
Happy reading..
***************
“Hey tukang tidur...” Putra yang tidak ikut tidur siang seperti halnya Gadis itu sudah bersimpuh disisi ranjang dekat Gadis yang masih belum membuka matanya, namun kelopak matanya nampak sudah bergerak-gerak setelah Putra
memencet gemas hidung Gadis.
“Ennnnggg...” Kini Gadis sudah mengerjap-ngerjap, lalu membuka matanya dengan perlahan. “Putra?... Anthony?... jam berapa ini?...” Ucap Gadis dengan suaranya yang sedikit serak sembari memicingkan matanya saat melihat Putra dan Anthony sudah berada di hadapannya dengan mengulas senyuman.
“Sudah esok hari...”
“Hah???!” Gadis langsung bangkit duduk dengan sangat kaget.
Namun Putra dan Anthony nampak tersenyum lebar. Dan mata Gadis menangkap senyuman lebar yang bermakna jahil itu di wajah Putra dan Anthony.
Gadis pun memicingkan matanya.
“Kalian mengerjaiku ya?... Hmm, Anthony? You make a fun of me don’t you? ( Kamu mengerjaiku kan? )”
Anthony pun terkekeh kecil.
“How could you ( Benar-benar kamu ya? )...”
Dan kekehan Anthony berubah menjadi gelakan, saat Gadis sudah meraih tubuhnya dan menggelitiki dirinya.
***
Putra sudah membawa Gadis untuk berkeliling Villa dan kebun teh milik keluarganya dengan menaiki kuda, dimana Gadis berada di atas kuda yang sama bersama Putra.
Sementara Anthony menaiki kuda bersama Damian.
“Dari mulai perkebunan teh yang dekat dengan Villa tadi sampai dengan perkebunan ini milik kalian semua? ...”
“Perkebunan teh yang paling dekat dengan Villa itu milik Anth ... Dibeli saat Rery masih hidup” Jawab Putra. “Sisanya milik bersama...”
Gadis pun manggut-manggut.
‘Wow ...’
Gadis membatin takjub.
“Perkebunan milik ayahmu sebesar ini juga Gadis?”
Putra bertanya.
“Tidak. Perkebunan milik ayah dan ibu bahkan tidak sebesar perkebunan milik Anthony ...”
Putra manggut-manggut setelah mendengar jawaban Gadis barusan.
“Bahkan ayah dan ibuku hanya memiliki setengah saja dari perkebunan itu” Sambung Gadis.
“Ya sudah, nanti akan aku bantu menjadikan semua itu milikmu”
“Terima kasih ya Putra ...” Ucap Gadis lalu menoleh dan tersenyum pada Putra.
“Tidak perlu berterima kasih pada calon suamimu... Apapun akan aku lakukan untuk membahagiakanmu Gadis ...”
“Justru itu aku berterima kasih. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku...” Tutur Gadis dengan tulus pada Putra.
“Sudah sewajarnya seperti itu Gadis. Membahagiakanmu, melindungimu adalah tugasku. Selain aku bertugas untuk membahagiakan dan melindungi keluarga ini”
“Dan tugasku adalah membahagiakanmu kalau begitu ...”
“Dan patuh...”
Gadis langsung mendengus geli setelah mendengar ucapan Putra.
“Aku macam anakmu saja”
Gadis berkelakar kecil. Putra pun mengulas senyuman.
***
Puas berkeliling perkebunan dengan kuda, Putra, Gadis, Anthony dan Damian pun segera kembali ke Villa karena hari sudah beranjak senja.
Empat tersebut langsung membersihkan diri mereka masing-masing setelah sampai di Villa, lalu bercengkrama sebentar sambil menunggu makan malam disiapkan oleh Pak Abdul dan istrinya, berikut satu pelayan wanita paruh baya yang bernama Ibu Minah.
“How about the house that we want to buy, Dan?.. any news? because I’m expecting that it’s already become ours before the wedding.. ( Bagaimana tentang rumah yang ingin kita beli itu, Dan? .. ada kabar? Karena aku berharap
kalau rumah itu sudah menjadi milik kita sebelum pernikahan.. )”
“.....”
“Even we also can’t move there directly this near.. ( Meskipun kita tidak bisa langsung pindah dalam waktu dekat ..)”
“Me and Arthur will go to meet the owner tomorrow.. ( Aku dan Arthur akan pergi untuk menemui pemiliknya besok .. )”
“Maybe when you all get back to the Capital, the Notarial Sell and Purchase Agreement can be signed .. ( Mungkin saat kalian kembali ke Ibukota, Akte Jual Belinya sudah dapat ditanda tangani.. )”
Putra dan lainnya selain Danny dan Arthur yang barusan menjawab bergantian pertanyaan Putra sekaligus memberikan penjelasan, manggut-manggut setelah mendengar penuturan keduanya.
***
Gadis menggelengkan kepalanya pelan.
Saat ia kembali ke kamarnya dan Putra setelah menemani Anthony di kamar bocah tersebut sampai Anthony kemudian pulas terlelap.
Putra nampak serius dengan apa yang sedang ia lakukan di meja kerja pribadinya yang terletak di sudut kamar.
Putra yang nampak begitu seriusnya, bahkan tidak menyadari Gadis yang sudah kembali ke kamar mereka dan sudah berada dekat dengannya.
“Serius sekali” Ucap Gadis dengan tangannya yang juga terulur menyentuh pundak Putra yang langsung menoleh dan mengulas senyuman pada Gadis.
__ADS_1
“Maaf aku terlupa untuk menemanimu di kamar Anth ..” Ucap Putra. “Apa Anth sudah tidur?” Tanya Putra kemudian. Gadis mengangguk.
“Iya Anthony sudah tidur”
“Haish” Putra pun mendengus. “Pasti dia sebal padaku karena tidak menemaninya sampai ia tertidur ya?..”
“Tidak kok” Jawab Gadis. “Anthony malah bilang padaku jika ia tahu kamu sedang sibuk dan dia tidak ingin mengganggu”
Gadis mengulas senyuman pada Putra yang menatapnya.
“Dia malah melarangku untuk memanggilmu tadi”
Gadis menyambung ucapannya.
Lalu tangan Gadis mengusap lembut kepala Putra.
“Anthony bilang, dia tidak mau mengganggumu saat kamu sedang terlihat sibuk, karena selama ini kamu sudah sangat menjaganya”
Putra pun mengulas senyuman.
“Dia bahkan menasehatiku juga, untuk tidak mengganggumu jika sedang sibuk”
Gadis masih mendominasi pembicaraan.
“Padahal kan papanya yang senang menggangguku, bukan begitu? ..”
Putra pun terkekeh kecil dan mendengus geli.
“Kamu mengajari Anthony dengan baik Putra”
Putra menggeleng. “Bukan aku..” Ucapnya. “Tapi Rery dan Madelaine lah yang mengajari Anthony dengan sangat baik”
“Tapi sedikit banyak kamupun punya andil dalam sikap Anthony yang perhatian seperti itu, padamu terutama.. Dia sangat menyayangimu, hingga yang ia pikirkan adalah kebahagiaanmu”
Putra tersenyum teduh.
“Lalu menasehatiku lagi”
“Oh ya?”
“Hu’um” Gadis menganggukkan kepalanya.
“Anthony bilang, agar aku selalu mencintaimu dan jangan sampai aku menyakiti hatimu ..”
Putra kembali mengulas senyuman teduh di bibir, yang terpatri di wajahnya.
Putra pun berdiri dari duduknya.
“Maka teruslah seperti itu”
Lalu Putra membawa Gadis dekapan.
“Teruslah mencintaiku dan jangan sekali-kali menyakiti hatiku ..” Kata Putra.
“Begitulah kira-kira ..”
“Dasar Papa Putra” Gadis mencebik manja.
“I love you, Gadis.. Sangat..”
“Akupun begitu..”
“Ya sudah, aku lihat Anth dulu ya?”
Putra mengurai pelan dekapannya. Gadis pun mengangguk.
“Tidak perlu menungguku jika kamu ingin tidur duluan Gadis..”
“Iya..”
***
Putra kembali ke dalam kamarnya dan Gadis selepas ia melihat dan memberikan kecupan selamat malam pada Anthony yang sudah pulas tertidur di kamarnya sendiri. Lalu sedikit mengernyit karena Gadis nampak masih berdiri di tempatnya tadi dan sedang memegang sesuatu di tangannya. Putra memanggil Gadis.
“Gadis?” Panggil Putra. Gadis pun langsung menoleh.
“Ini kartu identitasku kenapa ada di atas meja kerja kamu?”
“Oh, aku menemukannya”
Putra menjawab tanpa ada kegugupan yang ia tampakkan.
“Dimana?”
“Di bawah kakimu saat duduk di sofa itu tadi”
Gadis mengernyitkan dahinya.
“Masa sih?”
Putra pun manggut-manggut.
“Kamu kurang teliti mencari tadi”
Putra menyahut enteng. Dan Gadis nampak iya-iya saja.
“Mungkin juga ya, efek panik kayaknya, jadi aku tidak melihat ini jatuh” Kata Gadis polos.
Putra pun menahan senyuman di bibirnya.
“Sudah simpan kartu identitasmu itu kembali dalam dompetmu..”
Gadis yang tak menaruh curiga sama sekali itu pun mengangguk untuk mengiyakan anjuran Putra.
__ADS_1
Lalu Gadis beranjak menuju walk-in-closet, untuk menyimpan kartu identitasnya tersebut dalam dompetnya yang ia simpan didalam tas yang berada di atas meja rias.
“Aneh, seingatku aku juga sudah mencari dibawah dekat sofa tadi. Tapi kenapa aku tidak melihatnya?” Gadis menggumam selagi ia berjalan menuju walk-in-closet.
Lalu Gadis mengendikkan bahunya.
“Ah sudahlah .. Yang penting kartu identitasku ini sudah ketemu”
Gadis menggumam lagi.
Sementara Putra tersenyum tipis dari tempatnya berdiri.
***
“Apa ada masalah sampai-sampai kamu tidak bisa meninggalkan apa yang sedang kamu kerjakan itu sampai tidak bisa beristirahat?”
Gadis berucap sambil menghampiri Putra yang kembali berkutat dengan berkas-berkas yang ada di atas meja kerja pribadinya itu dan sudah sempat Putra rapihkan, saat Gadis telah berganti baju dengan setelan piyama dan keluar dari dalam walk-in-closet.
Putra pun menoleh pada Gadis dan mengulas senyuman di wajahnya. Lalu Putra merangkul pinggang Gadis saat calon istri tercintanya itu sudah berada sangat dekat dengannya. Satu tangan Gadis merangkul pundak Putra, dan satu tangan lainnya menyugar rambut Putra.
Putra kini sedikit mendongak untuk menatap wajah Gadis, dengan senyuman yang masih terpasang di bibirnya.
Putra sejenak memejamkan matanya saat tangan Gadis membelai lembut satu sisi pipinya. “Aku suka saat kamu melakukannya”
“Membelai pipimu seperti ini?..”
Putra menjawab dengan anggukan. Gadis pun tersenyum teduh.
“Kamu belum jawab pertanyaanku tadi loh”
“Pertanyaan yang mana?..”
“Apa ada masalah, sampai kamu tidak bisa mengistirahatkan diri?”
“Tidak ada masalah apa-apa... aku hanya membaca laporan keuangan kami saja.. sekaligus mencocokkan ulang angka. Dan memeriksa ulang catatanku sendiri, terutama uang dan aset milik Anth yang sudah aku urutkan. Setiap ada pengeluaran dan kepemilikan aset baru, Danny akan membuat laporannya, aku dan lainnya akan memeriksa ulang lalu mencocokkan kembali. Selain menghitung uang kami tentunya”
Putra berbicara panjang lebar pada Gadis yang kemudian manggut-manggut.
“Apa ada yang bisa aku bantu?..” Tanya Gadis.
“Tidak perlu, aku sudah hampir selesai”
“Humm”
“Kemarilah .....”
Putra menarik pelan Gadis dan membuat wanita itu terduduk diatas pangkuannya.
“Temani aku saja jika ingin membantu, hem? ...” Tutur Putra. Gadis pun mengangguk.
***
Beberapa saat kemudian..
“Sini aku bantu rapihkan”
Gadis menawarkan untuk membantu membereskan berkas yang sudah Putra baca dan periksa.
Putra pun memberikan lembaran-lembaran kertas yang sudah ia baca dan periksa itu pada Gadis.
***
“Kamu tidak ingin membacanya?” Tanya Putra saat Gadis sedang menyusun satu-satu kertas-kertas yang sudah dibundel sesuai urutannya untuk dimasukkan dalam sebuah map arsip.
Gadis segera menggeleng. “Bukan kapasitasku ..” Ucap Gadis.
“Kamu akan menjadi istriku Gadis, apa yang aku miliki secara pribadi tentunya akan menjadi kapasitasmu nanti”
Putra melontarkan pernyataan.
“Untuk itu kamu perlu tahu semua harta yang aku punya, karena itu adalah milikmu juga nantinya.. Sekarang pun sudah milikmu juga.. Jadi jangan merasa lagi jika itu bukan kapasitasmu”
Gadis manggut-manggut saja, sembari memasukkan berkas-berkas yang sudah ia susun ke dalam map arsip yang telah tersedia.
“Lagipula, kamu harus membantuku mengelolanya juga”
“Iya ..”
Sembari Gadis berdiri dari pangkuan Putra.
“Ini simpan dimana? ..” Tanya Gadis sembari memegang map arsip berisikan berkas-berkas yang sudah ia rapihkan.
“Letakkan saja disini..” Jawab Putra sembari menunjuk atas meja dihadapannya. Gadis pun meletakkan map arsip tersebut di tempat yang Putra tunjuk.
Putra sudah berdiri dari duduknya. “Kamu sudah menggosok gigimu?”
“Sudah..” Jawab Gadis.
“Ya sudah kalau begitu aku ke kamar mandi dulu. Pergilah tidur duluan..”
Sembari Putra bergerak untuk menjauh dari meja kerjanya dan pergi ke kamar mandi.
Puk!.
Sebuah benda jatuh karena tak sengaja tersenggol oleh Putra.
Gadis langsung berjongkok dengan spontan untuk mengambil benda yang adalah dompet milik Putra itu, karena jatuh di dekat kakinya dan memang Gadis mengenali dompet berbahan kulit milik Putra tersebut.
Gadis mengernyitkan dahinya, saat melihat dompet Putra yang tadi jatuh dan kemudian terbuka itu. “Ini.. siapa? ..” Tanya Gadis ragu-ragu saat melihat sebuah foto seorang wanita cantik dengan rambut berkepang dalam dompet Putra.
“Cinta pertamaku..”
***
__ADS_1
To be continue ...