ) ...”


Anthony yang nampak murung itu berujar.


“They still not calling here until now, and I heard when Padre also Grandpa talked, that they’re also unable to contact Papa at there ( Mereka masih tidak menghubungi kesini sampai dengan sekarang, dan aku mendengar Padre serta Grandpa berbicara, jika mereka juga tidak dapat menghubungi Papa disana )” lirih Anthony.


“That’s because there were having a snow storm, so the communication at England was disturbed ( Hal itu karena ada badai salju disana, jadi saluran komunikasi di Inggris terganggu ) ...” jawab Bruna.


Anthony manggut-manggut, namun wajah murungnya belum hilang.


“Don’t you worry ( Kamu jangan khawatir ) , hem?” Addison bersuara. “Papa Putra, Daddy Dami and Garret, they will be able to protect themselves with very carefully ( mereka mampu menjaga diri mereka sendiri dengan sangat baik )”


“Yes Padre.”


Anthony menyahut.


“I wish they’re all here when christmas time arrive ( Aku berharap mereka semua ada disini saat waktu natal tiba )”


***


“How is it ( Bagaimana ), Ad?”


Gadis bertanya pada Addison yang baru saja keluar bersama Ramone dari ruangan rahasia yang berada di ruang kerja dalam Villa.


“We still unable to contact Putra and others, if their not giving their signal first here ( Kita masih tidak dapat menghubungi Putra dan yang lainnya, jika mereka tidak mengirim sinyal kesini lebih dulu ), Gadis ----“


Addison menjawab Gadis, yang wajahnya kian bertambah murung.

__ADS_1


“Tenanglah Gadis, aku sudah menghubungi orangku di Belanda untuk menyusul Putra dan lainnya ke Inggris. Badai di sana sedikit lebih besar daripada di negara Eropa lainnya, jadi penerbangan pun terhalang---“


Ramone angkat suara.


“Aku juga tidak dapat menghubungi kediaman Putra dan orang tuanya yang berada di Salisbury, karena tempat itu sudah cukup lama tidak ditinggali, dan setahuku Putra sudah memutuskan saluran telefon disana.”


Ramone lanjut bicara.


“Dan lagi, tempat tinggal lama Putra dan orang tuanya di Salisbury sudah ditinggalkan---“


Ramone mendekati Gadis sambil mengusap pelan punggung menantu baptisnya itu.


“Tapi yakinlah, mereka pasti baik-baik saja di sana ... suamimu itu pria tangguh, Gadis ... jadi kamu jangan terlalu khawatir ya? ...”


“Iya, Vader----“ Gadis menyahut pelan.


***


“Ada apa Vader?---“


Gadis sontak bertanya, kala ia menangkap gelagat kekhawatiran di wajah Ramone yang sedang bersama Addison dan Garret pada dua hari berikutnya.


Ramone tidak langsung menjawab Gadis, melainkan ia saling lempar tatap dengan Addison dan Bruna yang juga menampakkan gurat kekhawatiran yang sama dengan Ramone.


“Don’t hide anything from me, please ( Jangan sembunyikan apapun dariku, tolonglah )---“ lirih Gadis, sambil menatap pada Addison dan Bruna-selain Ramone, kala ayah baptis Putra itu nampak sangat ragu menjawab pertanyaannya.


“Masalah apa? ...”


Gadis dengan cepat menyambar untuk bertanya lagi sambil lebih mendekatkan dirinya pada Ramone.


“Aku belum mendapat kabar yang pasti dari orang-orangku yang sudah berada di Inggris, namun begitu---“


“Masalah apa, Vader?---“ potong Gadis. “Apa ada hal buruk menimpa Putra, Damian dan Garret serta Devoss?”


Wajah sendu Gadis menjadi khawatir dan was-was.


Dan wajah khawatir serta was-was Gadis, menjadi nanar dengan sorot mata yang seolah kosong, kala Ramone menjawab pertanyaannya.


“Terjadi baku tembak, dan menurut informasi dari orang-orangku yang tidak terlibat langsung dalam baku tembak tersebut, ada pengepungan atas kubu Putra dari para musuh yang dibantu oleh kepolisian di sana, hingga ada beberapa korban dari pihak Putra, namun belum jelas siapa dan bagaimana kondisinya.. aku, Ad dan Bruna, sedang menunggu kabar berikutnya.”


“Gadis!”


Ramone, Addison dan Bruna memekik bersama kala Gadis melorot dari posisinya yang berdiri di dekat Ramone. Lalu Bruna membantu mendudukkan Gadis di sofa, dan mencoba menenangkan Gadis yang matanya sudah memproduksi air mata.


'Lindungi suamiku, Tuhaan...'

__ADS_1


**


Salisbury, England ...


“What we’re gonna do now ( Apa yang akan kita lakukan sekarang )?!” Devoss berbicara dengan cepat pada mereka yang sedang bersamanya pada situasi yang sedikit genting.


“I really don’t assume that m*therf*cker from Chicago can involve police here ( Aku sungguh tidak menduga jika keparat dari Chicago itu dapat melibatkan polisi disini )!”


Damian angkat suara.


“Are we going to fight those police ( Apa kita akan melawan para polisi itu )?”


Giliran Garret yang bersuara.


“If we shoot them\, then it will make them believe that we are rebellion or else. Don’t know what that m*therf*cker told them about us ( Jika kita menembaki mereka, maka itu akan membuat mereka percaya jika kita adalah pemberontak atau apapun itu. Entah apa yang keparat itu katakan pada mereka tentang kita )...”


Devoss merepet panjang.


“There only two options ( Hanya ada dua pilihan )---“


“No options ( Tidak ada pilihan )!”


“Yona!”


“Fight them( Lawan mereka )!”


“Yona!”


Bang!


Bang!


Bang!


Suara letusan senjata kemudian terdengar bersahutan.


“PUTRA!”


****


To be continue.....


Jangan lupa sematkan Like, Komentar dan Ulasan di karya ini yah?.


Itupun jika berkenan.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2