
Happy reading..
“Send him to his Boss ( Kirimkan dia pada Bos nya )” titah Putra pada Yonna tentang pria yang baru saja dihabisi oleh Yonna itu.
“Okay.” Sahut Yonna yang kemudian langsung bicara pada anak dua anak buahnya untuk melakukan apa yang barusan Putra perintahkan.
“Come, Yonna.”
Putra kemudian berbalik dan mengajak Yonna untuk ikut keluar dari ruangan bersamanya.
“I have a job for you ( Aku ada pekerjaan untukmu )” ucap Putra dan Yonna pun langsung mengangguk, dan berjalan di belakang Garret yang ada dibelakang Putra.
Namun Garret dan Yonna menghentikan langkah mereka kala Putra menghentikan langkahnya tepat saat ia sudah berada di dekat pintu ruangan yang dapat dikatakan sebagai ruang eksekusi itu.
“What is it? ( Ada apa? )...” tanya Yonna pada Putra yang berdiri menyamping sambil matanya melihat ke arah jasad pria yang dihabisi Yonna tengah diurus oleh dua orang anak buah Yonna.
Membuat Yonna juga dengan refleks melihat ke arah yang sama dengan Putra.
Putra tidak langsung menjawab pertanyaan Yonna, dan nampak sedang memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.
“I think I change my mind ( Aku rasa aku berubah pikiran )”
Putra pun berucap tak berapa lama.
“Take me the hall Yonna, and bring him too”
“( Antar aku ke hall Yonna, dan bawa dia juga )”
Putra kembali menurunkan perintah, dan Yonna kembali mengiyakan perintah Putra tersebut.
****
“You prepare a car for you, and you go to Gie ... I want you to hit Jiltk car when they’re reach that way. Do not ‘till they get killed, but also don’t give them flash wound”
“( Kau siapkan mobil untukmu, lalu pergilah ke Gie ... Aku ingin kau menabrak mobil yang para Jiltk tumpangi saat mereka sampai di jalan itu. Jangan sampai mereka terbunuh, tapi juga jangan memberikan mereka luka ringan )”
Putra kembali meminta Yonna untuk melakukan sesuatu.
“And go right after came in to the hall ( Dan pergilah saat aku sudah memasuki aula )”
Yonna dengan cepat mengiyakan tanpa ragu permintaan Putra tersebut. Yonna memang mengenal baik dengan Putra, karena dulu mereka berlatih bersama.
Meski usia Yonna dan Putra hanya terpaut satu tahun, dimana Putra satu tahun lebih tua usianya dari Yonna.
Namun Yonna menghormati Putra selain mengagumi pria itu karena tahu betul tentang kemampuan Putra yang sangat jauh diatasnya.
Yonna juga tahu kompeten nya seorang Putra jika pria itu sudah merencanakan sebuah siasat di kepalanya. Jadi Yonna tidak sekalipun memberikan bantahan pada setiap ucapan Putra atau bahkan bertanya kenapa.
Selain itu, dari Ramone, Yonna sudah dengar bahwa Putra sekarang lah yang akan menggantikan posisi kepala keluarga dalam ‘kerajaan’ mereka.
Jadi Yonna yang sejak diselamatkan Ramone dari sindikat gangster di Rusia yang merekrut anak-anak dibawah umur untuk melakukan tindakan kriminal, dan pada akhirnya Yonna sendiri yang meminta Ramone untuk menjadikannya wanita tangguh, terutama dalam soal bela diri.
Hingga pada akhirnya Yonna merasa tertarik dalam dunia yang digeluti Ramone dan ingin menjadi abdi setia dari pria yang telah membuat Yonna hidup dengan sangat baik ketimbang saat masih terbelenggu dalam sebuah sindikat gangster kriminal di Rusia.
Meski nyatanya, dunia yang digeluti Ramone juga cukup gelap dengan bahaya yang sering mengancam.
Namun setidaknya bagi Yonna, Ramone tidak pernah memaksanya atau bahkan memintanya masuk dalam dunia tersebut.
Toh Yonna sendiri yang menginginkan hal tersebut. Dan setidaknya ia bukan disuruh melakukan tindakan kriminal tanpa sebab atau tindakan kriminal murahan seperti sebelumnya.
Bahkan Yonna kerap kali jadi korban pelecehan orang-orang yang merupakan senior di sindikat tersebut.
Jadi tekad Yonna untuk menjadi seorang wanita yang tangguh sangatlah kuat. Bahkan untuk ukuran seorang wanita, Yonna sangat kuat.
Dan inilah Yonna sekarang, menjadi salah seorang kepercayaan Ramone dimana atas hati Yonna yang seolah mati rasa akibat pelecehan yang pernah ia alami dulu, Yonna menjadi wanita tangguh berdarah dingin.
Yang tak akan berpikir panjang untuk mengeksekusi setiap musuh yang diminta Ramone untuk Yonna ‘urus’. Dan semua kemampuan yang Yonna miliki, tak luput juga dari peranan Putra yang sudah lebih dulu ada dalam kediaman Ramone saat ia dibawa ke tempat tinggal Ramone yang menjadi rumahnya juga sampai dengan saat ini.
Putra ikut andil dalam membantu Yonna menjadi wanita tangguh. Putra juga yang membantu Yonna kembali ke Rusia untuk ‘mengurus’ orang-orang yang pernah melecehkannya.
Dan Yonna terus melatih dirinya sejak itu, bahkan sejak Putra kemudian hengkang dari kediaman pribadi Ramone di Belanda untuk kembali ke Inggris. Dan mereka jarang sekali berkomunikasi sejak Putra memutuskan untuk kembali ke Inggris.
Setelahnya, Yonna memilih untuk menjadikan dirinya sebagai senjata wanita yang mematikan dan terus mengabdi pada Ramone.
Berdasarkan rasa hormat dan kekagumannya pada Putra, selain Yonna merasa hutang budi pada pria tersebut, saat ini, ketika Putra memintanya untuk melakukan sesuatu, Yonna tidak akan berpikir panjang.
Toh Yonna tahu kalau Putra adalah ‘anak emas’ nya Ramone, selain sebagai anak baptisnya. Dan memang Yonna memiliki janjinya sendiri untuk melakukan apapun yang Putra inginkan, berdasarkan hutang budinya pada Putra.
Dan lagi, meski belum diumumkan secara resmi, namun Putra lah kini yang menjadi pemimpin dalam ‘keluarga’ tempat Yonna bernaung selama ini.
Jadi, seperti halnya Yonna mengabdi pada Ramone, Yonna akan mengabdi pada Putra.
**
“You prepare a car for you, and you go to Gie ... I want you to hit Jiltk car when they’re reach that way. Do not ‘till they get killed, but also don’t give them flash wound”
“( Kau siapkan mobil untukmu, lalu pergilah ke Gie ... Aku ingin kau menabrak mobil yang para Jiltk tumpangi saat mereka sampai di jalan itu. Jangan sampai mereka terbunuh, tapi juga jangan memberikan mereka luka ringan )”
Putra kembali meminta Yonna untuk melakukan sesuatu.
“And go right after came in to the hall ( Dan pergilah saat aku sudah memasuki aula )”
Yonna pun dengan cepat mengiyakan perintah Putra itu tanpa bertanya, apalagi membantah.
“Bring few men with you, to make sure their condition right after you hit their car then get back here soon.”
“( Bawa beberapa orang bersamamu, untuk memastikan kondisi mereka setelah kau menabrak mobil mereka lalu kembali kesini dengan segera )”
__ADS_1
“Okay.”
Dan seperti sebelumnya, Yonna mengiyakan tanpa ragu permintaan Putra yang merupakan sebuah perintah juga.
“But before that, you tell Bale to hold the Jiltk until the others was left. So your job can be more easier”
“( Tapi sebelumnya, kau bilang pada Bale untuk menahan para Jiltk sampai yang lainnya telah pergi. Jadi pekerjaanmu menjadi lebih mudah )”
“Okay”
Lalu Yonna melanjutkan langkahnya, saat Putra sudah kembali mengayunkan kakinya untuk berjalan menuju aula tempat Ramone kini berada.
Dengan dua orang anak buah Yonna yang tadi ada di ruang rahasia yang sedang menyeret jasad penyusup di antara celah keduanya, yang kini juga sudah ikut berjalan di belakang Yonna dengan Garret yang berada disisi Yonna dimana keduanya mengekor di belakang Putra.
**
Jalanan menuju aula yang biasanya dijadikan tempat berkumpul para anggota ‘keluarga’ dalam bisnis Ramone sangatlah lowong. Tidak ada satupun orang terlihat selain enam orang yang sedang berjalan menuju aula tersebut.
Kediaman Ramone itu dapat dikatakan seperti tempat suci, karena Ramone tidak membiarkan orang luar mendominasi dalam kediaman pribadinya tersebut. Makanya Ramone tidak mengijinkan para tamunya membawa pengawal-pengawal mereka masuk.
Dan tentunya, Ramone yang mendominasi dunia bawah dan dikenal tegas selain selalu melakukan apa yang dikatakannya termasuk 'menghabisi' nyawa seseorang, tidak dapat dibantah perkataannya. Meski sekarang Ramone sudah menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Hanya saja, tetap, apa yang sudah dijadikan Ramone sebagai peraturan, tidak lagi dapat diganggu gugat oleh sesiapapun.
Terlihat dua orang yang sedang berdiri tegap dimasing-masing sisi sebuah pintu kembar yang cukup tinggi. Dua orang tersebut adalah bodyguard pilihan yang boleh berada dalam kediaman Ramone atas ijin langsung dari si empunya kediaman.
Yang sempat bersikap waspada saat melihat Putra, namun sebentar saja karena mereka melihat Yonna di belakang Putra.
Dan didetik berikutnya, kedua bodyguard yang berdiri bersisian di samping sebuah pintu kembar dari sebuah aula tersebut membuka pintunya lebar-lebar.
Dengan langkah pasti namun terkesan santai Putra segera memasuki ruangan yang pintunya sudah dibukakan dengan lebar itu oleh kedua bodyguard tadi.
Dimana suasana yang tadi sedikit ricuh, kemudian menjadi hening dan perhatian semua orang dalam ruangan yang duduk di meja yang nampak seperti meja jamuan yang membentuk huruf U itu langsung tertuju pada Putra.
Putra berjalan dengan meluruskan pandangannya menuju tempat dimana Ramone yang menyunggingkan senyum ke arah Putra itu duduk, mengabaikan semua mata dalam meja jamuan yang sedang menatap penuh tanda tanya atas kehadirannya.
“Wie is hij?.. ( Siapa dia? )..” Sebuah suara kemudian terdengar bertanya pada Ramone, lalu menatap Putra dengan tatapan sedikit waspada. Ramone menatap pria yang bertanya padanya itu sembari tersenyum, lalu menatap pada Putra, kemudian Ramone berdiri.
“Hij .. ( Dia ) ..”
“Sorry, Ik ben waat aan de late kant ( Maaf, aku terlambat )..” Putra keburu berbicara sebelum Ramone menyelesaikan kalimatnya.
Membuat mereka yang tidak atau mungkin belum mengenali Putra, bertanya-tanya dalam hati mereka karena melihat interaksi Putra dan Ramone yang nampak akrab dan dekat itu.
“Vader” sambung Putra.
“Wat??! ( Apa??! )”
Ramone kemudian melemparkan pandangannya kepada seluruh orang yang berada dalam lingkaran meja jamuan bersamanya, terkecuali pada Balin yang sedang memeluk Putra dan kemudian sedikit menyingkir dari tempatnya karena Yonna memberinya kode jika ada yang ingin Yonna sampaikan padanya.
Putra ikut menatap setiap orang yang duduk di meja jamuan sembari melemparkan sapaan.
Berdiri tegak disisi Ramone yang kini sudah merangkul satu pundaknya, Putra menatap satu-satu orang yang ada di hadapannya dengan pandangan tajam.
“Ik Putra ..”
“Mijn doper zoon ( Anak baptisku )”
Ramone segera menyambar dengan menyunggingkan senyuman.
“Ah nee ( bukan ) ..” ralat Ramone yang kini menoleh pada Putra. “Niet allen doper zoon, hij is mijn zoon .. ( Bukan anak baptisku, tapi anak lelakiku ) ..”
“En ik ben hier, om mijn Vader te vervangen ( Dan aku disini, untuk menggantikan ayahku )” ucap Putra tanpa ragu.
Putra menatap orang-orang dihadapannya sembari tersenyum miring.
“Dus gehoorzam me of vecht tegen me ( Jadi patuhi aku, atau lawan aku )”
Dan tatapan tidak terima pun dengan cepat ditangkap mata Putra dari beberapa orang yang kemudian saling lirik seperti memberi kode.
Sementara sisanya langsung berdiri, dan menyambut antusias keberadaan Putra yang sudah mereka kenal sejak lama, hanya memang tidak mengenali Putra yang kini sudah menjadi pria dewasa.
Putra kemudian menatap pada empat orang yang belum beranjak dari kursi mereka untuk menyalami Putra seperti beberapa pria lainnya yang nampak antusias dengan kehadiran Putra.
Putra pun melemparkan sindiran untuk ke empatnya, yang kemudian menyunggingkan senyum yang nampak terpaksa, lalu berdiri dari duduk mereka dan terlihat malas-malasan meski empat orang itu coba tutupi.
Hanya tiga saja yang berdiri, tiga pria paruh baya saja yang baru berdiri dari duduknya. Karena satu pria muda dari empat pria yang disindir Putra sedang menatap sangat tak suka pada Putra bergeming di tempatnya.
( Selanjutnya percakapan di Indonesiakan yah. Harap maklum authornya Cuma paham bahasa Inggris doang. Hehe )
( Sekaligus Authornya lagi ogah puyeng )
“Duduk saja, tidak perlu menyalamiku jika tidak ingin.”
Putra berbicara pada tiga pria paruh baya yang baru saja berdiri itu.
“Jangan tersinggung, kami hanya kaget.”
Salah seorang dari tiga pria paruh baya itu berdalih.
“Tidak mengapa. Aku mengerti. Kembalilah ke kursi kalian.”
Putra menyahut datar. Dan tiga orang pria paruh baya tersebut tersenyum canggung dan kembali duduk di kursi mereka semula.
“Aku rasa keputusan siapa yang akan menjadi pemimpin selanjutnya harus dibicarakan dengan seluruh keluarga dan melakukan pengambilan suara jika perlu.”
Pria muda yang bergeming di tempatnya itu kemudian bersuara. Membuat semua mata kini menatap padanya.
__ADS_1
“Lagipula, bukankah dia tidak berdarah yang sama dengan kita? Tidak mungkin keluarga ini dipimpin oleh ‘orang luar’ sekalipun dia anak angkatmu, Tuan Ramone”
“Dan kau sendiri?”
Putra langsung menimpali perkataan pria muda yang barusan berbicara dengan menyampaikan penolakannya.
“Meskipun kau ‘berdarah’ sama, tapi kehadiranmu disini bahkan dikatakan sebuah kelancangan dari ayahmu yang seenaknya membawamu masuk dalam keluarga ini”
Putra menyambung ucapannya.
“Kau ..”
Pria muda itu nampak tak senang mendengar kalimat Putra.
“Kau dan ayahmu yang bisa dikatakan sebagai orang luar jika aku ingin membahasnya, karena aku sudah lebih dulu berada dalam keluarga ini sebelum ayahmu masuk”
Putra tersenyum miring.
“Kau disini karena mengiba pada ayah baptisku ini untuk dapat diterima oleh kami beberapa tahun yang lalu. Bukan begitu, Tuan Henrick Jiltk?”
Dimana pria muda tersebut kemudian langsung terdiam saat Putra berucap tajam sembari menatap juga pada pria paruh baya disamping pria muda yang berargumen tadi.
Dan pria paruh baya yang Putra ajak bicara itu nampak kikuk dan tersenyum canggung.
“Jikapun diantara kalian ada yang tidak terima, aku rasa kalian paham posisi.” Sambung Putra.
Mereka yang menyambut Putra dengan antusias pun manggut-manggut. Sementara empat orang yang nampak tidak terima terdiam kelu.
“Karena apapun yang ayah baptisku katakan adalah sebuah keputusan tunggal miliknya yang tidak dapat diganggu gugat. Dan aku rasa kalian paham alasannya.. terutama kau, Tuan Henrick Jiltk”
Dan pria yang disebutkan namanya oleh Putra barusan kemudian manggut-manggut sembari tersenyum hambar. Karena pria bernama Henrick Jiltk tersebut paham betul jika posisinya dalam keluarga bisa dibilang adalah yang terendah diantara yang lainnya.
Karena itu Henrick sangat berambisi untuk menaikkan posisinya dalam ‘keluarga’ tempat dimana Ramone yang menjadi kepala keluarganya. Dan ingin menyingkirkan Ramone dengan berbagai cara, termasuk menghasut beberapa anggota ‘keluarga’ untuk melancarkan rencananya menyingkirkan Ramone dengan cara yang ‘halus’.
Terlebih yang ia tahu Ramone mengidap suatu penyakit, yang dapat ia pakai sebagai alasan untuk pengalihan bisnis Ramone serta membaginya. Dan jika itu terjadi, ia akan mengambil apa yang sudah dibagi Ramone pada tiap anggota keluarga dengan cara apapun untuk menaikkan serta menguatkan posisinya, meski dengan cara kotor sekalipun.
Hanya saja ia benar-benar tidak mengingat tentang adanya Putra dalam hidup Ramone Zeeman. Dan juga Henrick tidak sampai berpikir, jika anak muda yang pernah ia temui beberapa kali di kediaman pribadi Ramone, adalah anak emas si kepala keluarga yang menjadi raja dalam keluarga di lingkup bisnis Ramone.
Dan kini, si anak emas itu telah ditunjuk Ramone secara langsung dibelakangnya untuk menggantikan posisi Ramone sebagai kepala keluarga.
Seseorang yang menjadi penghalang terbesarnya untuk menguasai ‘kerajaan’ Ramone. Dan Henrick sedang merutuk dalam hatinya atas itu.
Namun kemudian ia menyungging miring saat Putra mengangkat gelas wine milik Ramone yang sudah terisi cairan berwarna merah lalu Putra menenggaknya tanpa ragu, setelah Ramone mengajak untuk bersulang.
‘Kekuasaanmu akan berakhir dalam beberapa jam saja anak muda.’ Batin Henrick Jiltk dengan senyuman kepuasan disana, namun ia menunjukkan sikap normal di luar saat melihat Putra menenggak wine dari dalam gelas yang dipegangnya.
Begitu juga tiga orang yang berada di pihak Henrick Jiltk, yang sama sedang merasa diatas angin dan bersorak dalam hati mereka.
“Maaf aku minum duluan dan maaf karena meminum wine mu Vader, aku sangat haus.” Ucap Putra sembari menoleh pada Ramone, yang memberikan kode dengan tangannya, silahkan saja. Dan empat orang yang tadi tidak menyambut Putra dengan baik, menyeringai lebar dalam hati mereka.
‘Kau saja dulu yang mati, beserta para keparat setia Ramone ini. Setelahnya aku akan dengan mudah menyingkirkan Ramone!’
Henrick Jiltk membatin lagi.
“Sekarang, mari kita bersulang.”
Putra mengangkat gelasnya setelah meminta seorang pelayan dari beberapa yang berdiri sigap dalam ruangan untuk menuangkan lagi wine dari dalam botol yang dilirik penuh arti dengan seringai dalam hati mereka.
‘Matilah kau!’
Empat orang yang menyeringai lebar dalam hatinya itu sama-sama membatin.
“Mari bersulang, dan aku pastikan wine yang akan kalian minum tidak tercampur racun didalamnya ..”
Dimana ucapan Putra membuat empat seringai dalam hati itu sontak menghilang dan berganti keterkejutan.
“K-kau katakan apa tadi? ..” Henrick bertanya ragu, nampak gugup. Namun ia berlagak kaget mendengar ucapan Putra barusan.
“Aku bilang, mari bersulang, dan aku pastikan wine yang akan kalian minum tidak tercampur racun didalamnya ..”
Putra tersenyum tipis penuh arti.
“Mak-maksudmu?..” salah seorang dari kubu keluarga yang setia pada Ramone yang nampak terkejut itu, juga meminta penjelasan dari Putra.
“Maksudku Paman ..” ucap Putra. “Ada yang ingin membunuh kita semua hari ini.” sambung Putra dan ia menyunggingkan senyum. “Ah, bukan semua. Beberapa diantara kita saja.”
Dan tentu saja aura keterkejutan langsung menyelimuti ruangan tersebut.
“Maksudmu ada pengkhianat dalam keluarga ini?!” salah seorang dari kubu Ramone kemudian memekik dan tampak geram.
“Mungkin saja.”
Putra tersenyum miring, para anggota dalam kubu Ramone tentunya ricuh, dan empat orang yang kini sedang merasa terancam sedang was-was dalam hatinya.
Namun tentu saja mereka menutupinya dengan juga berlagak terkejut, lalu kalimat provokasi keluar dari salah satu diantara mereka, hingga orang-orang yang pro dengan Ramone jadi saling mencurigai satu sama lain.
‘Setidaknya ada sedikit keributan yang akan terjadi..’ itu Batin Henrick yang otaknya juga sudah punya rencana licik. ‘Jika mereka saling mencurigai, setidaknya untuk sekarang kami selamat,’ Henrick membatin lagi.
“Rasanya, jika ada yang patut dicurigai .. kaulah orangnya!”
Dan semua mata kini memandang pada Putra, saat anak lelaki Henrick berdiri pongah dari duduknya.
Dengan jari telunjuknya mengarah pada Putra yang ia tuding secara langsung dihadapan Ramone dan semua yang berada di aula.
**
To be continue...
__ADS_1