LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 63


__ADS_3

Happy reading ...


******************


“Bukankah kamu bilang akan membawaku ke suatu tempat untuk berbicara secara pribadi?..” Ucap Gadis seraya bertanya. “Tapi sepertinya ini jalanan menuju arah rumahku”


“Aku akan mengantarmu pulang. Setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi”


“Maaf, Putra.... apa kamu .... marah padaku? ....” Tanya Gadis ragu-ragu. “Aku ..”


“Jika kau berpikir karena aku membelanjakan mu beberapa barang lalu aku akan menganggapmu berhutang padaku dan untuk itu aku akan memanfaatkannya, kau salah besar Nona Gadis .....”


“Aku...”


“Aku tulus melakukannya, bahkan aku tidak mengharapkan ucapan terima kasih darimu. Tapi nyatanya ...” Putra menggantung kata-katanya lalu menyungging miring sembari menyentakkan sedikit kencang tuas perseneling yang ia gerakkan sembari ia mengemudi.


“Maaf ...” Sambar Gadis.


“Tidak perlu meminta maaf”


Putra menyahut cepat tanpa menoleh pada Gadis yang gurat perasaan bersalah kini nampak di wajahnya.


“Aku tetap akan mengantarkan Anth bertemu denganmu setiap kali ia memintanya setelah kami kembali lagi kesini pekan depan, itupun jika  kau tidak berpikir bahwa aku memanfaatkan anakku untuk menarik perhatianmu”


“Tidak. aku tidak sampai berpikir begitu”


“Barang-barang yang tadi ku belikan, kau buang atau bakar saja agar kau tidak merasa punya hutang padaku”


“Maaf..” Lagi-lagi Gadis minta maaf, lalu tertunduk kemudian.


“Sebentar lagi sampai. Maaf, aku tidak mengantarmu sampai rumah karena aku akan menurunkan mu di tempat biasa kamu minta diturunkan”


“Maaf Putra .. maaf jika perkataanku menyinggungmu ..”


“........”


“Sungguh, aku tidak bermaksud begitu...”


“........”


“Aku hanya merasa asing .... dengan perlakuanmu....”


“........”


“Karena aku tidak pernah dibelanjakan seperti ini oleh seorang pria sebelumnya. Termasuk bagaimana cara kamu memperlakukanku selama ini. Kamu, pria pertama yang memperlakukanku seperti ini”


“........”


“Jadi aku bingung bagaimana harus bersikap ...”


“........”


“Maafkan aku, ya .. Putra? ....”


Gadis menoleh dan menampakkan senyumnya pada Putra.


“Aku hidup sendiri selama aku merantau ke Ibukota.... memang aku dikelilingi oleh orang-orang yang baik, tetapi baru kamu yang memberikanku perlakuan lebih .. perlakuan yang selama ini tidak pernah aku dapatkan dari siapapun .. jadi bisa dibilang aku kaget .. makanya aku tidak memperhatikan ucapan dan sikapku”


Ada genangan air di kelopak mata Gadis yang membuat Putra kemudian menghela nafasnya.


“Tolong, jangan membenciku karena kesalahan ucapanku saat disana tadi.... aku yang bodoh karena tidak bisa memilah kata... padahal kamu, juga Anth sudah begitu baik padaku tapi aku malah menyinggung perasaanmu”


Gadis menunduk sembari mengaitkan kedua tangannya.


“Sekali lagi aku minta maaf ... dan.. terima kasih karena sudah begitu baik padaku...”


Tangan Gadis bergerak ke matanya. Menghapus buliran air yang keluar dari sana.


Membuat Putra menepi dan menghentikan mobilnya tak jauh dari tempat dimana Gadis biasa turun.


Menarik Gadis ke dalam dekapannya kemudian dengan cepat.


Membuat Gadis cukup terkejut, namun tidak menolak dekapan Putra.


“Kamu penangis sekali ya?”


“Habis sikap dan wajah kamu menakutkan ku... hiks”


Putra mendengus geli. “Kamu ini” Gumam Putra. Lalu mengurai dekapannya pada Gadis sembari menyeka buliran air yang sudah membasahi pipi perawat cantik itu, lalu menangkup wajah Gadis dan dihadapkan pada wajahnya.


Putra menatap lamat-lamat wajah Gadis. Kemudian menarik sudut bibirnya.


“Sudah, jangan menangis lagi” Ucap Putra.


“Aku tidak menangis....”


“Lalu ini?” Putra mengusap bekas buliran air di pipi Gadis.


“Ini air mata haru ...”


Putra terkekeh kecil.


“Gadis... Gadis...”


“Sekali lagi aku minta maaf..”


“Sudahlah... akupun minta maaf... maaf jika aku menakutkan mu..”


“Jangan marah-marah lagi ..” Gadis memelas. Putra kembali menarik sudut bibirnya.


“Aku tidak marah-marah ... jika marah-marah, aku sudah berteriak padamu...” Sahut Putra.


“Iya, tapi sikapmu menyeramkan....” Sahut Gadis yang menyeka pipi dan matanya.


Putra mendengus geli sembari menyunggingkan senyumnya lalu mengacak pelan rambut Gadis.


****

__ADS_1


“Aku akan mengantarmu sampai rumahmu, tidak masalah bukan?”


Kini Putra sudah menjalankan sedikit mobilnya dan sudah berhenti di tempat Gadis biasanya turun jika Putra mengantarkan Gadis pulang.


“Bukankah kamu mau mengajakku ke suatu tempat untuk membicarakan sesuatu yang kamu bilang pribadi itu?....”


“Iya memang” Sahut Putra. “Tapi kamu berpikir buruk tentangku”


Gadis langsung tertunduk lesu.


“Maaf....” Lirih Gadis.


“Tsk!”


Putra berdecak kecil.


“Jangan memasang wajah sedihmu. Aku tidak suka melihatnya”


“Habis kamu menyinggung lagi kesalahanku ....”


“Aku bicara kenyataan saja. Memang kamu sempat berpikir buruk tentangku, bukan?”


“Aku kan juga sudah menyadari kesalahanku ...”


“Baiklah, baiklah. Tidak akan ku singgung lagi... Jadi bagaimana?”


“Apanya? ...” Gadis balik bertanya pada Putra.


“Mau turun atau tidak?”


“Kamu tidak jadi mengajakku pergi?”


“Memang kamu masih berminat untuk pergi bersamaku?”


“Yaaa... aku tidak punya acara hari ini .... di rumah juga tidak ada yang menungguku pulang ... dan sayang sekali gaun yang sudah kamu belikan ini kalau hanya aku pakai sebentar saja bukan? ...”


Putra lagi-lagi mendengus geli.


“Tapi jika kamu menyuruhku turun dan pulang, ya akan aku lakukan .... asal aku tidak dianggap menyinggungmu lagi”


“Gadis ..... Gadis ..... tadi kamu sendiri yang menyindir ku untuk tidak membahas soal itu lagi. Tapi sekarang kamu sendiri juga yang kembali membahasnya...” Putra terkekeh kecil.


“Itu,...”


“Kalian para wanita memang sukar dipahami...”


“Maaf-...”


“Sudahlah.. jadi kamu tetap mau ikut jika aku ajak pergi walau sudah sampai daerah rumahmu ini?”


“Terserah kamu saja, Putra ...” Sahut Gadis.


“Haish ....” Dengus Putra. “Mau tidak?”


“Iya, mau ..” Sahut Gadis malu-malu.


“Iya ...”


“Ya sudah .....”


Putra menyalakan kembali mesin mobilnya dan mulai melajukan kembali mobil yang ia kemudikan itu menjauh dari kawasan tempat tinggal Gadis.


“Jangan banyak protes lagi nanti ...”


“Iya...”


***


Setengah jam kemudian mobil yang dikendarai Putra sudah mencapai di sebuah kawasan daerah pantai wisata, dimana sebuah Hotel Kasino termegah di kawasan tersebut dengan kapasitas ratusan kamar berada.


“Jangan berpikir yang aneh – aneh karena aku membawamu kesini” Putra langsung menginterupsi saat dia sudah mengendarai mobilnya masuk ke dalam kawasan Hotel yang dari luar terlihat cukup ramai itu.


“Aku tidak bilang apa – apa ...”


“Otakmu kan bisa saja berpikir buruk lagi padaku karena aku membawamu ke Hotel” Timpal Putra.


“Katanya tidak akan menyindir ku lagi ...” Protes Gadis dengan pelan, lebih seperti gumaman.


Putra melirik Gadis yang sengaja membuang pandangannya ke luar jendela mobil dan Putra menyunggingkan senyumnya.


“Kamu suka berjudi Putra? ...”


Putra menarik satu sudut bibirnya atas pertanyaan Gadis.


“Pertanyaanmu terdengar ambigu apa kamu tahu?”


Gadis menggeleng.


“Aku dan saudara-saudaraku bukan tidak pernah pergi ke Kasino dan bermain disana.... kami juga sering bermain kartu saat masih berkumpul di Inggris dan di Italia. Tapi bukan berarti kami penjudi gila!... Hanya melakukannya untuk bersenang-senang saja ..”


“Hmm”


“Kamu sendiri?..” Tanya Putra saat ia sudah mengemudikan mobilnya hampir sampai di depan lobi Hotel tersebut.


Gadis terkekeh. “Aku mencari uang dengan susah payah. Uang yang kudapat dari pekerjaanku sebagai perawat di Rumah Sakit pun tidak seberapa. Hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari. Terlalu sia-sia jika aku harus menggunakannya untuk berjudi ...”


“Orang tuamu memang sudah tidak ada?”


“Ibuku meninggal saat melahirkanku, dan ayahku sendiri meninggal tiga tahun lalu....”


“Itu yang membuatmu datang ke Ibukota?”


“Iya”


“Tidak punya keluarga lain? ...” Tanya Putra lagi.


“Tidak” Sahut Gadis sambil menggeleng. ‘Tidak pantas disebut keluarga kalau menurutku sih! Hhhh’

__ADS_1


“Ya sudah..”


Putra mengusap lembut kepala Gadis saat ia sudah menghentikan mobilnya di depan lobi Hotel, dimana seorang petugas berseragam telah siap membukakan pintu di kanan kiri mobil Putra.


“Jangan bersedih .. kamu kan dikelilingi oleh teman-teman yang baik di tempatmu bekerja, bukan? ...” Putra menarik sudut bibirnya.


“Iya..” Gadis mengangguk.


Putra membantu Gadis melepaskan sabuk pengamannya, setelah ia melepaskan sabuk pengaman yang mengikatnya terlebih dahulu lalu keluar dari mobil saat parkir vallet Hotel telah membukakan pintu mobil disisi Putra dan Gadis dengan sopan dan ramah.


“Dan lagi kamu bisa menganggap saudara-saudaraku itu sebagai keluargamu juga selain aku dan Anth ...” Ucap Putra setelah ia berada di dekat Gadis dan telah menyerahkan kunci mobil pada salah seorang petugas parkir eksklusif.


“Terima kasih Putra, aku....”


“Sudah jangan terlalu dibawa perasaan. Nanti kamu menangis lagi seperti tadi”


“Ih, apa sih?!” Gadis mencebik.


Putra terkekeh kecil.


“Kamu sering datang kesini?”


Putra menjawab dengan gelengan.


“Ini kali pertamaku menginjakkan kaki di tempat ini”


Gadis pun manggut-manggut.


“Jadi kamu mau aku menemanimu bermain di Kasino begitu?”


“Memang kamu mau aku ajak ke tempat itu?”


“Tidak sih”


“Baguslah. Karena aku memang tidak berniat menyambangi Kasino di Hotel ini ...”


“Lalu kita kesini? ...” Tanya Gadis.


“I thought you’re not coming ( Aku pikir kau tidak jadi datang), Putra...”


“Loh?! ...”


Gadis sedikit terkejut dengan kemunculan seorang pria bule di dekat mereka saat ini.


“Tuan Danny?”


“Hi Gadis. Apa kabar?”


“Aku baik, Tuan ...”


Gadis menyahut sopan dan ramah seperti selalunya.


Danny juga tersenyum ramah padanya.


“So what take you guys quite long? ( Jadi apa yang membuat kalian sedikit lama? ), Hem?”


“Sorry, there’s a small incident ( Maaf, ada sedikit insiden kecil )”


“Never mind... ( Tidak masalah... )” Sahut Danny. “By the way, I already prepare everything as your wish ( Ngomong-ngomong, aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya sesuai seperti permintaanmu )..”


“Thanks Dan....” Ucap Putra.


“For my Boss and also my brother at once who is falling in love, it’s nothing .....”


“( Untuk Bos sekaligus saudaraku yang sedang jatuh cinta, ini bukan apa-apa ... )”


Danny berbisik sembari berguyon di telinga Putra yang kemudian terkekeh dan Danny menyusul terkekeh kemudian.


Sementara Gadis hanya menerka-nerka saja apa yang sedang di kasak-kusuk kan oleh dua pria tampan itu hingga mereka berdua terkekeh begitu.


“He will serve everything for both of you ( Dia akan melayani segala hal yang kalian berdua butuhkan )” Ucap Danny sembari menunjuk satu orang yang berpakaian seragam Hotel dan sedang berdiri siaga, lalu menyapa Putra dan Gadis seraya memberi hormat pada keduanya.


“Okay..”


Putra mengangguk.


“Alright, enjoy your time ( Baiklah, silahkan menikmati waktu kalian ), Putra, Gadis” Ucap Danny. “I’m going to wait Dami and Garret in the front lobby.. ( Aku akan menunggu Dami dan Garret di lobi depan )”


Danny berpamitan sembari mengangkat tangannya dan Putra mengangguk. “Want me to open a Hotel room also? Just in case.. ( Mau ku bukakan satu kamar Hotel juga? Yah siapa tahu saja )...” Bisik Danny sebelum beringsut dari hadapan Putra dan Gadis.


“Jerk! ( Brengsek! )”


“Hahaha!”


“Loh, Tuan Danny mau kemana?” Gadis bertanya kala Danny sudah menjauh darinya dan Putra.


“Menunggu Dami dan Garret lalu bersenang-senang di Casino...”


“Mereka tidak bergabung bersama kita?...”


Putra menggeleng.


Sementara wajah Gadis sedikit heran.


“Bukankah aku katakan kalau aku ingin memiliki waktu berdua denganmu secara pribadi?”


Putra merangkul pinggang Gadis sembari membawanya berjalan menuju ke area pantai yang berada di belakang Hotel tersebut.


“Ya, aku pikir karena ada Tuan Danny disini, kalian membuat acara untuk berkumpul bersama” Sahut Gadis.


“Tidak, Dami dan Garret adalah pria haus hiburan dan setelah tahu ada tempat seperti ini mereka tidak akan melewatkan kesempatan untuk ‘berkunjung’. Jadi mereka memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang sebelum kami kembali ke Villa besok .... dan aku bisa menikmati waktuku bersamamu....”


Putra tersenyum penuh arti sembari memberikan tatapan teduh pada Gadis.


‘Hati, tolong tenang!’


***

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2