
Happy reading ....
“Kalian duduklah .. kurasa tempat duduk di ruangan ini masih cukup untuk kalian duduki! ..”
Putra berkata kepada kelima orang yang datang bersama Arthur, yang tetap saja berdiri meski sebelumnya Putra juga sudah mempersilahkan mereka untuk duduk bersama.
Seperti halnya Pak Abdul dan keluarganya yang sering Putra ajak duduk bersama namun seringnya menolak dengan halus karena rasa sungkan mereka, kelima orang yang datang bersama Arthur itu juga menolak dengan halus ucapan Putra yang meminta mereka semua mengambil tempat untuk duduk.
“Terima kasih sekali Bos. Tapi kami berdiri saja disini” Jawab salah seorang dari lima pria itu mewakili empat temannya yang langsung mengangguk mengiyakan. Tahu diri.
Putra mendengus geli saja mendengar panggilan Bos yang disematkan padanya oleh pria tadi.
“Baiklah. Jangan katakan aku orang yang tidak sopan karena tidak mempersilahkan kalian untuk duduk, ya?”
Putra menyunggingkan senyumnya.
“Tidak, Bos. Tidak apa – apa. Kami sudah biasa”
“Justru kami merasa tersanjung, karena merasa diterima oleh anda Bos. Biasanya kami diperlakukan biasa saja, bahkan sering tidak dianggap selain hanya sebagai pekerja ..”
Putra kembali menyunggingkan senyumnya. Namun Arthur melengos pada pria yang barusan bicara itu.
“Apa selama ini aku tidak menerima kalian dengan baik?! .. Hah?! .. Apa aku memperlakukan kalian dengan semena-mena?!” Arthur sedikit sewot.
“Hehehe! Maaf Bos Artur, bukan Bos itu maksudnya.. orang lain yang pernah mempekerjakan kami sebelum kami ketemu Bos Artur. Hehehe!”
“Cih!”
Putra terkekeh kecil melihat perdebatan Arthur dan salah seorang anak buahnya itu.
Addison, Garret dan Damian yang memang tidak paham sama sekali bahasa Indonesia, hanya terdiam saja.
“Eh, ngomong-ngomong Bos mengerti ucapan saya kan ya?..” Ucap pria yang tadi berdebat dengan Arthur pada Putra seraya bertanya.
Dengusan geli kembali terdengar dari Putra.
Sembari mengangguk, “Aku paham” Sahut Putra.
Kelima pria yang bersama Arthur itupun nyengir bersamaan.
“Sukur deh Bos, jadi kita orang ga susah nanti komunikasinya sama Bos!...”
Salah seorang menimpali, namun kemudian mendapat delik kan sedikit tajam dari Arthur karena sikapnya yang agak selengean itu kala berbicara pada Putra.
“Eh, maaf! Maaf Bos! Maaf kalo saya tidak sopan ...”
“Tidak masalah”
“Oh iya Bos, maaf nih sekali lagi, jika saya boleh tahu nama anda Bos, dan tiga Bos lainnya ini?”
“Saya Putra dan ini Addison, Garret lalu Damian”
Putra menunjuk tiga orang lain yang disebutkannya dengan aksen Britishnya yang keluar jika Putra berbicara bahasa Inggris, dan dia menyebutkan nama tiga orang saudaranya itu sesuai ejaan asli nama mereka secara British.
“Mereka bertiga saudara laki-laki saya”
Putra memberikan informasi status Addison, Garret dan Damian pada kelima orang yang datang bersama Arthur, semata-mata untuk memberitahu bahwa tiga orang tersebut sama posisi dengannya.
‘Susah-susah amat nama tiga saudara laki-lakinya Bos Putra ini! .. Bos Putra doang yang gampang disebut namanya!...’
‘Belibet ini lidah kalo sebutin nama tiga orang Bos bule itu selain Bos Putra! .... Bos Artur sih masih gampang disebutnya....’
‘Panggil Bos bule apa bos londo aja lah itu saudara-saudaranya Bos Putra!’
Lima orang yang datang bersama Arthur itu membatin.
****
“If I may know, what for the two people that you have been asked, Sir? ( Jika aku boleh tahu, dua orang yang anda minta sebelumnya itu untuk apa, Tuan? )”
“Before I answer your question, did you get what I asked you beside the men? ( Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, apa kau mendapatkan apa yang kuminta padamu selain dua orang yang kuminta? )”
“Sure, I do ( Tentu saja )”
“Is that information enough? ( Apa informasi itu cukup? )”
“Suheil!”
“Saya, Tuan.....”
“Kau sudah mengecek keberadaan Baskoro di tempat tinggalnya bukan?”
“Sudah, Tuan .....”
“Apa dia ada disana?”
“Ada, Tuan .....”
“.....”
“Let’s play then! ( Ayo kita bermain kalau begitu! )” Ucap Putra.
__ADS_1
“We’re going now? ( Kita pergi sekarang? )”
Garret menimpali ucapan Putra seraya bertanya.
“Sooner is better right? ( Lebih cepat lebih baik bukan? )”
“Indeed ( Benar )”
“So, what do you want them to do? ( Jadi, kalian ingin mereka melakukan apa? )”
Arthur yang melihat Putra yang sudah berdiri dari duduknya, diikuti tiga saudaranya yang lain yang juga sudah berdiri itu kembali bertanya.
“Two men I think is enough for burning something ( Dua orang aku rasa cukup untuk membakar sesuatu )...” Sahut Putra dengan seringai tipis di wajahnya.
“Burning something?... ( Membakar sesuatu? ) ...” Sahut Arthur seraya bertanya.
“Hem ...”
“Any of them have the ability to do that?”
“( Ada dari mereka yang memiliki kemampuan untuk melakukannya? )”
“Huumm, something means it is something, or something that you mean is a person?... ( sesuatu yang memang berarti sesuatu, atau sesuatu yang kau maksud adalah seseorang? ... )”
Arthur melirik berkas yang berisikan informasi tentang seseorang yang tadi ia berikan pada Putra dan tiga saudaranya untuk dibaca.
“Just answer Dami’s question ( Jawab saja pertanyaan Dami )” Sahut Putra. “If that big guys can’t do that, you may leave our place by now and take them all with you ( Jika orang-orang berbadan besar itu tidak dapat melakukannya, kau bisa meninggalkan tempat kami ini dan bawa mereka semua bersamamu )”
“*Do n*ot feel offended, I’m just asking to make sure ( Jangan tersinggung, aku hanya bertanya untuk memastikan )” Ucap Arthur sembari menarik sudut bibirnya.
Lalu Arthur menoleh pada kelima orang yang datang bersamanya itu.
“They can do anything Sir ( Mereka bisa melakukan apapun Tuan )” Ucap Arthur lagi.
Putra tersenyum tipis.
“Good ( Bagus )”
Putra mengayunkan langkahnya mendekati lima orang pria berbadan besar dan tegap tersebut. Hendak bicara pada kelimanya.
“Pak Abdul” Namun sebelumnya, Putra menoleh dan memanggil Pak Abdul.
“Saya Tuan”
“Katakan pada Bruna dan Anth untuk makan malam duluan saja, jangan menunggu kami. Dan jangan biarkan mereka turun kesini jika mereka sudah selesai makan lebih dulu”
“Baik, Tuan”
****
Dan kelima orang pria tersebut yang sedikit nampak terkejut mendengar pertanyaan Putra.
Lalu kelima orang berbadan besar dan tegap itu saling tatap, kemudian sama-sama menatap Arthur.
“Kalian katakan saja, jawab dengan sejujurnya pertanyaan Bos Putra!” Ucap Arthur.
“Kami ...” Salah seorang bersuara namun menggantungkan ucapannya, nampak ragu.
“Katakan” Ucap Putra.
“Saya pernah Bos! Tapi bukan kesalahan saya sepenuhnya, tapi ya saya tetap di penjara dan waktu itu Tuan Artur yang menjamin saya keluar”
Salah seorang kemudian berbicara dengan lugas pada Putra. Putra manggut-manggut dengan pembawaan yang nampak tenang saja.
“Tapi, saya akan bekerja dengan sebaiknya Bos! Selama ini kami bekerja sebagai tukang pukul dari mereka yang membutuhkan jasa kami secara terbuka. Kami, saya sih yang memang pernah menghabisi orang, tapi selama ini kami sudah bekerja dibawah naungan Tuan Artur dan tidak pernah lagi menghabisi orang. Cuma .. yaa bikin orang babak belur sih sering Tuan ...”
“Mereka semua mantan narapidana yang saya rekrut untuk bekerja sebagai jasa keamanan orang-orang kaya dan orang-orang penting yang butuh pengamanan ekstra. Atau untuk mereka yang ingin menyelesaikan masalah” Arthur menimpali menggunakan bahasa Indonesia.
“Kalian tahu mengapa aku menanyakan hal tadi?”
“Karena Bos, ingin orang-orang yang ‘bersih’ untuk bekerja dengan Bos dan keluarga Bos ini? ..”
Putra mendengus geli.
“Kami paham sih Bos, mengingat Bos dan keluarga Bos ini orang-orang terhormat, mungkin merasa terancam dengan kami yang bekas kriminal ini dan memang pernah melakukan tindakan kriminal yakni memukuli orang meskipun urusan kerjaan. Tapi kami tekankan, kalo kami sangat menjunjung tinggi orang yang mempekerjakan kami siapapun dia, Bos!”
“Aku tidak perduli apapun latar belakang kalian! Aku bertanya apa kalian pernah membunuh seseorang, bukan karena aku merasa cemas dan terancam pada kalian! Aku hanya ingin tahu, apa kalian orang-orang dengan belas kasihan atau tidak dan sejauh mana mental kalian!..” Jelas Putra.
“.....”
“Aku dan saudaraku ini mampu melumpuhkan kalian semua dengan mudah. Jika kalian tidak percaya dan mau coba silahkan saja ... Tetapi aku tidak ingin membuang waktu dan melayani kalian dengan tenagaku...”
Damian melangkah mendekati Putra, saat satu tangan Putra terulur ke arahnya.
“Kami lebih suka menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat jika memang memungkinkan”
Lima orang yang berbadan tegap itu meneguk saliva mereka, termasuk juga Arthur dan Suheil yang wajahnya menjadi tegang saat Damian mengoper satu senjata api ke tangan Putra.
“Di Italia, kami menyelesaikan masalah dengan senjata”
Putra menyunggingkan senyum.
__ADS_1
“Jika mau mencoba kemampuan kalian padaku, silahkan saja. Kebetulan aku ingin tahu apa kalian bisa menghindari peluru dari senjata ini”
Putra kembali menatap satu-satu lima pria dihadapannya itu.
“Ingin mencoba?” Tanya Putra sembari menyeringai tipis.
“Ti-tidak Bos!”
Putra mengulum senyum kemudian.
“Sekali lagi aku katakan, aku tidak perduli apapun latar belakang kalian. Aku dan saudaraku ini meminta Bos kalian untuk membawa kalian kesini, semata-mata untuk melakukan hal yang tidak sempat kami lakukan ...”
“.....”
“Kalau soal melindungi diri, kami yakin kami sangat mampu untuk itu ...”
“.....”
“Kami bukan orang-orang ‘bersih’ seperti yang kalian pikir. Camkan itu. Kami membutuhkan orang-orang yang mau bekerja dengan baik dan berdedikasi pada kami tanpa banyak bicara. Bisa menjaga kepercayaan itu yang utama...”
“.....”
“Selain kami mempertimbangkan kemampuan dari orang-orang yang bekerja pada kami ...”
“.....”
“Aku dan saudara-saudaraku ini mempertimbangkan kalian, tapi jika kalian ingin mundur, mundurlah sekarang. Karena jika tidak dan kalian tetap ingin bekerja pada kami, kalian harus bisa menanggung segala konsekuensinya”
“.....”
“Bagaimana?”
“Tell them, if they want to refuse working with us, they’re free to leave ( Katakan pada mereka, jika mereka mau menolak bekerja pada kita, mereka bebas untuk pergi )”
“Kalian mengerti apa yang saudaraku katakan barusan?” Tanya Putra.
Kelima orang itu kompak menggeleng. “Tidak Bos!”
“Kalian boleh menolak, seperti yang kukatakan tadi. Mundurlah jika rasanya tidak sanggup. Kami tidak akan melakukan apapun pada kalian! .. Jadi jangan takut jika memang ingin menolak bekerja bersama kami”
“Saya mau Bos!”
“Saya juga!”
“Saya bersedia bekerja pada Bos dan keluarga Bos!”
“Saya juga Bos!”
“Iya saya juga!”
Tersungging senyuman di bibir Putra. “Are they agree? ( Apa mereka mengiyakan? )” Tanya Damian memastikan.
“Heem”
Putra menjawab singkat sembari manggut – manggut.
“Apa kalian yakin mau bekerja bersama kami?” Kembali Putra bertanya.
“Yakin Bos!”
“Dengan segala konsekuensinya?”
“Iya Bos!”
“Kalian tidak diperkenankan lagi mengambil pekerjaan di luar. Karena kalian akan sepenuhnya bekerja pada kami... Bagaimana?”
“Siap Bos!” Sahut kelima orang pria tersebut secara serempak lagi.
“Bagaimana Arthur?”
“You’re the Boss, Sir!”
“Baiklah. Aku rasa cukup. Kuanggap kalian sudah paham dan kalian sudah juga kuanggap bekerja untuk kami mulai dari saat ini”
“Siap Bos!”
“Kalian tidak bertanya soal bayaran kalian?”
“Itu bisa diomongin nanti Bos. Bos lihat dulu pekerjaan kami”
“Damned, you treat them good Arthur ( Kau mengajari mereka dengan baik juga ya Arthur )”
Arthur langsung menyunggingkan senyumnya. “Thank you”
“Sekarang katakan, ....”
Putra kembali beralih pada lima orang berbadan tegap yang masih berdiri dengan sikap siap sedia itu.
“Apa kalian sanggup jika kuminta kalian menghabisi beberapa orang malam ini?”
***
__ADS_1
To be continue..