
Happy reading...
Bandung, West Java, Indonesia...
Helaan nafas berat dari tiga orang terdengar di dalam sebuah ruang kerja sebuah bangunan yang terbilang mewah, di atas lahan luas pada suatu daerah perbukitan landai nan sejuk.
Adalah Addison, Bruna dan Ramone ketiga orang tersebut.
Setelah dari kamar Putra dan Gadis tadi, ketiganya tidak serta merta kembali ke kamar mereka masing-masing, melainkan memilih untuk pergi ke ruang kerja Villa untuk bicara, sambil menunggu siapa tahu ada kabar terbaru dari Inggris soal kondisi Putra yang dikabarkan Damian telah tertembak dan sedang ditangani oleh Yona-saat Damian menghubungi Villa tadi.
“I think Yona already finish take out the bullet from Putra’s body ( Aku pikir Yona sudah selesai mengeluarkan peluru dari tubuh Putra )”
Itu Ramone yang bicara.
“I think so ( Sepertinya iya )”
Addison menyahut.
“But don’t let Gadis and Anth about this first, because I’m afraid they will depressed cause worry and sad.”
( Tapi jangan biarkan Gadis dan Anth tahu dulu tentang hal ini, karena aku takut mereka akan tertekan karena khawatir dan sedih ).
“I know. They both will ( Aku tahu. Mereka berdua pasti akan merasa seperti itu ) ...” tanggap Addison pada ucapan Bruna barusan.
Ramone pun mengangguk. “But both Gadis and Anth, have right to know about Putra’s condition ( Tapi Gadis dan Anth, keduanya memiliki hak untuk mengetahui kondisi Putra ) ...”
“We can’t tell Gadis and Anthony about that now ( Kita tidak dapat memberitahukan Gadis dan Anthony tentang hal itu sekarang ) ...”
Addison menimpali ucapan Ramone.
“Hu’um, since I’m sure that Gadis is pregnant, then thing that Putra got shot, better should we keep for a while from Gadis and Anth ( Hu’um, karena aku yakin jika Gadis sedang hamil, maka hal tentang Putra yang tertembak, baiknya kita simpan dulu dari Gadis dan Anth )”
“And like you said that ( Dan seperti yang kamu katakan perihal )-“ Addison hendak menimpali Bruna, namun ucapannya terputus, kala sebuah suara yang sangat ia kenali yang juga dikenali oleh Bruna dan Ramone terdengar oleh mereka bertiga.
“Pa – Pa ..”
Adalah Anthony si pemilik suara yang kini telah berada di dekat pintu ruang kerja dalam Villa, berdiri bersama Gadis.
“Got, shot ( Ter, tembak )??” Yang suaranya terdengar melirih, dengan ekspresi wajah yang nanar namun matanya nampak berkaca-kaca.
Sama seperti ekspresi Gadis.
“Anth!” Bruna, Ramone dan Addison sama – sama terkejut dengan keberadaan Anthony dan Gadis yang kemunculan keduanya, tidak Bruna, Ramone dan Addison duga sebelumnya. “Gadis ..”
“Benarkah, itu? ..” Gadis tergugu dengan matanya yang nampak mulai berkaca-kaca. “Apa –“ ucap Gadis,
“N-o ..” namun Gadis tak jadi melanjutkan ucapannya, karena lirihan Anthony kemudian kembali terdengar.
Anthony menggeleng dengan wajah tak percaya dan pandangannya nampak mulai nanar.
“Anth –“
“Anthony –“
Empat orang dewasa yang sedang bersama Anthony itu berbarengan memanggil si bocah tampan yang matanya juga nampak berkaca-kaca dan ia yang sudah tidak lagi bergandengan dengan Gadis nampak semakin nanar.
“Pa-Pa cannot be shot ( Papa tidak boleh tertembak ) –“
Anthony kian melirih.
“Anthony –“ panggil Gadis pada Anthony yang terus mundur perlahan. Ramone, Bruna dan Addison pun sama memanggil Anthony dengan lembut dan was-was seperti Gadis.
***
Wajah Anthony nampak mulai pias.
__ADS_1
“N-o ..”
Gurat kekhawatiran mulai muncul di wajah Gadis, Ramone, Bruna dan Addison melihat Anthony yang melirih lagi, dengan bias wajahnya yang mulai pucat.
“Anthony ..” panggil Gadis dengan mengulurkan tangannya untuk menyentuh Anthony.
“Anth ..”
Ramone, Bruna dan Addison pun sama seperti halnya Gadis yang ingin menenangkan Anthony.
“No-please-No ---“ ratap Anthony.
“Anth ..”
“Pa-pa cannot be-dead .. like Dad-dy and Mom-my ( Pa-pa tidak boleh-meninggal .. seperti Dad-dy dan Mom-my ) ---“
“Anthony ---“
Gadis hendak lagi menyentuh Anthony.
“N-o ..”
Namun Anthony yang seolah menghindar itu terus perlahan melangkah mundur, lalu kembali melirih dan meratap dengan air matanya yang sudah turun. Membuat ke empat orang dewasa yang ada di dekat bocah tampan tersebut kian khawatir.
“Hey, An ---“
“NOOOO!!! ..”
Didetik berikutnya Anthony menjadi sangat histeris.
Addison yang sudah berada di dekat Anthony itu hendak membawa bocah tampan tersebut dalam pelukan untuk menenangkan, namun nyatanya Anthony keburu berteriak.
"PAPA CANNOT BE DEAAAD ( PAPA TIDAK BOLEH MENINGGAAALL )!!! .."
“ANTHONY!”
Gadis, Bruna, Addison dan Ramone spontan memekik saat Anthony menjadi kian histeris dengan seluruh tubuhnya yang bergetar hebat.
“PAPAA!!..”
Anthony berteriak histeris dan terdengar begitu memilukan.
Addison langsung dengan cepat meraih tubuh Anthony dan mendekapnya erat-erat.
“Papa don’t dieee ( Papa jangan meninggaaal ) –“ Anthony terisak hebat.
**
London, England ...
Putra telah terbangun setelah sempat tertidur akibat pengaruh obat bius yang sengaja diberikan Yona pada Putra.
Adik perempuan angkat Putra yang pernah sama-sama diasuh oleh Ramone itu sengaja memberikan Putra obat bius, agar kakak angkatnya itu dapat beristirahat sejenak.
Karena Yona tahu persis-jika Putra tidak diberikan bius, maka kakak angkatnya itu sanggup terjaga hingga berhari-hari meskipun keadaannya terluka.
Bahkan sebenarnya, tanpa diberikan bius pun, Putra dapat menahan rasa sakit dari proses pengambilan peluru yang sempat bersarang di pinggangnya.
Terkadang Yona berpikir, jika kakak angkatnya itu titisan iblis karena bisa menahan rasa sakit apapun tanpa terlihat di gurat wajahnya.
Meski Putra sempat tak sadarkan diri, tapi itu hanya berlangsung sebentar saja.
Karena disaat Yona sedang dalam proses mengeluarkan peluru dari tubuh Putra, kakak angkatnya itu sempat siuman.
Makanya Yona buru-buru memberikan bius pada Putra, agar kakak angkatnya itu tidak menjadi benar-benar siuman, lalu menikmati saja proses pengambilan peluru dari dalam tubuhnya dan tidak akan mau untuk beristirahat sebelum ia memastikan segala hal yang membuat hatinya resah.
__ADS_1
Dan ya, yang Yona khawatirkan memang terjadi. Bahkan obat bius tidak bisa berlama-lama memiliki pengaruh di tubuh Putra.
Karena biusan yang harusnya membuat Putra terbangun dalam empat jam ke depan, hanya bertahan dua jam saja dan kakak angkatnya itupun siuman ketika biusan baru berjalan dua jam.
Alam bawah Putra seolah sadar, dengan terus berpikir. Hingga saat Putra bangun yang ia tanyakan adalah situasi terbaru setelah insiden baku tembak yang Putra lakukan pada orang-orang yang Putra anggap sebagai musuh serta insiden yang menimpa mereka di sebuah jalan tikus selepas 'pembantaian' yang Putra dan kawanannya lakukan pada sekelompok orang.
Dan sekarang, alih-alih beristirahat kembali setelah ia siuman, Putra malah mengajak Damian untuk bicara.
“But however, Gadis has a right to know about your condition ( Tapi bagaimanapun, Gadis mempunyai hak untuk tahu bagaimana kondisimu )”
Damian berucap pada Putra yang kemudian mengangguk-angguk secara samar, saat Putra menanyakan soal saluran telepon yang sempat mati karena badai salju.
Putra menghela nafasnya setelah mendengar penuturan Damian barusan.
“I just don’t want Gadis become overthinking since she likes to think about bad before good ( Aku hanya tidak ingin Gadis kepikiran mengingat dia sering memikirkan hal yang buruk sebelum yang bagus )”
“......”
“Your sister in law such an easy-worry person, you know?. Very easy to get panic ( Saudari iparmu itu adalah orang yang mudah merasa khawatir, kau tahu?. Sangat mudah menjadi panik ) .....”
Ucapan Putra itu membuat Damian terkekeh kecil kemudian.
“And I don’t want her to get that worry, then sick. The same thing I also don’t want it happen to Anth, if both of them heard that I get shot. Because if Anth heard that I got shot, I’m afraid it will become a trigger to make him remember for what was happened to Rery and Madelaine.”
( Dan aku tidak ingin dia menjadi terlalu khawatir, kemudian sakit. Hal yang sama juga tidak aku inginkan terjadi pada Anth, jika mereka berdua mendengar aku telah tertembak. Karena jika Anth mendengar bahwa aku telah tertembak, aku takut itu akan menjadi pemicu untuknya mengingat kembali apa yang menimpa Rery dan Madelaine )
“I can understand your worries ( Aku dapat mengerti kekhawatiranmu )-“ tukas Damian. “You take a rest just a little bit while ( Kau beristirahatlah dulu sebentar lagi )” imbuhnya. “I’m afraid all of them at Villa already sleeping this time ( Aku rasa mereka semua yang berada di Villa sedang tidur sekarang )....” ucap Damian lagi. Putra pun manggut-manggut, kemudian Damian beranjak dari tempatnya.
**
Masih menit yang berlalu selepas kepergian Damian dari kamar Putra.
Dan Damian juga bergabung bersama yang lainnya di sebuah ruangan di depan kamar Putra, sambil mereka beristirahat dalam duduk.
Hanya ada satu kamar di dalam basecamp lain milik Accursio tersebut, dan itu ditempati oleh Putra.
Thomas sudah mempersilahkan Damian, Garret, Hizkia dan Yona serta Devoss untuk beristirahat di bangunan lain yang tak jauh dari basecamp dan dipastikan aman karena masih area kekuasaan Accursio.
Namun Damian, Garret, Hizkia dan Yona serta Devoss sudah rasanya malas untuk berjalan lagi walau akan mendapatkan tempat nyaman untuk sejenak merebahkan diri mereka. Lagipula-selain Hiz, Damian, Garret dan Yona termasuk Devoss sudah terbiasa untuk tidak beristirahat-selama berhari-hari bahkan.
Selain telah terbiasa beristirahat dalam segala medan.
“Putra?!” suara Garret terdengar, hingga mereka yang matanya tadi sempat terpejam, langsung saja membuka mata.
Dimana Damian, Yona, Devoss dan Hizkia bahkan Thomas-sama terkejutnya dengan Garret melihat Putra yang sudah berdiri di hadapan mereka yang beristirahat di sofa bahkan kursi di ruangan depan kamar yang ditempati Putra.
Benar-benar orang ini.
Begitu kiranya apa yang ada di benak Garret, Damian, Devoss dan Yona.
Karena melihat Putra sudah dapat berjalan dan berdiri di hadapan mereka tanpa menunjukkan ekspresi yang merasakan sakit atas luka bekas tembakan di tubuhnya.
Mereka yang menyadari kehadiran Putra pun sontak berdiri dari tempat mereka, lalu menyuruh Putra untuk duduk dulu bersama mereka semua yang khawatir.
“Thom, connect me with Villa ( Thom, hubungkan aku dengan Villa ) ---“
Putra menolak tawaran untuk duduk dari mereka yang berada di hadapannya itu.
“I think they’re still having rest ( Aku rasa mereka masih beristirahat ), Putra ..”
Garret berkomentar.
Putra mengangguk, lalu berucap,
“I know .. But my heart feel so perturb ( Aku tahu .. Tetapi hatiku merasa sangat gelisah ) ..”
__ADS_1
**
To be continue ..