LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 82


__ADS_3

Happy reading.......


♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠


Damian yang memang berada didekat Putra saat Putra terdengar seperti mengancam Arthur sebelum pria yang baru bergabung bersama mereka itu kemudian pergi menumpangi mobil Dalu yang dikendarai salah seorang anak buah, itu kemudian terkekeh.


“Some kind of pleasure to make Arthur nervous ( Senang sekali membuat si Arthur gugup ), huh? ...” Celetuk Damian.


Putra terkekeh kecil.


“Bearable for a consolation .. ( Lumayan untuk hiburan ) ..” Sahut Putra.


“Better not too often, cause I’m afraid Arthur might get stress out! ( Sebaiknya jangan terlalu sering, karena aku takut kalau Arthur jadi stres! )”


Putra dan Damian tergelak bersama kemudian.


**


Anthony datang dengan setengah berlari dari arah dalam Villa seraya memanggil Putra dengan antusias.


“Papaa!!” Seru Anthony.


Hop!


Putra menangkap dan langsung mengangkat tubuh Anthony kala bocah tersebut sudah berada didekatnya.


“What makes this young man looks so viable ( Apa yang membuat anak muda ini begitu bersemangat ), hem?”


Damian yang bertanya pada Anthony yang sudah dalam gendongan Putra seraya mereka memasuki Villa.


“Papa said that will settle my room, don’t you remember Papa? ( Papa bilang akan merapihkan kamarku, ingat, kan Papa? )”


Anthony berkata sembari menatap lekat-lekat wajah Putra. “Am I? ( Memang ya? )” Putra berlagak lupa.


“Yes, Papa! You said you will ask Pak Abdul to do that ( Papa bilang akan meminta Pak-Abdul untuk melakukannya )”


“Heemmmm” Putra membuat mimik wajahnya seolah sedang sangat mencoba untuk mengingat-ingat perkataan Anthony.


“You promise Papa!... ( Papa sudah janji! )”


Putra dan Damian sama-sama terkekeh melihat Anthony yang tengah merajuk itu.


“Alright, Alright ... ( Baiklah, baiklah ) ...” Ucap Putra dan membuat Anthony mengurai senyuman yang lebar.


“Yeaayy!!...”


**


“Pak Abdul, setelah ini saya ingin berbicara denganmu dan Suheil di ruang kerja” Ucap Putra saat Pak Abdul selesai melepaskan kain putih yang menutupi barang-barang dalam kamar yang memang sudah dipersiapkan untuk


Anthony.


Putra juga ikut membantu Pak Abdul karena Anthony memaksa untuk ikut membantu merapihkan kamar baru untuknya itu.


“Baik, Tuan Putra... Saya akan bilang pada Suheil kalau begitu”


Putra pun mengangguk. Lalu Pak Abdul undur diri untuk membawa kain putih penutup yang tadi ia lepaskan bersama dua tuannya itu ke tempat pencucian dalam Villa.


Sementara Putra melanjutkan menemani Anthony yang nampak antusias dalam kamar barunya yang akan sedikit di renovasi interiornya itu. Garret dan Damian juga ikut bergabung dengan Putra dan Anthony.


Sementara Addison dan Bruna sedang bersiap-siap pergi untuk mengurus sesuatu yang berkenaan dengan restoran yang setengah kepemilikannya adalah milik mereka atas usaha Addison.


**


Beberapa waktu kemudian


“Duduklah, Pak Abdul, Suheil” Ucap Putra mempersilahkan kedua asisten rumah tangganya yang merupakan ayah dan anak itu untuk duduk di sofa dalam ruang kerja, setelah mereka datang menghadap menemui Putra seperti yang sebelumnya Putra katakan pada Pak Abdul.


Garret dan Damian masih menemani Anthony karena bocah tersebut masih asyik melakukan sesuatu pada kamar barunya itu.


“Biar kami berdiri saja, Tuan” Sahut Pak Abdul dan Suheil bersamaan, namun mata Putra memberikan sorotan agar mereka berdua tidak membantah perkataannya.


Melihat sorot mata Putra itu, Pak Abdul dan Suheil pun akhirnya mendudukkan diri mereka di sofa. Takut, jika Tuan mereka tersebut merasa tersinggung jika mereka berdua tetap menolak untuk duduk.


Terlebih Suheil yang kini memiliki ketakutannya sendiri pada Putra setelah melihat apa yang satu tuan, beserta tiga tuan lainnya di rumah Baskoro itu semalam.


Ditatap dengan sorotan yang sedikit tajam meski wajah Putra nampak datar saja, tetap Suheil merasa ngeri.


**


“Kau nampak tegang sekali Suheil?” Ucap Putra yang menyadari sikap Suheil itu.


“Ti – dak .. kok Tuan ....”


Suheil menyahut dengan sedikit terbata dan menggeleng kaku. Putra menarik sudut bibirnya.


“Ini...”


Putra mengeluarkan beberapa amplop yang nampak tebal dari laci sebuah nakas di sampingnya.


Lalu menyodorkan nya di atas meja di depannya, ke arah Pak Abdul dan Suheil.


Membuat Pak Abdul dan Suheil sebentar saling tatap dan nampak heran.


“Dua amplop ini berikan pada dua pekerja Baskoro yang kami bawa semalam ... aku rasa ini cukup untuk biaya hidup mereka selama beberapa bulan ke depan, atau jika mereka ingin memulai usaha kecil – kecilan”

__ADS_1


Putra menatap Pak Abdul saat menyodorkan dua amplop tersebut pada pria yang selama ini melayaninya, Anthony berikut tiga saudara lelaki dan satu saudarinya. Pak Abdul pun mengangguk. “Baik Tuan Putra” Sahut Pak Abdul. Lalu Putra menyodorkan tiga amplop lagi setelahnya.


“Dan tiga amplop ini untuk Pak Abdul, Suheil dan Ibu Marsih” Ucap Putra seraya menyodorkan lebih dekat tiga amplop lain pada Pak Abdul dan Suheil yang kemudian sontak saling tatap sebentar dan sama – sama mengernyitkan dahi mereka.


“I – ni ... Maaf Tuan Putra, gaji kami kan sudah Tuan berikan beberapa hari yang lalu? ... lalu ini maksudnya apa Tuan? ....” Pak Abdul yang bicara dengan canggung pada Putra.


“Anggap saja ini bekal kalian agar kalian juga bisa hidup dengan baik, tanpa lagi harus bekerja melayani orang lain setelah dari sini...”


“Mak – sud Tuan Putra, saya dan Suheil beserta istri saya diberhentikan dari sini Tuan? ...” Ucap Pak Abdul lagi.


“Ya” Sahut Putra. “Saya rasa Suheil sudah menceritakan pada Pak Abdul dan Ibu Marsih tentang apa yang sudah kami lakukan pada Baskoro”


**


Flash back....


“Pak!” ( Suheil ).


“Ada apa?” ( Pak Abdul ).


( Suheil mengatur nafasnya sejenak, dimana Pak Abdul melirik ke satu arah ).


“Itu mereka siapa, Su?” ( Bertanya tentang dua orang paruh baya yang dibawa Suheil dan nampak gemetaran ). “Terus mereka itu kenapa seperti ketakutan begitu?”


( Suheil menghela nafasnya, lalu, menarik pelan Pak Abdul untuk bicara ).


“Mereka itu orang yang kerja ditempatnya Baskoro ...” ( Jawab Suheil ).


“Lah terus kenapa dibawa kesini?..”


“Ga tau alesan nya. Tuan Putra suruh bawa ya, aku bawa! ...”


“Mau dipekerjakan disini?”


“Aku ga tau kalo soal itu ... tapi ada hal lain yang mau aku omongin ini ke Bapak!...”


 ( Suheil berbicara dengan berbisik ).


“Apa?” ( Tanya Pak Abdul ).


“Kita ini kayaknya kerja sama gengster, Pak!”


“Jangan ngomong sembarangan kamu!”


( Pak Abdul mendelik pada anaknya itu seraya berbicara dengan berbisik juga ).


“Ya Alloh Pak, serius ini ngomong! Bapak pikir mereka itu ketakutan kenapa?!”


“Kenapa memang?!”


“Memang Tuan Putra ngapain sampai kamu syok?”


“Bapak tau? Itu Rumahnya si Baskoro di bakar, se – Baskoro – Baskoronya ikut di bakar juga dalem rumahnya itu!”


“Hah?! Yang bener kamu, Su?!”


“Ya Alloh Pak, aku boong buat apa?! Bapak tanya aja itu sama mereka berdua! ... belom lagi Pak, semua anak buah Baskoro sama itu ada tuh satu orang bapak – bapak tamunya Baskoro, ada tuh orangnya dibawa Tuan Putra ke kandang kuda, orang penting kayaknya kalo liat dari bajunya!... Tangannya di  patahin sama Tuan Putra, terus ditembak itu kakinya ...”


“.....”


“Nah anak buahnya dia juga itu semuanya ditembak mati sama Tuan Putra, Tuan Edison, Tuan Damien, sama Tuan Gerret! Terus ikutan dibakar didalem rumah Baskoro!”


( Pak Abdul meneguk salivanya ).


“Beneran itu Su?!”


“Bener Paaakkk! Ga percaya banget!. Aku emang ga liat pas lagi tembak-tembakan, aku disuruh tunggu dimobil, terus aku denger suara tembakan berkali-kali, ya aku pasrah kalo misalnya itu majikan kita jadi korban terus aku dibunuh juga, lah orang kalah jumlah...”


“.....”


“Tau-tau Tuan Putra dan yang lainnya keluar dari dalem rumahnya Baskoro dengan keadaan sehat wal afiat sambil itu Tuan Artur nyeret itu bapak yang dibawa ke kandang kuda itu ...”


“.....”


“Terus Tuan Putra nyuruh aku amanin dua orang itu kan, nah pas nyuruh itu kingkong – kingkong yang dibawa Tuan Artur siramin bensin ke rumahnya Baskoro abis itu dibakar, aku denger itu omongannya Tuan Putra ke itu bapak


tamunya Baskoro .. Serem – lah pokoknya!”


( Suheil menjeda ucapannya sembari mengusap kasar wajahnya ).


“Gengster kan itu Pak kalo kejem begitu?!” ( Ucap Suheil takut – takut sembari tetap berbicara dengan berbisik pada ayahnya itu ).


“.....”


“Aku sebenernya udah takut Pak, waktu liat Tuan Putra punya pistol. Tapi aku ga sampe berpikir kalo itu pistol beneran dipake buat nembak orang tanpa ampun loh, Pak!..”


( Suheil terus nyerocos pada ayahnya itu dengan raut wajah paniknya ).


“Dari apa yang aku saksikan di tempat Baskoro Pak, Majikan kita itu, Tuan Putra dan yang lainnya rasanya ya itu Pak, Gengster!”


( Pak Abdul menarik nafasnya yang kemudian ia hembuskan ).


“Terus kenapa kalo mereka memang Gengster seperti yang kamu bilang?”


“Bapak ga takut emang kalo kerja sama kelompok nyeremin itu?!...”

__ADS_1


“Yang Bapak tau, selama ini Tuan Putra, Tuan Edison, Madam Bruna, Tuan Damien, Tuan Gerret baik sama kita orang. Orang tua Tuan Putra juga baik sama kakek dan nenek kamu dulu, dan lagi Tuan Putra yang bayarin utang kita sama lintah darat di kota, Su. Jadi Bapak ga perduli apapun latar belakang majikan kita itu, yang penting selama ini dia baik kok sama kita”


“Iya emang sih Pak ....”


“Kita bahkan sering diajak duduk makan bareng sama mereka. Kamu bahkan ditawarin buat sekolah lagi sampe ke tingkat tinggi, Su!. Jadi Bapak, rasanya Ibu juga ga mau perduli lah, gimana latar belakang majikan kita itu. Kita kerja di tempat lain belum tentu diperlakukan hormat seperti majikan kita ini sekarang, Su! ....”


“Iya sih Pak ... cuman ya aku syok aja ngeliat yang terjadi di rumah Baskoro itu ..” ( Suheil menghela nafasnya ).


“Bapak akan tetap bekerja disini selama Tuan Putra dan yang lainnya itu mau mempekerjakan Bapak dan Ibu, ga perduli siapa itu mereka. Yang Bapak tau mereka baik sama kita, dah itu lebih dari cukup! ...”


“Iya Pak ..”


“Lagipula kalo emang si Baskoro sama anak buahnya yang songong – songong itu dibunuh sama Tuan Putra, yang baguslah! Berkurang orang jahat yang ada disini! Mereka yang ditindas Baskoro bisa hidup lebih tenang kan sekarang?.... Coba pikir berapa banyak orang itu yang selamet idupnya kalo si Baskoro mati?. Ga perlu lagi kerja rodi dan diperlakukan seenak udelnya sama si Baskoro itu!”


( Suheil pun manggut – manggut ). “Bener juga ya Pak? ..” ( Ucap Suheil ).


A Flash back off....


**


“Dan tiga amplop ini untuk Pak Abdul, Suheil dan Ibu Marsih”


“I – ni ... Maaf Tuan Putra, gaji kami kan sudah Tuan berikan beberapa hari yang lalu? ... lalu ini maksudnya apa Tuan? ....”


“Anggap saja ini bekal kalian agar kalian juga bisa hidup dengan baik, tanpa lagi harus bekerja melayani orang lain setelah dari sini...”


“Mak – sud Tuan Putra, saya dan Suheil beserta istri saya diberhentikan dari sini Tuan? ...” Ucap Pak Abdul lagi.


“Ya” Sahut Putra. “Saya rasa Suheil sudah menceritakan pada Pak Abdul dan Ibu Marsih tentang apa yang sudah kami lakukan pada Baskoro”


Putra menyunggingkan senyumnya.


“Benar bukan?”


“Iya benar Tuan ..”


“Jadi saya mengerti jika Pak Abdul, Suheil dan Ibu Marsih merasa enggan untuk tetap bekerja pada kami disini, setelah Suheil melihat bagaimana kami sebenarnya”


“Dengan segala hormat Tuan Putra, saya, Suheil dan Ibu Marsih, sudah membicarakan soal ini semalam. Kami bertiga ini, rasanya tidak perduli bagaimana, apa, siapa dan latar belakang Tuan Putra, Tuan Edison, Madam Bruna, Tuan Damien, Tuan Gerret ...”


“Bapak bener Tuan Putra, kami, kalo emang masih boleh dan Tuan serta keluarga ini tetep mempekerjakan kami, ya kami tetep mau kerja disini Tuan ...”


“Apa kalian yakin tetap mau bekerja disini?”


“Yakin Tuan Putra”


“Hemm ..”


“Kami akan sepenuhnya mengabdi pada Tuan dan keluarga disini” Ucap Pak Abdul.


“Ya sudah jika memang itu keputusan kalian bertiga”


“Jadi kami masih boleh bekerja disini kan Tuan?! ...”


“Tentu saja. Saya justru merasa senang jika kalian tetap ingin tinggal bersamaku dan keluargaku ini, disini, mengingat kami sudah merasa nyaman dengan kalian”


“Terima kasih Tuan! Terima kasih!”


“Kami yang seharusnya berterima kasih pada Pak Abdul, kau, Suheil dan Ibu Marsih”


Putra bangkit dari duduknya dan menghampiri Pak Abdul serta Suheil yang langsung ikutan berdiri saat melihat Putra bangkit dari duduknya.


“Ya sudah Pak Abdul dan kau, Suheil silahkan melanjutkan apa yang kalian kerjakan kalau begitu”


“Baik Tuan, kami permisi”


“Tunggu!”


“Iya, Tuan? ...”


“Ini”


Putra mengambil tiga amplop yang ditinggalkan oleh Pak Abdul dan Suheil diatas meja.


“Ambillah. Untuk kalian”


“Tidak Tuan Putra, dengan segala hormat, kami tidak bisa menerimanya ...” Tolak Pak Abdul.


“Ambillah. Karena aku tidak suka penolakan. Anggap saja ini uang ekstra untuk kalian”


“Te – rima kasih Tuan Putra! ....”


“Sama – sama”


Lalu Pak Abdul dan Suheil pun mohon diri dari hadapan Putra, dimana disaat yang sama Ibu Marsih menyambangi ruang kerja.


“Maaf Tuan ...”


“Iya, ada apa Ibu Marsih?”


“Itu Tuan, ada polisi datang!”


**


To be continue ......

__ADS_1


__ADS_2