
Happy reading ...
“Apa ada informasi yang kau dapatkan dari mereka?..” Putra kembali melontarkan pertanyaan pada Danny saat keduanya masih di Kedai Kopi.
Putra masih menunggu Anthony dan Gadis yang sepertinya masih asik bercengkrama dengan rekan-rekan sejawat Gadis yang per hari ini akan menjadi mantan rekan kerja.
Danny mengangguk kemudian.
“Ya , ada sesuatu yang aku dapatkan dari mereka..”
Putra menyesap kopi kedua yang ia dan Danny pesan di Kedai Kopi tersebut.
“Tentang?”
Putra kembali bertanya, selepas menyesap kopinya.
“Huibert Baardwijk” Jawab Danny setelah juga menyesap kopinya.
Putra sedikit mengernyit sembari menatap Danny.
“Who’s that?. ( Siapa itu? )” Tanya Putra.
“Ayahnya Dokter Ilse”
***
“Papa!”
Anthony langsung saja berseru saat melihat Putra sudah kembali ke ruangan tempat Anthony dan Gadis sedang berkumpul bersama teman-teman perawatnya itu.
Putra datang bersama Danny dengan menampakkan senyum keramahan mereka pada para perawat wanita teman-teman Gadis, yang menatap kedua pria itu dengan tatapan memuja.
“Silahkan mencari perhatian pada Danny saja, karena aku tidak mau melihat pertikaian perawat-perawat ganjen dengan ini nih....”
Itu suara Suster Neni yang meledek para perawat-perawat muda yang selalu saja seolah hampir menetes air liurnya jika melihat Putra atau para saudaranya datang.
“Calon Nyonya Putra!....”
Sembari Suster Neni menunjuk Gadis yang kemudian terkekeh.
“Ih kenapa harus diingetin sih, Mba Neni???! ....” Salah seorang perawat wanita mengajukan protes kecil yang berupa candaan, menimpali kelakar Suster Neni.
“Iyo ....”
Salah seorang perawat wanita lain ikut menimpali.
“Ndak bisa liat orang seneng!”
“Iya tau nih, Gadis udah ga kerja disini lagi kan, berarti Tuan Putra ga bakalan kesini juga!....”
Gadis tersenyum lebar saja mendengarkan celetukan-celetukan teman-temannya itu.
Begitupun Putra dan Danny yang ikut tersenyum, karena paham apa yang sedang dibicarakan para perawat wanita teman-temannya Gadis itu.
“Ndak apa-apa toh Dis? Kita ngeliatin calon suamimu itu?....”
“Silahkan kalau lihat aja sih....”
“Iya Dis, lumayan ini biar mata kita ga pada sepet, liat itu dua Dewa Kayangan ada di bumi, depan mata kita sekarang! .... Apalagi itu calon suamimu Dis, Dis .... Bawaannya kedinginan aja aku kalau liat Tuan Putra!....”
“Kenapa begitu?”
“Pengen dikekepin terus!”
Dimana sorakan dari para perawat yang lain langsung saja tertuju pada salah seorang yang asal nyeletuk aja itu.
Sementara Gadis terkekeh geli pada salah seorang teman sesama perawatnya yang memang ceriwis dan lucu itu.
“Gatel!” Beberapa perawat wanita yang riuh itu berseru barengan dengan kata yang sama pada salah seorang rekan mereka yang cengengesan itu.
Dan Suster Neni menoyor kepala si perawat wanita yang jauh lebih muda darinya itu.
“Ya udah kenalin Dis, sama Dewa yang satunya itu loh! ....”
“Bukannya udah pernah kenalan dengan Danny kalian itu?....”
“Ya kenalin lagi Dis!.... Apa susah sih? .... kan lumayan itu bisa megang tangannya ....”
“Ternyata kalian gatelnya minta ampun ya?! ....” Kekeh Gadis. Dan gelakan para perawat wanita itu pun mengudara.
****
“Barang-barang yang ada di rumah sewaanmu itu, barang-barang milikmu atau memang sudah ada saat kamu menempatinya?....”
Putra melontarkan pertanyaan pada Gadis selepas dirinya, Gadis, Anthony dan Danny berikut anak buah Putra yang bertugas sebagai supir sudah berada di dalam mobil, saat Gadis sudah berpamitan dengan teman-temannya sesama Perawat.
“Sebagian ada yang milikku sih”
“Hemm....”
“Kenapa memangnya?....”
“Tidak apa-apa ....”
“.......”
“Apa banyak? ....”
Putra kembali bertanya.
“Hmm.... Lumayan sih. Tempat tidur, lemari, radio, lemari pendingin ....” Jawab Gadis.
“Tidak perlu dibawa semua itu....”
Putra langsung menyambar sebelum Gadis selesai bicara.
“Loh? Lalu?? ....”
“Ya tinggalkan saja disana....” Ucap Putra.
“Ih, mana bisa begitu? ....”
“Bisa”
__ADS_1
“Ih, Putra ....”
“Di Kediamanku dan di Villa, sudah lengkap barang-barang semua. Bahkan lebih lengkap dari yang kamu punya di rumah sewaanmu itu.... Untuk apa kamu membawa barang-barangmu itu?. Barang-barang di dua tempat tinggalku bahkan jauh lebih bagus daripada yang ada di rumah sewaanmu itu ....”
“Iya aku tahu, semua barang-barang milikmu pasti barang-barang mahal ....” Gadis langsung mencebik.
“Itu, kamu paham ....” Sambar Putra.
Sementara tiga orang lainnya yang berada bersama dua orang yang sedang bercakap setengah berdebat itu hanya mendengarkan saja.
“Ck!”
Decakan kecil terdengar dari mulut Gadis.
“Lagipula tempat tinggalku dan keluargaku yang mana akan menjadi tempat tinggalmu juga kan sudah penuh dengan barang-barang yang dibutuhkan, jadi barang rongsokan dari rumah sewaanmu rasanya tidak dibutuhkan di Kediaman kita....”
‘Ish, kadang mulutnya terlalu manis, kadang dia suka seenaknya saja bicara! Apa dia tidak memiliki kosakata yang lebih halus mengatakan soal barang-barang milikku???!!!’
Gadis membatin sembari melirik sebal pada Putra.
“Tinggalkan saja disana....”
“Enak saja dia bicara....”
“Aku yakin pemilik rumah sewaanmu tidak keberatan jika kamu meninggalkan barang-barang milikmu itu disana”
“Ya Ibu Mega tidak akan keberatan sih ....” Ujar Gadis.
“Nah ya sudah ....”
Putra kembali menyambar.
“Jika dia menolak, kau lelang saja barang-barang milikmu itu....” Ucap Putra lagi.
“Memangnya aku anggota Kerajaan? Yang barang-barangnya bisa dilelang? Perabotan milikku yang ada di kontrakanku itu barang-barang murahan!”
“Nah, sudah tahu barang-barang yang kamu punya itu murahan, masih saja dipertahankan ....”
“Ish!”
Gadis mendesis sebal.
“Yaaa tapi biar murahan begitu juga, aku membelinya dengan uang hasil keringatku sendiri....”
Gadis sedikit mengerucutkan bibirnya.
“Jika kamu tidak memperbolehkan aku membawanya ke tempat tinggalmu kan setidaknya aku bisa menjualnya kembali .... Meskipun uang yang didapat juga tidak seberapa dari jual barang bekas. Tapi kan setidaknya lumayan aku jadi punya tambahan uang ....”
“Ck!”
Terdengar decakan lidah Putra, sembari menatap sedikit malas pada Gadis-nya itu.
“Nanti tunjukkan pada Danny mana saja barang-barang yang merupakan milikmu ....”
Wajah Gadis nampak sumringah kemudian.
“Kalau begitu, nanti aku bicara dengan tetanggaku yang memiliki mobil pengangkut ....”
“Untuk apa kamu bicara dengan tetanggamu yang memiliki mobil pengangkut memangnya?”
Gadis berucap.
“Tadi kan kamu bilang, saat nanti sudah sampai di rumah kontrakanku, aku disuruh menunjukkan yang mana saja barang milikku? .... Jadi ya nanti kan kalian bantu aku merapihkannya, lalu dibawa keluar dari sana dengan mobil pengangkut .... Tidak mungkin mengangkutnya dengan mobil ini kan? Memangnya kamu akan membiarkan mobil mewah mu ini membawa banyak barang di atasnya? ....”
Gadis bercerocos ria.
Putra berdecih geli kemudian.
“Aku menyuruhmu untuk menunjukkan yang mana barang-barang milikmu pada Danny bukan untuk kuijinkan kamu untuk membawanya ....”
Gadis serta merta menautkan alisnya sembari menatap Putra. “Nah, lalu? ....”
“Agar Danny menghitung perkiraan harga dari semua barang-barangmu itu! ....”
“Jadi, kamu akan membantuku menjualnya? ....”
“Cih! Enak saja! Apa wajahku ini cocok untuk menjadi penjual barang bekas?!”
Putra langsung saja merungut. Sementara Danny mengulum senyumnya, begitu juga si supir dan Gadis.
“Yah, siapa tahu kamu mau memulai usaha tersebut?” Tukas Gadis. “Sah-sah saja sih itu .... Memulai usaha kan bukan dengan tampang?. Aku rasa cocok-cocok saja jika kamu ingin memulai usaha barang bekas, kan menghasilkan juga itu....”
“Cih!”
Putra pun berdecih.
“Apa kamu lupa tadi seluruh kawan-kawanmu itu hampir meneteskan air liurnya setiap kali mereka melihatku?!.... enak saja menyamakanku dengan penjual barang bekas! ....”
Danny dan supir benar-benar menahan kekehan mereka, sementara Gadis tidak dapat menahannya, melihat wajah Putra yang nampak sebal sekaligus berekspresi seperti sedang merajuk.
Dan si bocah tampan yang tak paham pembicaraan dua orang dewasa yang ada disamping kiri dan kanannya itu, sedikit keheranan, terlihat dari ekspresinya, berikut kepalanya yang menengok ke kiri dan ke kanan secara bergantian memperhatikan Gadis dan Putra.
Terlebih melihat sang Papa yang tak lama merungut.
“Ya sudah, jadi maksudnya memintaku menunjukkan yang mana barang-barangku nanti pada Danny dan menyuruhnya untuk menghitung perkiraan harganya untuk apa?....” Kata Gadis seraya bertanya.
“Karena aku yang akan membelinya!....”
“Heu???? ....”
Gadis tertegun.
“Kamu?....” Ucap Gadis. “Yang mau membeli barang-barangku yang ada di rumah sewaanku itu?....” Sambung Gadis.
“Heeemm ....”
“Memang kenapa kamu yang mau membelinya? ....”
Gadis bertanya dengan polosnya.
“Kamu bukannya tidak membutuhkannya?.... Lalu untuk apa kamu membeli barang-barangku itu? ....”
“Untuk kubuang ke tempat sampah!” Ketus Putra.
__ADS_1
“Aih, segitunya yang kesal di samakan dengan penjual barang bekas ....”
Gadis pun kembali terkekeh geli.
“Kalau perlu aku beli itu rumah sewaannya sekaligus. Lalu kuratakan dengan tanah berikut barang-barangnya! .... Membuatku puas hati!”
Papa Putra pun menggerutu.
“Enak saja menyamakanku dengan penjual barang bekas!”
Papa Putra nampak sebal sekali.
*****
Putra dan mereka yang bersamanya baru sampai di Kediaman mereka saat hari sudah senja. Anthony berada dalam gendongan Putra, karena bocah tampan itu terlelap selepas pulang dari daerah tempat tinggal Gadis sebelumnya. Putra langsung membawa Anthony ke kamar pribadinya selama ini, setelah menyapa tiga saudara lelaki dan satu saudarinya yang ada di Kediaman mereka yang berada di Ibukota itu.
Danny sudah ijin kembali ke tempat tinggalnya sendiri, termasuk anak buah yang bertugas sebagai supir pun diperkenankan pulang, dan digantikan oleh orang lain untuk bertugas bergantian yang sama perawakannya dengan anak buah Putra yang menjadi supirnya seharian ini.
Ke empatnya sudah lebih dulu kembali ke Kediaman mereka itu, dari aktifitas yang berbeda sesuai dengan jadwal yang sudah dibicarakan sebelumnya.
Gadis mengekori Putra ke kamar pribadi Putra yang sudah secara otomatis menjadi kamar Gadis juga, setelah Gadis menyapa mereka yang tadi Putra sapa duluan.
*****
“Anthony digantikan bajunya nanti saja ya, saat dia bangun?. Aku tidak tega membangunkannya karena Anthony nampak lelap dan kelelahan sekali ....”
“Heemm....”
‘Apa Putra masih merajuk?....’
Gadis membatin sembari memperhatikan Putra yang wajahnya merungutnya belum hilang-hilang.
‘Tapi tadi sudah bercanda-canda dengan Lina dan tetanggaku yang lain di sana? Kenapa dari sejak perjalanan kembali kesini wajahnya kembali merungut lagi? ....’
Gadis kembali membatin lagi, saat ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang sembari memperhatikan Putra yang nampak sedang mengabaikannya, karena pria itu tak bicara apa-apa pada Gadis selepas membaringkan Anthony di atas ranjang.
“Putra....” Panggil Gadis dengan sangat pelan seraya ia berdiri dari duduknya dan menghampiri Putra yang sedang membuka lemari pakaiannya.
“Heemm....”
Putra seperti itu saja menanggapi panggilan Gadis dengan nada suara yang rendah juga.
Dengan wajah Putra yang mengarah pada isi lemari sembari tangannya sibuk mengangkat-angkat pakaian untuk ia pilih sebagai pakaian gantinya.
“Papa Putra sedang merajuk kah? ....” Ucap Gadis setengah berbisik.
Dimana Putra melirik sebal pada Gadis yang sudah berdiri disampingnya dan tampak sedang meledeknya itu.
Gadis mengulum senyumnya.
“Lirikan Papa Putra maut sekali ....”
“Cih!”
“Ya ampun masa hanya karena praduga mirip penjual barang bekas saja kamu merajuknya sampai begini? ....”
“.......”
“Lagian kan kamu sendiri yang mengibaratkan dirimu seperti penjual barang bekas?....”
“Bukankah kamu menyarankan aku menjadi seorang penjual barang bekas? Secara tidak langsung kamu menyamakanku dengan penjual barang bekas! ....” Ketus Putra.
“Ssttt....”
Gadis setengah mendelik seraya meletakkan satu jari telunjuknya di bibir Putra, kemudian mengkode dengan kepalanya ke arah Anthony yang sedang terlelap di atas ranjang.
“Habis kamu mengesalkanku....” Putra menurunkan nada suaranya. Setengah berbisik seperti Gadis.
“Ya sudah.... aku minta maaf”
Gadis berucap sembari menangkup wajah Putra.
“Menggemaskan sekali Papa Putra kalau sedang merajuk....”
Dan Gadis mencubit gemas kedua pipi Putra.
“Ini kesalahan keduamu....” Ucap Putra.
Gadis sontak mengernyit. “Kesalahan keduaku? ....”
“Yang pertama kamu menyamakanku dengan penjual barang bekas, bahkan tertawa puas sekali telah merendahkanku....”
Gadis mengerucutkan bibirnya.
“Masa begitu saja kamu ambil hati? ....”
Gadis pun mencebik.
“Dan barusan kamu menganiayaku”
“Heu? ....”
“Jadi kamu harus menerima hukuman ....”
“Mana ada aku menganiaya sih? ....”
“Ssttt....” Gantian Putra yang mengingatkan Gadis untuk merendahkan suaranya.
Gadis spontan membekap mulutnya sendiri.
“Ayo....” Putra meraih satu tangan Gadis.
“Kemana? ....”
“Menerima hukumanmu ....”
“Apa? ....”
“Mandikan aku”
*****
To be continue ...
__ADS_1
Thanks a lot buat readernya othor yang kece-kece, masih setia membaca karya ini.