
Happy reading...
◾◾◾◾◾
Bandung, Jawa Barat, Indonesia ....
Villa Putra dan keluarga...
“Slowly ( Pelan – pelan ), Gadis—“
Suara Bruna terdengar kala Gadis yang telah sadar dari pingsannya itu, tergesa untuk bangkit dari dirinya yang terbaring.
“Sshh—“ Gadis meringis samar sambil memegangi kepalanya. Lalu Gadis terkesiap, kala ada tangan mungil yang melingkar di perutnya.
“Mama ..”
Bersamaan dengan suara kecilnya yang terdengar khawatir.
“Anthony ..”
Gadis tersenyum seraya menoleh dan merengkuh tubuh Anthony yang sedang memeluknya itu.
“I’m so worried ( Aku sangat khawatir ), Mama –“
Tangan Gadis terulur untuk mengusap lembut kepala Anthony. “I’m okay ( Aku baik-baik saja ), Anthony ..”
“But you were unconscious when I got here ( Tapi Mama tidak sadarkan diri saat aku masuk kesini )” ucap Anthony.
Gadis tersenyum hangat, pada bocah yang kesayangannya dan Putra, serta semua orang dalam keluarga mereka itu – yang nampak sekali mengkhawatirkan Gadis.
Bruna dan Addison serta Ramone yang juga berada di dalam kamar pribadi Gadis dan Putra itu ikutan tersenyum hangat sambil memandang pada Anthony.
“I just a little bit dizzy ( Aku hanya sedikit pusing ), Anthony.”
Gadis berucap dengan lembut seperti selalunya, meski wajahnya sedikit sembab.
“Beside, Madre will treatening me fastly if I sick ( Lagipula, Madre akan segera mengobatiku jika aku sakit )”
“Surely I will treatening Mama Gadis very well if she get sick ( Tentu saja aku akan segera mengobati Mama Gadis jika ia jatuh sakit )”
“Because if Mama Gadis get sick, then we will very rush because of you who is very active ( Karena kalau Mama Gadis sakit, maka kami akan kerepotan mengurusmu yang tidak bisa diam ini )”
Anthony terkekeh bersama empat orang dewasa yang begitu menyayanginya itu.
◾◾◾◾◾
“You have to go to the Hospital tomorrow ( Kamu harus pergi ke Rumah Sakit besok ), Gadis.”
Bruna berbicara.
Gadis menggeleng dan tersenyum.
“I’m okay, Bru ..”
“You’re not literaly okay, actually ( Kamu tidak benar – benar baik, sebenarnya )”
Bruna menyahut.
“Well, you’re okay, but also not okay.”
( Yah, kondisi kamu baik, tapi juga tidak terlalu baik )
Gadis mengernyit. Tidak paham maksud Bruna yang nampak salah tingkah.
Addison dan Ramone terkekeh, dan Anthony sama ekspresinya seperti Gadis yang tak paham maksud kalimat Madrenya itu.
“Kamu hamil Gadis.” Ucap Ramone yang memperjelas maksud Bruna.
Dimana Gadis kemudian terdiam membeku setelah mendengar ucapan Ramone.
“Bruna sudah memeriksamu tadi.” Tambah Ramone. “Dan hasil dari analisa Bruna, Anth’s will have a little brother or sister ( Anth akan memiliki adik )”
“Really Opa?!” Anthony langsung memekik senang bukan kepalang.
Yang kemudian diiyakan tak hanya oleh Ramone, tapi juga Bruna dan Addison.
Sementara Gadis masih terdiam di tempatnya.
Nampak syok, dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku .. hamil?”
Gadis berucap, lalu menutup mulutnya.
Kemudian Gadis sedikit merunduk dan menatap perutnya.
Ramone mengangguk, namun Gadis tak melihatnya.
“You are pregnant ( Kamu sedang hamil ), Gadis.”
Bruna mengulang kembali berita kehamilan Gadis seperti prediksinya.
“Itulah mengapa kamu harus pergi ke Dokter dan memeriksa keakuratan hasil pemeriksaan Bruna ..”
Ramone kembali berbicara dengan mengelus kepala Gadis yang nampak syok itu. “Benarkah ini Vader? .. Aku, aku .. hamil???!!! Buah cinta aku dan Putra? –“
Gadis yang tadinya syok itu kini nampak terharu, dan mengelus-elus lagi perutnya dengan lembut dan air mata bahagianya kemudian turun.
Semua orang yang berada bersama Gadis tersenyum melihat keharuan Gadis yang mereka biarkan tanpa diinterupsi-Gadis yang sedang merunduk memandangi perutnya sambil mengelus lembut disana dengan satu tangannya yang masih berada di mulutnya.
Saking Gadis tidak percaya berita bahagia yang baru saja ia dengar. ‘Oh Putra, cepatlah pulang ..’ lirih Gadis dalam hatinya. ‘Untukku, Anthony, dan anak kita—‘
Gadis terisak.
‘Anak kita, Putra, buah cinta kita—'
Anthony memeluk Gadis yang terisak itu, karena tidak tega melihat sang mama menangis, meskipun tangis bahagia. “Don’t cry Mama ( Jangan menangis Mama ) ..” lirih Anthony.
“I’m happy ( Aku bahagia ), Anthony.” Gadis yang terkesiap karena pelukan Anthony itupun kemudian memeluk balik Anthony. “Me and Papa Putra, will make you become a big brother ( Aku dan Papa Putra, akan membuatmu menjadi seorang kakak )”
Gadis berucap bahagia, lalu mengecupi dahi Anthony.
__ADS_1
“I’m happy for you too ( Aku juga berbahagia untukmu ), Mama,” ucap Anthony, sambil ia mengeratkan pelukannya pada Gadis.
◾◾◾◾◾
“Better you take more rest ( Sebaiknya kamu beristirahat lebih banyak ), Gadis.”
Addison berucap pada Gadis yang sudah terlihat lebih baik. Gadis pun mengangguk.
“May I sleep with you tonight ( Bolehkah aku tidur denganmu malam ini ), Mama Gadis? ..”
Anthony bertanya penuh harap.
Gadis mengangguk seraya tersenyum.
“Of course ( Tentu saja ) –“
Lalu menyahut sambil mengacak pelan rambut Anthony.
“Why not ( Kenapa tidak )? ..”
Anthony pun langsung memekik girang.
“Little baby, don’t be afraid, I will take care of you before Papa comehome ( Bayi kecil, jangan takut, aku akan menjagamu sebelum Papa pulang ) –“
Anthony merendahkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan perut Gadis yang masih rata itu.
“But I will still take care of you even Papa already home ( Tapi aku akan tetap menjagamu juga walaupun Papa sudah pulang )”
Ada haru sekaligus sedih juga yang seketika menyelusup di relung hati Gadis dan tiga lainnya.
“Pray with me, so Papa Putra, Daddy Dami, Daddy Garret and Uncle Dev will comehome at Christmas ( Berdoa bersamaku, agar Papa Putra, Daddy Dami, Daddy Garret dan Uncle Dev akan pulang saat natal )”
Gadis menggigit bibir bawahnya, dan hatinya mulai kembali merasa getir.
Lalu Gadis mengarahkan pandangannya pada Ramone, Bruna, dan Addison yang kemudian membalas pandangan Gadis, dengan tatapan yang menyiratkan agar Gadis jangan berpikiran buruk.
“Bisa tolong Vader usahakan lagi mencari kabar tentang Putra secepatnya?” pinta Gadis dengan sedikit melirih dan memelas, dengan wajah khawatir bercampur harap.
◾◾◾◾◾
London, Inggris...
Dimana suasana tegang, sedang terjadi di sebuah jalan tikus yang berada di kota tersebut.
Beberapa mobil yang ditumpangi oleh Putra dan orang-orangnya, terpojok oleh Polisi yang memblokade dua ujung jalan tikus tersebut.
“What we’re gonna do now ( Apa yang akan kita lakukan sekarang )?!” Devoss berbicara dengan cepat pada mereka yang sedang bersamanya pada situasi yang sedikit genting.
Dimana mereka sudah terkepung depan belakang, oleh banyaknya Polisi yang bersenjatakan lengkap serta sudah mengarahkan senjata mereka ke arah Putra dan kawanannya yang masih berada di dalam mobil mereka.
“How Police come that fast (Bagaimana Polisi bisa secepat ini)?!”
“I think they’re were set up (Aku pikir mereka telah dipersiapkan)”
Damian menyahut dari balik protofon.
“Ya you were right (kau benar), Dami.”
Putra pun mengiyakan prediksi Damian.
“I really don’t assume that m*therf*cker from Chicago can involve police here ( Aku sungguh tidak menduga jika keparat dari Chicago itu dapat melibatkan polisi disini )!” Damian angkat suara.
“Are we going to fight those police ( Apa kita akan melawan para polisi itu )?”
“If we shoot them\, then it will make them believe that we are rebellion or else. Don’t know what that m*therf*cker told them about us ( Jika kita menembaki mereka, maka itu akan membuat mereka percaya jika kita adalah pemberontak atau apapun itu. Entah apa yang keparat itu katakan pada mereka tentang kita )...”
Devoss merepet panjang.
“There only two options ( Hanya ada dua pilihan )---“ kata Putra.
“No options ( Tidak ada pilihan )!”
“Yona!”
“Fight them ( Lawan mereka )!”
“Yona!”
Bang!
Bang!
Bang!
Suara letusan senjata kemudian terdengar bersahutan.
“PUTRA!”
*“S*T!”
Putra langsung mengumpat kala ia merasakan ada timah panas yang menembus tubuhnya.
*“F*k Police!”
Putra mengumpat dalam gumaman.
Dengan cepat Putra mengeluarkan pistol kesayangannya, lalu menarik pistol Rus dengan cepat dari balik selipan pinggang salah satu anak buahnya itu.
Putra bergerak ke bagian agak ke tengah jalan dan tangannya bersiap merentang ke arah dua blokade yang ada di ujung jalan tikus tempatnya dan kawanannya berada. “If I Die Then You All Must Die ( Jika Aku Mati Kalian pun Harus Mati )!”
Putra menggumam dan meludah, menderapkan langkahnya tanpa gentar.
Lalu ....
Bang!
Bang!
“PUTRAA!! ....”
“BOSS!! ....”
__ADS_1
“SIR!! ....”
Pekikan serempak pun terdengar, seiring suara letusan senjata yang mulai ramai bersahutan.
◾◾◾◾◾
Bandung, Jawa Barat, Indonesia ....
‘Wangi ini -----‘
Gadis sedang berada di atas ranjangnya dan Putra.
Ia sempat tertidur tadi, sebelum lamat-lamat aroma harum terendus di indera penciuman Gadis.
Gadis belum membuka matanya, karena ia sedang meresapi wangi yang ia kenali dengan sangat.
‘Aku sangat merindukanmu Putra---‘ Gadis yang sudah terjaga, namun belum membuka matanya itu membatin lirih. ‘Bahkan harum parfummu bisa mengusikku seolah kamu ada disini ... Cepat pulang Pu---‘
“Gadis..”
Deg!
Jantung Gadis berdentum spontan, kemudian berdebar-debar.
‘Tidak mungkin..’ batin Gadis yang membantah dugaannya.
Namun..
“Istriku sayang..”
Gadis tak bisa menunggu untuk langsung membuka matanya.
“Pu-tra? –“ ucap Gadis saat ia telah membuka mata dan mendudukkan dirinya dengan segera.
Dan sungguh Gadis tidak mempercayai matanya saat ini. Orang yang sangat ia rindukan ada dihadapannya.
“Ka-mu..”
“Aku pulang, Gadis—“
“Pu-tra..” lirih Gadis yang tidak bisa menahan kebahagiaannya.
Melihat dia yang Gadis rindukan dengan sangat, kini sudah ada dihadapannya, tersenyum dengan tampannya.
Gadis tak tahan, ingin merengkuh Putra dalam dekapan.
‘Kenapa? –‘ Gadis membatin, merasakan ada yang aneh saat dia sudah melingkarkan tangannya untuk segera mendekap erat suami tercintanya itu.
“Maaf..”
Suara Putra terdengar, saat Gadis sedang merasa keheranan.
“Pu, tra?----“ Gadis terbata, sambil menatap Putra, lalu menatap tangannya.
“Aku pulang, tidak akan kemana-mana lagi. Aku akan selalu berada dekat denganmu, Gadis.Tapi maaf, aku tidak bisa lagi memberikan pelukan terhangat untukmu----“
Putra berkata lagi, dengan suaranya yang terdengar lirih. Putra tersenyum, namun senyumnya kini nampak getir.
“Kenapa aku tidak bisa menyentuh kamu Putra??!!----“ Gadis merasa ada yang tidak beres.
“Tak apa, tak perlu menyentuhku untuk merasakan aku selalu ada di dekat kamu.. di dekat Anth..”
Putra kembali berbicara dengan tenangnya.
“Aku akan selalu ada, selama kamu merasakannya disini.” ucap Putra sambil menunjuk dada sebelah kiri Gadis.
“Pu-traa..”
Gadis melirih, matanya mulai memproduksi air mata.
“Kenapa aku ga bisa sentuh kamu?!” tanya Gadis yang nampak mulai frustasi, namun Putra tak menyahut, hanya tersenyum dengan teduhnya. “Putra! Katakan, kenapa aku tidak bisa sentuh kamu??!!..”
“I love you, Gadis..”
Putra berbisik mesra, namun hati Gadis rasa di remat, seiring sosok Putra kian memudar dari pandangan Gadis.
“Jaga diri kamu baik – baik, jaga juga Anth dengan baik –“
“Tidak.. Putra..”
Gadis bangkit dari ranjang.
“Putra! Kamu mau kemana?! Putra! Kamu bilang kamu pulang!”
Gadis mulai histeris, namun Putra tak menjawab dengan sosoknya yang semakin terus memudar, hanya terakhir Putra menunjuk ke arah dada sebelah kiri Gadis lalu Putra menyentuh dada kirinya.
Dimana hati yang berada di dalam dada kiri Gadis yang ditunjuk Putra terasa begitu sakit, hingga Gadis merasakan sesak yang teramat sangat.
“Tidak! Putra!” Gadis mengejarnya. “Putra! Tidak! Jangan Pergi!”
“I love you..”
Mulut Putra terdengar mengucapkan sebaris kalimat romantis itu lagi sebelum sosoknya benar – benar menghilang dari pandangan Gadis, tanpa Putra bersuara.
“TIDAK!!”
Gadis histeris dengan menjadi.
Tangan Gadis terangkat ke udara, namun hanya angin yang menyapanya, bukan genggaman tangan Putra.
“PUTRAAA!!!!..”
Gadis menjerit pilu.
“Tidak, Putraaa, tidaaakkk.. jangan tinggalkan akuu!!! ---“ Gadis jatuh terduduk di lantai kamar pribadinya dan Putra, dengan wajahnya yang menghadap ke bawah sambil memukul-mukul dada kirinya.
Gadis merasakan dadanya begitu sesak sekali sekarang. Apa yang baru dialaminya, sudah ia sadari artinya.
“Kenapa??—“ lirih Gadis penuh sesak. “KENAPA YA TUHAN?!” Gadis menjerit pilu menyakitkan. “Kenapa Kau ambil dia dari aku?? ---“
Tangis Gadis pecah begitu memilukan kemudian.
__ADS_1
◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾
To be continue ....