
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indonesia,
“Lalu mengenai efek teh rempah itu pada istriku,”
Pertanyaan ini tercetus dari mulut Putra yang sebelumnya terlibat percakapan melalui sambungan telepon dengan dokter yang katakanlah menangani Gadis, dimana dokter tersebut memberikan laporan berdasarkan hasil tes yang ia kantongi.
Baik hasil tes pemeriksaan yang telah dijalani Gadis, serta hasil tes dari serbuk teh yang ditemukan Pak Abdul di kamar tamu bekas ditempati oleh ibu dan saudari tiri Gadis. Setelah Putra meminta Pak Abdul menggeledah kamar tersebut selepas dua wanita itu telah diusir dengan kasar dari villa tempat tinggal Putra dan keluarganya, atas kecurigaan Putra pada teh yang sebelumnya diminum Gadis yang mana disajikan pada istrinya itu oleh Madya—saudari tirinya Gadis.
“Apakah mengancam nyawa istriku?”
Putra menambahkan pertanyaannya.
“Hasil tes tidak ada indikasi tumor maupun kanker di rahim Nyonya Gadis –“
“Tetapi?”
Putra yang menaruh curiga atas nada bicara Dokter Ridwan yang terkesan ragu-ragu menjawab pertanyaannya itu segera menukas ucapan Dokter Ridwan dan bertanya dengan nada menyelidik.
****
Beberapa detik dari tukasan Putra yang bertanya dengan nada menyelidik pada dokter bernama Ridwan itu—dokter tersebut terdiam, namun beberapa detik kemudian dia pun memberikan jawabannya.
Dimana jawaban Dokter Ridwan, pertama-tama membuat Putra menahan nafasnya. Kemudian membuat ia mengetatkan rahang dan mengepalkan kuat satu tangannya yang bebas. Pasalnya, apa yang dikatakan Dokter Ridwan, Putra rasa telah meruntuhkan satu mimpinya.
“Campuran dzat yang dikonsumsi Nyonya Gadis hingga membuat perlengketan dan peradangan di rahimnya ditambah beliau telah mengalami keguguran dengan cara yang cukup kasar, dikhawatirkan akan membuat Nyonya Gadis akan sulit hamil lagi ke depannya,” ucapan Dokter Ridwan yang sudah membuat dada Putra cukup bergemuruh.
“Tingkat kekhawatiran istriku sulit hamil lagi itu ada di ukuran yang mana?...”
****
Meski rasanya Putra sudah menebak sesuatu hal yang tentunya tidak akan menyenangkan hatinya sebagai jawaban dari Dokter Ridwan, bahkan yang terburuk dalam kasus mengenai kondisi rahim Gadis, namun mau tidak mau—Putra perlu mendapatkan kepastian dari tebakannya mengenai kondisi rahim Gadis itu.
“Jawab saja dengan sejujurnya.”
Putra berkata lagi, dengan nada suara yang datar.
Meski begitu, Putra sedang menyiapkan dirinya, untuk mendengar ucapan Dokter Ridwan yang mungkin akan membuatnya memiliki kekecewaan yang besar.
Dimana kekecewaan yang Putra duga akan ia rasa pun menyata, saat Dokter Ridwan mengatakan, “Lumayan sulit... hingga mustahil untuk hamil lagi.”
Selanjutnya, dada Putra bergemuruh geram dan rahangnya kian mengetat. Hati sang Papa kesayangan Anthony itu meradang. Dan sekilas, matanya nampak berkaca-kaca.
Namun tak ada sebulir pun air yang menetes dari pelupuk matanya, meski mata Putra itu nampak berkaca-kaca. Yang mana hal itu tak berlangsung lama. Mata Putra yang berkaca-kaca dengan gurat kecewa dan juga sedih di sana, kini kilatnya telah berganti arti.
****
“Maafkan saya jika apa yang saya sampaikan mengecewakan anda...”
Dokter Ridwan kemudian bicara lagi, setelah sempat ikut terdiam seperti halnya Putra.
Putra yang sempat tercenung itu, kemudian kembali kepada kesadarannya lagi setelah mendengar suara Dokter Ridwan.
“Saya berat mengatakannya, tapi saya rasa sebagai suami anda perlu tahu tentang kondisi istri anda,” tambah Dokter Ridwan.
“Tak apa, Dok. Saya mengerti. Terima kasih sebelumnya,” jawab Putra kemudian sambil menahan geram yang sudah muncul dalam hatinya, namun bukan pada dokter yang sedang bicara dengannya ini.
“Sama-sama, Tuan,” sahut Dokter Ridwan. “Tapi apapun bisa terjadi atas kehendak Tuhan. Dalam hal ini kondisi Nyonya Gadis yang mungkin saja bisa mendapat mukjizat dari-Nya –“
“Ya, semoga saja,” tukas Putra.
“Selain itu, dunia medis juga terus berkembang, Tuan. Ada banyak cara yang bisa dilakukan—setidaknya mencoba, untuk mengobati Nyonya Gadis dan anda berdua dapat memiliki keturunan. Saya akan membantu anda jika anda menginginkan Nyonya Gadis mendapatkan perawatan intensif untuk itu. Dan saya kira anda cukup mampu untuk membawa Nyonya Gadis berobat di luar negeri yang memiliki dokter-dokter dan peralatan medis yang lebih mumpuni daripada di sini. Siapa tahu usaha itu akan berhasil membuat rahim Nyonya Gadis membaik.”
****
“Siapa tahu, adalah sebuah ketidakpastian yang mengarah pada ketidakmungkinan. Dan aku tidak menyukai ketidakpastian –“
“Ya, Tuan Putra? mohon maaf saya kurang jelas mendengarnya...“
Dokter Ridwan bertanya, karena ia dengar Putra berbicara, namun begitu pelan.
“Bukan apa-apa,” jawab Putra yang memang bersuara.
__ADS_1
Namun lebih kepada ia sedang menggumam sendiri.
Kemudian Putra menghela nafasnya. Menahan sesuatu dalam hatinya.
“Apa ada lagi yang ingin anda sampaikan pada saya, Dokter Ridwan?” Putra lalu mencetuskan pertanyaan pada Dokter yang sedari tadi bicara dengannya via sambungan telepon itu.
“Kiranya sudah semua, Tuan,” jawab Dokter Ridwan. “Mungkin ada yang ingin Tuan Putra tanyakan terkait apa yang tadi saya sampaikan?”
Setelahnya Dokter Ridwan bertanya pada Putra.
Dimana Putra langsung menjawab pertanyaan Dokter Ridwan tersebut.
“Rasanya tidak untuk sekarang. Namun jika ada yang menyusul ingin aku tanyakan, aku akan langsung menghubungi anda...”
****
“Baiklah Tuan Putra...”
Dokter Ridwan kemudian menyahut menanggapi ucapan Putra sebelumnya.
Pun, dokter tersebut sudah hendak berpamitan untuk memutus pembicaraannya dengan Putra.
Namun sebelum itu terjadi, Putra terdengar bicara lagi.
“Hasil tes istri saya ada pada anda saat ini, bukan begitu?”
“Iya, Tuan –“
“Kalau begitu, katakan anda dimana anda sekarang. Aku akan mengirim orang untuk mengambilnya,” potong Putra.
“Se-karang, Tuan? –“
“Ya,” tukas Putra. “Apa anda keberatan karena merasa terganggu jika aku mengirim orang untuk menyambangi anda dan mengambil hasil tes istriku yang ada pada anda saat ini?”
“Tidak, tidak, bukan begitu. Kalau masalah anda ingin mengambil hasil tes Nyonya Gadis sekarang saya tidak masalah sama sekali. Saya hanya berpikir apa tidak berbahaya jika menyusuri jalanan di daerah anda sekarang untuk sampai ke tempat saya berada ini?.. saya sendiri berada di rumah. Hanya saya sedang berada di rumah yang ada di ibukota –“
“Tidak masalah dan tidak perlu anda pusingkan soal bagaimana orang-orang saya menempuh perjalanan dari sini ke tempat anda. Saya cukup punya banyak orang terlatih yang mampu membela diri.”
“Baiklah kalau begitu, Tuan.”
****
“Baik, Dokter Ridwan, terima kasih sekali lagi saya ucapkan,” ucap Putra setelah ia selesai mencatat alamat rumah Dokter Ridwan yang sang dokter berikan langsung padanya—pada sebuah buku kecil yang memang sengaja diletakkan di dekat telepon dalam villa Putra dan keluarganya itu untuk berjaga-jaga jika kiranya ada sesuatu yang hendak ditulis atas sebuah kepentingan.
Contohnya seperti Putra yang mencatat sebuah alamat rumah.
“Saya akan segera menyuruh orang saya berangkat ke tempat anda saat ini.”
Putra berujar lagi pada Dokter Ridwan yang masih tersambung dengannya di telepon itu, dimana kemudian sahutan Dokter Ridwan terdengar dari seberang telepon. Mengiyakan ucapan Putra barusan.
“Selamat malam,” putus Putra setelahnya.
****
“Tu-an Putra...” tegur Pak Abdul takut-takut setelah Putra meletakkan gagang telepon pada tempatnya, karena Putra seketika mematung dan menatap nanar pada dinding di hadapannya. Lalu Pak Abdul berjengkit, saat suara bedebum terdengar kala Putra memukul keras permukaan buffet tempat pesawat telepon dengan tinjunya, dan wajah Putra nampak mengetat kemudian.
“Salin alamat yang barusan aku tulis itu, Pak Abdul. Tulis persis seperti apa yang aku tulis dan buat sejelas mungkin. Langsung robek kertas itu setelahnya dan bawa padaku.”
“Ba-ik, Tuan Putra –“
“Lakukan segera apa yang aku minta tadi.”
“I-ya, Tuan –“
“Ray!”
Selepas Pak Abdul menjawab dan langsung melakukan apa yang Putra perintahkan padanya sesaat lalu, Putra langsung melangkah lebar ke arah halaman belakang villa dan berseru memanggil satu orang anak buahnya.
“Maaf, Tuan Putra...”
Setelah Putra berada di halaman belakang dan nampak sudah berdiri berhadapan dengan satu anak buahnya, Pak Abdul yang melakukan dengan cepat perintah Putra untuk menyalin sebuah alamat yang sebelumnya Putra catat datang menginterupsi Putra yang nampak bicara dengan satu anak buah yang tadi dipanggilnya itu.
“Ini salinan alamat yang anda minta tadi, Tuan –“
****
__ADS_1
Putra menerima selembar kertas yang disodorkan Pak Abdul padanya itu.
“Terima kasih Pak Abdul,” ucap Putra dengan meraih cepat kertas dari tangan kepala pelayan villa Putra dan keluarganya itu. “Kau silahkan saja beristirahat, Pak Abdul...”
“I –“
“Panggilkan mereka.”
Putra tak menunggu Pak Abdul menjawab ucapannya, karena ia segera berpaling ke arah satu anak buahnya dan bicara pada yang bersangkutan.
Kemudian Putra melangkah mengekori satu anak buahnya yang tadi ia panggil setelah ia melangkah gusar menjauh dari buffet tempat pesawat telepon villa berada.
‘Tuan Putra nampak marah sekali. Sepertinya aku harus memberitahukan ini pada Tuan Damian dan Tuan Garret...’ Pak Abdul pun membatin kala Putra berjalan dengan nampak begitu tergesa mengekori satu anak buah yang biasa dipanggil Ray itu.
Lalu kepala pelayan dalam villa Putra dan keluarganya itu, melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke lantai dua.
Tepatnya Pak Abdul hendak mendatangi Damian dan Garret yang ia rasa masih berada di ruang kerja utama, untuk memberitahukan sikap Putra yang Pak Abdul lihat kegusaran dan kemarahan satu tuannya itu kian mencuat setelah ia selesai bicara di telepon beberapa saat yang lalu.
“Permisi...”
Pak Abdul yang telah sampai di ruang kerja utama villa.
“Tuan – Tuan...”sambung Pak Abdul.
Dimana Garret yang menanggapinya.
Sementara tiga sisanya memperhatikan Pak Abdul.
****
“What’s--- eum\, ada apa\, Pak Abdul?”
Garret yang bertanya pada Pak Abdul menanggapi teguran kepala pelayan di villa mereka itu padanya dan pada Damian-Arthur dan Devoss.
“Dimana Tuan Putra?...”
Kemudian diikuti oleh Arthur yang juga mencetuskan pertanyaan pada Pak Abdul, sebelum kepala pelayan itu sempat menjawab pertanyaan Garret terlebih dahulu.
“Itu, Tuan, anda semua lebih baik pergi ke lantai bawah, karena selepas menerima telepon,Tuan Putra nampak marah dan langsung berjalan buru-buru sambil memanggil Rayyan.”
Lalu Pak Abdul memberikan jawaban yang sekaligus menjawab dua pertanyaan dari Garret dan Arthur, dimana setelah Pak Abdul bicara, Garret dan Arthur yang mengerti apa yang kepala pelayan itu katakan dalam bahasa Indonesia—termasuk juga Devoss yang paham bahasa tersebut, tiga pria itu langsung nampak berdiri dari duduknya dengan ekspresi wajah agak terkejut campur penasaran.
****
“Dimana saudaraku itu saat ini?”
Garret lalu bertanya pada Pak Abdul setelah kepala pelayan itu menjelaskan apa yang didengarnya dan dilihatnya perihal Putra dari sejak satu majikannya itu menerima panggilan telepon dari seorang dokter yang bernama Ridwan.
“What’s happened (Apa yang terjadi)?”
Namun sebelum Pak Abdul menjawab pertanyaan Garret barusan, Damian menyela untuk bertanya.
Karena satu saudara angkat Putra itu belum semengerti Garret tentang bahasa Indonesia. Dan pertanyaan Damian yang belum mengerti situasi yang sedang terjadi, langsung dijawab oleh Garret.
“Pak Abdul said Putra’s look angry after he received the call (Pak Abdul mengatakan Putra nampak marah setelah selesai bertelepon)”
“Perhaps, that’s connected with the tea seed which his suspiciousness is right (Mungkin, itu ada hubungannya dengan serbuk teh yang mana kecurigaannya benar)?”
****
****
“Bagaimana, Ray?”
“Dua perempuan itu ada di rumahnya, Tuan. Dan kami telah membawa mereka ke tempat yang tadi anda bilang.”
“Hem –“
“Mohon maaf sebelumnya Tuan, jika anda ingin menghabisi mereka, biar saya yang melakukannya –“
“Tidak. Aku yang akan menghabisi mereka dengan tanganku –“
🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽
To be continue...
__ADS_1