
Happy reading ....
*******************
“We almost arrive ( Kita sebentar lagi sampai )” Ucap Addison.
Dan kemudian mobil yang Addison kemudikan berbelok ke sebuah bangunan yang memanjang di sebelah kiri mereka.
“This is a mental hospital?! ( Ini rumah sakit jiwa?! )”
Addison dan Bruna langsung menoleh pada Putra yang duduk di kursi penumpang belakang bersama Anthony. Kemudian Addison berdecak pelan.
“Muddlehead...... ( Bodoh ) ...”
Addison spontan mengeluarkan celetukan dari mulutnya untuk Putra.
“Mind your words or I make your glasses imbedded to your eyes .. ( Perhatikan kata – katamu atau aku buat kacamatamu tertanam dimatamu )..”
Putra berkata dengan datar, namun kata – katanya menyiratkan bahwa ia kesal dibilang bodoh oleh Addison yang kemudian terkekeh bersama Bruna.
“Can‘t you read, hem?!. There! ( Tidakkah kau bisa membaca, hem?! Itu lihat! )”
Addison menunjuk pada sebuah tulisan nama Rumah Sakit yang pelatarannya sudah mereka masuki.
“Do you see mental hospital written there? ( Apa kau melihat rumah sakit jiwa tertulis disana? )”
Putra melirik pada tulisan yang ditunjuk oleh Addison dan memang tidak ada tertulis kalau itu adalah sebuah rumah sakit jiwa.
“This is a public hospital, but from the information I got this is the best one here ( Ini rumah sakit umum, tapi dari informasi yang aku dapat ini adalah yang terbaik disini )”
“There are a lot of Doctors from any kind of Specialists here ( Ada banyak Dokter Spesialis disini )”
“Many of them seems are also foreign like us ( Beberapa dari mereka juga sepertinya orang asing seperti kita )”
“So I think that the Psychiatrist they have must be the best one also ( Jadi aku pikir Psikiater disini juga pasti salah satu yang terbaik )”
Addison dan Bruna saling menjelaskan pada Putra.
“Ya I hope so ( Aku harap begitu )”
**
Addison sudah memarkirkan mobilnya di pelataran parkir sebuah Rumah Sakit Besar di Ibukota.
Kemudian Addison, Bruna dan Putra turun dari mobil dengan Putra yang menggendong Anthony.
Disana, orang kepercayaan Addison yang merupakan seorang Manajer Restoran yang berada di kota yang sama dimana Villa tempat tinggal mereka berada itu terlihat sudah menunggu mereka didepan lobi Rumah Sakit tersebut.
Si Manajer Restoran tersebut langsung menyambangi Addison dan yang lainnya untuk menyapa dan selanjutnya mengantar mereka ke ruangan seorang Psikiater yang memang sudah dijadwalkan untuk bertemu dan berkonsultasi soal Anthony.
“You both not coming? ( Kalian berdua tidak ikut masuk? )”
Putra yang melirik Damian itu bertanya pada Damian dan Garret yang nampak enggan ikut ke dalam Rumah Sakit. Damian terutama.
“I think better I’m waiting here ( Aku pikir sebaiknya aku menunggu disini saja )”
“Don’t you like to see beautiful nurses? ( Bukankah kau senang melihat para suster yang cantik? )” Bruna dengan ledekannya untuk Damian.
“Huh! What nurse?. This Hospital more like Church than Hospital ( Perawat apa?. Rumah Sakit ini lebih mirip Gereja daripada Rumah Sakit )”
__ADS_1
Damian menunjuk dengan matanya pada seorang wanita berpakaian seperti seorang biarawati namun warna pakaiannya hanya putih saja tanpa jubah hitam panjang yang biasa dipakai oleh para biarawati.
Mereka yang bersama Damian mengikuti arah yang mata Damian tunjuk dan kemudian terkekeh karena paham maksud ucapan Damian. “I will told to make a penance than a date! ( Aku malah akan disuruh pergi untuk pengakuan dosa daripada berkencan! )”
Tawa dari mereka yang bernama Damian yang terlihat jelas tidak merasa nyaman disana pun pecah pada akhirnya. Damian memang jauh dari taat dan selalu merasa risih pada hal – hal yang berbau keagamaan.
Setelah tawa mereka reda, hanya Putra, Addison dan Bruna yang membawa Anthony, ditemani oleh si Manajer Restoran yang masuk untuk menemui Psikiater yang sudah janjian sebelumnya.
Sementara Damian dan Garret menunggu di pelataran parkir dekat mobil mereka, sambil menunggu si Manajer Restoran itu kembali untuk menemani mereka melihat – lihat daerah sekitar Rumah Sakit tersebut.
**
Putra, Anthony, Addison, Bruna berikut si Manajer Restoran sudah sampai di depan sebuah ruangan yang si Manajer Restoran kepercayaan Addison itu katakan, adalah ruangan Psikiater yang dimaksud.
Disaat yang sama ada seorang perawat yang keluar dari ruangan tersebut dan orang kepercayaan Addison yang seorang Manajer Restoran itupun langsung menghampirinya.
Pria itu sudah cukup paham Bahasa Indonesia dan cukup lancar juga, jadi dia yang maju untuk bertanya meski Putra sendiri juga cukup memahami Bahasa Indonesia namun memang belum terlalu lancar untuk berbicara dengan Bahasa Indonesia.
“She is already waiting inside ( Dia sudah menunggu di dalam )” Ucap orang kepercayaan Addison pada tiga orang dewasa yang bersamanya itu.
“May me and Bruna also come inside? ( Bolehkah aku dan Bruna juga ikut masuk? )”
“Sure ( Tentu saja )”
Orang kepercayaan Addison itu menjawab pertanyaan Bosnya tersebut dengan yakin.
Addison pun manggut – manggut setelahnya dan orang kepercayaannya itu membawa ketiga orang dewasa yang bersamanya, juga Anthony untuk masuk ke dalam ruangan dimana suster yang tadi berbicara dengan orang kepercayaan Addison itu berdiri di ambang pintu ruang praktek Psikiater yang sudah temu janji dengan mereka.
***
“*That bas*rd will be so much feel penitent not coming with us ( Ba**ngan itu pasti akan sangat menyesal tidak ikut kita masuk )”
Bukan tanpa alasan Addison berbisik dengan berkata demikian pada Putra. Karena ternyata Psikiater yang mereka temui adalah seorang wanita cantik yang usianya masih terbilang muda. Psikiater itu juga terlihat adalah orang asing seperti mereka, terlihat dari rambutnya yang berwarna kuning keemasan.
Putra hanya menyunggingkan senyum dan langsung menghampiri sang Psikiater sambil menggendong Anthony. Orang kepercayaan Addison yang sudah berkenalan lebih dulu dengan Psikiater muda dan cantik itu, memperkenalkan Putra, Addison dan Bruna pada si Psikiater. Dan tiga orang tersebut menyalami si Psikiater
cantik itu.
“Rahmi, bisa tolong ambilkan dua kursi tambahan?”
Si Psikiater itu berbicara dengan perawat yang berada bersamanya. Psikiater itu berbicara dalam Bahasa Indonesia namun tetap aksen asingnya masih ketara. Tetapi tidak sama dengan aksen yang dimiliki Putra dan keluarga baru itu.
“Please, have a seat ( Silahkan duduk )”
Si Psikiater muda itu mempersilahkan Putra, Addison dan Bruna untuk duduk di kursi yang telah tersedia dan dua tambahan kursi yang dibawakan perawatnya dengan di bantu oleh orang kepercayaan Addison yang tak lama pamit
untuk menyambangi Damian dan Garret yang sedang menunggunya di pelataran parkir Rumah Sakit tempat mereka berada sekarang, untuk mengajak dua orang itu berkeliling di sekitar Rumah Sakit.
***
“So, how can I help you? ( Jadi, apa yang bisa aku bantu? )”
Psikiater muda yang diketahui bernama Ilse itu kemudian bertanya dengan ramah dan tersenyum sambil matanya memandang bergantian pada Putra, Addison dan Bruna.
“Ah ya, how do you want me to talk, English or Bahasa? ( Bagaimana anda semua ingin saya berkomunikasi, Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia? )” Tanya Ilse.
“Any ( Bebas saja )”
“English please ( Inggris saja )”
__ADS_1
Putra dan Addison menjawab disaat yang bersamaan.
Kemudian kedua pria itu spontan saling tatap dan Bruna menggeleng, sementara Ilse si Psikiater tersenyum saja. Dan Anthony nampak asik sendiri memainkan sebuah benda yang ada diatas meja konsultasi Psikiater tersebut dan
kebetulan dekat dengannya.
“It will be fine to talk in English if you mind please. Because he is the only one among us who understand this country language ( Akan lebih baik jika anda berbicara dengan Bahasa Inggris jika tidak keberatan. Karena diantara
kami hanya dia yang mengerti bahasa negara ini )”
Bruna yang berikutnya berucap pada si Psikiater bernama Ilse, seperti yang tertulis disebuah papan kayu yang ada diatas meja konsultasinya tersebut.
“Of course I don’t mind ( Tentu saja aku tidak keberatan )”
Ilse menjawab ramah dengan senyuman. Lalu ia beralih pada Anthony.
Ilse menyapa Anthony dengan mengulurkan tangannya, namun bocah itu tidak meresponnya, pun tidak meliriknya.
Namun Ilse nampak tidak tersinggung dengan nolnya tanggapan dari Anthony. Ia menarik tangannya kembali dengan pelan lalu beralih menatap Putra.
“Is he your son? ( Apa dia anakmu? )” Ilse bertanya pada Putra yang langsung mengangguk tanpa ragu. “And your aim to meet me is according with him? ( Dan kedatangan anda kesini untuk menemuiku berhubungan dengannya? )” Ilse bertanya lagi untuk memastikan.
“Indeed ( Benar )”
Putra menjawab dengan pasti.
Ilse pun manggut – manggut.
“Tell me the lamentation ( Katakan padaku keluhannya )”
Putra mengangguk lalu menceritakan tentang kondisi Anthony secara garis besar pada Psikiater bernama Ilse itu.
Ilse mendengarkan dengan seksama setiap perkataan Putra dan kemudian dia pun manggut – manggut, nampak sudah paham tentang kondisi bocah laki – laki berparas tampan yang nampak asik sendiri itu sedikit banyak.
“Can you heal him and make him become normal to interact again? ( Apa kau bisa menyembuhkan dan membuatnya bisa berinteraksi dengan normal kembali? )”
“It depends ( Itu tergantung )”
“On? ( Atas? )”
“If you trust me, then I can try to help your son ( Jika kau percaya padaku, maka aku bisa berusaha untuk menolong anakmu )” Ucap Ilse.
Putra menatap Ilse sebentar, sambil otaknya sedang menimbang – nimbang ucapan Psikiater tersebut lalu menoleh pada Addison dan Bruna yang kemudian mengangguk pelan.
Ilse sangat berbeda dengan Psikiater yang sebelumnya, selain jauh lebih cantik dan lebih muda pastinya. Namun Psikiater ini nampak begitu tenang dan sikapnya juga dapat dikatakan elegan dalam berbicara.
“If your answer is yes, then please give some time to try interact with him ( Jika jawabanmu adalah iya, maka aku minta tolong berikan waktu untukku mencoba berinteraksi dengannya )”
“Then try ( Maka cobalah )” Sahut Putra cepat.
“Could all of you waiting outside? ( Apa kalian semua bisa tolong tunggu diluar? )”
Ilse Putra menatap Putra, Addison dan Bruna bergantian. Putra menatap sembari menelisik si Psikiater yang sudah berdiri dari kursi prakteknya.
“No! ( Tidak! )”
***
To be continue ....
__ADS_1