
Happy reading ....
************
“Jadi kamu benar-benar membuat Dokter Ilse keluar dari Saint Putra?”
Gadis spontan bertanya pada Putra saat ia mendengar Suster Neni yang bilang, sayangnya Dokter Ilse sudah tidak praktek lagi.
Putra yang tadinya sedang bersenda gurau dengan Anthony dan juga Damian serta merta langsung menoleh pada Gadis. Tidak hanya Putra, tapi semua orang yang duduk melingkari meja bundar dihadapan mereka itu juga spontan menoleh pada Gadis.
Namun Putra terdengar berdecak kecil.
“Jangan membicarakan hal yang tidak penting”
Suara Putra berikut tampangnya terdengar dan terlihat malas menanggapi pertanyaan Gadis barusan.
“Ih jawab dulu pertanyaanku .....” Cecar Gadis.
“Aku tidak mau menjawabnya. Malas”
Putra kembali melanjutkan makannya.
“Jangan egois seperti itu dong Putra.....”
Gadis tak menggubris ucapan Putra tadi.
“Dokter Ilse yang sentimen padaku itu kan secara personal, sementara secara profesional dia itu seorang Dokter dan Psikiater yang hebat. Jangan gara-gara persoalan pribadiku dengan Dokter Ilse lalu kamu menggunakan uang dan kekuasaanmu untuk menyuruh Pak Kepala untuk mencabut ijin Dokter Ilse di Saint....”
“Eh? ..”
Suster Neni mengernyitkan dahinya.
“Aku tidak suka sifatmu yang egois seperti ini. Jangan mentang-mentang kamu kaya raya dan bisa membeli kekuasaan dengan itu, lalu kamu menggunakannya untuk kepentingan pribadimu..”
Gadis masih mencerocos.
“Aku tidak suka dengan cara kamu yang entah seperti apa pada Pak Kepala dan Pihak Saint sampai kamu menyuruh mereka mencabut ijin praktek Dokter Ilse disana ..”
Gadis masih menatap Putra yang nampak masih santai menikmati makanannya.
“Jangan suka berlaku seenaknya pada orang lain” Ucap Gadis kemudian. “Pokoknya aku mau kamu kembali membuat Dokter Ilse praktek di Saint. Kasian kan pasien-pasiennya Dokter Ilse..”
“Sudah bicaranya?” Tanya Putra saat Gadis meraih gelas minumnya. “Jika sudah..”
“Eh tunggu deh Dis...”
Suster Neni keburu menyela.
“Kamu kata siapa Dokter Ilse berhenti praktek di Saint?”
Kemudian Suster Neni bertanya pada Gadis.
“Tadi kan Mba Nen bilang sayangnya Dokter Ilse udah ga praktek lagi di Saint ..”
Gadis langsung menjawab setelah selesai meneguk air minum di gelasnya.
“Tadi juga Putra bilang waktu kami datang ke Saint, katanya Dokter Ilse udah ga disini”
Kemudian Gadis menoleh pada Putra.
“Benar begitu kan? ...” Tanya Gadis seraya meminta pengakuan Putra.
Putra hanya menjawab dengan dengusan kecil.
“Jadi menurutmu, aku menyuruh Kepala Saint untuk memberhentikan Ilse praktik di sana begitu? ..”
“Memang seperti itu kan?”
Gadis menyahut seraya melirik sedikit sinis pada Putra.
“Kamu kan memang suka seenaknya..”
Lalu Gadis menggerutu.
“Ih Gadis ...”
Suster Neni menyela.
“Yang bilang Dokter Ilse itu berhenti praktek di Saint itu siapa?...”
Gadis kini beralih ke Suster Neni. “Heu? ..”
Sementara Putra mendengus geli. Bruna, Addison, Damian dan Garret yang sudah mendapatkan penjelasan dari Danny soal apa yang sedang Putra dan Gadis serta Suster Neni bicarakan itu hanya mendengarkan saja perdebatan kecil yang tidak mereka pahami bahasanya itu.
Tapi setidaknya sudah mengerti sedikit garis besarnya melalui Danny yang paham bahasa Indonesia itu.
Dan setelahnya mereka kembali menikmati makanan mereka masing-masing sembari mendengarkan saja, dan kadang sedikit memperhatikan Putra, Gadis dan Suster Neni yang sedang bercakap itu. Sempat mengulum senyum mereka saat melihat ekspresi malas-malasan Putra yang nampak tadi seperti sedang dimarahi oleh Gadis.
**
“Yang bilang Dokter Ilse itu berhenti praktek di Saint itu siapa?...”
Gadis kini beralih ke Suster Neni. “Heu? ..”
“Mba rasa kamu ini udah salah mengartikan ucapan Emba deh Dis”
“Tadi kan Mba Nen bilang sendiri, sayangnya Dokter Ilse udah ga praktek lagi ...”
__ADS_1
“Iya makanya Emba bilang kayaknya kamu salah mengartikan ucapan Emba yang itu..”
“........”
“Dokter Ilse memang udah ga praktek lagi..”
Gadis kini memfokuskan perhatiannya pada Suster Neni.
“Ga praktek lagi hari ini, sampai beberapa hari kedepan ....”
“Jadi?..” Gadis mulai was-was.
“Katanya Dokter Ilse itu cuti karena pulang kampung ke Belanda”
“Haa?! .....”
“Makanya kalo orang belum selesai ngomong jangan nyamber dulu.. Udah gitu bikin kesimpulan sendiri lagi! Kebiasaan!”
‘Mati aku!’
“Terus kamu segala nyalahin calon suami kamu itu!”
“Eennngg..”
“Ehem!” Putra pun berdehem.
Sengaja.
Dan ya, deheman Putra itu sukses membuat Gadis menoleh padanya.
“Eennngg..” Gadis menggigit bibir bawahnya.
“Kemarin sudah merendahkanku, lalu melakukan kekerasan fisik padaku..”
Putra yang sudah meletakkan pisau dan garpu diatas piring makannya itu kemudian bersuara.
“Dan sekarang kamu menuduhku..”
Dimana kemudian Gadis tersenyum canggung. “Eengg.... Itu..” Gadis tergugu.
“Aku pastikan hukumanmu bukan hanya sekedar menggosok punggungku nanti...”
Putra berbisik tajam di telinga Gadis. Didetik setelahnya bulu kuduk Gadispun meremang.
*
‘Entah bagaimana nasibku ini nanti..*’ Gadis membatin was-was.
“Aku pastikan hukumanmu bukan hanya sekedar menggosok punggungku nanti...”
“Tidak perduli kita belum menikah, lihat saja bagaimana aku akan menghukummu”
**
“Gadis”
Putra memanggil Gadis saat Gadis sedang bersama Bruna melihat-lihat gaun pengantin yang hendak Bruna beli untuk wanita itu kenakan dihari bahagianya bersama Addison.
“Ada apa?” Gadis pun segera menghampiri Putra yang memanggilnya.
Damian, Garret dan Danny menunggu di luar Butik sembari menghisap batang nikotin dan mengobrol.
Sementara Addison dan Anthony, mendampingi Bruna melihat-lihat pakaian yang ada di Butik Pakaian Pengantin tersebut, bersama salah seorang pelayan toko Butik tersebut.
“Ikut dengannya”
Putra berucap sembari menunjuk pada salah seorang pelayan toko lainnya, yang berdiri didekat Putra dengan tersenyum ramah.
“Memangnya kenapa?...”
“Sudah ikut saja dengannya”
“Iya sudah iya .....” Gadis kemudian mengiyakan ucapan Putra yang terdengar seperti sebuah perintah di telinganya.
Lebih baik patuh sajalah pada Putra sekarang ini.
Siapa tahu dengan kepatuhannya itu, Putra, yang Gadis bayangkan bisa saja ‘menyerangnya’ di kamar nanti akan mengurungkan niat mesumnya itu. Itu yang ada di pikiran Gadis.
**
“I-ini ...”
Gadis tergagap, melihat beberapa helai pakaian yang dijejer rapih pada sebuah gantungan panjang dihadapannya.
Berkali-kali matanya mengerjap-ngerjap sembari menatap pakaian-pakaian berbahan halus dihadapannya itu.
“Calon suami anda mengatakan untuk menunjukkan pada anda beberapa gaun tidur untuk malam pengantin, sekaligus meminta anda untuk memilih beberapa diantaranya..”
“H-aa?. Ap-apa?”
Gadis tergagap sekali lagi, sekaligus ia melongo menatap dua pelayan toko yang mengulum senyum mereka.
“Dan koleksi gaun tidur yang kami punya ini dari bahan-bahan terbaik berikut modelnya yang pasti membuat malam pengantin anda menjadi berkesan Nona..”
“Kata calon suami anda tadi juga, kami boleh membantu memilihkan mana gaun tidur yang cocok untuk anda Nona..” Kata salah seorang pelayan itu lagi.
“Ta-tapi....”
__ADS_1
“Kalau saran saya Nona, melihat calon suami anda itu, pastinya dia pria yang gagah selain sangat tampan ... rasanya gaun tidur sutra ini sangat cocok sekali untuk malam pengantin anda”
“Apa-apaan..”
Gadis bergumam sembari mendelik saat salah satu pelayan toko yang nampak tersipu sendiri saat ia menyorongkan sebuah gaun tidur berwarna hitam berenda berbahan sutra dengan model mini dress berpotongan dada rendah kepada Gadis.
‘Malam pengantin kepalamu! Pernikahanku saja belum ditentukan tanggalnya!’
Gadis membatin kesal.
“Eum... aku rasa seharusnya yang memilih ini adalah calon pengantin yang sedang melihat-lihat gaun pernikahannya yang datang bersamaku itu...”
Gadis mencoba meluruskan. Karena, siapa tahu saja dua pelayan toko ini salah mengartikan perintah Putra.
‘Tapi tadi Putra sendiri yang menyuruhku ikut dengannya’ Batin Gadis sembari melirik salah seorang pelayan toko yang tadi berada didekat Putra. ‘Apa Putra menyuruhku memilih untuk Bruna sebagai hadiah mungkin ya?’
Gadis membatin lagi.
‘Ah iya, pasti itu maksudnya’
Gadis manggut-manggut sendiri.
“Ka...”
“Berikan itu padanya”
Namun sebelum Gadis sempat berucap pada dua pelayan toko dihadapannya itu, sebuah suara bariton terdengar dari belakangnya.
Gadis beserta dua pelayan toko yang dua-duanya adalah wanita itu spontan menoleh saat sebuah suara bariton baru saja terdengar. Dan sosok tampan dengan tinggi yang menjulang itu berdiri gagah dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celana.
“Putra, ini..”
“Apa ada warna lainnya dari gaun tidur yang sedang kau pegang itu?”
Putra sudah keburu berbicara pada pelayan toko sebelum Gadis sempat menyelesaikan ucapannya.
“Ada Tuan.... Ada tiga warna yang kami punya dari model ini...”
“Kalau begitu aku ambil dua warna lainnya itu ... yang kau pegang itu, berikan padanya” Sembari Putra mengkode pelayan toko yang memegang gaun tidur seksi itu dengan kepalanya kearah Gadis yang terbengong sembari melihat Putra.
“Baik Tuan”
Pelayan toko yang memegang gaun tidur ditangannya itupun segera mendekat pada Gadis. “Ini Nona....”
Lalu si pelayan toko tersebut menyodorkan nya pada Gadis.
“Ambil itu dan cobalah”
“Heu?...”
Gadis terkesiap.
“Eh????!” Kemudian Gadis segera terhenyak.
“Dimana kamar gantinya?” Karena Putra sudah menggenggam pergelangan tangannya sembari bertanya pada si pelayan toko yang menyodorkan gaun tidur pada Gadis barusan.
“Mari, saya tunjukkan”
“Okay” Sahut Putra pada si pelayan toko.
“Eh, Putra!..”
Gadis yang menyadari jika Putra membawanya berjalan mengikuti si pelayan toko itu pun memanggil Putra.
“Silahkan Tuan, Nona ....” Si pelayan toko mempersilahkan Putra dan Gadis saat sudah berada didepan ruangan berukuran sedang yang terletak di pojok, dengan sebuah pintu gantung dan kaca besar yang tertempel didindingnya, berikut sebuah gantungan kayu panjang yang tertempel dibagian dinding lainnya.
“Berikan itu padanya” Titah Putra lagi pada si pelayan toko yang masih memegangkan gaun tidur yang tadi ia sodorkan pada Gadis, namun Gadis tak kunjung mengambilnya. “Hish!” Putra pun berdesis. “Kemarikan” Ucap Putra sembari tangannya menyambar gaun tidur yang dipegang oleh si pelayan toko. “Kau pergilah, dan kemas yang kupesan tadi”
Kemudian Putra memberikan perintah pada si pelayan toko yang mesam-mesem tak jelas. “Baik Tuan”
Dan si pelayan toko itu pun segera berjalan untuk melakukan apa yang Putra perintahkan. “Cobalah gaun tidur ini, meskipun aku sangat yakin ini pas di tubuhmu”
“A-aku?? ...”
Gadis kembali tergagap.
“Mencoba gaun tidur ini?....”
“Memang aku membeli untuk siapa jika bukan untukmu?”
“Bukannya kamu membeli untuk hadiah pernikahan Bruna? ..”
“Memang aku bilang begitu?” Putra balik bertanya.
“Ya tapi..”
“Sudah cepat coba sana”
“Ta-tapi ...” Kilah Gadis.
Putra mendengus, lalu mendorong pelan tubuh Gadis untuk masuk kedalam ruang ganti.
**
Namun aroma mistis seolah menyelubungi Gadis, saat ia melihat pantulan diri Putra di cermin besar dihadapannya dengan seringai tipis namun cukup membuat Gadis merasa jika hawa disekelilingnya cukup mencekam. “Ke-kenapa masih disini?...”
“Aku harus memastikan jika tebakanku benar atau tidak bahwa gaun tidur itu pas di tubuhmu” Ucap si Papa dengan santainya. Namun seringai menghiasi Papa Putra.
__ADS_1
*
To be continue...*