
Happy reading ..
🎉🎉🎉🎉
Kebahagiaan baru telah tercipta.
“Ehem!”
Suara deheman Putra terdengar.
Pria yang baru saja menyandang status sebagai suami itu sudah berada di dekat istrinya yang sedang asik bercengkrama ria dengan para wanita, termasuk dengan satu pengantin wanita lainnya.
Gadis dan mereka yang bersamanya langsung saja menoleh pada Putra yang barusan berdehem itu.
“Aku rasa kita semua sebaiknya kembali ke Hotel sekarang ..” Ucap Putra yang tak lama kemudian diiyakan oleh Gadis dan semua yang bersamanya termasuk Bruna, karena sedikit-sedikit Bruna sudah mulai memahami bahasa dari Negeri yang ia dan keluarganya tinggali saat ini.
“Ya you are right, Putra. ( Ya kamu benar, Putra ) ..”
“Padahal aku masih ingin mengobrol bersama kalian ..” Gadis menatap dengan merungut kecil pada teman-temannya tersebut.
“Tenang saja, kamu masih bisa bercengkrama dengan mereka saat di Hotel nanti ..”
Putra yang sudah mengambil tempat duduk di samping Gadis itu berucap pada wanita yang beberapa saat lalu telah sah menjadi istrinya tersebut.
“Apa ada acara lagi di Hotel setelah dari sini?” Tanya Gadis.
“Tidak” Jawab Putra. “Kita akan beristirahat sejenak di Hotel. Jika sore nanti kita semua tidak kelelahan, mungkin kita bisa berkumpul bersama dan mengadakan coffee break sejenak sebelum makan malam ..”
Putra menampakkan senyumnya lalu menoleh pada mereka yang sedang berada didekatnya dan Gadis saat ini.
“Tidak apa-apa kan jika seperti itu? ..” Ucap Putra pada teman-teman perawat Gadis juga pada teman dekat Gadis di lingkungan tempat tinggal istrinya dulu yang merupakan saudara dari Suster Neni dan juga mengenal para perawat yang merupakan teman-teman paling dekat Gadis di Rumah Sakit.
“Ya tidak apa-apa dong! ..” Suster Neni yang kini sudah lebih dekat dengan Putra yang kemudian menyahut atas ucapan Putra.
“Iya ndak apa-apa. Lagian ini juga udah mulai panas dan penganten pasti cape iya kan? ..” Salah seorang teman perawat Gadis menimpali, lalu ia cekikikan bersama teman-temannya yang lain dengan wajah yang nampak seolah sedang menggoda Gadis.
“Namanya juga pengantin baru.. Kan maunya cepet-cepet masuk kamar biar malam masih lama datengnya juga ..” Celetuk Suster Neni. Dan ia pun cekikikan bersama teman-temannya yang lain, dimana didetik berikutnya Gadis nampak mendelik pada Suster Neni dan teman-temannya yang sedang cekikikan itu.
Sementara Putra mengulum senyumnya. “Suster Neni paham sekali ..” Kekeh Putra.
Gadis pun mencubit pelan pinggang Putra.
“Maklum Senior” Celetuk teman Gadis yang merupakan saudara Suster Neni itu.
Lalu kekehan geli terdengar lagi berikut guyonan-guyonan yang membuat wajah Gadis jadi bersemu merah.
**
Kini, mereka semua yang terlibat dalam acara pernikahan simpel Putra, Gadis, Addison dan Bruna, telah bersiap untuk meninggalkan tempat jamuan di pekarangan berumput sebuah rumah ibadah yang memang biasanya digunakan untuk beberapa acara jamuan pernikahan serta untuk jamuan lainnya.
Wajah-wajah bahagia sudah bergegas untuk kembali ke Hotel tempat para pemilik acara inti menginap sejak beberapa hari yang lalu.
“Ngomong-ngomong, apa kalian tidak bekerja hari ini?..”
“Cuti dooong!! ..”
Teman-teman perawat Gadis menyahut bersamaan dengan antusias.
“Cuti? ..”
Gadis bertanya lagi dan teman-teman perawatnya itu kini menjawab dengan anggukan antusias.
“Kalian semua?..”
Lagi, teman-teman perawat Gadis itu mengangguk dengan antusias, sembari berdiri menunggu mobil-mobil yang akan mengantar ke Hotel.
“Memang bisa?, Pak Kepala kasih iji, kalian cuti berbarengan begini?..”
“Iyes, tiga hari lagi! ..”
“Oh ya??” Gadis nampak terkesima.
“Oh iyes!”
__ADS_1
Teman-teman perawat Gadis itu serempak menyahut, lalu mereka terkekeh bersama lagi.
“Kok bisa?..”
“Bisa dong! ..”
“Apa kamu lupa siapa suamimu, hem?..”
Putra menimpali. Gadis memutar bola matanya malas, seraya melirik pada Putra yang mengulum senyumnya.
“Nah iya tuh bener yang Tuan Putra bilang!”
“Iyes”
“Donatur terbesarnya Saint coba itu.. Pak Kepala mana berani bantah?.. Iya ndak Tuan Putra? ..”
Teman-teman Gadis saling mengeluarkan celetukannya.
Putra pun mengulas senyumannya. “Kalau soal cuti kan memang hak para setiap pekerja, lagipula kalian semua baik pada Gadis selama ini ..”
Putra berbicara dengan kerendahan hati.
“Aku hanya ingin Gadis dikelilingi orang-orang yang peduli padanya di momentum penting dalam hidupnya”
Putra menatap Gadis dengan tersenyum.
“Aku hanya membantu memintakan ijin saja untuk kalian kepada Kepala Rumah Sakit..”
“Iya lah dikasih ijin, orang donatur terbesar yang mintain ijinnya. Pasti dikasih!” Celetuk salah seorang teman perawat Gadis.
“Iyo, coba kalo kita minta ijin sendiri? .. Boro-boro tiga hari! Di Asese aja lama ..”
“Ho oh..”
Putra dan Gadis tersenyum geli saja melihat para perawat ceriwis itu saling berceloteh.
“Ya sudah, mari kita segera kembali ke Hotel dan beristirahat?..” Ucap Putra, saat melihat semua mobil yang dipersiapkan sudah kesemuanya siap untuk mengangkut ia dan rombongannya tersebut.
“Iya Tuan Putra ..”
Teman dekat Gadis yang berjasa baginya itu berucap sembari tersenyum lebar sembari mempersilahkan Gadis dan Putra untuk berjalan lebih dahulu darinya dan teman-teman Gadis yang lain.
“Eh iya Lin, ngomong-ngomong kamu sama Mas Pram naik apa kesini? ..”
Gadis menjeda langkahnya, bertanya pada teman dekatnya itu.
“Lah, naik mobil dong Mba Gadis!”
“Mobil siapa?” Tanya Gadis lagi.
“Lah ini suamimu yang kirim mobil berikut supir buat jemput aku sama Mas Pram”
Teman Gadis yang bernama Lina itu menyahut dengan sumringah.
“Ini baju aku yang bagus banget ini aja dikasih sama suamimu juga!.. Tuh mas Pram seumur-umur baru ini pake jas!..”
Lina berbicara dengan sumringah dan Gadis tersenyum pada teman dekatnya itu kemudian menoleh pada Putra dan mengucapkan terima kasih lewat matanya.
Putra paham tatapan Gadis tersebut, lalu ia mengangguk kecil dengan tersenyum pada Gadis.
“Lalu kalian naik apa kesini?.. “ Gadis beralih pada Suster Neni dan teman-teman perawat yang paling dekat dengannya itu.
“Lah sama, kita di sediain mobil sama supirnya juga ..”
“Baik banget Dis, suami kamu sama keluarganya ini! ..”
“Jangan dipuji terus nanti terbang orangnya!”
Gadis berkelakar sembari melirik Putra yang mendengus geli.
“Ya sudah ayo..”
Putra kembali mengajak Gadis untuk segera masuk ke dalam sebuah mobil yang dihias sebagai mobil pengantin, meski hanya sebuah buket bunga saja yang tertancap di ujung mobil, seperti halnya mobil yang ditumpangi Addison dan Bruna.
__ADS_1
Sisanya menaiki mobil yang berbeda.
Gadis mengangguk saat mendengar Putra berucap lagi untuk mengajaknya masuk ke dalam mobil.
“Eh iya..”
Gadis menjeda lagi langkahnya.
‘Apalagi Ya Tuhaann..’
Putra mendengus dalam hatinya.
Ingin sekali Putra menegur Gadis yang nampak tak habis bicara dengan teman-temannya itu.
‘Lihat saja! Akan ku bungkam ketat mulutnya dengan mulutku saat di kamar nanti!’
**
Putra dan Gadis telah berada di dalam mobil pengantin mereka dan sudah dalam perjalanan menuju Hotel tempat mereka menginap sebelumnya.
Rona bahagia nampak jelas terukir di wajah Putra dan Gadis yang tak henti-hentinya saling melempar senyum dan saling memandang dengan Putra yang merengkuh pinggang Gadis dengan posesif.
Putra bahagia, karena sudah resmi menjadikan Gadis miliknya selain ia juga sudah merasa lega. Sementara Gadis kurang lebih sama bahagianya dengan Putra.
Selain Gadis bahagia telah dipersunting oleh Putra dan sekarang menyandang gelar Nyonya Putra, setelah sebelumnya ia syok karena pernikahannya hari ini dan Putra, dijadikan kejutan untuknya dari Putra dan keluarganya. Namun selebihnya Gadis merasa amat bahagia.
Memang Gadis sendiri juga tak punya mimpi pernikahan yang muluk-muluk.
Dapat bersanding dengan pria yang ia cintai, menikah di Gereja ataupun di Catatan Sipil pun, Gadis tidak akan mempermasalahkannya, karena dapat menikah dengan resmi dan diakui di hadapan Tuhan dan Negara saja sudah cukup, tak perlu ada pesta pun tak masalah bagi Gadis.
Dan walaupun sempat syok, tetap saja kejutan yang berupa sebuah pernikahan dari Putra dan keluarganya untuk Gadis dan Putra, Gadis rasa sebagai kejutan yang indah.
Gadis sudah tinggal sebatang kara di dunia, tak punya keluarga yang dapat ia minta datang di pernikahannya. Namun beruntung, hidup Gadis diberkahi dengan teman-teman yang baik disekelilingnya, walau kesusahan dan disusahkan oleh seseorang pun juga pernah Gadis rasakan.
Dan keberuntungan Gadis bertambah, saat ia bertemu Anthony, lalu jatuh cinta pada ayah angkat bocah tampan tersebut, dimana cintanya juga bersambut dari Putra.
Putra sempurna secara fisik, seolah Tuhan sedang berbahagia saat menciptakan pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya itu di mata Gadis.
Meski Putra memiliki keposesifan yang mendominasi Gadis, namun Gadis sudah dapat menerimanya.
Mungkin terlihat mengekang, tapi Gadis mencoba memahami posesif nya Putra pada dirinya.
Selain paras dan fisik yang sempurna, Putra juga berasal bukan dari kalangan biasa, dimana Gadis merasa terangkat status sosialnya. Sedikit banyak, ia sudah mengetahui latar belakang Putra dan keluarganya yang Gadis kenal, walau belum terlalu dalam mengetahui latar belakang Putra maupun keluarganya.
Untuk saat ini Gadis akan jalani saja kehidupannya sebagai Nyonya Putra dan ibu dari Anthony yang ia sayangi sepenuh hati, bahkan sejak sebelum Gadis dan Putra menjalin kasih.
Toh selama ini, saudara-saudari Putra memperlakukan Gadis dengan sangat baik, meskipun Gadis berasal dari kalangan biasa.
Terlepas dari sisi posesif seorang Putra, pria yang sudah menyandang gelar sebagai suaminya itu, sebenarnya adalah pribadi yang hangat.
Setidaknya, meski berasal dari kalangan atas, dan juga melarang Gadis untuk bekerja, Putra mau menerima orang-orang yang berada di sekeliling Gadis yang dekat dengannya, yang berasal dari kelas sosial yang sama dengan Gadis.
Itu terbukti jika Putra begitu memperhatikan hal-hal mengenai Gadis, selain mencintainya. Putra melibatkan mereka yang dekat dengan Gadis dalam acara pernikahan mereka, bahkan memberikan fasilitas yang dianggap wah oleh mereka yang berada di status sosial yang sama dengan Gadis.
“Terima kasih ya Putra,” Ucap Gadis, sembari menatap Putra dengan tersenyum.
“Untuk?” Tanya Putra.
“Untuk semua ini. Kejutan yang sempat membuatku syok ini, sekaligus sebal disaat yang bersamaan padamu karena aku hampir kena serangan jantung saat Bruna bilang kalau aku akan menikah denganmu hari ini ..”
Putra langsung mendengus geli setelah mendengar Gadis yang bercerocos manja itu.
“Tapi aku bahagia!..”
Gadis kemudian tersenyum cantik dan memeluk dada Putra dengan erat dimana Putra langsung saja melingkarkan tangannya untuk merengkuh Gadis dan mengecup pucuk kepala Gadis yang masih tertutup cadar pengantinnya yang masih terpasang di kepala Gadis.
“Akupun bahagia”
“Terima kasih juga sudah mendatangkan teman-teman dekatku dan memberikan mereka semua fasilitas bagus itu ..”
“Kalau begitu nanti aku akan menagih hadiah untuk itu saat kita sampai kamar nanti”
Dan seringai pun muncul di wajah Papa Putra.
__ADS_1
**
To be continue ...