
Happy reading ..
*********
Bruna dan Gadis sudah mencapai sebuah rumah ibadah terbesar dan tersohor di Ibukota dari sebuah agama tertentu yang merupakan satu dari dua rumah ibadah dari agama yang berbeda yang tak kalah besar dan terkenal juga, dimana rumah ibadah tersebut tidak hanya digunakan untuk fungsi yang sebenarnya untuk kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai objek wisata.
Bruna dan Gadis diantar oleh Danny dan Arthur, dan beberapa pengawal pribadi yang ditugaskan untuk menjaga dua wanita berharga dalam keluarga Putra.
‘Wow, indahnya ..’ Gadis membatin takjub kala ia telah sampai terlebih dahulu ke rumah ibadah yang Gadis ketahui sebagai tempat dimana Bruna dan Addison akan mengikat janji sehidup semati secara resmi.
“Come let’s looking around before we are going to dress up and make up!.. ( Ayo kita berkeliling sebelum berpakaian dan berdandan! .. )”
Bruna meraih satu tangan Gadis dan melingkarkan satu tangan Gadis tersebut ke tangannya. Gadis mengangguk dan tersenyum pada Bruna. “Come. ( Ayo ) ..” Sahut Gadis pada Bruna.
****
Bruna dan Gadis berkeliling di area rumah ibadah yang akan menjadi tempat acara pernikahan itu.
Gadis sekali lagi di buat takjub dengan bagaimana rumah ibadah yang Gadis ketahui tempat Bruna dan Addison akan melangsungkan upacara pernikahan itu di dekorasi dengan indahnya, meski hanya di beberapa bagian tertentu saja.
“You and Addison will have a small fete after the wedding ceremony right Bruna?. ( Kamu dan Addison akan mengadakan jamuan kecil setelah upacara pernikahan bukan begitu ya Bruna? ) ..”
Gadis bertanya pada Bruna yang di jawab dengan senyuman manis dari Bruna, sebelum satu-satunya saudara angkat Putra yang berjenis kelamin perempuan itu berbicara. “We. ( Kita )..” Ucap Bruna. “We will have that fete .. ( Kita yang akan mengadakan jamuan itu ) ..”
Gadis sedikit mengernyit.
“We? ..” Tanya Gadis.
“Hu’um” Bruna manggut-manggut.
Lalu Bruna tersenyum yang nampak memiliki arti sendiri, pada Gadis.
“Come, let’s see the backyard, where’s the fete will be held. ( Ayo, kita lihat halaman belakang, tempat dimana jamuannya akan diadakan )”
Gadis mengangguk sembari tersenyum untuk mengiyakan ajakan Bruna ke tempat yang Bruna maksud barusan.
‘Mungkin maksud Bruna dengan kita, ya kami-kami ini saja yang akan hadir di upacara pernikahannya dan Addison nanti’
Gadis pun membatin.
***
Senyuman Bruna merekah saat sudah sampai di halaman berumput rumah ibadah yang ia dan Gadis sambangi lebih dulu dari para pria di keluarga mereka, terkecuali Danny dan Arthur.
Karena keduanya ikut pergi duluan ke tempat acara bersama Bruna dan Gadis, demi menjaga kedua wanita penting dalam keluarga tempat Danny dan Arthur sudah menjadi bagian di dalamnya kini.
“How do you like it?. ( Bagaimana menurutmu? )..” Itu Danny yang bertanya. Dan Bruna langsung mengangguk antusias dan sumringah.
Danny yang mengatur segala hal tentang acara jamuan setelah upacara pernikahan nanti, sementara Arthur dengan dibantu Devoss akan memastikan segala acara dalam upacara pernikahan yang akan digelar dalam waktu beberapa jam lagi, berjalan dengan baik.
***
“So what do you think Gadis about the decoration Gadis?. ( Jadi bagaimana menurutmu tentang dekorasinya Gadis? )” Danny bertanya pada Gadis.
“Beautiful. ( Indah )”
“Do you like it?... ( Apa kamu menyukainya? )...”
Danny masih menatap Gadis dengan senyuman yang terpatri di wajahnya.
“I think it’s more than enough if I’m the one who get marry today ( Aku rasa ini lebih dari cukup jika aku yang menikah hari ini )”
Gadis pun berucap dengan nampak antusias.
“If you asked if I like it?.. ( Jika kamu bertanya apa aku menyukainya? ) ..”
Lalu Gadis menampakkan senyum sumringahnya.
“I love it ... ( Aku sangat menyukainya ) ...” Sambung Gadis. Dan Danny, Bruna serta Arthur tersenyum lebar.
Dan kemudian Gadis melanjutkan ucapannya lagi.
“But since is Bruna who wants to get marry today, and this will be her and Addison fete, then her opinion is the most important...”
( Tapi karena Bruna yang akan menikah hari ini, dan ini akan menjadi jamuannya dan Addison, maka pendapatnya lah yang sangat penting... )
“Who say?... ( Kata siapa? )...” Timpal Bruna. Dan kembali Bruna tersenyum penuh arti.
**
“Better now both of you go get inside to the room that already prepared for dressed up and else”
( Sebaiknya kalian berdua pergi dan masuk ke dalam ruangan yang sudah dipersiapkan untuk berganti baju dan sebagainya )”
Itu Arthur yang berbicara, sebelum Gadis bertanya akan maksud ucapan Bruna sebelumnya.
Gadis dan Bruna pun mengangguk. “I think you are right ( Aku rasa kau benar ), Ar...” Sahut Bruna. “We need to check up the dress and everything while there is a lot of time ... ( Kami perlu mengecek gaun dan sebagainya selagi masih banyak waktu ) ...”
“Yeah, if the wedding dress not fit, then you guys have time to ask the people from the Boutique to fix it ... ( jika gaun pengantinnya tidak cukup, maka kalian memiliki cukup waktu untuk meminta orang Butik untuk memperbaikinya )...”
Danny berceloteh dengan diiringi kekehannya.
Bruna segera mencebik pada Danny. “We’re not getting fatty ( Kami tidak bertambah gemuk ), Okay??? ...”
Danny dan Arthur pun terkekeh, begitu juga Gadis.
Hanya Gadis sedikit merasa heran dengan satu kata yang diucapkan Bruna barusan.
‘Kenapa Bruna bilang ‘we’?... Kita kan itu maksudnya?. Orang dia yang mau nikah kok ya, malah ikut membahasakan aku juga?...’
Gadis membatin. Sedikit merasa aneh.
‘Tadi Danny juga seolah membahasakan guyonannya pada Bruna dan aku ...’
Gadis juga menangkap sedikit ucapan Danny sebelumnya.
__ADS_1
‘Mungkin yang Danny maksud gaun pengiring pengantinku ya?’
Gadis kemudian tak lagi memikirkan maksud ucapan Danny dan Bruna tadi, dan ia kemudian berjalan bersama Bruna menuju ruangan yang tadi dikatakan oleh Arthur.
****
‘Eh ini...’
Gadis sudah mencapai ruangan yang ditunjukkan oleh Arthur pada suatu bagian dalam rumah ibadah yang sedang ia sambangi saat ini.
Beberapa orang sudah nampak berdatangan ke dalam ruangan tersebut saat Gadis dan Bruna sampai disana. Orang-orang yang Gadis kenali sebagai staf Butik tempat Bruna memesan gaun pengantinnya, termasuk jas pengantin untuk Addison, dan gaun serta jas untuk para pengiring pengantin juga.
Beberapa orang lain, Gadis terka sebagai mereka yang akan mendandani sang calon pengantin wanita.
“What is it? ... ( Ada apa? ) ...” Tanya Bruna pada Gadis.
Karena Bruna sempat menangkap ekspresi Gadis saat sebuah gaun pengantin baru saja dibawa masuk ke dalam ruangan tempat ia dan Gadis berada saat ini.
Gadis mengulas senyuman kepada Bruna.
“What’s wrong?. ( Ada yang salah? )” Tanya Bruna pada Gadis.
“Uumm nothing... just... ( tidak... hanya... )”
Gadis sejenak menggantung ucapannya.
Lalu melirik pada gaun pengantin yang baru saja dibawa masuk ke dalam ruangan tempatnya dan Bruna berada sekarang itu.
“The wedding dress seems different than the one that you choose. ( Gaun pengantin itu sepertinya berbeda dari yang kamu pilih )”
Bruna mengulas sebuah senyuman.
“And I remember if there someone else who already took that dress. ( Dan aku ingat kalau ada orang lain yang sudah mengambil gaun itu ) ....”
“Well, I took it from that person directly when I saw you look like ever wonder-stricken to that dress ..... ( Yah, aku mengambilnya langsung dari orang tersebut saat aku melihatmu sempat seperti terpesona pada gaun itu ... )”
Gadis menarik sudut bibirnya.
‘Memang aku terpesona sekali pada gaun itu.... Sampai berharap gaun itu bisa aku kenakan saat aku akan benar-benar menikah dengan Putra .... Aku bahkan merasa sedih saat gaun itu dipilih orang lain’
Gadis pun membatin.
'Tapi aku lebih rela jika Bruna yang mengenakan gaun indah itu daripada orang lain yang mengenakannya...Toh memang cocok dengan tubuh Bruna yang jauh lebih bagus dariku ...'
Gadis pun membatin ikhlas.
“So since I saw that you were wonder-stricken to it, I directly told Ad to take that dress before anyone else have it. ( Jadi sejak aku melihat kamu terpesona pada gaun tersebut, aku langsung mengatakan pada Ad untuk mengambil gaun itu sebelum orang lain memilikinya )...”
Bruna meneruskan ucapannya.
“So you change your wedding dress? ... ( Jadi kamu mengganti gaun pengantinmu? ... )”
“Ah that suits for the men!.... I will check it... ( Ah itu jas untuk para pria!... aku akan memeriksanya..... )”
“I will help you ... ( Aku akan membantumu.... )” Tukas Gadis.
Bruna langsung menahan Gadis.
“But why?.... ( Tapi kenapa? ..... )”
“It’s okay ... ( Tidak apa-apa ... )” Tukas Bruna pada Gadis yang tampak keheranan.
“But Bruna, it supposed to be my duty to check all things due this marriage, not you. ( Tapi Bruna, seharusnya itu menjadi tugasku untuk mengecek semua hal untuk pernikahan ini, bukan kamu )...”
Bruna tersenyum.
“I just told the Boutique staffs to put in another room for the men .... ( Aku hanya menyuruh staf Butik untuk meletakkannya di ruangan para pria .... )”
Setelahnya Bruna mengatakan hal yang terbersit di otaknya.
“The men won’t be in this room also to dress up, right?..... ( Para pria tidak mungkin juga di ruangan ini untuk berpakaian, bukan?.... )”
“So let me who.... ( Jadi biar aku saja yang ..... )”
“Ah! Arthur already handle it!... ( Arthur sudah mengurusnya! ..... )”
Bruna berujar antusias sembari menunjuk ke arah pintu ruangan dimana Arthur sudah mengarahkan para staf Butik yang membawa beberapa setelan jas untuk pergi ke ruangan yang lain.
‘Gadis will ask a lot, if she saw that there are two groom’s suits. ( Gadis akan bertanya macam-macam, jika ia melihat ada dua setelan jas pengantin pria ), Haish!’
Bruna membatin was-was.
“What is it Bruna?. ( Ada apa Bruna? )....”
“Oh nothing. I’m just a little bit nervous.... ( tidak apa-apa. Aku hanya sedikit merasa gugup... )”
Bruna tersenyum kikuk.
Gadis mengulas sebuah senyuman.
“I think that reasonable for the bride to feel nervous when the moment of marriage is almost arrive ... ( Aku rasa itu wajar bagi pengantin wanita merasa gugup saat waktu pernikahan sudah dekat .... )”
“ Yaaa... I believe so ( Aku rasa begitu ), Gadis ...”
Bruna meninggikan lagi sudut bibirnya.
‘Oh Gadis, if you know what has been waiting for you, I think you will become way more nervous than me.... ( kalau saja kamu tahu apa yang sedang menunggumu, aku rasa kamu akan jauh lebih gugup dari pada aku .... )’
***
Tiba waktunya bagi Bruna untuk di poles wajahnya. Bruna pun didudukkan di sebuah kursi yang berhadapan dengan sebuah cermin yang menyerupai cermin meja rias.
Tiga orang yang di ketahui sebagai para penata rias, sudah nampak siap untuk mendandani Bruna.
“By the way Bruna... ( Ngomong-ngomong Bruna ..... )” Cetus Gadis.
__ADS_1
Bruna pun menoleh pada Gadis sebelum ia benar-benar didandani.
“Yes? .....” Sahut Bruna.
“Where is the dress for me? .... ( Mana gaun untukku?... )”
Gadis menanyakan perihal gaun pengiring pengantin yang belum ia terima sampai sekarang, padahal Gadis rasa sudah seharusnya juga ia bersiap-siap.
Bahkan seharusnya Gadis sudah rapih terlebih dahulu dari Bruna, mengingat dirinya adalah pengiring pengantin untuk Bruna yang bertugas tidak hanya mendampingi Bruna saat upacara pernikahannya dengan Addison nanti, tapi juga punya tanggung jawab untuk memastikan acara pernikahan tersebut berjalan lancar.
Termasuk memeriksa semua kesiapan untuk acara pernikahan tersebut, meskipun sebagian besar sudah di handle oleh Danny dan Arthur, bahkan teman-teman Gadis di rumah sakit tempatnya bekerja dulu ikut membantu mempersiapkan acara pernikahan yang akan segera dilangsungkan tidak berapa lama lagi.
“I supposed to dress up now. ( Aku seharusnya berdandan sekarang ) ....” Kata Gadis.
Bruna yang sudah mulai akan di poles wajahnya itu tersenyum.
“Don’t worry about that, they will make you up right after me ( Jangan khawatir soal itu, mereka akan mendandanimu setelahku ), okay?”
“No Bruna, I supposed to be ready before you... ( Tidak Bruna, aku seharusnya sudah lebih dulu siap sebelum kamu ... )”
Gadis nampak mulai sedikit tidak tenang.
“I will ask to the Boutique Staff about my bridesmaid dress... ( Aku akan menanyakan staf Butik tentang gaun pengiring pengantinku ..... )”
Gadis celingukan.
“They are inside there right? ...”
( Mereka berada didalam sana kan? ... )
Gadis menunjuk ke satu ruangan, yang ia ketahui sebagai ruang ganti saat Bruna selesai di make-up, Bruna akan memakai pakaian pengantinnya di dalam ruangan tersebut.
“I’ll go to ask them then .... ( Aku akan menanyakannya pada mereka kalau begitu..... ). Maybe they forget to give it to me. ( Mungkin mereka lupa memberikannya padaku )...”
‘Oh Lord! ( Oh Tuhan! )’
Bruna memekik dalam hatinya saat Gadis mengayunkan langkahnya menuju ruangan tempat gaun pengantin berada.
“Gadis!” Bruna kini memekik dalam arti yang sesungguhnya memanggil nama Gadis.
Gadis sampai mengendikkan bahunya saat mendengar pekikan Bruna dengan nada suara yang panik barusan.
Tidak hanya Gadis saja, tapi para penata rias yang menangani wajah dan rambut Bruna yang ikutan terkaget-kaget.
Gadis yang terkejut karena Bruna seperti menghardiknya itu langsung menghentikan langkahnya dan segera berbalik menatap Bruna.
“Wha-what’s wrong ( Ad-ada apa ), Bruna?..”
Gadis bahkan sampai tergagap bertanya pada Bruna yang sudah berdiri dari tempatnya itu.
“Comeback here and sit still! ( Kembali kesini dan duduk diam-diam! )” Bruna yang nampak gusar itu berbicara tegas pada Gadis.
“O-okay....” Gadis yang terkejut itu mengangguk dan menyahut pelan pada Bruna yang seperti sedang menatap tajam padanya.
Gadis tak paham, mengapa Bruna menjadi gusar dengan tiba-tiba bahkan sampai menghardiknya.
“Sit and stay here close to me!. ( Duduk dan tinggal didekatku! )”
Kembali Bruna berbicara dengan tegas pada Gadis.
“O-okay....” Sahut Gadis lagi.
Gadis pun menuruti perintah Bruna tanpa membantah sama sekali dan mendudukkan dirinya di kursi tempat ia duduk tadi, di dekat Bruna sedang dirias.
‘Forgive me to snap you Gadis ... ( Maafkan aku yang membentak mu Gadis )....’
Bruna membatin.
‘I have to do that to avoid you get inside there and find your surprise before the time ... ( Aku terpaksa melakukannya untuk mencegahmu masuk kesana dan menemukan kejutan mu sebelum waktunya )...’
Bruna membatin lagi saat melihat Gadis yang nampak tertunduk dalam duduknya.
‘Oh Lord, if Putra knows that I snapped to Gadis, I think that my mean foster brother will cut off my tongue...... ( Oh Tuhan, jika Putra tahu aku membentak Gadis, aku rasa saudara angkatku yang kejam itu akan memotong lidahku ).....’
Bruna bergidik ngeri sendiri.
‘Oh no, Putra won’t be that mean to me. I’m his sister and I were pushed to do that... ( Oh tidak, Putra tidak akan sekejam itu padaku. Aku kan saudarinya dan aku terpaksa melakukannya tadi ). Snapped to Gadis... ( Membentak Gadis )....’
Bruna menghibur dirinya sendiri.
‘Hish!. Now I get more nervous imagine if Putra get mad to me because I were being rude to Gadis, than nervous to do the solemn promise with Ad ... ( Hish!. Sekarang aku malah menjadi gugup membayangkan jika Putra marah padaku karena sudah berlaku kasar pada Gadis, bahkan lebih gugup untuk bersiap mengucap janji suci dengan Ad ) ....’
Bruna juga menjadi gusar sendiri.
‘Even now me and Putra are family, but still that cold hearted and blooded guy is unpredictable ..... ( Meskipun aku dan Putra adalah keluarga sekarang, tapi tetap saja pria berhati dan berdarah dingin itu kan sukar diprediksi )....’
Kini Bruna jadi kesal sendiri sampai tanpa sadar ia bergerak gelisah di tempatnya.
“*Could* you please stop moving, Miss? ..... ( Bisakah anda berhenti bergerak, Nona? ) ...”
Salah seorang penata rias berbicara pada Bruna.
“Shut up! ( Diam! )” Bruna menyahut ketus pada si penata rias.
‘Apa Bruna terserang stres mendadak saat waktu pernikahannya sudah sangat dekat ya?’
Gadis pun membatin, karena melihat tingkah Bruna yang nampak gusar sekarang, sejak tadi juga Bruna tiba-tiba menghardiknya.
‘Apa ini sindrom menjelang pernikahan? ...’
Gadis menduga-duga dalam hatinya.
'Semoga jika aku benar-benar menikah dengan Putra suatu saat nanti, aku tidak mengalaminya...'
***
__ADS_1
To be continue...