LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 411


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


“She is having a asthma ( Dia memang menderita asma )”


Adalah Bruna yang berbicara, setelah ia memeriksa ibu tiri Gadis yang sebelumnya berlutut di hadapan Gadis -- kemudian tahu – tahu merunduk bicara dengan terbata, sambil memegangi dadanya.


Lalu Gadis menjadi panik.


Ketika sedetik berselang setelah itu, ponakan dari ibu tiri Gadis yang tetap ia anggap sebagai sepupunya, meski tiri – agak berseru dengan wajah panik yang ia tampakkan.


Mengatakan jika penyakit ibu tiri Gadis itu kambuh.


Lalu Bruna tergerak untuk memeriksa keadaan ibu Gadis itu, dengan niatan yang tulus membantu.


Karena memang Bruna belum tahu cerita tentang bagaimana ibu tirinya Gadis kepada wanita yang Bruna anggap adalah saudara iparnya itu, walaupun Putra dan dirinya sama sekali tidak ada ikatan darah ataupun keluarga secara silsilah.


Dan sikap Bruna pada ibu tiri Gadis itu memang murni untuk membantu memeriksa keadaan wanita yang statusnya sempat Gadis beritahukan padanya dan Garret. Dimana sebenarnya Bruna agak terkejut juga, karena baru mengetahui jika Gadis ternyata masih memiliki kerabat walaupun ibu tiri.


Penasaran juga, kenapa Gadis tidak pernah cerita padanya soal ibu tirinya itu. Namun Bruna menahan dirinya untuk bertanya. Dan lagi, Gadis juga sempat mengatakan jika dia akan cerita saat sampai di villa mereka nanti.


Jadi Bruna tidak bertanya lebih lanjut. Dan lagi, ibu tiri Gadis tadi terlihat jika kurang sehat di matanya.


***


“But I don’t know how bad the asthma that she’s is suffering without my equipment. Beside her lungs need to be check too in detail ( Tetapi aku tidak tahu sejauh mana kondisi asma yang dia derita tanpa peralatanku. Lagipula paru-parunya juga perlu diperiksa secara detail )”


Bruna meneruskan ucapannya.


Gadis paham ucapan Bruna yang sedikit memberi penjelasan padanya itu.


“Does she knows about her condition? ( Apa dia tahu mengenai kondisinya sendiri? )..”


Lalu Bruna bertanya kemudian, dan Gadis mengangguk.


***


“Did she already get the treatment? ( Apa dia sudah berobat? )”


Bruna bertanya. Gadis pun sekali lagi mengangguk mengiyakan, menjawab pertanyaan Bruna.


“Then she must be have some medicine ( Kalau begitu dia pasti diberikan obat ) –“


“I believe so ( Aku rasa begitu ), Bru..” tukas Gadis. Dimana mereka yang tidak paham hanya diam saja memperhatikan interaksi Gadis dan Bruna yang menggunakan bahasa Inggris itu.


Ada yang memuji dalam hatinya.


Ada juga yang tercengang melihat kemampuan Gadis yang di mata mereka mengerti bahasa para inlander itu.


“Well better she take that medicine now ( Yah sebaiknya dia meminum obat itu sekarang )”


“Okay, Bru –“


***


“Ibu kan katanya sering periksa ke puskesmas sama rumah sakit di pusat kota? Pasti Ibu dapet obat kan?”


Gadis lalu beralih kepada ibu tirinya selepas ia bercakap dengan Bruna.


“Dimana Ibu simpan? biar Sari yang ambilkan..“


Dan kembali mengajukan pertanyaan, sebelum ibu tirinya itu sempat menjawab pertanyaan Gadis yang sebelumnya.


“Itu..“


Ibu tiri Gadis agak tergugu.


‘Duh kalo aku minum obat, bisa gagal rencana supaya Gadis ajak aku ke rumah gedongnya itu! Lagian aku kan ga beneran kumat, cuma nyesek sedikit gara – gara jalan muter lewat sawah! Ah pokoknya jangan sampe itu si Gadis nyuruh si Sari yang kadang bloon itu ambil obat aku di rumah.’


Dengan dirinya yang membatin.


“Bu? –“

__ADS_1


“Itu, Dis..” tukas ibu tiri Gadis. “Obat Ibu kebetulan abis. Nah itu Madya sekalian nebus pas dia kerja itu loh, Dis –“


“Ya ampun Bu, ibu harusnya sudah membeli obat cadangan saat melihat obat ibu hampir habis. Kalau benar – benar kehabisan seperti ini, kan bisa berbahaya, Bu..”


“Duuh Dis, Ibu bisa berobat sama nebus obat aja udah sukur. Itu juga Ibu berobat kalo ada duit lebih, Dis. Ya dari upah Ibu, atau engga kalo si Madya dapet uang lebihan dari orang yang belanja di toko tempat dia kerja –“


***


“Makanya Ibu seneng banget pas ketemu kamu sekarang, Dis. Ibu udah ngebayangin ada yang nemenin Ibu pas Madya kerja. Paling engga, kalo pas ibu kumat terus obat ibu abis kayak sekarang, kan ada kamu yang pasti ngurusin Ibu. Karena Ibu tau kamu itu orangnya baik hati.”


Ibu tiri Gadis lanjut bicara dengan wajah yang ia buat sesendu mungkin. Bahkan ia bisa menampilkan ekspresi dengan mata berkaca – kaca.


“Terus pas liat kamu tadi, ibu langsung mikir, Yang Esa bikin kamu balik ke sini biar ibu bisa minta maaf ke kamu langsung.. yah, mungkin aja umur ibu ga panjang lagi, Dis –“


“Jangan bicara begitu, Bu. Ga baik.”


Gadis menukas ucapan ibu tirinya itu.


***


“Makanya Dis, Ibu sedih kamu nolak tinggal lagi di rumah sama Ibu dan Madya..”


“Maafkan aku soal itu, Bu. Tapi memang aku tidak bisa lagi tinggal di sana. Bukan karena aku tidak mau. Jika saja –“


“Karena kamu kerja sekarang ya, Dis? Di rumah orang – orang londo ini.”


“Bu –“


“Kalo gitu gini aja, Dis.”


Ibu tiri Gadis menukas ucapan Gadis.


“Kamu tetep tinggal aja sama Ibu dan Madya. Kamu minta ijin buat setiap hari pulang ke sini kalo kerjaan kamu udah selesai..”


“Aku—“


“Atau engga Ibu mau Dis bantuin kamu kerja sama mereka. Itung – itung Ibu nebus kesalahan sama kamu, Dis. Jadi Ibu bakalan bantuin kamu kerja di rumah mereka.”


Lagi, ibu tiri Gadis menukas ucapan Gadis.


Dimana Gadis tersenyum tipis saja.


“Yang penting kamu bisa tinggal lagi sama Ibu, Dis. Jadi kalo nanti Ibu kumat parah pas Madya sama obat Ibu ga ada, kan kamu pasti langsung bisa nolong Ibu. Kalo kamu tetep nolak juga, Ibu anggep kamu emang dendam sama Ibu, Dis.”


“Aku sama—“


“Sedih Ibu jadinya, Dis..”


Ibu tiri Gadis terisak kemudian.


“Ngebayangin Ibu mati di dalem rumah ga ada yang tau..” beo ibu tiri Gadis lagi.


“Ya ampun Ibu, jangan berpikir seburuk itu. Aku akan pikirkan cara untuk Ibu agar bisa berobat dengan lebih layak, ya?”


“Tinggal lagi sama Ibu ya, Diis?.. Ibu mohoon..”


“Ya ampun, Ibu!”


Gadis sedikit memekik, karena ibu tirinya itu telah lagi berlutut di hadapannya.


Sambil Gadis meraih pundak ibu tirinya itu, dan membuat wanita itu tidak lagi berlutut di hadapannya.


“Why she doing that again ( Kenapa dia melakukannya lagi ), Gadis?” Bruna sontak bertanya, karena ia melihat lagi ibu tirinya Gadis itu berlutut di hadapan Gadis.


“She thought that I comeback here to stay with her again ( Dia mengira aku kembali ke sini untuk tinggal bersamanya lagi )—“


***


Dimana setelahnya Gadis menjelaskan secara garis besar tentang keluhan ibu tirinya kepada Bruna.


Yang mana sesuai dengan setiap perkataannya itu meliputi ketakutan dan kekhawatiran jika Gadis menolak tinggal bersamanya. Termasuk juga kepada Garret dan Arthur.


Dan ketiganya nampak manggut – manggut saja.


Gadis menunggu komentar dari Bruna, Garret dan Arthur sebenarnya – namun ketiganya tidak mencetuskan sesuatu untuk Gadis jadikan solusi.

__ADS_1


‘Ibu sepertinya sudah berubah. Dan aku jadi khawatir padanya.’


Gadis membatin kemudian.


‘Aku merasa kasihan pada Ibu, saat mendengar jika apa yang dia takutkan itu terjadi, asmanya akut lalu kumat di rumah saat ia sendirian dan meninggal tanpa ada yang tahu.’


Gadis masih bermonolog dalam hatinya.


‘Aku tidak sampai hati membayangkan jika itu sampai terjadi..’


***


‘Bagaimana ya?..’


Gadis sedang memikirkan solusi di kepalanya.


‘Aku kan tidak mungkin tinggal lagi di rumah orang tuaku sekarang..’


Gadis menggigit bibir dalamnya.


‘Kalau.. aku ajak Ibu tinggal di villa, diperbolehkan atau tidak ya?’


***


“What is it, Gadis?..” Garret yang melihat Gadis nampak melamun, spontan mencetuskan pertanyaan kepada istri Putra itu.


“Eum –“


“Temenin Uwa sih Dis. Kamu tega amat.”


Sari, menukas ucapan Gadis yang ingin menjawab pertanyaan Addison.


“Kamu minta ijin aja ini sama majikan kamu buat pulang abis kerjaan kamu selesai kayak yang Uwa bilang tadi  atau engga ajak Uwa aja tinggal di tempat majikan kamu sekalian. Masa niatan baik Uwa kamu tolak gitu aja?”


Sari bercerocos kemudian, hampir tanpa jeda.


Membuat mereka yang ada bersama Gadis jadi memperhatikannya.


“What did she say ( Apa yang dia katakan ), Ar?..”


Garret berbisik, bertanya pada Arthur yang memiliki kemampuan memahami bahasa Indonesia diatas dirinya.


"I can't get what her mean clearly ( Aku tidak dapat menangkap maksud ucapannya dengan jelas )" jawab Arthur. “She talk to fast just like a duck ( Dia berbicara terlalu cepat macam seekor bebek )..”


Garret pun spontan tersenyum geli selepas mendengar jawaban Arthur. Yang kemudian menelengkan samar kepalanya setelah mendengar Sari merepet. Lalu kembali memperhatikan wanita itu lagi saat Sari kembali terdengar suaranya.


“Udah kamu cepetan atuh, minta ijin sama majikan kamu itu. Pasti mereka ijinin. Aku yakin deh. Sayang aja aku ga bisa bahasa londo. Kalo engga aku deh yang minta ijin sama mereka supaya kamu bisa ajak Uwa tinggal sama kamu,” cerocos Sari lagi.


Gadis pun melirik ke arah Garret dan Bruna.


‘Aku katakan saja ya maksudku pada Bruna dan Garret?’


“Gadis, I think we should go home now because it’s almost evening ( Aku rasa kita harus pulang sekarang karena ini sudah hampir senja )”


Bruna bersuara di saat Gadis sedang membatin.


Sambil menunjuk ke arah Garret yang sedang memangku Anthony, dimana bocah itu sudah bergelayut malas - malasan di pangkuan Garret.


“Anth needs to clean up, beside he looks  very sleepy now ( Anth perlu dibersihkan tubuhnya, dan lagi dia sudah terlihat sangat mengantuk )” kata Bruna lagi.


“Iya, Bru.”


Gadis mengiyakan ucapan Bruna.


“Shall we then? ( Ayo kita pulang kalau begitu? )..”


Garret lalu bersuara setelah Gadis mengiyakan ucapan Bruna untuk lekas pulang.


“Eum, Bru, Gar..“


“Yes, Gadis?”


Bruna dan Garret sama menyahut saat ketika mereka berdiri, Gadis memanggil mereka.


“May I take my step mother to villa? ( Bolehkah aku mengajak serta ibu tiriku ke villa? )—“

__ADS_1


***


To be continue.......


__ADS_2