
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indonesia,
“TENDANG MEREKA KE JALANAN SEKARANG JUGA!”
“Baik Tuan Putra.”
“Dis, tolong, Dis ...”
“Putra—“
“Jauhkan mereka dari kediaman ini dan jangan sampai mereka kembali atau mendekat! Tinggalkan saja mereka di jalanan! Dan jangan sampai aku tahu ada dari kalian yang menolong mereka!”
“Dis tolong! Ini pasti ada salah paham! Iya kan, Madyaa?—“
“Iyaa Diis ... suamimu hanya salah paham—“
“Saudari tirimu sudah bersikap macam ****** kepadaku saat di ruang kerja utama tadi bahkan sudah berniat memberikanku obat perangsang. Kau mau percaya mereka yang mengatakan ini sebuah kesalahpahaman?—“
*****
“Tutup pintu itu. Aku muak mendengar suara mereka,” ucap Putra sambil memandangi ke arah pintu ruang tamu villa, saat ibu dan saudari tiri Gadis telah keluar dari dalam bangunan utama.
Namun suara keduanya yang memekik meronta masih terdengar di telinga Putra. makanya Putra berkata pada siapapun yang ada, untuk menutup pintu bangunan utama villa. Dimana Devoss yang kemudian berinsiatif untuk melakukan apa yang barusan Putra minta itu.
Setelahnya, Putra kembali bersuara. “Better we go to the dining room now ( Sebaiknya kita pergi ke ruang makan sekarang )“ Lalu menoleh dan menatap pada Gadis. “Kamu juga, Gadis. Karena kamu sudah turun ke sini, maka kita makan malam di ruang makan saja.”
“I’ll check if the dinner is ready ( Aku akan memeriksa apakah makan malam sudah siap ) ...”
Bruna angkat suara selepas Putra berkata, sebelum Gadis sempat menyahut atas ucapan Putra yang bertutur dengan nada suara normal pada istrinya itu. Namun tersirat jika kalimat Putra pada Gadis itu adalah sebuah perintah.
“You guys just wait here first ( Kalian semua tunggu di sini saja dulu )”
“Yes, please, Bru—“
*****
“Terima kasih.” Ucapan dari semua orang yang sudah duduk pada kursi di ruang makan villa kepada para asisten rumah tangga yang telah menyiapkan dan selesai menyajikan makan malam untuk para majikan, dan dua tamu majikan mereka.
“Kalian silahkan pergi untuk makan malam juga.”
Lalu Putra berkata sambil memandang pada para asisten rumah tangga villa yang setelah menyiapkan dan menyajikan makan malam, berdiri agak ke belakang dari para tuan dan nyonya yang duduk mengelilingi meja makan.
Termasuk Pak Abdul dan dua asisten rumah tangga yang sudah ada juga di ruang makan, setelah tadi ikut melangkahkan kaki mereka dari bangunan utama villa---saat para bodyguard menyeret keluar ibu dan saudari tiri Gadis dari sana.
Para asisten rumah tangga villa itu segera menyahut dan mengangguk mengiyakan ucapan Putra.
“Namun jangan menyentuh apapun di ruang kerja utama sampai aku meminta kalian untuk membersihkannya.”
Putra kembali bicara, sebelum para asisten rumah tangga tersebut berpamitan untuk undur diri dari hadapan para majikannya dan ikut menyantap makan malam di ruang makan terpisah dari ruang makan utama.
“Baik, Tuan Putra.”
Para asisten rumah tangga villa itupun menyahut patuh, baru kemudian undur diri dari ruang makan utama.
Lalu Putra dan mereka yang bersamanya memulai makan malam mereka selepas kepergian para asisten rumah tangga.
Dimana sesi makan malam kali ini, hanya diwarnai dengan dentingan alat makan yang sesekali saling bergesekan---tanpa ada sedikitpun pembicaraan, sampai sebagian dari mereka telah menelungkupkan alat makan di atas piring masing-masing.
*****
“Kamu sudah selesai?” tanya Putra pada Gadis yang sudah menelungkupkan sendok dan garpunya, disaat keduanya telah berada di ruang makan dan memulai makan malam sejak beberapa belas menit yang lalu.
Gadis yang selama sesi makan malam berlangsung nampak melamun itu, segera menoleh ketika ia merasa Putra bicara padanya. “Apa Putra?” tanya Gadis kemudian.
“Aku bertanya apa kamu sudah selesai dengan makanmu ... Karena jika sudah, aku akan mengantarmu ke kamar dan memastikanmu cepat beristirahat. Besok aku akan membawamu ke rumah sakit untuk memastikan kondisimu.”
“Tidak perlu rasanya ke rumah sakit, karena lukaku kan tidak serius,” respons Gadis.
“Jangan membantah ...” balas Putra dengan nada suara yang normal saja, lalu setelahnya dia meneguk air minumnya.
*****
“Bru, have you called the doctor ( Bru, apa kamu sudah menghubungi dokter )? ...”
“Yes, I have. I already made a personal appointment with him ( Iya, sudah. Aku sudah mengatur janji secara pribadi dengannya )—“
“Him?”
Putra menyambar.
“The doctor who handle Gadis is a man?”
__ADS_1
( Dokter yang menangani Gadis adalah seorang pria? )
Kemudian Putra bertanya untuk memastikan setelahnya.
“Yes. He—“
“You let a man touch my wife ( Kamu membiarkan seorang pria menyentuh istriku )?”
“He’s a proffesional doctor ( Dia seorang dokter profesional ) , Putra—“
“Still he’s a man ( Tetap saja dia seorang pria )” tukas Putra dengan wajah yang nampak tidak puas.
“Don’t need to think bad, because I always accompany Gadis when the doctor checking her ( Tidak perlu berpikir buruk, karena aku selalu menemani Gadis saat dokter itu memeriksanya )”
Paham jika Putra itu memang posesif pada Gadis, jadi Bruna segera memberikan penjelasannya. Agar salah satu saudara angkatnya itu tidak tambah gusar.
“So I will know if he’s trying to despise Gadis ( Jadi aku pasti tahu jika dia mencoba melecehkan Gadis )” lanjut Bruna, dan Putra langsung berdecak sebelum ia berkomentar.
“Still I don’t like another man that I don’t know touching my wife ( Tetap saja aku tidak suka ada pria lain yang tidak aku kenal menyentuh istriku )”
“Kalau begitu tidak perlu ke rumah sakit ...“ celetuk Gadis.
*****
“Are you finish too ( Apa kamu juga sudah selesai ), Anth? ...” Putra yang tidak lagi berkomentar setelah mendengar celetukan Gadis kemudian pria itu hanya mendengus sebal saja, selanjutnya bertanya pada Anthony yang juga sudah nampak selesai dengan makan malamnya.
“Yes, Papa ...”
Anthony pun langsung menjawab. Sambil bocah tampan itu tersenyum.
*****
“You sleep with here tonight, okay Anth ( Kamu tidur di sini malam ini, ya Anth? )”
Putra bicara pada Anthony yang duluan undur diri dari ruang makan bersamanya serta Gadis, setelah ketiganya berada di dalam kamar Putra dan Gadis.
“Yes, Papa ...” patuh Anthony, dan senyuman hangat dari Putra pun muncul sambil ia mengacak gemas rambut Anthony.
Gadis juga ikut menerbitkan senyumnya untuk Anthony.
“Now go and brush your teeth ( Sekarang pergilah menyikat gigimu )”
Putra kembali berkata pada Anthony.
“Yes, Papa ...”
Dan Putra kembali tersenyum padanya.
“I will get my toothbrush first at bathroom in my room ( Aku akan mengambil sikat gigiku terlebih dahulu di kamar mandi dalam kamarku )” ucap Anthony sebelum ia berbalik dari hadapan Putra.
“You have another toothbrush here also ( Kamu juga memiliki sikat gigi lain di sini ) , Anth—“
“Ah ya! I remember! Then I brush my teeth here ( Ah iya! Aku ingat! Kalau begitu aku akan menyikat gigiku di sini )”
Anthony pun berjalan menuju ke dalam kamar mandi Putra dan Gadis.
‘Papa is wrathing now, so I must have a good behaviour to make Papa calm again ( Papa sedang gusar sekarang, jadi aku harus bersikap baik untuk membuat Papa tenang kembali )’
Sambil Anthony membatin polos dalam hatinya, makanya ia begitu patuh pada setiap ucapan Putra sekarang ini.
“Aku akan mengambilkan piyama Anthony,” ucap Gadis pada Putra sambil ia berjalan menuju kamar Anthony dan nampak seperti acuh tak acuh pada Putra.
“Aku titip Anth padamu. Karena aku akan berada di ruang kerja utama selama beberapa waktu. Biarkan dia tidur di kamar ini. Langsung beristirahat setelah kamu membersihkan diri dan berganti pakaian, tidak perlu menungguku ...”
“Iya ...” sahut Gadis datar.
“Jangan sampai saat aku kembali ke sini aku menemukanmu masih terjaga karena mengkhawatirkan 2 orang yang tak pantas kamu khawatirkan itu ...”
Putra masih bicara, namun Gadis yang sempat berhenti kala ia menanggapi ucapan Putra sebelumnya, telah melengos dan lanjut melangkah ke arah pintu penghubung antara kamar pribadi mereka dan kamar Anthony.
Membuat Putra mendengus saja di tempatnya.
Lalu ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu kamarnya dan Gadis, tanpa lagi bicara.
*****
Pagi menjelang.
Dimana Putra dan Gadis yang tidur dengan mengapit Anthony dan kebetulan membuka mata disaat yang bersamaan, sama tersenyum ketika tak lama kemudian Anthony pun terbangun lalu menyapa keduanya dengan ceria.
“Morning Papa Putra. Morning Mama Gadis—“
“Morning, Anth—“
“Selamat pagi, Anthony.”
__ADS_1
Putra dan Gadis sama menjawab sapaan Anthony.
“I will take a bath in my room ( Aku akan mandi di kamarku ) ...”
Kemudian Anthony bicara lagi sambil dia bergerak untuk beringsut, dan Gadis memiringkan tubuhnya yang sudah terduduk itu, untuk memudahkan Anthony turun dari ranjangnya dan Putra.
“Drink a glass of water first ( Minum dulu segelas air ), Anth--” ucap Putra pada Anthony yang langsung mengiyakan ucapan papa Putranya itu, sambil Gadis berdiri untuk menuangkan air minum dari teko kaca ke dalam gelas dan langsung memberikannya pada Anthony setelahnya.
“Kamu mau juga?” tawar Gadis pada Putra, selepas Anthony telah menjauh dari mereka setelah meminum beberapa teguk air.
“Ya boleh ...”
Putra langsung menjawab tawaran Gadis.
“Tapi kamu minumlah terlebih dahulu.”
“Iya,” jawab Gadis dengan singkat dan datar, dan Putra menyadari sikap Gadis yang ia nilai sedang acuh tak acuh padanya.
Namun Putra tak mengangkat sikap Gadis itu untuk dibahas.
Putra hanya melirik dalam diam, memperhatikan Gadis yang sedang minum.
“Terima kasih ...” ucap Putra saat dirinya telah beringsut dari ranjang dan telah berada di sisi ranjang tempat Gadis berada, saat Gadis menyodorkan segelas air padanya lalu menjawab ucapan terima kasih Putra dengan anggukan pelan saja.
“Apa kita jadi ke rumah sakit hari ini?” namun didetik berikutnya, Gadis melontarkan pertanyaan pada Putra.
“Ya.”
Putra menyahut singkat.
“Kalau begitu aku akan menyiapkan pakaian kamu.”
“Nanti saja. Kamu mandilah terlebih dahulu.”
“Ya sudah.”
“Tapi tunggu biar aku siapkan air untukmu.”
“Tidak usah, aku mandi dengan shower saja.”
“Apa kamu kuat jika lama berdiri?”
“Aku tidak akan lama.”
“Baiklah. Aku akan menunggu di sini sampai kamu selesai.”
“Aku akan menyiapkan pakaian untuk Anthony dulu.”
“Biar aku saja. Kamu mandi saja sana.”
“Ya sudah.”
Gadis menyahut tambah bantahan.
“Teriak saja jika kamu butuh bantuanku. Karena aku akan ada diantara kamar ini dan kamar Anth.”
“Ya.”
“Dan jangan kamu kunci pintu kamar mandinya ...”
“Ya.” Sekali lagi Gadis menyahut dengan amat singkat.
Namun Putra diamkan saja. Meski agak sebal dengan sikap Gadis yang acuh tak acuh dari semalam, tapi Putra enggan membahasnya.
*****
*****
“Putra—“
“Pergi ke kamar dan jangan menggangguku.”
-----
“A – ada apa ... Putra? ...”
“.....”
“Putra aku bertanya padamu.”
“Setelah urusanku selesai baru aku akan bicara padamu.”
“Iya tapi ada apa? ... tadi ... saat aku mendatangi kamu ke ruang kerja ... sebelumnya ... jika aku tidak salah ... aku mendengar kamu menyinggung soal ibu dan Madya—“
“Aku akan melenyapkan mereka.”
__ADS_1
********
To be continue ...