
Happy reading ...
“Maaf mengganggu Tuan ..” Pak Abdul membuat Putra menahan langkahnya untuk memasuki ruang kerja, selepas Anthony pergi berkuda untuk berkeliling bersama Garret dan Damian dengan ditemani Suheil.
“Ada apa Pak Abdul?” Tanya Putra.
“Ini Tuan, mengenai dua orang mantan pegawai Baskoro itu Tuan ...”
“Sudah Pak Abdul sampaikan pada mereka apa yang sudah saya titipkan pada Pak Abdul untuk mereka?”
“Iya Tuan, justru tentang hal itu yang mau saya sampaikan” Jawab Pak Abdul.
“Apa mereka meminta lebih dari itu?”
Pak Abdul menggelengkan kepalanya. “Mereka memohon untuk diperbolehkan bekerja disini Tuan ...”
“Oh ya?”
“Iya Tuan ....”
“Mereka melihat apa yang aku lakukan pada majikannya, dan mereka meminta untuk bekerja disini?”
“Iya Tuan ....”
“Mengapa?”
“Katanya mereka tidak punya tempat tinggal dan keluarga, karena mereka juga orang rantau. Jadi tidak tahu harus pergi kemana ... Makanya mereka tidak bisa keluar dari rumah Baskoro meski tidak diberikan gaji dan diperlakukan
seenaknya karena ga bisa mengembalikan uang yang mereka pinjam dari Baskoro ...”
“Hemm ...”
“Kalau dari yang saya lihat sih, kedua orang itu memang sangat berharap untuk bisa bekerja disini Tuan. Tapi ya itu kembali lagi pada Tuan ...”
Putra tampak berpikir sejenak.
“Baiklah. Biarkan mereka bekerja disini. Toh Villa ini juga terlalu besar jika hanya Pak Abdul, Suheil dan Ibu Marsih yang mengurusnya”
“........”
“Bagaimana pembagian tugasnya nanti, aku serahkan padamu Pak Abdul, sebagai orang yang bertanggung jawab untuk Villa ini ...”
“Baik Tuan ...”
“Mengenai bagaimana dan berapa aku harus membayar mereka pun aku serahkan padamu yang mengaturnya, nanti lapor saja padaku berapa yang harus ku bayarkan sebagai gaji mereka”
“Baik Tuan ...”
“Satu lagi Pak Abdul ...”
“Iya, Tuan....”
“Seperti apa yang pernah aku katakan padamu saat aku membawamu untuk bekerja disini, katakan itu juga pada mereka ... Dan lagi, saat ini aku sudah mempercayakan tanggung jawab untuk kepengurusan rumah ini padamu Pak Abdul .... Jadi, setelah apa yang sudah Suheil ceritakan juga padamu mengenai aku dan keluargaku, dan Pak Abdul berikut keluarga menolak untuk meninggalkan tempat ini, kurasa Pak Abdul paham maksudku tentang bagaimana Pak Abdul mengurus orang-orang yang dipekerjakan disini secara langsung”
“Tentu Tuan, saya paham”
“Baiklah. Jika tidak ada lagi yang ingin Pak Abdul sampaikan, aku akan masuk ke ruang kerja” Ujar Putra.
“Baik Tuan”
“Ya sudah”
“Apa anda ingin dibuatkan kopi?”
“Tidak perlu, aku hanya akan menghubungi seseorang lalu menyusul Anth”
“Baik Tuan, saya permisi .... Dan terima kasih atas kepercayaan anda pada saya, Tuan Putra ...”
“Sama-sama Pak Abdul”
****
Setelah selesai curi-curi kesempatan untuk menghubungi Gadis selepas Anthony berangkat berkeliling dengan menaiki kuda bersama Damian dan Garret, dan untungnya pas sekali Gadis yang menerima panggilan masuk di ruangan perawat, Putra pun langsung menyusul tiga orang tersebut juga dengan menaiki kuda setelah juga sebelum menelpon Putra sedikit melakukan pembicaraan dengan Pak Abdul.
Satu hari ini, selain mengajak Anthony berkeliling di sekitar perkebunan teh mereka yang sudah selesai dibereskan dan dipersiapkan untuk ditanami bibit baru, Putra juga menyuruh Pak Abdul mencari orang untuk membereskan kamar Anthony sesuai dengan permintaan bocah tersebut.
Dan sesuai dengan janji dalam hati Putra, kalau ia akan meminta Gadis menghubungi Villa mereka saat waktu istirahat Gadis tiba untuk berbicara dengan Anthony, Gadis juga menepati janjinya yang mengiyakan permintaan Putra tersebut. Dengan catatan, Gadis tidak membocorkan pada Anthony jika tadi pagi Putra menghubunginya.
“Papaa!...” Itu suara Anthony yang terdengar berseru sembari memanggil Putra yang memang menungguinya saat Anthony menerima telepon dari Gadis.
“Finish talking with Gadis? ( Sudah selesai bicara dengan Gadis? )” Tanya Putra dengan tenang, karena dia tidak terlalu khawatir jika Anthony seperti saat itu memutuskan hubungan telepon dengan Gadis hingga membuat Putra
tak memiliki kesempatan untuk sekedar melepas rindu sebentar lewat suara.
Soalnya Putra sudah melepas rindu yang tersimpan tadi pagi dengan Gadis melalui panggilan telepon meski tidak lama saling berbicara.
“Yes, Papa ...” Sahut Anthony.
“Let’s have our lunch, then ( Ayo kita makan siang, kalau begitu )”
“But Gadis want to talk with you.... ( Tapi Gadis ingin berbicara denganmu .... )”
“Really???!!! ... ( Benarkah???!!!!! ... )” Tanpa sadar Putra memekik senang. “Ehem .......” Sadar sendiri kemudian.
“Hu’um ...”
“Go get your lunch with Dad Dami dan Dad Garret. I’ll catch you up ( Pergi makan siang bersama Dad Dami dan Dad Garret. Aku akan menyusulmu )”
“Okay Papa! ......”
****
“Ehem!” Putra menetralkan tenggorokannya sebelum dia berbicara pada Gadis di telepon. “Masih merindukanku Nona Gadis?...”
Terdengar kekehan kecil dari sebrang yang membuat Putra menarik sudut bibirnya dengan spontan.
__ADS_1
“Aku hanya ingin meminta hadiahku karena sudah melakukan permintaanmu Tuan Putra....”
“Hem, ternyata perawat kesayangan anakku adalah wanita matrealistis ya?”
“Huuuuummm, begitulah kira-kira .....”
Gadis menjawab santai, namun Putra tetap mempertahankan senyumannya.
Karena Putra tahu, Gadis hanya sekedar bercanda saja.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi ....”
“Hum, pertanyaan yang mana ya? Aku kurang memperhatikan .....”
Putra mendengus geli.
“Sudah berani menggoda, hem?”
Kekehan kecil nan renyah milik Gadis terdengar lagi.
“Aku bertanya Tuan, bukan mengg...”
“Karena aku masih merindukanmu”
Putra keburu menyambar sebelum Gadis menyelesaikan kalimatnya.
“Dan sepertinya akan terus seperti itu sampai aku bisa bertemu lagi denganmu”
Di seberang telepon, Gadis menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Putra barusan.
“Aku yakin kamupun begitu, benar kan?”
Gadis terdengar terkekeh lagi. “Percaya diri sekali ....”
“Kepercayaan diriku sudah ada sejak aku lahir ke dunia”
“Aku tidak heran ....”
“Jadi?”
“Apanya yang jadi?”
“Kamu masih merindukanku tidak? .... Jika kamu men....”
“Iya Putra ..... aku masih merindukan kamu...”
Untung saja tidak ada orang lain yang bersama Putra saat ini.
Hingga wajah Putra yang nampak konyol nan berseri-seri dengan senyuman yang ia kulum itu tidak ada yang melihatnya.
“Kalau begitu saat bertemu nanti akan ku bawakan hadiah untukmu” Ujar Putra.
“Wah dermawan sekali Tuan Putra ini ...”
“Apa anda baru menyadarinya Nona Gadis? ...”
“Kalau begitu, hadiah apa yang akan aku dapatkan darimu nanti Tuan? ....”
“Hal yang sangat anda inginkan tentunya Nona Gadis .....”
“Memang kamu tahu apa yang aku inginkan? .....”
“Tentu saja aku tahu betul apa yang kamu inginkan”
“Oh ya? Apa memang?”
“Aku!”
“Huumm??? ...”
“Akan ku hadiahkan diriku saat kita bertemu nanti ...”
“Ap...”
“Bebas saja, kamu mau melakukan apa padaku setelah aku hadiahkan diriku ini padamu saat kita bertemu nanti... tidak hanya pada bibirku, pada tubuhku juga ...”
“Putraaa!!!! ...”
***
“So, how was the meeting with that guy name Budi, Ad? ( Jadi, bagaimana pertemuan mu dengan pria bernama Budi itu, Ad? )”
Putra bertanya pada Addison, setelah satu saudaranya itu dan Bruna telah kembali dari kota saat hari menjelang sore.
“Positif” Jawab Addison.
“It means that he agree to sell his part of the Restaurant?”
“( Itu berarti dia setuju untuk menjual bagiannya di Restoran? )”
“Indeed ( Benar )”
Putra pun langsung manggut-manggut.
“Good!”
“He agree just like that? ( Dia setuju begitu saja? )”
Garret bertanya.
“Well after he saw the financial statements of the Restaurant that Danny made, yes, he agree just like that”
“( Yah setelah dia melihat laporan keuangan Restoran yang Danny buat, ya, dia begitu saja menyetujuinya )”
Garret pun manggut-manggut.
__ADS_1
“He didn’t put any suspicion of the financial statements? ( Dia tidak menaruh curiga pada laporan keuangannya? )”
“Thanks God he’s a stupid man! ( Terima kasih pada Tuhan karena pria itu adalah orang yang bodoh! ) ....”
Addison menyeruput kopinya.
“He didn’t even ask his assitance to re-check the statements! ( Dia bahkan tidak meminta asistennya untuk mengecek ulang laporannya! )”
“Pinhead! ( Otak udang! ) Cih!”
“I couldn’t agree more ... ( Aku setuju sekali.... )”
“I wonder that kind of man with the shallow brain could be rich and how he’s keeping his wealthy? ( Aku heran bagaimana orang berotak dangkal seperti itu bisa kaya dan bagaimana dia menjaga kekayaannya itu? )”
“From what I ever heard from Danny and Con, Budi’s family is one of the richest family in this city since long time ago ... ( Dari apa yang kudengar berdasarkan yang pernah diceritakan oleh Danny dan Con, keluarga Budi adalah
salah satu keluarga terkaya di kota ini sejak lama ) ...”
“Hemmm...”
“But unfortunately, bad luck coming to that guy family, right after Budi as the only one heir of the family, become the next generation who supposed to continue their good business, which now become not really good, since Budi
likes to gamb”
“( Tapi sayangnya, nasib buruk datang pada keluarga pria itu, sejak Budi sebagai satu-satunya pewaris saat ini, menjadi generasi berikutnya yang seharusnya meneruskan bisnis keluarga mereka yang bagus itu, yang sekarang
menjadi kurang bagus, karena Budi senang berjudi )”
“........”
“So when he saw the financial statements of the Restaurant that suffer losses, he didn’t think long after I offered to buy his part ( Jadi saat dia melihat laporan keuangan Restoran yang merugi, dia tidak berpikir lama saat aku
menawarkan untuk membeli bagiannya )”
“Well, sounds good then. Means we don’t need to get bother to make that Restaurant fully ours! ... ( Terdengar bagus kalau begitu. Artinya kita tidak perlu repot untuk membuat Restoran itu menjadi milik kita sepenuhnya )”
“.......”
“Then after that, we have to conquer this city ... ( Lalu setelahnya, kita harus menguasai kota ini ) ...”
*****
“Putra ...”
“What is it Ad?”
“( Ada apa Ad? )”
“Don’t we need to open an account at the Bank? ( Tidakkah kita perlu membuka sebuah akun di Bank? )”
Addison mencetuskan sebuah saran dan Putra nampak berpikir kemudian, lalu manggut-manggut.
“I think you were right ( Kupikir kau benar )” Ujar Putra. “Better we put some of our money at the Bank ( Sebaiknya kita memang menyimpan sebagian uang kita di Bank )”
“But I think that better we not using ours id for a while of the account ... ( Tapi kurasa kita sebaiknya tidak menggunakan identitas kita untuk akun itu sementara waktu )...”
“Ask Arthur administer of it ( Minta Arthur untuk mengurusnya )”
“Alright ( Baik )”
“By the way, have you made a contact with Danny?”
“( Ngomong-ngomong apa kau sudah mendapat kabar dari Danny? )”
Addison pun langsung mengangguk. “Already....”
“Safe? ( Aman? )”
“Ya, of course. Our secret phone line at Resto already set up that well to make it safe ( Ya, tentu saja. Saluran telepon rahasia kita di Restoran sudah dibuat sedemikian rupa agar aman )”
“Then? ( Lalu? )”
“I already call Hizkia also, and ask Danny to meet him ( Aku juga sudah menghubungi Hizkia, dan meminta Danny juga untuk menemuinya )”
“........”
“He will help to take out all Rery’s money at the deposit and his account ( Dia akan membantu untuk mengeluarkan semua uang Rery yang berada dalam deposito dan tabungannya )”
“Good... don’t forget give Hizkia part before Danny comeback here ( Bagus ... jangan lupa berikan bagian Hizkia sebelum Danny kembali kesini )”
“Ya I already told that to Dan ( Ya aku juga sudah mengatakan hal itu pada Danny )”
Putra manggut-manggut.
“Then when Hizkia could take out Rery’s money in England?”
“( Lalu kapan Hizkia bisa mengeluarkan uang Rery yang berada di Inggris? )”
“As soon as possible ( Secepatnya ). Now all up to you, want to make a transfer or other way ( Sekarang terserah padamu, kau ingin melakukan transfer atau dengan cara lain )”
“Make it half and half ( Buat setengah – setengah ). Ask Dan to charter a private plane to get back here and ask Hizkia to prepare some of men as guards but make it not too light ( Minta Dan mem booking sebuah pesawat pribadi untuk kembali kesini dan minta bantuan Hizkia untuk menyiapkan beberapa orang sebagai penjagaan namun jangan sampai mencolok )”
“Alright, then ( Baiklah, kalau begitu )”
Addison manggut-manggut.
“Then according to the Bank account, I think you should go to the Capital tomorrow ( Lalu sehubungan mengenai akun Bank tadi, aku pikir kau sebaiknya pergi ke Ibukota besok )”
Putra pun nampak menimbang-nimbang kemudian. ‘Hem, good idea. I can meet Gadis then ( Ide bagus. Aku kan bisa bertemu dengan Gadis )’
Sementara Putra sedang membatin, Addison memperhatikan Putra yang nampak mesam-mesem itu.
‘What’s wrong with his face that show a goofiness ? ( Ada apa dengan wajahnya yang tampak konyol itu? )’
♦♦♦♦♦♦
__ADS_1
To be continue....
Like jika berkenan