LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 234


__ADS_3

Happy reading ....


***************


Pada suatu waktu ..


“And what make you feel so sure, if Jaeden will come fastly to Ravenna just because the rumor? ( Dan apa yang membuatmu menjadi sangat yakin, jika Jaeden akan segera datang hanya karena rumor itu? )”


“That mot***fuc**r’s is so naive\, I’m sure. He must be curious on me\, due the Rery’s will ( Keparat itu sangat naif, aku yakin. Dia pasti penasaran padaku, mengenai surat wasiat Rery )”


“And? ( Dan? )....”


“And I will not make just a rumor brothers! I’ll make that mot***fuc**r’s man see me at Ravenna while we’re off to England ( Dan aku tidak hanya akan membuat sebuah rumor wahai para saudara lelakiku! Aku akan membuat orang suruhan si keparat itu melihatku di Ravenna saat kita pergi menuju Inggris )....”


“How? ( Caranya? )”


*


Pada sebuah percakapan telepon ....


Putra membicarakan tentang rencananya pada seorang pria yang bernama Accursio, yang merupakan saudara satu asuhan tangan Ramone.


Percakapan dengan menggunakan bahasa Italia, yang authornya sudah Indonesiakan, yah. Harap maklum, dikarenakan authornya hanya bisa bahasa Inggris sama Indonesia saja.


“Kau katakan tadi kau akan memintaku untuk melakukan hal yang mempertaruhkan nyawaku?”


Accursio bertanya pada Putra pada saluran telepon yang tersambung antara keduanya.


“Mengenai hal itu, aku ingin kau yang mirip denganku ini, menjadi aku. Lalu kau datang ke Mansion milik Rery yang berada di Ravenna....”


Putra menjawab pertanyaan Accursio, dimana jawaban itu adalah rencana yang sudah Putra susun sedemikian rupa. Yang tentunya sudah juga Putra pikirkan dengan matang, termasuk resikonya.


“Hm, sepertinya itu bukan ide yang bagus....” kata Accursio.


“Kenapa?” tanya Putra.


“Aku ini kan lebih tampan darimu –“


“Ba**ngan!....”


“Hahaha....”


Setelahnya, Putra dan Accursio membahas lebih detail rencana mereka, lalu Putra menghubungi Hiz yang berada di Inggris.


Kemudian kembali berbicara pada mereka yang sedang bersama Putra di dalam ruang kerja Villa.


**


“Are you sure it going to work?....”


“( Apa kau yakin itu akan berhasil? )....”


Bruna langsung mengajukan pertanyaan pada Putra, selepas saudara yang Bruna anggap sebagai kakak tertua dalam keluarga itu selesai menjelaskan apa yang menjadi rencana Putra.


Putra pun mengangguk.


“Jaeden not to know me that well. His man will tell Jaeden about Accursio’s stature, which is very similar with me. When he got information that someone name Putra Vinson is in Ravenna, and will back to stay at there, as Rery’s will.”


“( Jaeden tidak terlalu mengenalku. Orang suruhannya akan mengatakan padanya tentang perawakan Accursio, yang sangat mirip denganku. saat dia mendapatkan informasi bahwa seseorang bernama Putra Vinson ada di Ravenna, dan akan kembali tinggal disana, sesuai dengan wasiat Rery.... )”


Lalu Putra menerangkan hal yang sehubungan dengan rencananya.


“I don’t know\, but somehow\, I feel that mot***fuc**r’s man\, is staying at Ravenna all this time\, and maybe near with Dante. I withhold for not calling Dante all this time for that reason....”


“( Entah mengapa, aku merasa, jika orang suruhan keparat itu berada di Ravenna selama ini, dan mungkin saja dekat dengan Dante. Aku menahan diri untuk tidak menghubungi Dante selama ini juga atas alasan tersebut )”


Putra menyambung ucapannya.


“How about face? You and Accursio probably have a similar stature, but he’s not your twin who is has a identically face similarities ( Bagaimana soal wajah? Kau dan Accursio mungkin memiliki perawakan yang sama, tapi dia bukan saudara kembarmu yang memiliki kemiripan wajah identik ) ....”


Damian menimpali.


“Yes\, how if that that mot***fuc**r’s man have your picture?....”


“( Ya, bagaimana jika orang suruhan si keparat itu memiliki fotomu? )....”


“Accursio know how to make everything  walk smoothly ( Accursio tahu bagaimana membuat itu semua berjalan dengan sangat mulus )”


Putra juga menimpali ucapan dan pertanyaan Damian tentang keakuratan rencana Putra tersebut.


Dimana Damian mewakili pertanyaan dari mereka yang bersamanya dan Putra saat ini.


“You all want to destroy and playing with him before see him die right? ( Kalian semua ingin menghancurkan dan bermain dengannya terlebih dahulu sebelum melihat dia mati bukan? )....”


Putra berkata, dan mereka yang bersamanya pun mengangguk cepat.


“As same as me ( Sama sepertiku )....”


Sorot mata Putra menjadi nanar.

__ADS_1


“I really want to make him feel\, what Anth feel when he saw Rery and Madelaine being killed by that that mot***fuc**r in front of Anth’s eyes. Also\, I want him to pay what he had done to Anth by drowned him”


“( Aku sungguh sangat ingin membuatnya merasakan, apa yang Anth rasakan saat melihat Rery dan Madelaine dibunuh oleh keparat itu di depan mata Anth. Juga, aku ingin dia membayar untuk kelakuannya yang telah menenggelamkan Anth )”


Dimana para saudara Putra yang sedang bersamanya itu serempak menganggukkan kepala mereka.


***


Saat ini ....


“Aku berharap esok jangan datang ..” lirih Gadis yang berada dalam dekapan Putra, setelah mereka telah selesai memadu kasih untuk yang kesekian kalinya.


“Esok pasti datang sayangku Gadis ...” ucap Putra. “Dan sekali lagi aku katakan padamu untuk tidak merasa khawatir yang berlebihan selama aku berada di Inggris ---“


“Inggris? ...”


Gadis memotong ucapan Putra.


“Bukankah kamu akan pergi ke Italia? ...”


Putra menarik sudut bibirnya, lalu ia menggeleng.


“Aku akan langsung pergi ke Inggris. Tanpa mampir dulu ke Italia.”


“Tapi kenapa?”


“Tidak apa-apa .... Hanya perubahan rencana ....”


“Apakah akan mempengaruhi lama waktu kepergianmu, dari rencana awalmu yang tadinya akan pergi ke Italia? ....” tanya Gadis lagi.


“Entah. Aku pun tidak dapat memastikan hal itu, Gadis.”


Putra memandang Gadis sembari tersenyum dan mengusap pelan satu pipi Gadis.


“Tapi yang jelas mungkin tidak akan selama jika aku harus mampir ke Ravenna terlebih dahulu,” sambung Putra.


Putra kemudian menghujani wajah Gadis dengan kecupan.


“Kan aku juga tidak mau berjauhan lama-lama dengan canduku ini? ....” ucap Putra. “Jadi aku akan berusaha untuk mempercepat semuanya di Inggris, agar aku dapat kembali segera kesini, kepadamu, juga pada Anth.”


Putra menangkup wajah Gadis, dan bicara dengan menatap wajah Gadis dengan lekat kemudian menampakkan senyumannya pada Gadis.


“Kita tidur sekarang, hem?”


Putra merengkuh tubuh Gadis dalam dekapannya.


“Tunggulah aku dengan tenang disini ....” kata Putra.


Satu ciuman yang dalam Putra sematkan di bibir Gadis yang membalas ciuman dari suaminya itu dengan sama dalamnya.


Dengan sebuah pengharapan dalam hati Gadis.


‘Sungguh aku tak berharap esok akan datang ....’


Gadis membatin dalam dekapan Putra.


***


Seperti yang Putra katakan, jika esok pasti datang. Dan esok yang Gadis tidak nantikan, nyatanya kini sudah datang. Datang untuk membuat Putra pergi entah untuk beberapa lama dari sisinya. Dari sisi Anthony, dari keluarga mereka yang berada di Villa, jauh dari Indonesia.


Dimana Gadis tak putus berada di dekat Putra, menggenggam tangan suaminya, yang satu tangannya menopang bobot tubuh Anthony itu dengan erat. Menggambarkan betapa beratnya Gadis melepas kepergian Putra pagi ini.


Gadis bahkan benar-benar tidak tidur semalaman, hanya demi memandangi wajah Putra yang tertidur lelap mendekapnya. Wajah yang pasti akan sangat dirindukan Gadis, entah untuk berapa lama selain harum tubuh Putra yang sama halnya bagi Putra yang mencandui harum tubuh Gadis, begitupun Gadis pada suaminya.


“Aku pergi dulu, Gadis ..”


Putra berpamitan pada sang istri yang ia tahu, merasa sangat berat untuk berpisah darinya, walau sudah Putra katakan berkali-kali, jika ia akan kembali.


Ya setidaknya apapun yang akan Putra hadapi di Inggris nanti, ia akan sekuat tenaga untuk tetap hidup dan selamat, apapun yang terjadi. Serta kembali ke tempat dimana keluarga, istri dan anaknya berada.


**


“Aku pergi dulu, Gadis ..” Putra berpamitan pada sang istri yang nampak kelabu sekali wajahnya saat ini.


“Iya ..”


Gadis mengiyakan, walau rasa hatinya begitu berat melepas Putra.


“Tunggu aku, hem?” pinta Putra dengan tersenyum pada Gadis yang nampak sendu itu.


“Aku tidak hanya akan menunggu, tapi juga akan berdoa untukmu.”


Putra tersenyum teduh. “Terima kasih,” ucap Putra.


Gadis mengangguk pelan dan tersenyum. “Aku harus selalu mendoakan suamiku, bukan?”


“Memang istriku ini yang terbaik, selain cantik, seksi dan nakal.”


Putra sedikit berkelakar dengan berbisik di telinga Gadis.

__ADS_1


Gadis tersenyum, namun netranya berkaca-kaca.


“Aku tidak ingin melihat air matamu saat aku pergi, Gadis ....”


Putra menyadari jika netra istrinya itu sudah berkaca-kaca lagi, saat seluruh koper telah masuk ke dalam mobil, serta Putra berikut Damian dan Garret sudah harus masuk ke dalam mobil untuk pergi ke Bandara yang ada di Ibukota.


Gadis mengangguk, tersenyum, menahan agar air matanya tidak sampai terbendung lalu menetes dari pelupuknya. Putra pun tersenyum. Mengusap pelan wajah Gadis, lalu menghujani wajah sang istri dengan kecupan.


Kemudian menyudahi pamit-nya pada Gadis dengan sebuah pelukan erat, dan satu kecupan lagi di kening dan bibir Gadis. “Aku pergi dulu ya? Jaga dirimu baik-baik,” pamit Putra. “Aku titip Anth, hem? ....” sambungnya dan Gadis mengangguk.


“Anth, be a good boy while I’m away ( jadilah anak baik selama aku pergi ) , hem?” Putra beralih pada Anthony. Dimana Putra berjongkok dihadapan bocah tampan kesayangannya itu.


Anthony pun mengangguk. “I will ( Pasti ), Papa!” jawab Anthony. “I am a good boy and I will always be ( Aku memang anak baik dan akan selalu seperti itu ) ....” seru Anthony.


Putra dan semua yang sedang berada di pekarangan depan Villa dan sedang berkumpul untuk melepas kepergian tiga orang itupun serempak tersenyum sembari memandang pada Anthony.


“See you all soon! ( Sampai bertemu lagi dengan kalian semua secepatnya! )”


Putra, Damian dan Garret berucap pada mereka yang tinggal di Villa. Yang diminta Putra agar tidak ikut mengantar mereka ke Bandara yang berada di Ibukota, termasuk juga Addison.


“Make sure you already comeback at Christmas Papa ( Pastikan Papa telah kembali saat natal ), ya?” pinta Anthony. “All of you ( Kalian semua )” sambung Anthony yang dimaksudkan pada Damian dan Garret.


“Sure we will ( Iya kami pasti kembali )” Garret yang menyahut cepat ucapan Anthony barusan.


“Bye!”


Putra, Damian dan Garret kembali berpamitan dan melambai, setelah ketiganya masuk ke dalam mobil.


“Also bring me christmas present when three of you comeback here ( Juga bawakan aku hadiah natal saat kalian bertiga kembali kesini )”


Anthony berucap lagi pada tiga ayah angkatnya yang sudah siap untuk berangkat itu. Putra mengangguk dan tersenyum.


“Stay alive ( Tetaplah hidup ), Papa ....” lirih Anthony saat mobil yang Putra, Damian dan Garret tumpangi telah melaju pergi. Air matanya baru turun setelah mobil ketiganya melaju.


Sesungguhnya Anthony bersedih hati saat melepas Papa Putranya pergi, tapi Anthony yang pemikirannya jauh lebih dewasa dari usianya itu, tidak ingin memberatkan sang Papa jika melihatnya menangis dan sedih.


Jadi tadi, sejak Anthony bangun dari tidurnya, ia mencoba sekuat tenaga dengan tidak menunjukkan kesedihan dari ketakutannya atas kepergian Putra, dengan banyaknya Anthony tersenyum.


Anthony tahu, Papa Putra nya itu ingin membalas orang jahat yang telah membunuh kedua orang tuanya, meski Anthony tidak tahu resiko yang bagaimana sebenarnya.


Yang Anthony tahu, kepergian tiga ayah angkatnya itu adalah akan melakukan hal yang berbahaya dan mengancam nyawa mereka.


“Stay alive and comeback here for me. Don’t leave me like Daddy and Mommy ( Tetaplah hidup dan kembali kesini untukku. Jangan meninggalkanku seperti Daddy dan Mommy )”


Tangis Anthony baru pecah setelah mobil yang ditumpangi Putra, Damian dan Garret telah menghilang dari pandangannya, berikut satu mobil yang mengiringi mobil yang ditumpangi ketiga ayah angkatnya itu.


“I don’t wanna lose you Papa  ( Aku tidak ingin kehilanganmu Papa ) ....”


“Oh Anth ....”


Gadis, Bruna dan Addison pun melirih melihat Anthony yang luruh dalam tangisnya, juga para pekerja yang masih berada didekat empat majikan mereka itu.


Dimana tangisan Anthony yang meski tidak sampai meraung-raung, namun kiranya isakan dengan lirihan Anthony cukup meremat hati yang melihatnya untuk tidak dapat menahan air mata mereka yang ikut jatuh dari pelupuk mata.


“Papa, will be home ( Papa, pasti pulang ),” ucap Gadis yang langsung mendekap Anthony saat menyadari jika Anthony menangis luruh. “He promised to us ( Dia sudah berjanji pada kita ) ....”


Gadis membesarkan hati Anthony, meskipun ia sendiri meragukan ucapannya yang terdengar yakin untuk menenangkan Anthony.


“He, pro-mised ( Dia, sudah ber-janji ) ....”


Sama seperti Anthony, Gadis melirih atas ketakutan yang sama dengan apa yang Anthony rasakan.


“He’ll ho-me ( Dia akan pu-lang ) ....” lirih Gadis dengan mendekap erat Anthony. ‘Kamu pasti akan pulang kan Putra? .... harus! Kamu sudah berjanji padaku dan Anthony!’


Monolog hati Gadis yang getir.


‘Jika tidak ada kabar darimu nanti, demi Tuhan aku akan menyusulmu, Putra!’


Sementara Addison dan Bruna saling tatap sejenak, saat Gadis dan Anthony berpelukan, dengan mereka yang ikut menegarkan keduanya.


Addison dan Bruna teringat pesan Putra yang dikatakan pada mereka.


“Two weeks Ad, Bru. My maximum time to finish all of this. But if in one week you haven’t get any information about me, Dami and Garret, leave this place. I already told Vader to take all of you to another safe place.”


“( Dua minggu Ad, Bru. Batas maksimal waktu untuk menyelesaikan semua ini. Tapi jika dalam satu minggu kalian tidak mendapatkan informasi apapun tentangku, tinggalkan tempat ini. Aku sudah meminta Vader untuk membawa kalian semua ke tempat lain yang aman )”


“From what I heard from Accursio, Jaeden’s has cooperate with a mafia from Chicago. And it means, there’s another risk that me, Dami and Garret have to face in England, even Jaeden is in Ravenna ( Dari apa yang aku dengar dari Accursio, Jaeden sedang bekerja sama dengan mafia dari Chicago. Dan itu berarti ada resiko lain yang akan aku, Dami dan Garret hadapi, meskipun Jaeden berada di Ravenna )”


Addison dan Bruna tidak dapat membayangkan, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Putra, Damian dan Garret.


Terutama jika sesuatu yang buruk itu menimpa diri Putra. Dimana Addison dan Bruna, rasanya tidak akan tega untuk mengatakannya pada Gadis dan Anthony nantinya.


‘Hopefully everything will be okay ( Semoga semuanya akan baik-baik saja )’ batin Addison dan Bruna. ‘Cause I don’t know how to deal with all sadness from Gadis and Anth, if Putra can’t survive ( Karena aku tidak tahu bagaimana akan menghadapi kesedihan Gadis dan Anth, jika Putra tidak selamat )’


**


To be continue ....


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian untuk karya ini.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2