LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 331


__ADS_3

Happy reading....


England,


Putra sedang fokus melihat ke hotel yang berisikan target utamanya di dalam hotel tersebut-melalui sebuah teropong.


“Tell everyone to do ‘the five jobs’ now, and don’t forget to get the access from that five targets ( Katakan pada semua untuk melakukan ‘kode lima’ sekarang, dan jangan lupa untuk mendapatkan akses dari kelimanya )”


Putra menurunkan perintah dari tempatnya berdiri.


“Yes, Sir,” satu anak buah yang mendominasi pembicaraan dengan Putra itu pun menyahut dengan sigap, lalu langsung bergerak dari tempatnya.


Kemudian satu anak buah tersebut meraih alat telekomunikasi mereka dan memberitahukan perintah Putra untuk melaksanakan rencana yang mereka sebut sebagai ‘kode lima’.


Lalu saat anak buah pertama tadi menjauh dari Putra untuk melakukan tugasnya, satu orang lagi maju menggantikan rekannya yang tadi. Dimana anak buah kedua tersebut berdiri dengan sigap di dekat Putra yang bersama Sio, Garret, Hizkia dan Yona.


Karena para anak buah yang sudah lebih dulu berada di dalam sebuah gedung yang sedang masih tahap pembangunan itu, memiliki tugas mengintai dan tentu saja harus melaporkan dengan jelas dan detail setiap informasi yang mereka punya.


Walaupun setiap hal dan informasi yang mereka dapat sudah mereka laporkan melalui Thomas, namun sang Bos Besar selain satu Bos Besar yang juga ada sekarang – sudah berada di tengah mereka, yang mana para anak buah yang bertugas mengintai itu harus ada yang siap dan sigap berada didekat Putra, dan para Bos lainnya apabila ada pertanyaan yang tercetus dari mulut mereka, terlebih lagi dari Putra.



Lalu lalang orang dalam pandangan Putra melalui teropong yang digunakannya, perlahan mulai kian sering.


Garret, Hizkia, Yona dan Sio masih berada di tempat yang sama dengan Putra.


Ke empat orang tersebut berdiri berdampingan melihat ke arah yang sama.


Dimana Putra sudah menjauhkan teroping dari matanya, dan teropong tersebut kemudian estafet ke tangan Garret sampai dengan Sio.


Yang mana, Garret, Hizkia, Yona dan Sio juga melihat dari balik teropong ke arah yang mereka perhatikan.


Kemudian Putra memicingkan matanya.


“You can go there now ( Kau bisa pergi kesana sekarang ), Yo.”


Putra berucap pada Yona setelah ia memicingkan matanya pada satu arah yang sama yang ia tatap sedari tadi.


Dimana Yona menyahut dengan cepat dan sigap pada Putra, sambil ia bergerak dari tempatnya.



Setelah bersiap, Yona segera berpamitan pada Putra, Garret, Hiz dan Sio.

__ADS_1


Hanya pada Sio, Yona berpamitan dengan berpelukan sesaat.


Karena seperti Putra, Sio sudah berperan sebagai kakak lelakinya selama bertahun-tahun.


Namun Yona tidak berinteraksi sama pada Putra sebagaimana dia berinteraksi dengan Sio, meskipun keduanya sama-sama memperlakukan Yona sebagai adik perempuan mereka.


Kalau boleh jujur, jika Putra tidak menampakkan gestur Sio yang hangat padanya, maka Yona tidak akan berani melakukan skin ship dengan Putra secara akrab.


Sio memang sangar tampangnya.


Tapi Yona lebih takut pada Putra yang selalu terlihat tenang di luar itu.


Karena seperti Sio, Yona tahu bagaimana Putra, seperti juga Ramone.


Putra terkadang terlalu misterius untuk ditebak jalan pikirannya.


Membuat Yona pribadi berpikir jika Putra anti untuk dekat dengan perempuan seusia atau dibawahnya.


Karena saat di tempat Ramone dulu, ada seorang pelayan perempuan yang ditugaskan untuk memenuhi segala kebutuhan Putra.


Yang mana usia pelayan perempuan di kastil Ramone itu sebaya dengan Putra. Dan Putra begitu baik padanya. Lalu seiring waktu, Putra dan pelayan perempuan itu - mereka terlihat tampak akrab satu sama lain.


Bahkan Yona pun merasa jika ia kalah dekat dengan Putra dari pelayan perempuan itu.


Dan disaat semua orang dalam kastil Ramone berlarian dan berhambur ke kamar Putra yang berada disana kala itu, pemandangan mengerikan yang mereka dapati.


Pelayan perempuan yang sangat akrab dengan Putra itu sudah tergeletak lemah di lantai dengan satu tangan yang nampak kaku seperti patah, sementara satunya sedang dipegang Putra.


Lalu suara tulang yang patah terdengar di telinga Yona dan mereka yang bersamanya kala itu.


Putra mematahkan tangan si pelayan yang ia genggam, hingga kedua tangan pelayan itu sudah terkulai kaku, berikut si empunya tangan yang menangis meraung kesakitan.


Dan tangisan serta raungannya itu cukup memulas telinga.


Semua itu hanya karena pelayan itu terlalu besar kepala, dengan menyalahartikan kebaikan Putra padanya dan keakraban mereka.


Lalu si pelayan perempuan tersebut berani menyatakan cinta pada Putra, dan menyentuh wajah Putra, sebelum ia berani memeluk Putra.


Jadi atas dasar itu Yona berpikir, Putra anti perempuan sebaya atau dibawah usianya.


Pelayan perempuan yang bahkan lebih akrab darinya dengan Putra saja, diperlakukan sekejam itu oleh Putra karena menyentuh kakak angkatnya yang nampak selalu tenang di permukaan itu.


Bagaimana dengan dirinya yang tidak seakrab pelayan perempuan itu dengan Putra walaupun Putra menganggapnya sebagai adik perempuan.

__ADS_1


Tapi dari situ Yona tidak berani berinteraksi secara berlebihan dengan Putra, walau terkadang Putra begitu hangat padanya – layaknya seorang kakak lelaki pada adik perempuannya.


Walaupun Yona terhitung bengis juga.


Tapi Putra masih jauh di atasnya, dari segi apapun.


Yona menyayangi Putra sebagaimana ia menyayangi Sio.


Tapi Yona lebih menjaga jarak dan sungkan pada Putra, ketimbang pada Sio.



“Anything less ( Ada yang kurang )? ....” tanya Putra pada Yona yang penampilannya kini jauh berbeda dengan Yona yang biasanya.


“I’m checking ( Sedang aku periksa )” jawab Yona sambil menelisik sebuah tas bahu yang akan ia bawa serta.


“Check the camera ( Periksa kameranya )” ucap Putra dan Yona mengangguk.


“I turn on the camera now, better you check it on the monitor ( Aku nyalakan kameranya sekarang, sebaiknya kau memeriksanya di monitor ) ....”


Putra mengangguk, dan melangkahkan kakinya ke dekat satu kubus elektronik berukuran kecil yang ada di atas sebuah meja dalam ruangan tempatnya berada.


“Is it clear ( Apa gambarnya jelas )?” tanya Yona pada Putra yang sedang memperhatikan layar monitor pada kubus elektronik yang tidak hanya satu itu.


Namun Putra tidak menjawab.


Dan karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Putra itu, Yona pun langsung memfokuskan pandangannya pada Putra.


Dimana Putra berdiri dengan rahang yang sangat mengetat, dan menatap nyalang pada salah satu layar monitor. Dengan tangan Putra yang mengepal kuat disamping tubuhnya.


Didetik berikutnya terdengar gumaman lirih, namun juga menandakan kegeraman yang teramat sangat dari mulut Putra.


“Jaeden Zepeto...”


♦♦


To be continue....


Dua episode meluncur ( Bentuk tebusan telat update )


Semoga ga lupa sama dukungan kalian untuk karya ini ya....


Makasih....

__ADS_1


__ADS_2