LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 51


__ADS_3

Happy reading...


“Is-that, Gadis? ( Apakah itu, Gadis? )”


“......”


“That-is Gadis right, Papa? ( Benarkan itu Gadis, Papa? )”


“Hemm ...” Putra menyahut singkat tanpa berkata. ‘Cih! I even more handsome than that Doctor! Even richer! ( Aku bahkan lebih tampan daripada Dokter itu! Lebih kaya malah! )’ Batin Putra. Namun kemudian ia tersentak karena Anthony menarik tangannya.


“Co-me on, Papa! ( Ay-o, Papa! )”


“Okay! Okay!” Sahut Putra sembari mengayunkan langkahnya mengikuti Anthony yang sudah menarik tangannya seraya menyeret Putra untuk menyambangi Gadis.


**


Gadis yang merasakan sedikit tarikan di seragam perawatnya itu sontak langsung saja menoleh.


Terlebih lagi tarikan pelan itu bersamaan dengan suara seorang bocah yang sudah cukup dikenalnya saat ini.


“Ga – dis.....”


“Anthony?!”


Gadis tersenyum lebar saat melihat Anthony, selain cukup terkejut juga dengan kedatangan Anthony dan Putra yang ia kira baru akan datang besok untuk menemuinya.


Gadis sedikit tersenyum pada Putra.


“Putra.....” Sapa Gadis.


Putra juga sedikit tersenyum pada Gadis.


“Apa kabar Gadis?”


“Aku baik, Putra. Bagaimana denganmu?”


“Akupun baik” Sahut Putra.


“Baiklah Gadis, karena kamu kedatangan tamu. Aku permisi dulu kalau begitu ya?”


‘Dia juga membahasakan dirinya dengan ‘aku’ pada Gadis? Cih! Sok akrab sekali!’ Putra membatin sebal.


“Iya Dokter Bajra, silahkan.....”


“Mari” Dokter laki – laki yang lumayan tampan bernama Bajra itu undur diri juga pada Putra yang hanya menjawab dengan anggukan padanya.


“And you, handsome boy. How are you? ( Dan kamu, anak tampan. Apa kabarmu? )”


“I’m – good Gadis .....  ( Aku baik Gadis ) .....”


“I think you more handsome now, Anthony ( Aku rasa kamu semakin tampan, Anthony )”


‘How about me?. Do I look more handsome? ( Lalu bagaimana denganku?. Apa aku juga terlihat semakin tampan? )’


Pertanyaan dari Putra yang terlontar untuk Gadis, namun hanya di dalam hatinya saja.


“Tha – nk you Gadis ( Te – rima kasih Gadis )”


Gadis yang sudah berjongkok di hadapan Anthony itu tersenyum gemas lalu mengacak pelan rambut Anthony.


“You welcome, handsome ( Sama – sama, tampan )”


“Apa ini masih jam kerjamu, Gadis?” Tanya Putra.


Gadis berdiri, namun tangannya sudah menggaet tangan Anthony.


“Iya, aku masuk pagi, Putra”


“Kalau begitu maafkan aku” Ucap Putra. “Kami sudah coba untuk membujuk Anthony untuk menemuimu esok hari saja, dan rencananya akan mengirim Danny untuk melihat jadwalmu disini. Tetap Anth, merengek untuk segera diantar kesini”


“Tidak apa – apa Putra, aku kebetulan sedang bebas untuk tiga puluh menit ke depan. Jadi aku bisa menemani Anthony sebentar”


Putra menyunggingkan senyum tipisnya lagi.


“Terima kasih”


“Tidak masalah”


Gadis kemudian mengajak Putra dan Anthony untuk pergi ke ruangan khusus perawat, tempat Gadis dan rekan sejawatnya biasa berada jika jam kerja mereka belum selesai, namun tidak ada tugas menemani para Dokter yang sedang praktek atau mengecek pasien.


*****


“Anth, this is still Gadis’ time to work, so we cannot stay here too long, hem? ( Anth, ini masih waktunya Gadis untuk bekerja, jadi kita tidak bisa tinggal lama disini, hem? )” Putra mencoba memberikan pengertian pada Anthony, yang langsung mengangguk patuh.


Gadis menarik sudut bibirnya. “I’m very sorry Anthony, I don’t know that you will come today ( Aku minta maaf ya Anthony, aku tidak tahu kamu akan datang hari ini )” Ucap Gadis pada Anthony.


“It – s okay, Gadis..... ( Ti – dak apa apa, Gadis ) .....”


“But I promise, that I will spend my time with after working ( Tetapi aku janji, kalau aku akan menghabiskan waktu denganmu setelah bekerja )”


“But – you will go with me and Papa to have lunch, right? ( Ta – pi kamu akan pergi makan siang denganku dan Papa, kan? )” Tanya Anthony dengan menunjukkan senyumnya pada Gadis.


“Euummm.....”


“Jam istirahatmu seperti biasa kan?”


Gadis mengangguk. “Iya, t-.....”


“Kalau begitu aku dan Anth akan kembali kesini saat jam makan siangmu. Masih ada beberapa jam, dan aku akan membawa Anth ke tempat tinggal kami yang berada di sini, lalu kami akan kembali kesini saat jam istirahatmu tiba”


“Sebelumnya aku mohon maaf Putra.....”


Gadis melipat bibirnya, nampak sedikit ragu untuk meneruskan kalimatnya.


“Ada apa?. Apa kamu berhalangan untuk makan siang dengan kami hari ini?” Tanya Putra.


Gadis mengangguk ragu.


“Apa kamu lembur?. Tapi setidaknya kamu punya waktu beristirahat kan?”


Putra menyambung pertanyaannya yang terdengar seperti sedang mencecar Gadis itu.


“You will go with me and Papa to have lunch, right?  ( Kamu akan pergi makan siang denganku dan Papa, kan? )”


'Apa mereka keluarga wartawan?'


Gadis membatin karena ayah dan anak dihadapannya ini nampak kompak saling bersahutan melontarkan pertanyaan padanya.


“Jangan katakan kamu menolak kali ini?”


Wajah Putra menjadi sedikit berubah dan Anthony masih menunggu jawaban dari Gadis atas pertanyaannya.


“Anthony, I will talk to your Papa first?. Because I little bit, hard to explain to you ( Aku akan berbicara dengan Papamu terlebih dahulu?. Karena aku sedikit, sulit untuk menjelaskan padamu )”


Anthony mengangguk pada Gadis.


Kemudian Gadis beralih pada Putra.


“Begini Putra, aku kan tidak tahu kalau Anthony akan datang hari ini. Jadi .....”


“Gadis!”


Sebuah suara yang terdengar memanggil Gadis bersamaan dengan sosok yang memakai jubah putih dengan stetoskop di tangannya, membuat Gadis dan Putra juga Anthony kompak menoleh ke sumber suara.


“Dokter Bajra”


Gadis dengan segera menjeda pembicaraannya dengan Putra. Dan ia langsung berdiri saat Dokter laki – laki yang lumayan tampan dan ia lihat tadi sedang mengobrol dengan nampak akrab bersama Gadis saat Putra dan Anthony tiba di Rumah Sakit tempat Gadis bekerja itu, datang lagi menyambangi Gadis di ruangan khusus perawat itu.


Putra melirik malas pada Dokter yang bernama Bajra itu.


Terlebih saat Dokter laki – laki itu tersenyum pada Gadis dan mendekatinya.


Putra tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang membuatnya merasa sebal seketika itu, saat melihat Dokter Bajra mendekat pada Gadis. ‘Cih! Try to make himself looks a lot of charms! ( Tebar pesona sekali! )’

__ADS_1


Putra membatin sebal, namun matanya tatap fokus pada Gadis dan Dokter laki – laki itu.


“Ada apa Dokter?”


“Aku tadi lupa bilang, kalau berkas pasien atas nama Nyonya Anggraeni sekalian kamu buatkan laporannya untuk Dokter Retno juga”


“Oh, baik. Nanti aku siapkan untuk Dokter Retno juga laporan berkas hasil pemeriksaannya”


“Maaf merepotkan ya?”


“Itu kan sudah tugasku, Dok”


“Baiklah kalau begitu. Aku tunggu laporannya ya?”


“Seharusnya Dokter tidak perlu repot – repot datang, Dokter kan bisa menghubungi lewat telepon”


“Tidak masalah, aku sekalian lewat juga setelah dari ruangan Dokter Retno tadi”


“Huum...”


“Sekalian aku juga mau mengingatkan kamu”


“Tentang?”


“Kamu punya janji makan siang denganku nanti loh”


Ada wajah yang berubah dingin detik itu juga setelah mendengar kalimat Dokter Bajra pada Gadis barusan.


“Oh, eum..”


“Tidak lupa kan?”


Gadis nampak tersenyum kikuk saat ini. Terlebih dia sempat melirik Putra yang nampak sinis menatapnya setelah mendengar soal janji makan siangnya dengan Dokter Bajra.


‘Aduh, Putra kenapa melihatku begitu sih?. Dia pasti akan sangat kesal karena aku menolak ajakan makan siang bersama Anthony karena ini’


Gadis membatin.


‘Tapi bukan salahku juga kan?. Mana aku tahu dia akan datang hari ini bersama Anthony? Jadi aku sudah terlanjur mengiyakan ajakan Dokter Bajra untuk makan siang bersama’


“Gadis?”


‘Akupun tak enak rasanya menolak undangan Dokter Bajra terus – terusan’


“Hey Gadis?”


“Eh!” Gadis terkesiap saat jentikan jari Dokter Bajra tepat berada di depan wajahnya.


“Kok malah melamun?”


“Oh , maaf, maaf Dokter. Aku..”


“Ya sudah pokoknya jangan lupa janji makan siang denganku hari ini. Nanti aku akan menjemputmu kesini saat jam istirahat”


Gadis mengangguk ragu, pada Dokter Bajra yang terus menatapnya itu.


“Ba-...”


“Aku rasa dia tidak bisa menerima undangan mu, Dokter!”


“Eh?..”


“Maaf?”


Dokter Bajra spontan menoleh, pada Putra yang barusan bicara. Dan kini sudah berdiri tegak dari duduknya memandang sedikit tajam pada Dokter tersebut yang wajahnya nampak heran.


“Memangnya kenapa, Gadis tidak bisa menerima undangan makan siangku?”


Dokter Bajra bertanya pada Putra dan melirik Gadis yang nampak terlihat salah tingkah saat ini.


“Lagipula Gadis sudah mengiyakan ajakanku, Tuan” Ucap Dokter Bajra dengan tenang. “Iya, kan Gadis?”


“Eum, Putra .. aku rasa..”


“Dia sudah lebih dulu mengiyakan ajakanku untuk makan siang bersamaku dan putraku, hari ini , esok dan seterusnya” Sambar Putra. “Iya, kan Gadis?”


***


‘( Apa yang sudah tertangkap oleh mataku, dan mungkin juga sudah tertangkap oleh hatiku... Aku tidak akan membiarkan orang lain memiliki kesempatan mendekatinya )’


--- Putra Adjieran Vinson ---


***


“Dia sudah lebih dulu mengiyakan ajakanku untuk makan siang bersamaku dan putraku, hari ini , esok dan seterusnya” Sambar Putra. “Iya, kan Gadis?”


Lalu mata Putra menyorot pada Gadis dengan senyuman yang ia sunggingkan.


“Benar begitu Gadis?”


“Eum....”


“Benar” Sambar Putra. “Kamu sudah berjanji padaku”


Putra seolah tak ingin memberikan kesempatan pada Gadis untuk bicara.


Dokter Bajra tersenyum kaku.


“Terutama dia sudah berjanji pada anakku, kalau dia akan selalu menemaninya jika memiliki waktu senggang. Dan kurasa waktu senggang itu, termasuk juga jam istirahat kerjanya”


Putra merepet saja bicara sembari menatap Dokter Bajra dengan sikapnya yang nampak mendominasi Gadis saat ini.


“Bukan begitu, Gadis?” Kini Putra mengalihkan pandangannya pada Gadis, dengan tersenyum miring.


Dokter Bajra melipat bibirnya.


“Begitu ya?”


“E- ...”


“Ya”


Sekali lagi Gadis dibuat tak berkutik oleh Putra, karena Putra selalu saja menyambar saat Gadis hendak menjawab.


Rasanya juga Gadis ingin pergi dari hadapan dua pria yang membuatnya menjadi canggung dan risih, karena rekan – rekan Gadis yang kebetulan ada dalam ruangan, kini mulai memperhatikan Gadis dan dua pria yang nampak sedang memperebutkannya dengan cara yang halus, meski nampak sedikit berdebat.


“Do you have heart to dissapoint my son, Gadis? ( Apa kamu tega mengecewakan anakku, Gadis? )” Ucap Putra lagi.


“S – o you won’t go with me and Papa anymore, Gadis? ( Ja – di kamu tidak akan pergi bersamaku dan Papa lagi, Gadis? )”


Anthony bersuara, sembari menunjukkan wajah yang memelas pada Gadis dan sukses membuat Gadis jadi tak tega.


“No Anthony. It, it wasn’t like that... ( Tidak Anthony. Itu, bukan seperti itu.. )”


Gadis mengusap pelan kepala Anthony.


“I will keep my promise to you ( Aku akan menjaga janjiku padamu )”


“D – o you? ( Be – nar? )”


“Yes, I do ( Iya )” Sahut Gadis seraya tersenyum dan mengangguk.


Anthony pun langsung tersenyum.


“But, I, I want to talk to Doctor Bajra first ( Tetapi, aku, aku mau berbicara dengan Dokter Bajra dulu ), ya?” Ucap Gadis pada Anthony. “Please?”


Gadis menoleh pada Putra.


“Sure ( Tentu )”


Putra mempersilahkan.


‘Haish, kenapa juga aku harus meminta ijin pada papa nya Anthony?. Aku kan tidak ada hubungan spesial dengannya! Tapi cara dia menatapku membuat bulu kudukku berdiri! Seolah dia akan mencekik ku jika aku membuat Anthony kecewa, meski memang aku sendiri tidak tega melihat wajah Anthony yang memelas tadi’

__ADS_1


Gadis mencerocos dalam hatinya.


‘Tapi aku kan jadi tidak enak dengan dengan Dokter Bajra!...’


Gadis yang merasa serba salah itu mengajak Dokter Bajra untuk sedikit menjauh dari Putra dan Anthony.


“Bicara seperlunya” Putra menahan Gadis sejenak hingga gerakan tiba – tiba Putra yang mencekal langkah Gadis dengan merengkuh pinggangnya itu membuat Gadis membeku sesaat.


“Pu.. Putra...”


Gadis menenangkan jantungnya yang hampir loncat keluar, akibat kelakuan Putra ini. Yang tiba - tiba merengkuh pinggangnya dan berbisik tepat di telinganya.


“Jangan mengecewakanku dengan membuatku menunggu terlalu lama. Aku tak suka” Bisik Putra di telinga Gadis dengan begitu dekatnya. Sedikit membuat Gadis menahan nafasnya.


“I – iya....”


Gadis spontan saja menyahut. Ia sendiri pun heran pada dirinya, mengapa bisa sampai se-gugup itu dengan perlakuan Putra yang dirasa mendominasinya.


‘Iiihhh! Kenapa aku menjadi seperti kerbau yang dicocok hidungnya oleh papanya Anthony itu sih?!’


Gadis menggerutu dalam hati setelah Putra melepaskannya, agar ia bisa menyambangi Dokter Bajra yang sudah menunggu Gadis di luar ruang khusus perawat itu dengan wajah yang sulit diartikan.


***


“Apa yang kamu katakan padanya?”


Putra langsung saja bertanya pada Gadis yang sudah kembali padanya dan Anthony yang kini sudah duduk di samping Putra.


‘Ya tuhan, mengapa papanya Anthony ini begitu ingin tahu urusanku, sih?’


“Gadis?” Panggil Putra, karena Gadis tak langsung menjawab pertanyaannya.


“Putra,...”


“Kamu tidak akan mengecewakan Anth bukan?”


Gadis menghela nafasnya pelan, menunjukkan senyumnya pada Putra, karena Anthony juga nampak sedang memperhatikan dirinya.


“Tentu tidak”


“Baguslah jika memang begitu”


Putra menyahut santai.


“A – re you going to have lunch with me and Papa like usual Gadis? ( A – pa kamu akan makan siang denganku dan Papa seperti biasanya Gadis? )”


“Yes Anthony ( Iya Anthony )”


“Tha – nk you Gadiiss...” Anthony langsung saja berhambur untuk memeluk Gadis yang akhirnya tersenyum setelah sempat sedikit merasa sebal pada papa tampannya bocah kecil yang sedang memeluknya itu.


Namun Anthony yang menggemaskan itu, mampu membuat Gadis melupakan perasaan sebalnya pada Putra meski sedikit.


“You welcome Anthony” Gadis menyahut dengan tersenyum sembari mengusap kepala Anthony setelah mengurai pelukannya. “But, I have to go back for work now ( Tetapi, aku harus kembali bekerja lagi sekarang )”


“O -  kay...” Sahut Anthony seraya mengangguk.


“Sepertinya kamu bisa membawa Anthony kembali dulu ke tempat tinggal kalian, baru nanti kita langsung bertemu saja di Restoran yang biasa agar kalian tidak repot bolak – balik kesini”


“Bo – lak... apa?”


“Eum itu, agar kalian tidak repot kembali kesini lagi .... jadi kita langsung bertemu di Restoran saja saat jam makan siang nanti”


Putra manggut – manggut.


“Baiklah, akan aku antar kalian sampai lobi depan”


“Untuk?”


“Tadi kan sudah aku bilang aku harus kembali bekerja?”


“Huum ...”


“Jadi aku antar kalian dulu sampai lobi. Masih ada beberapa jam lagi menuju waktu makan siang. Kalau tidak salah tempat tinggal kalian tidak jauh dari sini, kan?”


“Iya, tempat tinggal kami tidak terlalu jauh dari sini memang”


Gadis manggut – manggut kemudian ia berdiri.


“Mari ...” Ucap Gadis.  Namun Putra tetap duduk di tempatnya begitupun Anthony, membuat Gadis merasa sedikit


heran. “Putra, aku harus kembali bekerja”


“Ya sudah pergilah. Aku dan Anth tidak akan mengganggumu bekerja”


“Apa kamu tidak ingin aku antar sampai ke lobi depan?”


“Tidak perlu”


“Aku tidak ingin dianggap tidak sopan Putra ...”


Gadis melapangkan dadanya, kini rasanya ia sudah mulai kelas pada papa tampan satu ini.


“Tidak akan ada yang menganggapmu begitu” Sahut Putra. “Pergilah bekerja. Kami akan menunggumu disini”


“Apa?!” Seru Gadis.


“Aku dan Anthony akan menunggumu disini sampai waktu istirahatmu tiba”


“Hah?! ...”


“Aku sudah meminta ijin pada Suster Neni, dan dia bilang silahkan saja jika aku mau berada disini”


Gadis mendelik tak percaya.


“Nah ini Suster Neni. Kamu bisa bertanya sendiri padanya”


Putra berkata dengan santainya sembari menunjuk salah seorang suster yang sudah ia kenal dan kini sudah berada di dekatnya dan Anthony juga Gadis.


Putra tersenyum pada Suster yang ia tunjuk itu.


“Saya dan Anthony boleh berada disini sampai jam istirahat Gadis tiba bukan, Suster Neni?”


Suster yang ditunjuk Putra itu tersenyum lebar. “Tentu saja Tuan Putra”


“Ta – tapi ... nanti Anthony bosan dan bisa saja lelah menunggu” Sela Gadis.


“Tidak akan. Right Anth? ( Benar kan Anth? )”


Putra beralih pada Anthony.


“You don’t mind to wait Gadis here until she finish working, even if it’s quite long?”


“( Kamu tidak keberatan untuk menunggu Gadis sampai dia selesai bekerja, meskipun sedikit lama? )”


“No – t at all ( Ti – dak sama sekali )” Sahut Anthony.


Gadis terpaku. “But, Anthony ( Tapi, Anthony )”


“Dia sendiri yang memintanya. Dan aku tak bisa menolak keinginan anakku”


Putra menunjukkan senyumnya.


“Jadi silahkan jika kamu ingin kembali bekerja”


“Iya, ta ...”


“Lagipula aku harus memastikan, kalau kamu tidak akan mengingkari janjimu pada Anth mengingat kami hanya beberapa hari disini. Jadi aku kan menunggumu. Siang ini dan siang – siang berikutnya. Sampai kami kembali lagi ke Kediaman kami yang berada di luar Ibukota”


‘Oh Tuhan!’


***


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2