
Happy reading ....
♠♠♠♠♠♠♠
“Tempat yang akan kamu buka ini, bukan sebuah penjara bawah tanah kan?”
Gadis yang sedang merasa was-was itu menahan tangan Putra yang hendak membuka sebuah pintu kembar yang agak besar dihadapannya.
Sebuah pintu besar yang berada dalam sebuah tempat rahasia, yang baru saja Gadis ketahui keberadaannya, karena Putra mengajaknya untuk ikut bersamanya ke ruangan rahasia itu selepas mereka bercinta.
Meski cukup terang penerangannya, namun jika ingat cerita tentang hidup Putra yang diwarnai darah musuh-musuhnya dan para saudaranya, rasanya wajar saja jika Gadis berpikir, serta merasa was-was, selain takut, jika tempat yang akan dibuka Putra itu adalah suatu tempat yang mengerikan.
“Menurutmu?” Putra menjawab pertanyaan Gadis dengan sebuah pertanyaan, dan menatap pada Gadis, yang menilai jika wajah Putra nampak serius. Dan Gadis sedikit menelan salivanya.
Gadis tidak menyahut.
Istri Putra itu hanya menatap suaminya dengan tatapan, berikut perasaan was-was.
Putra juga masih memandang pada Gadis dengan raut wajah serius di mata Gadis, selain nampak datar.
Namun tak lama kemudian.....
“Phftt.....”
Putra menyemburkan kekehan.
“Coba lihat wajahmu itu. Seperti takut aku perkosa saja...”
“Putra!”
Gadis langsung menyergah.
“Aku tidak sedang bercanda!”
Sembari tangan Gadis memukul pelan lengan Putra.
“Pertanyaanku tadi itu serius.”
“Okay, okay .....” Putra coba menghentikan kekehannya.
“Jika dibalik ini adalah penjara bawah tanah, lebih baik aku pergi saja!”
Gadis me-manyunkan bibirnya.
Kekehan Putra masih tersisa sedikit, seraya Putra geleng-geleng.
Satu tangan Putra juga telah terulur ke atas kepala Gadis, lalu mengacak pelan rambut istrinya yang diikat ke atas oleh si empunya rambut.
“Gadis, Gadis.. kamu ini..” ucap Putra. “Ada-ada saja..”
“Jadi dibalik pintu ini penjara bawah tanah bukan?...” Gadis meminta kepastian.
“Aku dan saudara-saudaraku tidak memiliki penjara bawah tanah, okay?”
Putra mendengus geli.
“Kalaupun punya, aku tidak akan membuatnya di bawah Villa ini.”
Putra menerangkan pada istrinya yang sedang nampak paranoid itu.
“Benar bukan penjara bawah tanah dibalik pintu ini? ....”
“Oh Gadis, istriku sayang. Tempat ini terlalu terang dan rapih untuk menjadi sebuah penjara.”
Putra geleng-geleng sembari memandang pada Gadis yang sedang celingukan itu. ‘Iya juga sih ..’
Gadis membatin.
Dan memang Gadis menyadari jika penerangan pada tempatnya dan Putra berada sekarang dapat dikatakan cukup terang, dan tidak menyeramkan seperti pada sebuah film horor yang Gadis pernah tonton.
Meski tidak seterang lampu-lampu yang berpendar di Villa saat dinyalakan, namun ya, keadaan disekitarnya dan Putra memang seperti yang Putra katakan tadi. Terang dan rapih.
***
“Jadi ruangan apa di dalam sini?...” Gadis menunjuk pada pintu kembar di sisinya.
Sudut bibir Putra nampak tertarik.
“Nanti kamu akan tahu.”
Putra berucap, kemudian langsung mendorong pintu yang ada di hadapannya saat ini.
“Ini ------“
Gadis langsung tergugu saat pintu yang di dorong Putra telah terbuka lebar.
Dan mata Gadis melihat sebuah dinding tebal yang antara terbuat dari besi atau baja, yang jelas terlihat kokoh, dengan sebuah bulatan semacam roda atau kemudi mobil, tertempel di dinding tersebut.
“Brankas harta keluarga kita.”
“Ha? ...”
Gadis serta merta langsung menolehkan kepalanya ke arah Putra yang berdiri disampingnya, dengan tangan Putra yang dimasukkan ke dalam saku celana.
“Maksudmu?....”
Gadis bertanya pada Putra, sambil mengikuti Putra yang sudah bergerak mendekati dinding besi di hadapan mereka itu.
Dan Putra sudah meletakkan tangannya di roda tersebut, yang bentuknya macam sebuah kemudi.
“Apa kamu tidak tahu apa itu brankas? ...” ucap Putra seraya bertanya pada Gadis. Sambil juga Putra memutar roda tersebut ke beberapa arah sembari memfokuskan matanya pada garis dan angka yang ada di belakang roda tersebut.
“Iya aku tahu apa itu brankas ...” sahut Gadis. “Tapi bukankah sudah ada brankas di ruang kerja? ....” sambung Gadis seraya bertanya. “Dan lagi ini besar sekali ...”
Gadis sambil mencermati dinding tebal di hadapannya itu.
‘Jika ini adalah brankas seperti yang Putra katakan tadi....’
Gadis membatin.
‘Dan lagi Putra bilang tadi, brankas harta keluarga kita?....’
Gadis masih membatin.
‘Memang harta apa yang ada di dalam brankas seperti ini?... mobil mewah dan langka?...’
Gadis menerka-nerka dalam hatinya, sambil ia mencermati dinding tebal yang menurut Gadis adalah dinding raksasa.
Sebuah bunyi terdengar tak lama setelah Putra beberapa kali memutar roda yang terlihat agar berat itu, saat Gadis masih sedang menerka-nerka dalam hatinya.
Kemudian setelah bunyi terdengar, Putra pun menarik roda yang tadi ia putar beberapa kali ke arah yang berbeda, hingga dinding besi atau baja itu terbuka.
Dan mata Gadis sangat terbelalak saat dinding besi dengan roda besar ber angka itu dibuka lebar oleh Putra.
Didetik berikutnya mata Gadis mengerjap-ngerjap dengan cepat, berikut mulutnya yang menganga otomatis saat melihat apa yang tersaji di hadapannya saat ini.
Demi apapun Gadis tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Tumpukan sebuah barang yang berkilauan itu sungguh menyilaukan mata Gadis.
Belum lagi tumpukan yang Gadis prediksikan adalah uang yang entah apakah itu uang dengan mata uang negeri kelahirannya atau bukan, yang jelas tumpukannya sangat banyak. “Pu-tra ... in-i----“ Gadis tergugu.
“Harta keluarga kita.”
Putra segera menyambar ucapan Gadis yang nampak tergugu sekaligus terkejut bahkan mungkin syok melihat dari ekspresi Gadis saat ini.
‘Aduh aku ingin bertanya, apakah ini semua asli?’ batin Gadis yang teramat sangat takjub. ‘Oh ya ampun Gadis, kenapa jiwa matrealistis mu langsung keluar melihat tumpukan emas dan uang ini?!’
“Ini semua asli. Jangan khawatir...” ucap Putra.
Seperti biasa bagi Gadis, Putra seolah tahu saja apa yang ada di pikiran atau hatinya.
__ADS_1
“Bu-kan itu maksudku...”
Gadis menyergah.
“Tapi ini ...”
“Harta keluarga kita. Seperti yang aku katakan tadi...”
Putra melangkah maju dengan pelan, meninggalkan Gadis yang masih terpaku di tempatnya melihat emas dan uang yang sangat banyak di matanya.
“Ini milik Ad dan Bruna...”
Putra berbicara sembari menunjukkan rak besi yang berisi tumpukan emas dan uang yang berbeda jumlah sepertinya di mata Gadis, jika melihat banyak dan tingginya tumpukan emas dan uang tersebut.
“Ini, Dami... Garret...”
Putra berbicara sambil menyentuh tiap rak yang ia lewati.
“Ini Anth, dan ini milikku.”
Gadis memandang pada Putra, saat Putra telah berbalik dan juga sudah menghadap padanya.
“Dan milikku, tentunya adalah juga milikmu...”
“Tapi ini semua ---”
“Jangan khawatir jika kamu berpikir ini harta orang yang kami rampas...”
Putra segera memotong ucapan Gadis.
“Ini semua memang milik kami... harta bawaan pribadi kami dari Inggris dan Italia .....”
Lalu Putra berdiri di bagian paling tengah sudut ruangan.
“Yang ini harta bersama. Yang biasa kami pergunakan untuk kepentingan kami selama ini. Juga untuk keperluan sehari-hari. Harta Rery sebenarnya ...”
Gadis nampak fokus mendengarkan penjelasan Putra.
“Namun Rery sudah mengatakan padaku, bagaimana harta ini sebaiknya dibagi, jika ada sesuatu yang terjadi ....”
Putra menyungging tipis sesaat. Dan Gadis bisa menebak apa yang sedang ada dalam pikiran maupun hati suaminya dalam sesaat itu.
Pasti Putra ingat tentang kematian ayah kandung Anthony yang masih ia sesali sampai dengan saat ini, makanya ingin ia tuntaskan dendamnya itu dengan pergi menghampiri orang yang membunuh Rery.
“Tapi tenang saja, setelah aku kembali nanti, jika memang sukses, rak ini, will be full loaded ( akan terisi penuh )...... bahkan mungkin ruangan ini akan penuh terisi dengan emas dan uang, maupun banyak barang bernilai tinggi .....”
‘Apa aku sedang bermimpi?...’
“Karena di Mansion Utama milik keluarga Rery, kurang lebih ada lima kali lipat harta dari semua ini. bahkan mungkin lebih....” lanjut Putra.
‘Ya Tuhan, aku rasanya mau pingsan!’
****
“Tapi kenapa kamu menunjukkan ini padaku, Putra? ...”
Putra tersenyum seraya mendekati Gadis.
“Kan sudah aku katakan, kamu bagian dari keluarga ini. Selain itu kamu istriku. Maka, semua milikku adalah milikmu.”
“Dan aku tidak pernah ingin tahu, seberapa banyak kekayaanmu.”
“Aku tahu itu, Gadis---” Putra menyahut, namun kalimatnya tidak sampai ia ucapkan dengan lengkap.
“Yang aku ingin tahu, apa maksudmu membawaku kesini, selain untuk menunjukkan hartamu?.”
Karena Gadis yang menatap fokus pada Putra yang kini sudah berdiri di hadapannya, itu memotong ucapan suaminya.
Ada tatapan yang sedikit menyelidik dari pancaran mata Gadis terhadap Putra.
Putra menarik sudut bibirnya, lalu meletakkan tangannya di atas kedua bahu Gadis.
Sementara Gadis, ia menangkap sesuatu dari maksud Putra yang menunjukkan semua hal yang ada dihadapannya saat ini, meski seringkali Gadis tidak tahu bahkan tidak mengerti jalan pikiran suaminya yang terkadang misterius itu.
Dan selanjutnya apa yang Putra ucapkan, nyatanya sesuai dengan prediksi Gadis.
“Hanya untuk berjaga-jaga, seandainya ada hal buruk yang terjadi padaku, mak----”
“Stop!”
Gadis langsung memotong ucapan Putra.
“Gadis ---“
“Aku bilang stop Putra!” Gadis mengangkat tangannya. “Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu sekarang.”
“Hhh ...”
“Aku mau kembali ke kamar.”
Gadis membebaskan dirinya dari pegangan Putra.
“Ya sudah ...”
Putra pun mengiyakan keinginan Gadis, karena istrinya itu sudah membalikkan badannya, dan tadi Putra sempat menangkap mata Gadis yang sudah berkaca-kaca.
****
“Gadis ...” panggil Putra pada istrinya itu.
Putra dan Gadis kini sudah berada kembali di dalam kamar mereka.
“Aku sudah mengantuk.”
“Gadis, sayang ...”
Putra menarik Gadis yang sedari ruangan tempat mereka tadi tak bicara sepatah katapun pada Putra, hingga mereka telah sampai dan masuk ke dalam kamar pribadi mereka saat ini.
“Lihat aku ...”
Lalu Putra membuat Gadis menghadapnya, dengan memegang erat pinggang Gadis, guna mengunci agar Gadis tak dapat membebaskan diri darinya untuk menghindar.
Putra juga sedikit memaksa Gadis untuk menatapnya, dengan menjepit dagu Gadis dengan kedua jarinya.
“Kamu ini penangis sekali, hem? ...”
Putra coba berguyon.
Karena ada jejak air mata, pada mata Gadis yang terlihat basah oleh Putra.
Namun Gadis nampak acuh.
“Jadi aku sedang diabaikan?” ucap Putra seraya bertanya.
“Bukankah kamu yang sedang mengabaikan ku?. Mengabaikan perasaanku?”
Dengan segera Gadis menyahut, dengan matanya yang kembali nampak berkaca-kaca.
“Waktu itu kamu bilang, ‘kamu pasti rindu dengan kemesuman ku’ ... lalu tadi, kamu mengajakku melihat tepat kamu menyimpan harta, lalu kamu mengatakan ‘hanya untuk berjaga-jaga jika ada hal buruk yang menimpamu’ ... apa maksudmu hah?! ...”
Suara Gadis terdengar kesal, namun intonasi suaranya pelan. Gadis sekuat tenaga menjaga nada bicaranya agar tidak meninggi, mengingat hari sudah larut, dan di sebelah kamar mereka langsung ada kamar Anthony dimana si empunya kamar sudah tertidur dengan lelapnya.
Namun suara Gadis melirih.
“Kamu niat sekali sepertinya berpisah denganku, heh!”
Selanjutnya Gadis berkata sinis, dan terkekeh getir.
Cup!.
__ADS_1
Putra tak menyahut, namun ia langsung memberikan kecupan di bibir Gadis.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu ...”
Kemudian merengkuh tubuh Gadis, yang sepersekian detik berikutnya sedikit bergetar dalam rengkuhan Putra itu.
Sesaat Putra membiarkan Gadis meluapkan perasaan istrinya itu dalam rengkuhannya.
“Sudah ya? ...” ucap Putra yang mengurai rengkuhannya pada Gadis. Lalu menghapus jejak air mata Gadis di sekitar wajah istrinya itu.
Gadis masih sedikit terisak, lalu Putra merengkuhnya lagi, namun kini Putra merengkuh tubuh Gadis yang bersandar manja padanya itu menuju ke ranjang mereka.
“Minum dulu ...”
Putra menyodorkan pada Gadis segelas air minum, yang tersedia di salah satu nakas samping tempat tidur mereka.
“Terima kasih ...”
Gadis kembali memberikan gelas berisikan air minum yang sudah ia habiskan setengah isinya kepada Putra.
Kemudian Putra duduk di hadapan Gadis yang terduduk di pinggir ranjang. “Sudah jangan lagi menangis ... aku tidak suka melihatnya ...” ucap Putra.
Putra membingkai wajah Gadis, lalu menyelipkan satu bagian rambut Gadis di belakang telinga istrinya itu.
“Habis kamu mengatakan banyak hal yang bermakna perpisahan. Itu pun aku tidak suka mendengarnya ...”
“Iya maafkan aku ...”
Putra kembali membawa Gadis dalam rengkuhannya.
“Tapi kan kita memang akan berpisah ----“
Dan Gadis langsung mengurai rengkuhan Putra dengan cepat, lalu langsung mendelik tajam pada suaminya itu.
Putra langsung tersenyum geli.
“Hanya untuk sementara, sayangku Gadis.”
Kemudian Putra mencubit gemas hidung Gadis.
“Kalau kamu bicara yang menjurus-jurus lagi seperti tadi dan waktu itu seolah kamu tidak akan kembali, aku akan membencimu!”
“Iya, iya ...”
Putra tersenyum mengiyakan sembari menangkup wajah Gadis.
“Aku akan mengingat kata-katamu itu Nyonya Putra Adjieran ...”
Putra kini mencubit gemas pipi Gadis dan sedikit menggoyangkannya.
“Daripada kamu merajuk seperti ini, lebih baik kamu memijat ku saja. Bagaimana, hem? ...”
“Pijat saja loh ya? ...” Gadis berkata seraya mengarahkan telunjuknya pada Putra.
“Enak saja ...”
Dengan cepat Putra sudah menaiki ranjang, lalu menarik tubuh Gadis hingga istrinya itu berbaring di atas ranjang, yang langsung putra kukung di bawahnya.
“Kamu yang mau memulai seperti tadi, atau aku? ...” ucap Putra seraya bertanya dengan menampakkan ekspresi nakalnya pada Gadis. “Kamu saja ya, hem?. Aku suka melihat dan merasakan keagresifanmu.”
“Dasar! ...” kekeh Gadis, karena Putra sudah dengan cepat lagi membalikkan posisi, hingga kini Gadis yang berada di atas Putra.
“Ayo, aku ingin melihat dan merasakan lagi kenakalan istriku ini,” goda Putra.
Dimana Gadis kemudian terkekeh lagi, karena tingkah Putra yang seolah memasrahkan dirinya itu untuk diapa-apakan Gadis.
Dan didetik berikutnya, Gadis sudah menempelkan bibirnya pada bibir Putra. Dimana tentu saja Putra dengan antusias menyambut ciuman Gadis itu.
“Oh iya Putra ...” Gadis tiba-tiba mengurai ciumannya.
Membuat Putra spontan mendengus sebal.
“Hem ...”
“Ngomong-ngomong tadi kamu menyebut Putra Adjieran-----“
“Ya memang itu namaku ... Putra Adjieran Vinson ... saat kita menikah apa kamu tidak memperhatikan namaku? ...”
Gadis menunjukkan deretan giginya pada Putra, dimana Putra langsung berdecih geli, karena tanggap dengan ekspresi Gadis yang secara tidak langsung mengiyakan jika memang Gadis tidak memperhatikan nama lengkap suaminya itu.
“Ada, wanita yang menikah tapi tidak memperhatikan nama suaminya? ...”
Putra berkesah, dan Gadis masih cengengesan. “Yang penting kan orangnya? Daripada namanya nama kamu, tapi ternyata orang lain yang menikahiku, bagaimana hayo? ...”
“Maka akan aku buat kamu menjadi janda saat itu juga, lalu aku akan mengambil alih untuk menikahimu ... mudah saja ...” jawab Putra enteng.
“Kamu ini, apa-apa selalu menghilangkan nyawa ...” protes Gadis.
“Memang itu cara yang tepat untuk menghilangkan para pengganggu!”
Putra menyahut cepat dan Gadis geleng-geleng. “Dasar!” cebik Gadis.
“Lalu tadi kamu menanyakan namaku, kenapa? ...”
Putra menatap lekat Gadis, yang masih berada di atas tubuhnya itu.
“Aku hanya ingin menanyakan saja, apa nama belakangmu Adjieran ... Vinson itu yang digunakan oleh keluarga ini? ... atau menggunakan nama keluarga Anthony? ...” tanya Gadis dengan masih dalam posisinya di atas tubuh Putra.
“Nama belakangku ...”
Gadis manggut-manggut setelah mendengar jawaban Putra.
“Adjieran Vinson ya? ...” tanya Gadis lagi pada Putra untuk memastikan.
“Hanya Adjieran nya saja ...” jawab Putra. “Selain nama itu lebih membumi disini, baik di Inggris maupun di Italia, selain mereka yang sangat dekat denganku, tidak ada yang tahu nama tengahku itu. Akan lebih aman jika aku menggunakan nama itu saja untuk kehidupan baru disini ...”
Gadis manggut-manggut lagi. “Jadi kami semua a-----“
“Cerewet sekali!”
Putra memotong ucapan Gadis dan langsung membekap mulut istrinya itu dengan ciuman, lalu kembali membalikkan posisi, hingga Gadis kini berada di bawahnya lagi.
Dimana selanjutnya, dengan cepat Putra melepaskan satu per satu kain yang melekat di tubuh Gadis dan tubuhnya.
Kembali melakukan kegiatan yang menjadi candu bagi Putra atas Gadis. Hingga terbayar lah waktu sore hari Putra yang tidak bisa menjamah Gadis karena keberadaan Anthony di kamar mereka sampai waktu makan malam tiba.
Putra benar-benar memanfaatkan satu malam ini untuk memadu kasih dengan Gadis sepuas hati, hingga Putra merasa lelah, selain tak tega melihat Gadis yang sudah hampir tak berdaya mengimbangi hasrat kelakian Putra yang menjadi menggebu berkali-kali lipat malam ini.
“Tidurlah sayang ..” ucap Putra saat entah untuk yang kesekian kalinya ia selesai memadu kasih berpeluh dengan Gadis.
Gadis yang berada dalam dekapan Putra yang tubuhnya masih polos sama seperti dirinya itu menggeleng pelan. “Aku tidak mengantuk.” Dengan cepat Gadis pun menyahut, meski ia sudah terlihat lelah.
Membuat Putra sedikit mengurai pelukannya, dan membuat dirinya sejajar dengan Gadis yang berbaring miring di atas ranjang mereka.
“Jika kamu tidak tidur, nanti aku tak habis-habis ‘mengerjaimu’,” canda Putra padahal dia sudah mencukupkan dirinya melepaskan hasrat kelakiannya pada Gadis.
“Tidak apa. Aku rela.”
Jika sedang dalam keadaan dimana Putra tidak akan pergi jauh esok hari, mungkin kalimat Gadis barusan akan menjadi mortir bagi diri Gadis sendiri, mengingat akan betapa senangnya Papa Putra mendengar ucapan Gadis barusan.
Namun alih-alih senang, hati Putra ia rasa mencelos mendengar Gadis yang berucap pasrah dengan raut wajah yang sendu, juga lesu.
“Aku berharap esok jangan datang ..” lirih Gadis.
“Esok pasti datang sayangku Gadis ...” ucap Putra. “Dan sekali lagi aku katakan padamu untuk tidak merasa khawatir yang berlebihan selama aku berada di Inggris ---“
“Inggris? ...” Gadis memotong ucapan Putra. “Bukankah kamu akan pergi ke Italia, Putra? ...”
****
__ADS_1
To be continue ....