LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 161


__ADS_3

Happy reading ....


“Papa ...”


Suara Anthony yang memanggil Putra berikut  sosoknya yang berlari antusias dengan Gadis dan Bruna yang tersenyum lebar di belakangnya membuat Putra dan semua orang yang sedang bersama sang Papa menoleh ke arahnya.


Putra dan mereka yang bersamanya ikut tersenyum lebar melihat Anthony yang nampak riang.


“What makes my boy look so excited (Apa yang membuat anak lelakiku sangat bersemangat) , hem? ...”


“They have a swimming pool here (Mereka punya kolam renang disini) , Papa!... “ Seru Anthony.


“Are they?. (Benarkah?) ...”


Putra yang sudah berjongkok didepan Anthony itu menanggapi seruan Anthony dengan membuat dirinya seolah ikut bersemangat seperti Anthony, meskipun Putra tahu jika biasanya memang selalu ada kolam renang di setiap hotel yang bagus.


“Yes, Papa!... As big as the swimming pool at my home at Ravenna and also at your place where you live there with Padre, Daddy Dami and some of my Uncles who like to play soccer with us!. ( Iya, Papa! ... Sama besarnya dengan kolam renang di rumahku di Ravenna dan juga tempatmu tinggal bersama Padre, Daddy Dami dan beberapa Uncle yang suka bermain bola bersamaku! )”


Anthony berbicara dengan bersemangat.


“May I go to swim ( Boleh tidak aku berenang ), Papa?”


Putra tersenyum pada Anthony.


“I’m afraid you can’t go for swim now ... ( Aku rasa kamu tidak bisa berenang sekarang... )”


Dimana wajah Anthony langsung berubah muram.


“But why? ... ( Tapi kenapa?... )” Tanya Anthony dengan nada kekecewaan pada suaranya.


“Come here... ( Kemarilah ... )”


Putra masih tersenyum lalu membawa Anthony dalam rengkuhannya.


“First, you don’t have your swimwear... ( Pertama, kamu tidak membawa pakaian berenang... )”


“.....”


“Not even have one. ( Bahkan belum punya ). Those swimwear that you ever have was left behind ( Seluruh pakaian renang yang kamu punya kan tertinggal )”


“.....”


“Second, we want to accompany Padre and Madre to buy their wedding ring after here... ( Kedua, kita mau menemani Padre dan Madre untuk membeli cincin pernikahan mereka setelah dari sini... )”


“Ah ya I almost forget about that... ( Ah iya aku hampir lupa soal itu... )”


“And also ... ( Dan juga... )”


Putra menggantungkan ucapannya.


Lalu meletakkan satu tangannya disalah satu sisi telinga Anthony dan berbisik di telinga Anthony dengan sangat pelan.


“Hem?”


“Ah ya I also forget about that ( Ah iya aku juga lupa soal itu ), Papa! ...”


Anthony nampak bersemangat lagi.


“Let’s go then! ( Ayo kita pergi kalau begitu! )”


Putra menarik lebih tinggi sudut bibirnya melihat Anthony yang kian bersemangat itu. Mereka yang berada didekat anak dan ayah yang tak sedarah itu pun juga ikut tersenyum lebar melihat tingkah polah Anthony.


"Is there a shop which sell swimwears? ( Apa disana juga ada toko yang menjual pakaian renang? )..." Tanya Anthony.


"We will see later ( Nanti kita lihat )" Jawab Putra.


“Who is Padre and Madre?... ( Siapa itu Padre dan Madre? ... )” Ramone kemudian bersuara seraya bertanya pada Anthony dengan ikut berjongkok disisi Putra.


Anthony langsung menunjuk ke arah Addison yang telah berdiri berdampingan dengan Bruna.


“They ( Mereka ) , Opa...”


“Ah” Ramone manggut-manggut.


Bruna dan Addison pun tersenyum.


“And when is that? ... ( Dan kapan pernikahan kalian? ... )”


Ramone berjalan mendekat pada Addison dan Bruna.


“About two weeks ahead ( Sekitar dua minggu kedepan )”


Addison yang menjawab.


“Papa and Gadis also! ( Papa dan Gadis juga! )”


Tahu-tahu Anthony berseru.


“What? You mean they will marry in the same day? ( Apa? Maksudmu mereka akan menikah dihari yang sama? )”


Ramone bertanya dengan wajah yang nampak penasaran, dimana ada yang tahu-tahu terbatuk seperti tersedak.


Anthony nampak meringis sambil menggigit bibir bawahnya.


“Ehem! ... W-” Putra yang berdehem, lalu hendak berbicara


“What Anthony means is me and Putra will get marry too after Addison and Bruna ( Maksud Anthony adalah kalau aku dan Putra akan menikah juga setelah Addison dan Bruna )”

__ADS_1


Namun Gadis sudah lebih dulu menyambar untuk bicara pada Ramone seraya menjawab pertanyaan pria paruh baya itu saat Putra berdehem.


“Yes, that what Anth’s means... ( Iya, itu yang Anth maksud... )” Tukas Putra. “Right Anth? ( Benar kan Anth? )”


Dimana Anthony langsung mengangguk-angguk dengan cepat.


“Yes, that what I mean Opa! ( Iya, itu maksudku Opa! )”


“I see ... ( Oh begitu... )”


Ramone kembali manggut-manggut, dan kembali berjalan mendekat dimana Putra, Anthony dan Gadis berdiri.


“Yes, like that ( Ya, seperti itu )”


Putra berujar sembari tersenyum canggung.


“I don’t think it wasn’t like that ( Aku rasa tidak seperti itu )”


Ramone berbisik pelan di telinga Putra.


“You have a veiled plan don’t you? ( Kau punya rencana terselubung bukan begitu? )”


Ramone berbisik lagi di telinga Putra.


Dimana Putra kembali tersenyum canggung pada si ayah baptis.


***


Mereka yang sedang berkumpul siang itu melanjutkan berbincang santai sebentar sebelum Putra dan rombongan berpamitan pada Ramone.


“Let me know the fix date of the wedding day so I don’t miss it ( Beritahu aku tanggal pasti hari pernikahannya jadi aku tidak melewatkan nya )”


“Are you going back to Netherland? ( Apa kau akan kembali ke Belanda? )...”


“Maybe tomorrow ( Mungkin besok )...”


“Why that fast? ( Mengapa begitu cepat? )”


Putra kembali bertanya.


“Well I have to tell my men at there about what I have decide and told them that they have a new leader ( Yah aku harus memberitahukan orang-orangku disana tentang apa yang sudah aku putuskan dan mengatakan pada mereka jika mereka sudah memiliki pemimpin yang baru )”


Ramone menjawab dengan lugas.


Putra manggut-manggut.


“No need to hurry I think ( Tidak perlu terburu-buru aku rasa ) ...”


“Not hurry... ( Tidak terburu-buru )... I just want to prepare everything before I officially introduce you as my successor ( Aku hanya ingin mempersiapkan segalanya sebelum aku mengumumkan secara resmi dirimu sebagai penerus ku )...”


“Alright then if you say so ( Baiklah jika kau berkata begitu )...”


“Well I think that all of us must go now ( Baiklah aku rasa kami semua harus berpamitan sekarang )”


“Okay”


“What time you will fly over to Netherland tomorrow? Maybe I can come by before we go back to our Residence out of the town ( Jam berapa kau akan terbang ke Belanda besok? Mungkin aku bisa mampir sebelum kami kembali ke Kediaman kami yang berada di luar kota )...”


“You staying in your family’s Villa right? ( Kau menempati Villa keluargamu kan? )...” Tanya Ramone dan Putra langsung mengangguk.


“Why you’re not coming with us to our Villa Opa? ( Kenapa kau tidak ikut ke Villa kami Opa? )”


“I will come at there when I cameback here again ( Aku akan datang kesana saat aku kembali lagi kesini )”


“Okay!”


“Also I maybe live with you at there, may I?... ( Mungkin juga aku akan tinggal bersamamu, bolehkah? )...”


“Really??... ( Benarkah?? )... You will stay with us at our Villa? ( Opa akan tinggal dengan kami di Villa? ) ...”


Ramone manggut-manggut seraya tersenyum. Yang berada didekat Anthony dan Ramone dan memperhatikan interaksi keduanya itu pun ikutan tersenyum.


Anthony terdengar memekik girang sembari mengangkat tangannya ke udara setelah melihat Ramone mengiyakan jika ia akan tinggal bersama dirinya dan para orang tua angkatnya saat pria paruh baya yang memposisikan dirinya sebagai kakek Anthony sekarang mengiyakan pertanyaan Anthony dengan anggukan.


Ramone nampak sangat bahagia melihat Anthony dengan cepat menerima keberadaannya, meskipun sudah lama sekali Ramone tidak bertemu dengan anak semata wayang dari almarhum pria yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri layaknya Putra.


“Thank you for accepting me ( Terima kasih sudah menerimaku ), Anthony” Ucap Ramone.


“Because you are a good man and also because you care to Papa Putra ( Karena Opa adalah pria baik dan juga karena Opa peduli pada Papa Putra )”


Sembari Anthony mengusap lembut wajah Ramone yang sudah menggendongnya itu. Ucapan dan sikap Anthony pada Ramone, membuat pria paruh baya itu seketika tersenyum haru.


Ramone pun segera memeluk Anthony dengan perasaan bahagia dalam hatinya. Ia yang memang tidak pernah menikah dan juga tidak punya keturunan darah dagingnya sendiri, merasa hidupnya kini lengkap karena setelah pertemuannya dengan sang anak baptis yang sangat disayanginya membuat Ramone bisa memiliki sebuah keluarga.


“I promise that I will help Papa Putra and all of your Daddies to give a payback for the man who killed your parents ( Aku berjanji akan membantu Papa Putra dan para Daddy-mu untuk memberikan pembalasan pada orang yang sudah membunuh orang tua-mu )”


Anthony pun mengangguk pada Ramone yang menatap lekat padanya sembari mengelus dada Anthony. Putra dan yang lainnya tersenyum penuh arti.


“Alright now you can go to accompany your Padre and Madre to buy their wedding ring ( Baiklah sekarang kau bisa pergi untuk menemani Padre dan Madre-mu membeli cincin pernikahan mereka )”


Anthony segera mengangguk. “Okay Opa!” Seru Anthony. “See you soon ( Sampai bertemu lagi ), Opa” Sambung Anthony dan Ramone mengangguk seraya tersenyum lebar pada bocah tampan tersebut.


“Vijf minuten ( Lima menit ), Vader ...”


Putra berucap pada Ramone dengan bahasa Belanda, meminta waktunya sebentar untuk berbicara berdua setelah ayah baptisnya itu menurunkan Anthony dari gendongannya yang langsung berhambur pada Gadis.


“Ja natuurlijk ( Ya tentu )” Sahut Ramone juga dengan bahasa Belanda.

__ADS_1


“Kamu duluan saja ke mobil bersama Anth. Aku ingin berbicara sebentar dengan ayah baptis ku ini”


Kemudian Putra berbicara pada Gadis. Gadis pun segera mengangguk. “Iya baiklah” Sahut Gadis.


Lalu Putra mengatakan hal yang sama pada mereka yang tadi datang bersamanya yang kemudian mengangguk dan berpamitan pada Ramone serta dua orang yang nampak sebagai orang kepercayaannya, yakni dua pria yang juga berkebangsaan  Belanda, Devoss dan Frans.


Setelah mereka yang bersamanya sudah hengkang dari ruangan tempat mereka berkumpul tadi, Putra kemudian membicarakan suatu hal pada Ramone, dengan dua orang kepercayaannya yang diperbolehkan Putra untuk ikut mendengarkan apa yang hendak ia bicarakan dengan Ramone.


**


Putra dan rombongan sudah berada di dalam sebuah toko perhiasan berdasarkan rekomendasi Arthur yang berada dalam suatu pusat perbelanjaan yang tersohor di Ibukota. Pusat perbelanjaan yang memang selalunya Putra sambangi jika ingin mencari dan membeli sesuatu, begitu juga seluruh keluarganya.


Putra membawa Gadis untuk ikut masuk ke dalam toko perhiasan dimana Addison dan Bruna juga sudah memasukinya.


Sementara Anthony, dibawa Damian dan Garret berikut Danny untuk berkeliling di dalam Pusat Perbelanjaan tersebut.


Putra membawa Gadis melihat-lihat beragam jenis perhiasan yang terpajang dalam kotak kaca panjang dalam toko tersebut.


Sementara Addison dan Bruna nampak sedang melihat-lihat sembari mencocokkan beberapa pasang cincin pernikahan yang sudah di keluarkan oleh salah seorang pramuniaga toko perhiasan tersebut.


“Jika ada yang kamu suka, katakan saja dan jangan ragu untuk memintaku membelikannya untukmu...”


“Ck!...”


Gadis berdecak.


“Aku tidak membutuhkan perhiasan berlebih... Cincin dari kamu saja sudah cukup bagiku ... Sudah cukup membuatku nampak indah rasanya...”


“Tsk!”


Putra juga terdengar berdecak kecil.


“Keluarkan koleksi perhiasan yang terbaik di toko ini”


Putra seolah mengabaikan ucapan Gadis, dan dia malah bicara pada seorang pramuniaga untuk mengeluarkan koleksi terbaik yang dimiliki toko perhiasan tersebut. Tak menghiraukan juga Gadis yang langsung protes, karena mata Putra kemudian terarah ke tempat Addison dan Bruna berada.


“Baik Tuan. Mau cincin, anting-anting, kalung atau gelang Tuan? ...” Tanya si pramuniaga.


“Semua!”


Putra menyahut cepat.


“Baik Tuan ...”


“Putra, buat apa kamu meminta mereka mengeluarkan koleksi perhiasan terbaik mereka? ...”


“Ya buatmu!” Tukas Putra.


“Kan sudah aku bilang aku tidak mau! ... Buang-buang uang saja ...”


Putra mendengus, lalu geleng-geleng saja sembari menatap Gadis yang nampak menggerutu kecil itu.


Tak lama kemudian, beberapa pramuniaga sudah ada di hadapan Putra dan Gadis dengan masing-masing membawa kotak beralaskan kain beludru nan halus, dan masing-masing jenis perhiasan yang tidak sebanyak jumlah yang ada pada etalase biasa dalam toko perhiasan tersebut sudah dijejer dengan rapih di hadapan Putra dan Gadis.


“Ini koleksi terbaik yang ada di toko kami, dan kebetulan memang ini adalah desain terbaru kami saat ini, dan sangat terbatas...” Salah seorang pramuniaga toko berbicara pada Putra dan Gadis dengan sikap yang profesional.


“Tunjukkan saja padanya. Biarkan dia yang memilih”


Putra menyahut pada si pramuniaga yang langsung mengangguk dan tersenyum ramah.


“Silahkan Nyonya...” Pramuniaga tersebut langsung beralih pada Gadis dengan ramah dan sopan.


Gadis segera saja menoleh pada Putra, dengan raut wajah yang tidak menyetujui ide Putra soal perhiasan yang ditunjukkan padanya untuk dipilih dan dibeli.


“Putra, kan...”


“Pilihlah. Aku akan menghampiri Addison dan Bruna...”


“Tapi...”


“Pilih salah satu dari perhiasan itu, atau jika perlu semuanya. Jika saat aku kembali kesini, kamu belum memilih apapun, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu”


Putra mengeluarkan ancaman dengan menatap lekat pada Gadis.


Lalu Putra merundukkan tubuhnya dan berbisik di telinga Gadis.


“Aku akan membuatmu hamil dalam waktu satu kali dua puluh empat jam”


Gadis segera merinding mendengar bisikan Putra yang terdengar bak ancaman mematikan itu.


“Kamu tahu apa artinya itu bukan? ...”


Putra masih merundukkan tubuhnya dengan bibirnya yang berada dekat di telinga Gadis.


“Akan aku buat kamu tidak bisa bangun bahkan sulit bernafas setelah kita berada di kamar nanti. Tidak akan aku biarkan kamu bebas dari kukunganku walau sekejap. Mau? ...”


“Ti-tidak...”


Gadis segera menggeleng sembari menelan salivanya.


“Maka pilihlah salah satu dari perhiasan itu”


Putra menekankan.


“Atau aku buktikan kata-kataku barusan” Kata Putra lagi. “Menawanmu di atas ranjang, agar malam nanti langsung segera muncul calon Putra Junior di dalam perutmu, atau selambat-lambatnya esok pagi. Katakan jika itu pilihanmu, maka aku akan dengan senang hati melakukannya, Gadis ...”


**

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2