
Happy reading...
♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣
“Banyak orang yang masih berpikir jika seorang perempuan biasa menjalin kasih dengan seorang pria dari kalangan berada, maka mereka akan mengatakan jika perempuan itu pasti mengejar harta dan status” Sambung Gadis.
“Dangkal sekali” Sahut Putra.
“Tapi memang itu yang seringnya terjadi kan?”
“.........”
“Kita juga tidak bisa mengatur cara berpikir orang lain yang menilai kita hanya dari luarnya saja, bukan? ...... Dan opini itu sedikit banyak akan sampai padaku, jika mereka tahu aku memiliki hubungan spesial denganmu ......”
“.........”
“Seorang pria yang bahkan sekarang berstatus sebagai donatur terbesar disini ...... Jadi sedikit banyak akan ada cibiran yang sampai padaku nanti
......”
“.........”
“Dan aku harus menyiapkan diri untuk itu”
“Jika memang begitu kondisinya, maka aku yang akan mengumumkan pada semua orang tentang satu hal”
“Apa itu?”
“Aku yang telah jatuh cinta padamu dan aku yang mengejarmu, bahkan memaksamu untuk menjadi kekasihku karena kamu sering menolakku”
“.........”
“Karena kenyataannya, memang aku sangat mencintaimu, Gadis......”
Putra menatap teduh wajah Gadis yang tersenyum dengan cantiknya dan sama menatap Putra dengan keteduhan dimatanya.
“Aku sangat mencintaimu, tapi hanya setengah hati saja” Sambung Putra. “Karena setengah hatiku untuk Anth. Maaf untuk itu”
Gadis pun sontak terkekeh kecil. “Akupun minta maaf juga kalau begitu. Karena aku lebih menyayangi Anthony daripada kamu” Ucap Gadis dan Putra mendengus geli seraya bibirnya mengukir tawa.
“Aku tidak akan protes untuk satu hal itu” Sahut Putra. “Jikapun kamu hanya menyayangi Anth, aku juga tidak akan protes”
“Oh ya?”
“He’em”
“Benar tidak akan cemburu pada Anthony jika aku hanya menyayanginya?....”
Gadis menggoda Putra sembari menunjukkan ekspresi meledek dan mengarahkan satu telunjuknya pada Putra yang lagi-lagi langsung mendengus geli, kemudian mengukir tawa lagi di bibirnya.
“Awas ya, jika protes nanti” Ancam Gadis dalam candaan. “Aku beri hukuman nanti jika kamu melanggar kata-katamu itu”
“Silahkan saja ..”
Sembari Putra mengangguk.
“Karena aku akan merasa sangat bahagia, jika kamu memang benar-benar tulus menyayangi Anth sebagaimana aku menyayanginya”
Kemudian Putra berucap.
“Anth adalah hidupku, kebahagiaanku..”
“.....”
“Sekarang kamu memiliki arti yang sama seperti Anth dalam hati dan hidupku, Gadis”
“.....”
“Karena kalian adalah esensi utama kebahagiaanku .. jadi, aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kalian, mencintai kalian dengan segenap hatiku, termasuk mengorbankan apapun untuk melindungi kalian”
Putra memandang teduh pada Gadis yang tersenyum dengan bahagia dan keharuan yang menyeruak dalam hatinya.
“Jadi jikapun kamu hanya menyayangi Anth, aku tak mengapa.. biar aku saja yang mencintaimu dan kamu cukup merasakannya”
“Terima kasih ya ..”
Gadis berkata dengan tulus.
Putra menarik sudut bibirnya.
“Tidak perlu berterima kasih untuk cintaku.. cukup dengan kamu menerimanya saja aku sudah bahagia ..”
“Sudah ah!.. cukup”
“Apanya yang cukup?”
“Cukupkan kata-katamu. Mulutmu terlalu manis, aku takut terkena penyakit gula..”
Putra spontan tergelak mendengar guyonan Gadis barusan.
**
“Kamu langsung kembali ke tempat tinggalmu yang berada di luar kota itu setelah dari sini?” Tanya Gadis, setelah mereka sampai di depan lobi Rumah Sakit tempat Gadis bekerja. Putra langsung mengangguk.
Gadis manggut-manggut.
“Ya sudah, kamu silahkan kembali bekerja”
“Benar tidak apa-apa jika aku langsung masuk kedalam?..”
“Tidak apa-apa” Jawab Putra.
“Aku bisa masuk setelah kamu berangkat, kok”
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Masuklah. Lagipula aku sedang menunggu Arthur juga”
“Oh..”
“Nanti aku akan menghubungimu saat sampai”
Gadis mengangguk.
‘Sebaiknya iya, aku segera pergi saja kembali ke ruangan .. jika Tuan Arthur masih disini dan aku bertemu dengannya lagi, bisa saja dia mengenali wajahku nanti’
Seraya Gadis membatin.
“Ya sudah, aku tinggal ya?..”
Putra mengangguk seraya tersenyum saat Gadis berpamitan sembari melambai, sebelum ia berbalik dan berjalan menyusuri lorong untuk menuju ke ruangan khusus perawat dengan Putra yang tidak memalingkan pandangannya menatap sosok Gadis yang sedang berjalan menjauh dari hadapannya itu.
Putra menarik sudut bibirnya, seiring rasa senang yang menyeruak dalam hati Putra yang bisa menghabiskan waktu sedikit lama dengan Gadisnya, walau tidak sampai bermesra-mesraan seperti saat mereka berada di kapal layar kala itu. Seperti ini saja, Putra sudah senang.
**
Arthur muncul bersama Pak Tri yang merupakan Wakil Kepala Rumah Sakit yang wajahnya nampak sumringah, tak lama setelah Gadis menghilang dari pandangan Putra.
Putra berjalan masuk ke dalam area lobi Rumah Sakit saat melihat kemunculan dua pria tersebut dari sebuah lorong kantor Rumah Sakit.
“Loh Tuan Putra, anda sudah kembali?” Sapa Pak Tri seraya bertanya pada Putra yang spontan tersenyum padanya.
“Sudah”
Putra menyahut singkat.
“Mengapa cepat sekali?..”
“Aku hanya takut calon istriku itu menjadi tidak nyaman jika terlalu lama meninggalkan pekerjaannya di tempat ini”
“Gadis tidak harus merasa tidak nyaman..”
Pak Tri berucap.
“Setelah tahu jika dia adalah calon istri anda, pastinya kami tentu saja tidak akan menyusahkan Gadis. Pak Tamas juga pasti akan sependapat dengan saya”
“Well, sebaiknya anda saja yang mengatakan itu padanya” Sahut Putra.
“Tentu!. Nanti saya akan mengatakan pada Gadis agar tidak lagi pusing soal peraturan jika anda datang untuk menemuinya saat ia sedang bekerja”
“Senang mendengarnya”
“Kami merasa lebih senang lagi jika anda merasa nyaman..”
“Baiklah jika begitu..”
Putra melirik Arthur.
“Sudah kau sampaikan titipanku Ar?”
“Sudah” Sahut Arthur. “Anda ingin menyimpan tanda terimanya?”
“Tidak perlu. Kau saja yang menyimpannya. Berikan pada Danny saat ia kembali nanti”
“Baik” Sahut Arthur lagi.
“Terima kasih sekali untuk donasi yang baru saja anda berikan ini Tuan” Ucap Pak Tri. “Kami akan menggunakannya untuk pembangunan Rumah Sakit ini dengan sebaik-baiknya ..” Sambung Pak Tri.
Putra mengangguk.
Lalu Pak Tri mengulurkan tangannya pada Putra untuk berjabat dan membuat Putra menyadari sesuatu yang berada di tangannya.
‘Ah!’ Kesah Putra dalam hatinya. “Pak Tri, apa saya diperbolehkan masuk lagi ke ruangan para perawat?”
Ucap Putra. Yang sebenarnya basa-basi saja. ”Saya terlupa untuk memberikan ini pada Gadis”
Sambil Putra mengangkat sedikit sebuah bungkusan di tangannya.
“Tentu! Tentu saja!”
Pak Tri mempersilahkan dengan cepat.
“Anda tidak perlu meminta ijin Tuan”
‘Aku juga hanya basa-basi saja. Coba saja kau bilang tidak boleh’
Putra membatin, seraya menampakkan senyumnya pada Pak Tri.
“Terima kasih! ..”
“Mari saya antar!”
Pak Tri menawarkan.
“Tidak perlu merepotkan diri anda, Pak Tri” Tolak Putra.
“Baiklah jika begitu..”
“Saya permisi kalau begitu”
“Silahkan, Tuan Putra ..”
“Ah, ya Arthur! .. kau juga silahkan pergi duluan jika memang ada urusan lain”
“Aku akan menunggu anda disini” Sahut Arthur.
“Anda juga jika ingin kembali beraktifitas, silahkan saja Pak Tri!..”
“Tidak Tuan, tidak sopan jika saya melanjutkan pekerjaan saya sementara tamu kehormatan kami masih disini..”
__ADS_1
“Ya sudah, aku permisi sebentar kalau begitu” Putra mengangguk lalu bergegas pergi.
***
Putra menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang bersumber dari lorong lain, saat ia sedang menyusuri lorong Rumah Sakit menuju ruangan khusus para perawat dan hampir mencapai ruangan tersebut.
Karena Gadis dan Putra sendiri melupakan kudapan yang tadi dibeli dari Restoran tempat mereka sarapan bersama. Namun Putra berhenti sejenak saja kala sebuah suara nyaring yang seperti sedang marah-marah itu terdengar.
“Apa kau tahu karena kau pekerjaanku terbengkalai, hah?!”
Suara yang terdengar sedang menghardik itu rasanya Putra kenali.
‘Ternyata suara aslinya seburuk ini’
Putra membatin sinis. Namun sejenak ia diam. Malas jika harus berpapasan dengan orang yang sedang marah-marah itu. Seorang wanita tepatnya.
‘Aku berikan kudapan ini untuk Suheil sajalah .. aku malas sekali bertemu dengan wanita itu. Biar aku minta Arthur membelikan lagi kudapan untuk Gadis dan rekan-rekannya'
Putra yang memang masih sedikit berjarak dari ruangan khusus perawat di belokan lorongnya itu membalikkan badannya untuk kembali ke tempat Arthur dan Pak Tri berada tadi karena keduanya mengatakan akan tetap disana sampai Putra kembali dari menemui Gadis untuk memberikan sesuatu yang tertinggal.
“Maafkan aku Dokter Ilse ..” Ada sahutan yang juga suara wanita yang sepertinya adalah lawan bicara wanita yang sedang marah-marah itu.
Putra sedikit terkejut, karena Putra sangat mengenali suara dari lawan bicara seorang wanita yang sedang marah-marah itu, yang adalah seorang Dokter wanita yang Putra kenal.
“Tapi di jadwalku tidak ada tercantum jika hari ini aku menggantikan Suster Jayanti untuk mendampingi anda..”
“Apa kau sadar siapa dirimu, hah?! Aku berhak mengubah dan meminta siapapun untuk mendampingiku meski kau tidak dijadwalkan untuk itu!”
“Mohon maaf, Dokter Ilse, Gadis memang tidak tahu jika ia diminta untuk mendampingi Dokter, bahkan Dokter Ilse memintanya tanpa mengajukan form untuk meminta pendamping pengganti, jadi ..”
Suara wanita lain yang juga Putra kenali, terdengar.
“Diam kau! Kurang ajar sekali berani menyela dan mengajariku?!”
“Maaf Dokter Ilse, saya tidak bermaksud kurang ajar pada anda, tetapi..”
“Kubilang diam! Mau kehilangan pekerjaanmu disini?!”
“........”
“Sudah, Mba Nen .. “
“........”
“Aku paham, Dokter Ilse, tapi aku belum mendapatkan pemberitahuan resmi tentang menjadi pendampingmu.. tapi..”
“Itu karena kau sibuk menebar pesona daripada bekerja! Kau bahkan tidak ada di tempat kerjamu saat waktu bekerja! Kurang ajar sekali kelakuanmu! Bukannya bekerja malah asyik menghabiskan waktu dengan Putra, kan?! Kau pikir siapa dirimu, hah?!”
Putra berbalik lagi dan mengayunkan langkahnya dengan tergesa.
“Kau sudah banyak bertingkah sejak dulu, tahu?! Menggoda banyak Dokter pria disini dan sekarang kau sudah merasa hebat karena Putra mendekatimu?! Aku yakin kau yang menggodanya! Dasar tidak tahu malu!”
‘Berani sekali!!’ Batin Putra mulai geram.
“Maaf Dokter Ilse, tolong jaga ucapan anda..”
“Diam kau! Perempuan murahan! Jangan berani-berani ..”
“HEY!!”
Suara bariton suara pria terdengar menggelegar di lorong Rumah Sakit, menyita perhatian mereka yang mendengarnya, meski suasana di Rumah Sakit tidak ramai.
Bahkan suara itu mengalahkan kencangnya hardikan seorang Dokter wanita yang sedang memarahi sekaligus menghina seorang perawat didepannya itu. “KAU YANG JANGAN BERANI-BERANI!!” Teriak pria tersebut dengan bahasa Indonesia.
Karena tiga orang yang bercakap itu menggunakan bahasa tersebut, jadi pria itu spontan menggunakan bahasa yang sama.
Tiga wanita yang mendengar suara menggelegar yang sepertinya sangat geram itu spontan menoleh, karena suara berat nan menggelegar seorang pria berikut sosoknya dengan wajah yang nampak geram berikut matanya yang menyalang tajam.
“Tu-an Putra??...” Seorang wanita berseragam suster berucap dengan suara pelan dan nampak terkejut karena sosok dari suara yang menggelegar itu muncul.
“Pu-Putra??!! ..” Dua wanita lain, dengan seragam yang berbeda menyebut nama Putra.
Yang rahangnya nampak mengetat kuat, sembari menatap tajam dan nyalang pada satu wanita berseragam Dokter yang kini begitu pias wajahnya.
Pria yang nampak sangat geram itu memanglah Putra, yang sudah berdiri didepan Dokter wanita sembari mengarahkan telunjuknya pada Dokter wanita tersebut, masih dengan suara Putra yang menggelegar.
Gadis begitu syok melihat Putra yang seperti itu.
Bahkan suara menggelegar Putra sampai ke lobi depan tempat dimana Arthur dan Pak Tri masih berdiri, dan langsung berjalan dengan sangat tergesa ke arah dimana suara Putra yang terdengar sedang marah besar itu bersumber.
“BERANI SEKALI KAU MENGHINANYA, HAH?!” Teriak Putra pada Ilse sambil mengarahkan satu telunjuknya tepat didepan wajah Dokter Ilse yang meneguk kasar salivanya.
“Pu-Put-ra... I-I .. ( Aku-aku )..”
“Ada apa Tuan????..” Arthur dan Pak Tri yang sudah berada di sumber keributan yang menggemparkan itu spontan langsung bertanya melihat Putra yang wajahnya terlihat begitu geram.
Tapi Putra mengacuhkan pertanyaan dua pria yang nampak panik tersebut.
“KAU SEBUT TUNANGANKU MURAHAN?! KAU YANG MURAHAN!”
“Putra, sudaaah ...”
Gadis yang kemudian tersadar dari keterkejutannya itu memberanikan diri untuk menyentuh lengan Putra, mencoba menenangkannya.
Karena wajah Dokter Ilse yang putih itu sudah nampak merah padam, berikut air mata yang sudah jatuh ke pipinya, juga nampak begitu ketakutan.
Namun Putra bergeming.
“SEKALI LAGI AKU MENDENGAR KAU MENGHINA TUNANGANKU AKAN KUROBEK MULUTMU DENGAN TANGANKU SENDIRI!”
***
To be continue .....
__ADS_1
Enjooooyyy..