LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 433


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


“Papa,”


Ada Anthony yang menyapa Putra, saat sang papa sedang membantunya berpakaian setelah Anthony keluar dari dalam kamar mandi di kamar pribadi bocah tampan tersebut.


Sementara Gadis yang belum lama Putra cek, masih berada di dalam kamar mandi.


“Yes, Anth? .....”


Putra segera menyahut setelah mendengar Anthony menyebut panggilannya.


“As I remember we are going to hospital, Papa? Then why you choose this clothes for me? This is home clothes? ( Seingatku kita akan pergi ke rumah sakit, Papa? Lalu mengapa Papa memilihkan pakaian ini untukku? Ini kan pakaian rumahan? )”


Anthony pun lantas bicara. Sedikit mengoceh dengan beberapa pertanyaan.


Membuat Putra jadi mengulum senyumnya. “Not we ( Bukan kita ) .....” ucap Putra kemudian. Yang langsung juga menambahkan ucapannya. “But just me and Mama Gadis ( Tetapi hanya aku dan Mama Gadis )”


🔵🔵🔵


“If Mama Gadis totally in good condition, I promise then we are going somewhere to have fun and you can play as long as you want ( Jika Mama Gadis sudah betul – betul baik kondisinya, aku berjanji kita akan pergi ke suatu tempat untuk bersenang – senang dan kamu boleh bermain sepuasnya ) ---“


“Promise, Papa ( Papa, berjanji )?? .....”


Anthony segera menukas ucapan Putra yang sudah nampak rapih dan bersiap untuk pergi bersama Gadis serta juga Bruna, setelah sebelumnya Putra memberikan penjelasan dengan bahasa yang kiranya Anthony pahami tentang mengapa Putra tidak mengajak serta bocah tampan yang ia dan lainnya sayangi itu ke rumah sakit kali ini.


“I promise,” jawab Putra dengan pasti pada Anthony.


Anthony tersenyum. Dan terus menampakkan senyumnya sampai Putra dan Gadis memasuki mobil.


Sementara Bruna menumpangi mobil lain bersama Arthur. Kemudian Anthony berjalan masuk kembali ke dalam bangunan utama villa bersama dua ayah dan satu kakek angkatnya yang kemudian mengajak Anthony mengatur rencana untuk melakukan hal yang kiranya mengasyikkan dan tentunya disenangi oleh Anthony.


🔵🔵🔵


Di dalam mobil yang ditumpangi oleh Putra dan Gadis,


“Tidak ada kabar tentang penemuan dua jasad semalam. Jadi aku rasa dua wanita yang seharusnya tidak pernah kamu ajak ke tempat tinggal kita itu sudah duduk manis di rumah mereka sekarang.”


Putra berkata, karena gelagat Gadis, dimana saat mobil yang mereka tumpangi bersama dengan dua orang anak buah keluar melewati batas area villa, nampak celingukan dengan ragu – ragu ke arah jendela belakang mobil.


“Dan berhenti mengkhawatirkan dua orang yang tak pantas kamu pikirkan itu,” tambah Putra.


“Maaf ...”


Gadis bersuara.


“Tapi sekurang ajarnya Madya pada kamu, tidak perlu sampai mengusirnya dan ibu dengan cara yang hina seperti itu.“


Kemudian Gadis menyampaikan apa yang menjadi pendapatnya pada Putra.


“Tsk!” Putra lantas berdecak.

__ADS_1


Sedikit sebal, hingga kemudian Putra bersuara untuk menanggapi ucapan Gadis yangsebelumnya, dengan nada yang menunjukkan ketidakpuasan.


“Aku heran denganmu. Jelas-jelas waktu itu kamu bercerita padaku tentang betapa semena-menanya mereka padamu, tapi sekarang kamu malah peduli pada mereka—“


“Kan sudah aku katakan, saat aku bertemu ibu tiriku itu, dia bahkan tidak tahu kalau aku sudah menikah dengan seorang laki-laki kaya. Lalu dia memohon padaku untuk tinggal kembali bersamanya dan terlihat sedih saat aku menolak—“


“Heh,” tukas Putra setengah sinis. “Terdengar seperti sebuah skenario bagiku,” tambahnya. “Karena aku rasa ketika mereka melihatmu datang kembali ke desa kelahiranmu, mereka sudah berencana untuk mengambil hatimu dengan sebuah tujuan—“


“Kamu terlalu berburuk sangka, Putra—“


“Berhenti membela mereka, Gadis—“


“Aku tidak membela mereka, Putra. Aku hanya—“


“Sudah,” sambar Putra sambil mengangkat tangan kirinya. “Aku tidak ingin membahas tentang dua wanita itu lagi, termasuk aku tidak mau kamu berurusan dengan mereka lagi.” putus Putra.


Membuat keheningan selanjutnya muncul diantara Putra dan Gadis setelahnya, hingga keduanya telah sampai di sebuah rumah sakit yang ada di pusat kota.


🔵🔵🔵


Dokter kandungan yang akan ditemui oleh Putra dan Gadis, kebetulan salah seorang kenalannya Arthur jadi meskipun dokter tersebut tidak ada jadwal praktik hari ini selain memang Bruna memiliki nomor telepon pribadi dokter tersebut --- maka dokter tersebut menyatakan kesediaannya untuk menerima Putra yang hendak memeriksakan Gadis, selain juga --- ada bayaran khusus untuk janji temu dengan dokter tersebut diluar jam praktiknya.


Yang tentunya bukan sebuah hal yang berarti bagi Putra dan keluarganya untuk membayar sejumlah uang sebagai biaya konsultasi yang lebih besar dari biaya pemeriksaan standar, dimana jumlah yang dibayarkan untuk biaya konsultasi pribadi dengan dokter yang saat ini ditemui itu bahkan hanya beberapa lembar saja yang Putra keluarkan dari dompetnya.


“Is really there’s no other doctor who handle about pregnancy in this hospital? --- a woman doctor I mean ( Apa benar tidak ada dokter lain yang menangani soal kehamilan di rumah sakit ini --- dokter wanita maksudku ) ...”


Putra melontarkan pertanyaan saat Bruna dan Arthur telah berada di dekatnya dan Gadis.


Dimana ke empat orang tersebut, kini sedang berjalan menuju salah satu ruang praktik seorang dokter yang menangani Gadis --- dari sejak wanita itu memeriksakan dirinya untuk memastikan soal kehamilannya.


🔵🔵🔵


Pertanyaan Putra sebelumnya itu sebenarnya ia tujukan pada Bruna dan Arthur, namun Gadis yang langsung menanggapinya.


“Kan sudah aku bilang semalam, tidak perlu ke rumah sakit karena kamu terlihat tidak percaya pada dokter Ridwan. Dan sekarang, kalau memang kamu masih merasa tidak nyaman, janji temu dengan beliau dibatalkan saja daripada nanti saat sesi pemeriksaan timbul keributan karena kamu merasa terganggu.”


Gadis menambahkan ucapannya.


“Karena aku tidak mau melihat tindak kekerasan lagi, atas dasar suamiku yang merasa terganggu kemudian tak senang dan menyelesaikan segalanya dengan emosi tinggi—“


“Apa kamu sedang menyindirku, Gadis? ...” tukas Putra, karena ucapan Gadis tersebut.


“Aku hanya menyampaikan pendapatku karena sudah beberapa kali melihat kamu menyelesaikan hal dengan emosi.“


Gadis pun menjawab ucapan Putra yang agak menyelidik.


Namun Putra tak membalas ucapan Gadis, dan hanya menghembuskan nafasnya yang terdengar agak sedikit berat.


“Where’s that doctor’s room ( Dimana ruangan dokternya )?” ucap Putra yang mengalihkan pandangannya pada Arthur.


Dimana pria itu kemudian mengarahkan Putra untuk sampai ke ruang praktek dokter yang sudah punya janji temu dengan Putra berikut Gadis, serta juga Bruna dan Arthur sendiri.


Walau keberadaan Arthur hanya untuk sekedar menemani atas dirinya yang mengenal dokter yang bernama Ridwan itu, selain sudah mendapat pesan dari Damian, Garret dan Ramone memang --- agar Arthur menemani Putra yang mungkin akan membutuhkannya, yang mengenal dokter bernama Ridwan tersebut.


Karena siapa tahu, Putra punya kepentingannya sendiri dengan dokter tersebut terkait dengan satu dua ucapan Putra saat semalam mereka sedang berkumpul di ruang kerja selepas makan malam --- setelah sebuah insiden yang melibatkan amarah Putra, kepada ibu dan saudari tiri Gadis.

__ADS_1


Dan karena Arthur memang sudah cukup lama tinggal di Indonesia dan eksistensi dirinya atas profesi Arthur selama ini,  memanglah akan dipergunakan untuk membantu kepentingan Putra setelah ia membuat kesepakatan bersama Putra dan para saudaranya.


🔵🔵🔵


Putra dan Gadis, berikut Bruna serta Arthur, kini sudah berada di ruang praktek seorang dokter spesialis kandungan yang memang sudah membuat janji temu secara khusus.


Gadis dan Bruna yang dipersilahkan oleh Putra untuk duduk di kursi konsultasi yang berhadapan dengan meja praktik sang dokter yang sudah berkenalan dengan Putra.


Sementara Putra berdiri tepat dibelakang Gadis dan Bruna yang sedang duduk. Lalu Arthur berdiri tak jauh dari Putra dan pada titik dimana ia juga dapat jelas melihat sekaligus turut berinteraksi dengan dokter kenalannya tersebut. Dimana setelah Bruna dan Gadis nampak mengobrol sedikit dengan sang dokter yang sebelumnya sudah diberitahukan Bruna via sambungan telepon perihal kondisi Gadis atas apa yang sudah menimpa istri Putra itu, Gadis dipersilahkan sang dokter untuk berbaring di atas brankar periksa.


Sampai dengan Gadis diperiksa tekanan darahnya oleh seorang suster, Putra masih diam saja. Pria itu hanya sempat bersuara ketika berjabat tangan dengan sang dokter dan saling memperkenalkan diri. Namun saat kemudian dokter tersebut mendekat pada Gadis dan memintanya berbaring serta juga membuka dua kancing kemeja floral yang Gadis gunakan, suara Putra terdengar.


“Tunggu,” ucap Putra sambil ia melangkah lebar ke arah brankar pasien dengan Gadis yang sudah berbaring, membuat semua mata yang ada di ruangan praktek dokter tersebut spontan mengarah padanya.


“Ada apa, Tuan Putra?”


Dokter tersebut pun langsung bertanya pada Putra yang langsung menjawab sambil memandanginya.


“Apa harus anda yang melakukannya? ...” ucap Putra bertanya.


“Melakukan? ...”


Dokter kandungan bernama Ridwan tersebut mengernyit.


Kemudian setelah ia rasanya menangkap maksud pertanyaan Putra yang Dokter Ridwan kira awam dengan pemeriksaan medis, lalu dokter tersebut coba memberikan sedikit penjelasan pada Putra.


“Oh, saya akan memeriksa denyut jantung , nadi, organ pencernaan dan paru – paru istri anda dengan alat ini ...”


Namun Putra kemudian memungkas ucapan Dokter Ridwan.


“Aku tahu bagaimana bentuk pemeriksaan menggunakan stethoscope itu ...” ucap Putra. “Yang aku tanyakan apa harus anda yang melakukannya? ...”


🔵🔵🔵


Bruna paham pertanyaan Putra pada dokter yang bernama Ridwan itu, yang tak lama kemudian juga Bruna paham kenapa pertanyaan Putra tadi tercetus dari mulut salah satu saudara yang Bruna anggap sebagai kakak lelakinya itu --- makanya Bruna pun menelengkan sedikit kepalanya.


Lalu Arthur yang tentu dengan cepat mengerti pertanyaan Putra mengulum senyumnya saja, dimana dia seperti Bruna yang kiranya paham mengapa Putra bertanya seperti itu pada sang dokter yang ia kenal itu.


Karena Arthur teringat bagaimana Putra bertanya saat mereka berjalan di lorong rumah sakit untuk sampai ke ruang praktek Dokter Ridwan tadi, tentang apa tidak ada dokter wanita di rumah sakit tempat Gadis memeriksakan kandungannnya, atas dasar Putra yang terkesan posesif dan pencemburu.


Dan tentu saja, selain Bruna dan Arthur, Gadis memahami juga sifat Putra tersebut --- dan Gadis memutar jengah matanya karena menangkap maksud pertanyaan Putra pada Dokter Ridwan.


“Anda memiliki seorang asisten yang seharusnya memahami segala bentuk pemeriksaan yang anda lakukan pada pasien, dan seharusnya juga dia dapat mendeskripsikannya untuk anda setelah ia memeriksakan istri saya. Karena jika tidak, lebih baik anda pecat asisten anda itu dan mencari asisten yang lebih kompeten darinya—“


‘Ah ya Tuhan.‘ Gadis langsung berkesah dalam hatinya.


Sepertinya sesi pemeriksaannya hari ini tidak akan berjalan dengan lancar dan cepat karena sikap Putra yang sedang menampakkan sisi cemburunya itu.


Padahal pria yang sedang menyentuh Gadis itu adalah seorang dokter yang bukan hanya Gadis seorang pasien wanitanya.


‘Putra ini kadang cemburunya tidak lihat-lihat dulu.’ Gadis kembali membatin. ‘Padahal dokter Ridwan bahkan hampir seusia Vader, dan Putra bisa-bisanya cemburu padanya—‘


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2