
Baca dulu episodenya sebelum Like / Comment ya.
Thank You .....
🌀🌀🌀
Happy reading .....
🌀🌀🌀
Last Episode :
“Look ( Dengar ), Putra ..” Damian berucap. “We just need to wait just for a day, then ( Kita hanya menunggu satu hari saja, lalu )---“
“I even feel that I can’t even wait for a minute now ( Aku rasanya bahkan tidak dapat menunggu walau hanya satu menit sekarang )”
Putra langsung menyambar untuk bicara, memotong perkataan Damian yang mewakili lainnya untuk membujuk seraya menasehati Putra.
“Come on Putra, just be patience a little bit okay? ( Ayolah Putra, bersabarlah sedikit oke? ) ..”
“That motherf*ck*r will arrive less than a day over here and you want me to patience? ( Si keparat itu akan tiba disini dalam hitungan kurang dari satu hari dan kau mau aku untuk bersabar? )”
Lalu Putra berdecih sedikit sinis.
“Well I can’t ( Nyatanya aku tidak bisa )---”
****
Salisbury, Inggris.....
Putra berdiri dengan sedikit menyerong sambil memandang pada Damian yang mencoba membujuk Putra yang hendak pergi keluar saat ini.
“I can’t stand still here waiting that motherf*ck*r arrives\, while everything about all of his allies include those traitors in Kingsley’s side\, still haven’t finished all yet ( Aku tidak bisa diam saja menunggu keparat itu sampai, saat semua yang berkenaan dengan sekutunya termasuk para pengkhianat dalam lingkup Kingsley, masih belum diselesaikan semua )---“ ucap Putra, menanggapi perkataan Damian.
Datar suara Putra, namun penekanan jelas terbaca dalam ucapannya.
“So before that motherf*ck*r arrives here\, I need to clear up those things .. And to make me go easy\, I have to make sure that our fam at Villa are all alright ( Jadi sebelum si keparat itu tiba disini, aku perlu membereskan semua hal itu .. Dan untuk membuat langkahku tenang, aku harus memastikan bahwasanya keluarga kita yang berada di Villa baik-baik saja )”
Lalu Putra memberikan penegasannya.
“I beg your pardon to interrupt Sir ( Mohon maafkan jika aku menyela Tuan ) ----“
Sam bersuara.
“Go ahead to talk ( Silahkan bicara ), Sam ..” Putra mempersilahkan.
“Thank you Sir ----“ jawab Sam. “If I catch from your conversation, do you need a phone to make a call? ( Jika aku menangkap dari pembicaraan anda, apakah anda membutuhkan telepon untuk membuat panggilan? )”
Sam kemudian berucap seraya bertanya dengan menatap kepada Putra. Dan Putra pun mengangguk.
“Yes ( Iya ), Sam.”
“I have it at my home Sir ( Aku memilikinya di rumahku Tuan )”
Sam lalu kembali berbicara, dan selepas ia berkata, wajah Putra sedikit mencerah.
“Oh Sam, you just accomplish my problem ( kau baru saja menyelesaikan masalahku ) ..”
“I feel glad if that so Sir. We just ( Aku merasa senang jika memang seperti itu Tuan )”
Sam menyahut dengan sopan dan berwibawa serta tersenyum pada Putra.
"I don't remember if you have a telephone ( Aku tidak ingat kau memiliki telepon ), Sam .."
Putra berucap kemudian.
"Whereas I ever visit your home ( Padahal aku pernah berkunjung kesana ) .."
Putra berucap lagi sambil merangkul bahu Sam, yang tersenyum kemudian.
“When you want to go Sir? ( Kapan anda hendak pergi Tuan? ) ..”
“Now ( Sekarang ) ..”
“Or maybe you can stay here, while I check the connection of the line by myself first---“
“( Atau mungkin anda bisa menunggu disini terlebih dahulu, sementara saya memeriksa saluran teleponnya )---“
“No, I’ll go with you ( Tidak, aku akan pergi sekalian bersamamu ), Sam.”
****
“I’ll go get my coat first ( Aku akan mengambil mantelku dulu )”
Putra berucap dan hendak berbalik untuk pergi ke kamarnya.
“Let me take it for you, Sir ( Biar saya yang mengambilkannya untuk anda, Tuan ) ..”
Namun Sam menawarkan dirinya sebagai seseorang yang seharusnya melayani majikannya.
__ADS_1
“Thank you, Sam.”
“It is my duty, Sir ( Sudah tugas saya, Tuan ) ..”
Sam menyahut, lalu dengan segera undur diri untuk mengambil mantel Putra di kamar majikannya itu.
“Get a new one in the cupboard ( Ambilkan yang baru di dalam lemari )” ujar Putra dan Sam menahan langkahnya.
“Yes, Sir ..” jawab Sam.
“Get mine too ( Ambilkan mantelku juga ), Sam----“
Suara Damian terdengar. Dan Putra segera menoleh padanya.
“You don’t need to go with me. None of you. Sam’s house is not really far from here ( Kau tidak perlu ikut denganku. Tidak seorang pun dari kalian. Rumah Sam tidak jauh dari sini )”
Lalu Putra segera berbicara, sebelum Sam melanjutkan langkah.
“Alright then ( Baiklah kalau begitu ) ..” sahut Damian. Lalu Putra meminta Sam untuk mengambilkan mantelnya saja.
Sam pun mengangguk dan kembali undur diri pada Putra dan lainnya.
***
“Boss.”
Beberapa anak buah yang bergantian wara-wiri di sekitar Mansion Putra, langsung menyapa Tuan mereka saat Putra telah berada di teras Mansion-nya bersama Sam dan lima pria lainnya.
Putra menjawab dengan anggukkan, sapaan dari beberapa anak buahnya itu.
“Richard ..”
Kemudian Putra memanggil Richard yang masih berdiri selepas yang lain kembali pada tugas mereka.
Dan Richard yang Putra panggil namanya itu segera lebih mendekat padanya.
“Yes Boss,” tanggap Richard dengan sigap.
“Where’s Jules? ( Dimana Jules? ) ..”
Putra melayangkan pertanyaan kemudian.
“I told him to take more rest, since he was back almost morning after he brought the leader of that silly organization to the place that you have been said ..”
“( Aku menyuruhnya untuk beristirahat lebih lama, karena ia kembali saat hampir pagi setelah dia membawa pemimpin organisasi bodoh itu ke tempat yang anda katakan ) ..”
Putra kemudian manggut-manggut setelah mendengar jawaban Richard.
“No Sir.”
Richard menjawab dengan sigap seperti selalunya.
“Jules throw him in the dump bin which at the Casino backside.”
“ ( Jules membuangnya di tempat sampah yang ada dibelakang Kasino )”
“Alright then.” Sahut Putra sambil manggut-manggut.
“Jules always do his job that well Boss. And he also few man who was went with him last night, already make sure that no one saw them threw that guy ( Jules selalu melakukan tugasnya dengan baik Bos. Dan dia beserta beberapa orang yang pergi bersamanya semalam telah memastikan bahwa tidak akan ada orang yang melihat mereka membuang pria itu )”
Richard kembali berkata untuk menjelaskan, jika Putra memiliki kekhawatiran dari penjelasan yang ia berikan barusan.
“So you don’t need to be worry if there’s anyone will find that was us who killed that guy and what we have done in his place ( Jadi anda tidak perlu merasa khawatir jika ada seseorang yang tahu bahwa kita yang telah membunuh laki-laki itu dan apa yang telah kita juga lakukan pada tempatnya ) ....”
“I believe when I asked to Sio for sending me his best people, then I don’t need to be worry for any kind of slovenliness ( Aku percaya saat aku meminta Sio mengirimkan orang-orang terbaiknya, maka aku tidak perlu mengkhawatirkan mengenai kecerobohan ) ...” ucap Putra menanggapi penjelasan Richard.
***
“Dam, Gar, you guys better try to contact Villa at our line, while I’m on may way to Sam’s house ( kalian sebaiknya kembali mencoba menghubungi Villa dalam saluran kita, saat aku menuju ke rumah Sam ) ..”
“Sure we will ( Tentu kami akan melakukannya ) ..” Damian yang menyahut mewakili Garret yang mengangguk.
“And maybe you can check my father’s jeep in the back garage ( Dan mungkin kau bisa mengecek jip milik ayahku di garasi belakang ), Gar.”
“I’m about to tell you about that ( Aku baru saja ingin mengatakan hal itu padamu ) ..”
Garret lantas menyahut dan Putra pun mengangguk.
“I will tell my wife to take you there, Sir ( Aku akan menyuruh istriku untuk mengantar anda kesana, Tuan )” Sam bersuara.
“Yes please, Sam ..” Putra mempersilahkan Sam untuk menemui istrinya untuk memberikan tugas mengantar Garret ke garasi yang berada di belakang, dimana ada dua mobil yang sengaja Putra simpan disana.
Dan sekembalinya Sam kehadapan Putra, pria paruh baya yang merupakan maid dalam Mansion Putra, bergegas pergi setelah Putra mengajaknya untuk segera pergi ke rumah yang selama ini ditinggali oleh Sam bersama istri dan anak perempuannya.
Richard ikut bersama Putra dan Sam yang memilih untuk berjalan kaki, karena badai salju berikut anginnya sudah kian mereda.
“Boss!” sebuah suara membuat Putra yang sudah berjalan bersama Sam juga Richard yang memaksa untuk menemani Putra, membuat ketiganya menoleh secara bersamaan.
“Dev? ..” ucap Putra setelah orang yang memanggilnya itu telah mendekat padanya. “What is it? ( Ada apa? ) ..” tanya Putra pada Dev yang menyusulnya itu.
__ADS_1
“Mister Dami and Garret said, better I’ll catch you up ‘cause maybe I can do something if there’s any problem with his telephone ( Tuan Dami dan Garret mengatakan, sebaiknya aku menyusulmu karena mungkin saja ada masalah dengan telepon miliknya )--”
Devoss menjawab lugas sambil menunjuk pada Sam.
Putra pun manggut-manggut.
“And I think they were right ( Dan aku rasa mereka benar )” lanjut Devos.
Putra pun mengangguk. Lalu ia berikut Devoss, Richard dan Sam melanjutkan langkah untuk pergi ke rumah Sam.
Dan beberapa menit kemudian, ke empat orang tersebut telah sampai di sebuah rumah pedesan yang terlihat layak dan terawat.
***
Ketika Putra telah sampai di rumah Sam dan pria paruh baya itu mempersilahkan dirinya serta Devoss dan Richard masuk ke dalam rumah Sam yang asri itu, Putra mengingat sesuatu hingga ia terdengar mendengus dan mendesis kecil. “Haish ..”
“What is it? ( Ada apa? ) ..” tanya Devoss yang mendengar desisan Putra yang bernada sedikit frustasi.
“Now I remember ( Aku baru saja teringat )—“
Putra yang langsung menoleh pada Devoss saat pria itu bertanya padanya lantas berucap.
“About what? ( Tentang apa? )...” sambar Devoss seraya bertanya.
“We can call Vader’s place at Netherland and tell Yuna or Bale to try make contact with Vader at Villa through their line? ( Kita kan dapat menghubungi tempat Vader di Netherland dan meminta Yuna atau Bale untuk mencoba menghubungi Vader di Villa dengan saluran mereka? )---“
“Ah ya, you were right ( kau benar juga ), Boss.” Sahut Devoss. “And now I also remember that we can also call you Mister Accursio at Ravenna to try make a contact to your Villa at Indo ( Dan aku juga sekarang ingat jika kita juga dapat menghubungi Tuan Accursio di Ravenna untuk mencoba menghubungi Villa anda di Indo )---“
“Haish, how can I become stupid now ( Haish, mengapa aku menjadi bodoh sekarang )?!...”
“You just panic ( Kau hanya sedang panik ), Boss.”
Devoss menimpali.
“That’s a natural reaction when we feel too worry about something ( Itu reaksi alami saat kita merasa terlalu khawatir akan sesuatu )---“
Devoss menambahkan.
Putra pun manggut-manggut, lalu terkekeh kecil.
"A risk as father and husband ( Resiko seorang ayah dan suami ) .." kekeh Putra.
Devoss pun terkekeh kecil selepas Putra mengucapkan satu kalimat itu.
“Excuse me Mister Putra ( Permisi Tuan Putra )”
Sam datang mendekat pada Putra yang sedang terlibat obrolan kecil dengan Devoss.
Putra lantas menyahut. “Yes, Sam?”
“Seems that a trouble in the phone line ( Sepertinya ada gangguan pada jaringan telepon )”
Lalu Sam berbicara.
“There’s no strain when I checked my telephone in this house ( Tidak ada nada saat aku mengecek teleponku di rumah ini ) ...”
“Really? ...”
Putra lantas bertanya setelah mendengar perkataan Sam.
“Yes Sir.”
Dan Sam segera menjawab Putra.
Putra terdiam sesaat. “May I check by myself your telephone ( Boleh aku periksa sendiri teleponmu ), Sam?”
“Of course, Sir. Please ( Tentu saja, Tuan. Silahkan )....” Sam pun mempersilahkan Putra untuk memeriksa telepon rumahnya itu tanpa merasa keberatan sama sekali.
***
Putra sedang mengurutkan kabel telepon rumah Sam hingga sampai titik batas didalam rumah pria paruh baya tersebut. setelah ia memeriksa nada pada telepon yang memang seperti Sam bilang-tidak ada nada yang terdengar dari sana.
“Maybe there any disturbance of the phone line because of the blizzard, since it was quite hard even not too long ( Mungkin memang ada gangguan pada saluran telepon karena badai salju, mengingat lumayan besar walau tidak terlalu lama )” ucap Sam.
“Ya I think the same way too ( Ya aku juga memiliki pemikiran yang sama )” Putra mengiyakan komentar Sam seraya ia manggut-manggut. “Let’s go back to Mansion then ( Ayo kita kembali ke Mansion kalau begitu ) ....”
Devoss dan Sam yang berada di dekat Putra pun mengiyakan ajakan Putra tersebut untuk kembali ke Mansion-nya.
“You all may go first, Sirs ( Anda berdua silahkan pergi duluan, Tuan-Tuan )—“ ucap Sam saat ia bersama Putra dan Devoss telah berada di teras depan rumahnya, begitu juga Richard. “I will go to the Mundy, to make sure about the phone line ( Aku akan pergi ke rumah keluarga Mundy, untuk memastikan tentang saluran telepon )”
“Alright then ( Baiklah kalau begitu )”
Putra pun mengiyakan Sam untuk melakukan apa yang ia katakan barusan.
Setelahnya Putra, Devoss dan Richard berjalan untuk kembali ke Mansion milik Putra.
“What will you do, if we really can’t make any call today, Boss ( Apa yang akan kau lakukan, jika kita memang benar-benar tidak dapat melakukan panggilan apapun hari ini, Bos )?---“
Devoss bertanya pada Putra.
__ADS_1
***
To be continue ..