LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 306


__ADS_3

Happy reading ....


Indonesia,


Triiiiinnggggg...


Dering telepon lebih dulu terdengar, sebelum Anthony sempat mengangkat gagang telepon dimana ia ingin menghubungi sang Papa yang amat sangat ia rindukan, serta juga Anthony khawatirkan.


“Papa!”


Anthony spontan menggumam saat telepon itu berdering, dan tangannya telah menyambar gagang telepon dengan cepat.


“Papa? ---“ sapa Anthony penuh harap.


“Anth? ....”


“PAPAAA!!!! ....”


Dan di detik berikutnya pekikan nyaring terdengar dari mulut Anthony berikut isakan sampai air mata Anthony keluar dari pelupuk matanya, saat ia mendengar suara Putra diseberang telepon.


“Papaaa is that youu ( Apaa ini dirimu Papaaa )?-“ ucap Anthony sambil ia terisak.


****


Putra sudah terhubung dengan Villa saat ini.


Setelah Thomas tidak berhasil menghubungi Villa - karena tidak ada yang menerima panggilan telepon dari Putra melalui Thomas itu, Putra mengajukan diri untuk menghubungi lagi Villanya dan keluarga di Indo.


Sebenarnya Putra memikirkan ucapan Damian dan Garret yang menduga jika orang-orang di Villa kemungkinan masih tidur, makanya tidak ada orang yang menerima panggilan telepon darinya di saluran telepon tersebut akibat mereka yang di dalam Villa masih lelap beristirahat.


Dan meski di tiap kamar yang ditempati oleh penghuni utama – kecuali kamar Anthony - ada lampu yang menyala jika ada panggilan yang masuk ke telepon saluran rahasia mereka di ruang tersembunyi, panggilan telepon tersebut tidak akan disadari jika penghuni kamar sedang pulas terlelap.


Namun begitu Putra masih ingin mencoba untuk menghubungi Villa di saluran rahasia.


Hatinya merasa sedikit gelisah, meski Damian mengatakan mereka yang berada di Villa dalam keadaan baik-baik saja.


Ingin sekali bicara dengan Anthony dan Gadis, namun rasanya tidak mungkin, karena Putra sadar betul jam berapa saat ini di Indo.


Tapi setidaknya, jika Putra bisa bicara dengan salah seorang lain di Villa dan memastikan sendiri dengan telinganya dari salah satu penghuni Villa bahwasanya keadaan disana baik – baik saja, termasuk juga penghuninya, mungkin kegelisahan Putra bisa hilang.


****


“T ---“


Putra hendak berucap selepas Thomas selesai menekan beberapa tombol nomor agar Putra dapat melakukan panggilan telepon ke Villa.


Dan tak lama – setelah Thomas membantu menekan beberapa tombol telepon, nada panggil terdengar di telinga Putra.


Namun sedetik saja, Putra langsung urung untuk berkata pada Thomas, kala,


“Papa? ---“


Sebuah suara salah seorang sosok dari dua, yang paling Putra rindukan terdengar dari seberang telepon.


“Anth? ....” Putra tertegun, dan mulutnya spontan berucap, memanggil nama dari pemilik suara di seberang telepon dengan wajah Putra yang nampak heran. Putra melirik pada arloji yang Thomas pakai di pergelangan tangan pria itu.


Hendak memastikan, apa betul itu suara Anthony yang menyapanya?.

__ADS_1


Putra hendak membuka mulutnya,


“PAPAAA!!!! ....”


Namun sebelum sempat Putra bersuara, suara pekikan nyaring terdengar dari seberang telepon dengan histeris.


*


“Papaaa is that youu ( Apaa ini dirimu Papaaa )?-“


Putra segera menegakkan tubuhnya, ketika ia sudah yakin jika benar itu adalah Anthony, ditambah anak angkat tercintanya itu berucap dengan nada suara yang sedih, kemudian isakan lirih Putra dengar.


“Anth? ....”


Putra berucap sendu.


Sedikit khawatir juga karena di jam seperti ini – waktu Indo, Anthony masih terjaga.


Ditambah bocah tercintanya itu sampai tersedu sedan. “Papaaa is that youu? –“


Sungguh membuat hati Putra mencelos.


“Hey my boy, yes it’s me. Papa Putra... what happened? Why are you crying like that ( Hei anakku, iya ini aku. Papa Putra... apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis seperti itu )?”


“I-I’m afraid ( A-aku takut ), Pa – pa –“ lirih Anthony dengan terisak.


“What makes you feeling afraid ( Apa yang membuatmu merasa takut ), hem?..”


“I’m afraid you dead like Daddy and Mommy, because I heard that you got shot ( Aku takut Papa meninggal seperti Daddy dan Mommu, karena aku dengar jika Papa tertembak ) –“


“Oh Anth ..” Putra berkesah frustasi.


****


Mendengar Anthony yang menangis, sungguhlah membuat hati Putra jadi tak karuan rasanya. Air mata dan kesedihan Anthony adalah kelemahan Putra, sejak tragedi berdarah di Ravenna.


Dimana tragedi itu menelan banyak korban jiwa dari pihak Rery, termasuk Rery sendiri dan Madelaine – istrinya.


“Don’t cry, my boy ( Jangan menangis, anakku )”


“Comehome now ( Pulanglah sekarang ), ya Papa?”


Anthony berucap lagi. Masih meminta Putra pulang dengan nada suaranya yang lirih memohon dengan sangat. Membuat Putra rasa tak tega karenanya.


Dan sungguh, Putra sangat ingin mengiyakan permintaan Anthony padanya itu.


Tapi keadaan yang memaksa Putra, untuk tidak mengiyakan permintaan Anthony padanya itu.


“I’ll be home ( Aku akan pulang ), Anth-“ ucap Putra. “But first, stop crying ( Tapi sekarang, berhenti dulu menangis )”


Putra mencoba untuk membujuk Anthony.


“Because if you sad, Anth..... I will feel so bad ( Karena jika kamu bersedih, Anth..... Aku akan merasa sangat buruk )”


Dan untuk sesaat ia terdiam, karena Anthony juga tidak berbicara.


Namun sudut Putra tertarik, karena pendengarannya menangkap, jika Anthony sedang berusaha menghentikan tangisnya di seberang sana.

__ADS_1


Dan memang benar adanya apa yang Putra pikirkan, jika Anthony sedang berusaha menghentikan tangisnya, seperti permintaan Papa Putra tercintanya.


“I already stop crying ( Aku sudah berhenti menangis ), Papa –“ ucap Anthony, meski sesekali ia sesenggukan. Gadis, Bruna, Addison dan Ramone pun tersenyum melihatnya.


Melihat betapa patuhnya Anthony pada Putra, selain terlihat sekali jika bocah tampan itu amat sangat menyayangi Putra.


Anthony mengusapi air mata di wajahnya.


Ramone membantu menyeka air mata di wajah Anthony, sambil berdiri rapat disamping Anthony.


Tiga lainnya juga berdiri dekat dengan Anthony, namun tidak ada yang menginterupsi untuk mengganggu Anthony yang sedang berbicara dengan Putra.


Termasuk juga Gadis.


Hatinya cukup lega, ketika mengetahui Anthony telah berbicara dengan Putra. Namun Gadis juga ingin sekali berbicara dengan suaminya itu, sekedar untuk melepas rindu – walau hanya mendengar suara Putra saja.


Namun Gadis menyabarkan dirinya. Meski rindunya pada Putra belum terobati, setidaknya – dengan mengetahui jika Anthony sedang berbicara dengan suaminya itu, Gadis tahu jika Putra dalam keadaan baik – baik saja, walau tadi ia mendengar jika Putra terluka karena terkena tembakan.


Pun cerita tentang Anthony selepas tragedi yang menimpa kedua orang tuanya sampai keduanya tewas di depan mata bocah tampan itu, membuat Anthony sempat mengalami trauma berat.


Dan atas pertimbangan itu, Gadis tidak ingin menyela Anthony yang sedang bicara dengan Putra di telepon, walau Gadis ingin benar – benar memastikan sendiri, kalau memang benar Putra yang sedang bicara dengan Anthony saat ini.


Jadi, sampai Anthony merasa puas bicara dengan Putra, Gadis akan diam saja. Namun berharap, jika ia juga punya kesempatan untuk bicara dengan Putra.


“Now promise me to comehome now ( Maka berjanjilah padaku untuk pulang sekarang juga )” ucap Anthony seraya merengek sendu. “Please, Papa..” imbuh Anthony.


Dimana Putra tersenyum lagi di tempatnya kala mendengar permohonan Anthony padanya itu, mendengarkan dengan sabar setiap kata yang Anthony ucapkan padanya, sambil Putra berpikir untuk merangkai kata – kata yang akan ia ucapkan pada Anthony, agar bocah tercintanya itu dapat mengerti posisinya.


“Anth ...”


Putra bersuara.


“I’ll be home, as I promise you ( Aku akan pulang, seperti janjiku padamu )”


“Now, right ( Sekarang, kan ), Papa? ....” tukas Anthony. “Please comehome now-“


“Anth ...”


Putra menyela.


“Remember what I’ve told you about me who want to punish that bad guy ( Ingat apa yang pernah aku katakan padamu tentang aku yang akan menghukum orang jahat itu )?...”


Putra lanjut bicara.


“I remember, he’s a bad guy ... very bad ... He shot you, and I don’t want you die like Daddy and Mommy ( Aku ingat, dia orang jahat ... sangat jahat ... dia sudah menembakmu, dan aku tidak mau Papa meninggal seperti Daddy dan Mommy )..”


Anthony menangis lagi.


“If Papa die, then I want to die too ( Jika Papa meninggal, maka aku mau meninggal juga )-“


“Oh Anth..”


Putra berkesah sendu, dan hatinya kini merasa dilema sekali.


********


To be continue ....

__ADS_1


Semoga tetap enjoy.


__ADS_2