
Terima kasih masih setia...
🌌🌌🌌
Happy reading ...
🌌🌌🌌
London, Inggris,
“They have more back up ( Mereka memiliki bantuan tambahan lagi )!” seru Damian, saat dirinya menyadari jika ada lagi ramai mobil yang datang.
Dan seruan Damian itu membuat mereka yang mendengarnya sambil membalas tembakan sekaligus berlindung itu melirik ke dua sisi yang berbeda. Yang mana memang benar adanya, jika ada beberapa mobil lagi dibelakang blokade polisi di dua ujung jalan tikus tempat Putra dan kawanannya berada.
“Step aside ( Minggir )!”
Yona terdengar berseru kemudian.
“What ( Apa )?---“
Mereka yang berada di dekat Yona yang seolah memberi saran itu kompak menyahut seraya bertanya.
Gurat kebingungan juga nampak di wajah Putra dan yang lainnya.
“Just hear what I’ve said ( Dengar saja apa yang tadi aku katakan )” tukas Yona. “Stick your body to the wall ( Tempelkan saja diri kalian pada dinding )!”
“You guys hear her! Do it ( Kalian dengar dia! Lakukan saja )!”
Putra berseru dengan kencang agar para kawanannya mendengar perintahnya.
Dan perintah Putra itu pun didengar semua kawanannya yang langsung mengikuti apa yang Putra perintahkan sesuai arahan Yona.
“Stay still and don’t move ( Diam dan jangan bergerak )!”
Yona lagi bersuara, dan Putra menuruti saja apa yang saudari satu asuhannya dengan Ramone itu katakan.
Putra juga mengkode orang-orangnya untuk ikut apa yang Yona katakan lagi barusan. Dan orang-orang Putra itupun mengangguk paham.
🌌🌌🌌
“One-“
Suara Yona membuat empat orang pria yang ada disamping kiri dan kanan wanita itu melirik ke arah Yona, secara bersamaan saat mendengar Yona seperti menggumam.
“Two-“
Yona terdengar lagi bersuara. Seolah sedang menghitung.
“Three-“
Dan setelahnya, suara bising mesin-mesin yang mengeluarkan rentetan peluru tanpa jeda terdengar nyaring dan tajam.
Lalu dalam beberapa detik berikutnya, suara bising senjata yang ricuh itu perlahan memudar sampai tidak terdengar lagi, dan kesunyian sejenak mendominasi.
__ADS_1
🌌🌌🌌
Putra dan kawanannya bertahan pada posisi mereka, meski suara bising senjata api mulai memudar secara perlahan hingga benar-benar berhenti.
Tapi Putra yang seolah paham situasi itu tersenyum miring.
“You’re not coming alone ( Kau tidak datang sendiri ), hem?—“
Putra lalu bersuara dengan matanya yang melirik pada Yona seraya Putra sedikit menoleh.
“Anticipation ( Antisipasi )” jawab Yona enteng dan sudut bibir Putra kemudian melengkung ke atas.
🌌🌌🌌
Tak lama setelah Yona menjawab ucapan Putra, beberapa orang bersenjata telah sampai ke tempat Putra dan kawanan berada.
“Forgive our slowness ( Maafkan atas keterlambatan kami )”
Salah seorang yang baru saja muncul kemudian berbicara pada Yona yang kemudian langsung mendelik padanya.
“We already clear the way for all of you to go from here ( Kami sudah mengurus jalanan untuk kalian pergi dari sini )—“
Sebelum orang tersebut selesai berbicara, Yona sudah mengacungkan senjata apinya dengan pasti ke kepala orang tersebut.
“Your slowness almost make us dead ( Keterlambatanmu hampir membuat kami mati )!” ucap Yona dingin sambil menempelkan ujung senjatanya ke dahi orang yang barusan berbicara itu.
“I’ll take the consequence, Miss ( Saya terima resikonya, Nona )”
Pria tersebut nampak memasrahkan dirinya untuk ditembak kepalanya oleh Yona.
“Yona---“ Suara Putra terdengar menyebut nama Yona. “Put it down ( Turunkan senjatamu )” kata Putra sambil satu tangannya menyentuh senjata Yona yang kemudian Putra gerakkan kebawah.
“You ask appologize to Big Boss! You Moron ( Kau minta maaf pada Bos Besar! Dasar Kau Bodoh! )”
“Forgive us, Mister Putra ( Maafkan kami, Tuan Putra )”
Tanpa perlu berpikir, pria yang merupakan anak buah itu langsung mengikuti apa yang Yona perintahkan padanya.
Putra langsung mengangkat tangannya. “Never mind ( Tidak masalah )” tukas Putra. “Now take us go from here ( Sekarang bawa kami pergi dari sini )”
“Yes, Boss!” sahut anak buah yang tadi hampir dilubangi kepalanya dengan peluru oleh Yuna. “Please ...”
“Jules, are you okay ( apa kau baik – baik saja )? ...” tanya Putra pada Jules yang ia ketahui kena tembak saat menyelamatkan Putra tadi.
“I’m good ( Aku baik – baik saja ), Boss! ...”
“Any our men who not survive ( Ada orang kita yang tidak selamat )?”
Putra bertanya dan menatap satu – satu mereka yang tadi bertarung melawan blokade bersamanya.
“Two were shot, one still okay, one need to leg – up ( Dua tertembak, yang satu masih aman, satu lagi membutuhkan pertolongan secepatnya )” jawab Devoss.
“You take care of who what he mean ( Kau urus siapa yang dia maksud ) ----“ Putra menunjuk pada satu orang anak buah yang merupakan bantuan tambahan, yang tadi bicara padanya dan Yona.
__ADS_1
“Yes, Boss!”
“Jules, you go with him and take care your wound ( kau pergi dengannya untuk merawat lukamu ) ...”
Putra memberi perintah pada Jules.
“Putra? ...” tegur Damian, karena Putra menelengkan samar kepalanya.
Jika Damian tidak salah, dia melihat Putra menghirup dalam – dalam oksigen dan gurat wajah Putra seperti sedang menahan sesuatu.
“Let’s go ( Ayo kita pergi )!” ajak Putra pada kawanannya. “Who are not injured, go with me to TBW. But split. Half go back to basecamp after clean all of these ( Yang tidak terluka, ikut aku ke TBW. Tapi berpencar. Setengah kembali ke markas setelah membereskan ini semua )”
Putra menunjuk pada blokade polisi yang telah luluh lantak akibat dibredel habis oleh senjata milik pasukan tambahannya.
🌌🌌🌌
“Boss, we found him try to escape ( kami menemukannya ingin kabur )” dua orang anak buah tambahan Putra, menyeret seseorang yang Putra dan Damian kenali. Yang kemudian nampak sangat terkejut melihat Putra.
“Who, are you actually ( Siapa, kau sebenarnya )?---“ orang yang diseret itu bertanya dengan suara yang lirih sambil menatap pada Putra yang menyungging miring padanya.
“Soon you’ll know ( Secepatnya kau akan tahu ) ...” tukas Putra. “Take him to TBW ( Bawa dia ke TBW )!” titah Putra.
Dan dua anak buah yang menyeret pria yang Putra dan Damian kenali itu langsung menyahut sigap dan menyeret orang itu kembali dengan kasar, meskipun orang tersebut punya luka tembak di kakinya.
*
“I ( Aku )---“ Putra hendak berucap, namun terjeda karena ia kembali nampak menarik nafas dalam – dalam.
“You seems ( Kau sepertinya ) –“ Damian kembali merasa ada yang sedikit janggal dengan Putra, karena ia sudah memergoki Putra menarik nafas dengan dalam.
“Sshh ...” belum sempat Damian meneruskan ucapannya pada Putra, suara ringisan samar terdengar dari mulut Putra. “Damned, Dami! –“ rutuk Putra saat Damian menyentuh salah satu pinggangnya. Dimana bagian yang Damian sentuh karena ia merasa ada sesuatu yang janggal pada Putra, adalah bagian dimana ada luka tembak disana.
“Damned, Putra!”
Damian yang gantian merutuk.
“You got shot ( Kau tertembak )!” pekik Damian dengan spontan karena ada noda darah di telapak tangannya setelah menyentuh pinggang Putra yang tertutup mantel hitam pekat.
Dimana semua orang tentu saja terkejut dan langsung nampak sangat khawatir lalu mengerubungi Putra.
“I’m good ( Aku baik – baik saja )” tukas Putra dengan tenangnya.
“Good My A$$ ( Baik darimana )?!”
Damian lantas merutuk dengan wajah khawatir kala ia menyibak mantel Putra, lalu melihat rembesan darah yang cukup banyak di kemeja Putra.
“I’m ( Aku ) –“
“PUTRA!!” pekikan spontan terdengar saat Putra kemudian limbung kala hendak berbicara.
Damian yang berdiri di dekat Putra bersama Garret itu langsung saja menopang tubuh Putra yang kian lama kian limbung.
“C’mon man ... hang on would you ( Ayolah kawan ... bertahan ) ...” ucap Garret dengan kekhawatiran yang teramat sangat. “Anth and Gadis waiting for you ( Anth dan Gadis menunggumu )”
__ADS_1
🌌🌌🌌
To be continue ...