
Happy reading....
Siang yang indah telah Putra habiskan melepas rindunya bersama Gadis.
Bahkan hingga sampai ia dan Gadis akhirnya terlelap karena pergulatan panas di siang hari, tidak ada gangguan apapun dari Anthony meskipun Putra sudah mengantisipasi dengan mengunci pintu.
Baik itu pintu utama kamarnya dan Gadis, ataupun pintu penghubung kamar mereka dengan Anthony.
Tapi ternyata, seolah anak angkat kesayangan dan satu-satunya itu tahu, jika papa dan mamanya butuh waktu berdua.
***
Sore telah datang ..
Villa yang menjadi kediaman Putra dan keluarganya yang mungkin akan menjadi tempat tinggal permanen mereka nampak sunyi sore ini.
Seluruh penghuninya berada di peraduan mereka masing-masing. Anthony pada akhirnya tidur siang juga bersama Addison dan Bruna di kamar mereka.
Anthony yang katanya pada Putra tidak mengantuk, akhirnya terlelap juga dengan sendirinya di ruang santai keluarga, selang beberapa waktu, tak berapa lama Putra dan Gadis berpamitan.
Mungkin efek perut yang kenyang, dan agak letih bermain di air terjun, jadi Anthony tahu-tahu sudah terlelap begitu saja saat masih bersama Addison, Bruna dan Damian di ruang santai.
Jadi Addison dan Bruna memutuskan untuk membawa Anthony ke kamar mereka saja, karena paham pasti Putra dan Gadis sedang ‘sibuk’ di kamar mereka.
Dan yah, memang benar adanya.
Putra melanjutkan kegiatan nikmatnya bersama Gadis yang tadi sempat terjeda karena Anthony.
Dan gerimis yang turun dari langit seolah menambah kesyahduan sepasang suami istri yang memadu kasih di siang hari.
Lalu baru terlelap setelah peluh membanjiri tubuh keduanya kala pelepasan luar biasa karena bercampur rindu telah Putra dan Gadis dapatkan.
Dan rintik hujan yang tadinya berupa gerimis saja, sore ini agak menderas, hingga mereka, tak hanya Putra dan Gadis, seolah terhipnotis oleh udara sejuk yang dihembuskan hujan ringan di luar Villa, untuk masih memejamkan mata mereka.
***
“Sayang.”
Putra menggumam sembari tersenyum kecil kala ia membuka mata dari tidur siangnya, yang dibumbui pergulatan panas bersama Gadis sebelumnya.
Cup.
Sebuah kecupan tipis, Putra daratkan di kening Gadis yang berada dalam dekapannya itu.
Lalu Putra beringsut perlahan dari tempatnya, dan meraih celana rumahan yang tadi ia lepaskan dan berada di lantai dekat ranjang lalu ia kenakan lagi.
Gadis masih nampak pulas dalam tidurnya.
***
Putra membuka pintu penghubung kamar pribadinya dan Gadis dengan kamar pribadi Anthony. Dan ia merasa sedikit heran karena tidak melihat Anthony ada disana.
“Where is Anth? ( Dimana Anth? ) ....”
Putra bergumam.
“Tuan Putra ....”
Itu Pak Abdul yang menyapa Putra, saat Putra keluar dari kamar Anthony untuk mencari tahu dimana bocah tampan tersebut.
Kebetulan memang Pak Abdul ingin menyambangi Tuannya itu karena ingin menanyakan satu hal pada Putra.
“Pak Abdul .... apa Pak Abdul tahu dimana Anth? ....”
Putra pun bertanya pada asisten rumah tangganya yang sudah ia putuskan menjadi kepala pelayan di Villa. Yang kebetulan ada saat Putra keluar dari kamar Anthony.
“Tuan Muda berada di kamar Tuan Addison dan Madam Bruna, Tuan.”
“Ya sudah kalau begitu ....” ucap Putra. “Ngomong-ngomong apa Pak Abdul kesini ingin bertemu denganku?”
“Iya Tuan Putra .... saya memang ingin bertemu dengan anda untuk bertanya perihal makan malam Tuan. Karena sepertinya Madam Bruna dan Nyonya Gadis masih beristirahat, jadi saya ingin menanyakan apa Marsih dan Minah saja yang mulai menyiapkan makanan untuk makan malam?”
Pak Abdul menjelaskan maksudnya.
“Minta Ibu Marsih dan Ibu Minah saja yang menyiapkan makanan untuk makan malam kita semua, Pak Abdul. Aku rasa Bruna dan Gadis akan bangun terlambat dan tidak akan sempat untuk menyiapkan makan malam.”
Putra pun segera memberi keputusan.
__ADS_1
“Baik, Tuan Putra.”
Pak Abdul menyahut dan mengangguk paham. Kemudian pria kepala pelayan itu pamit undur diri dari hadapan Putra.
“Saya permisi kalau begitu.” Pamit Pak Abdul.
Putra pun mengangguk samar pada kepala pelayan di Villa miliknya dan keluarganya itu.
“Ehm Pak Abdul,” panggil Putra saat Pak Abdul telah berbalik dan berjalan tiga langkah dari hadapannya.
“Iya, Tuan? ....”
Pak Abdul dengan segera menghentikan langkahnya dan berbalik, serta berjalan kembali mendekat pada Putra.
“Jika ada dari keluargaku yang sudah bangun dan menanyakan diriku serta istriku, katakan saja jika kami masih tidur.”
Dan Pak Abdul langsung mengiyakan ucapan Putra yang sedang memiliki sebuah rencana di kepalanya hingga membuatnya mengulum senyum dengan samar.
“Baik, Tuan Putra, akan saya sampaikan seperti yang Tuan perintahkan tadi jika ada yang sudah terbangun dan menanyakan Tuan Putra serta Nyonya Gadis ....” ucap Pak Abdul, tanpa banyak bertanya.
Dan Putra, lansung saja berbalik masuk ke dalam kamar pribadi Anthony, untuk masuk kembali ke kamarnya dan Gadis melalui pintu penghubung yang mempersatukan dua kamar tersebut.
**
‘Nyenyak sekali tidurnya, istriku yang menggemaskan ini ....’ batin Putra saat ia sudah berada di kamarnya, dan sudah juga mendekat pada ranjangnya, dimana Gadis masih nampak pulas di atas sana.
Lalu Putra kembali menaiki ranjangnya dan menyelusup dengan pelan ke dalam selimut, dimana tubuh Gadis yang masih polos tak berbusana itu, tetap pada posisinya saat Putra tinggalkan tadi. Kala ia mengecek Anthony di kamar pribadi anak angkat kesayangannya itu.
“Kepala bantal sekali ....”
Putra yang sudah berada kembali di atas ranjang dan di balik selimut itu menggumam seraya mengelus pipi Gadis.
Putra tersenyum sembari memandangi Gadis. Ingin mengganggu istrinya itu, tadi pikirnya. Namun melihat Gadis yang masih nampak pulas dan ingat jika Gadis kurang istirahat, sepertinya Putra hendak mengurungkan niatnya.
Cup.
Putra mengecup singkat kening Gadis.
Tadinya, Putra hanya ingin mengecup kening Gadis saja.
Terlebih Gadis bergerak dan mendekapnya, hingga leher mulus berbintik merah itu benar-benar dekat dengan wajah Putra.
Ingin sekali saja mengecup, tapi ternyata Putra tidak merasa cukup.
“Eennngg ..”
Gadis nampak terusik dengan kecupan-kecupan tipis yang Putra daratkan di lehernya.
Membuat Putra menghentikan aksinya, lalu memandangi Gadis dengan penuh arti sambil menyunggingkan senyuman.
Cup.
Sebuah kecupan singkat kini Putra daratkan di bibir Gadis.
“Jam, berapa ini?...”
Pada akhirnya perlahan mata Gadis terbuka, dan terbangun dari tidurnya akibat kecupan-kecupan Putra di leher, juga bibirnya, yang membuat tidur Gadis terusik.
“Masih sore...” jawab Putra.
Dengan masih menampakkan senyumnya, sembari tangan Putra menelusuri wajah Gadis yang nampak menggemaskan dengan rambut yang sedikit acak-acakan.
Dimana wajah Putra yang tersenyum sembari mengelus-elus wajahnya dan menatapnya lekat itu.
Tatapan yang terasa meresahkan bagi Gadis.
“Apa sudah mendekati waktu makan malam? ..” tanya Gadis.
Putra menggeleng. “Apa kamu lapar?” lalu gantian Putra yang bertanya.
Dan gantian Gadis yang menggeleng. “Tidak sih ...” jawab Gadis. Lalu Gadis menggeser pelan dirinya untuk beringsut dari ranjang.
Selain ia resah dengan gelagat Putra, Gadis juga merasakan tubuhnya sudah harus dibersihkan.
Namun baru saja menggeser sedikit tubuhnya, Putra sudah menarik Gadis hingga tubuh mereka kembali rapat.
Membuat Gadis jadi sedikit tak tenang.
__ADS_1
“Aku mau mandi ....”
“Hujan diluar, dingin.”
Putra dengan cepat memotong ucapan Gadis.
“Ada air hangat kan? ....”
Gadis juga dengan cepat menjawab ucapan Putra yang sedang menahannya itu.
“Katanya sangat merindukanku? Tapi kulihat kamu menghindari aku”
“Ish! Mana ada menghindari kamu sih? ....”
Gadis segera menampik ucapan Putra, seraya ia mencebik.
“Kalau aku menghindari kamu, mana ada badan aku tidak memakai busana seperti ini sih???!!!!”
“Ah ya, kamu benar ....”
Putra dengan cepat menyingkap selimut yang membalut tubuh Gadis.
Sontak saja Gadis membulatkan matanya dengan aksi Putra yang orangnya sedang tersenyum jahil itu.
“Putra ih!”
Gadis langsung melayangkan protesnya sembari menarik kembali selimut untuk menutupi tubuh polosnya yang terekspos setelah Putra menyingkap selimut dengan seenaknya.
“Dasar suami m*sum!”
Gadis menggerutu, lalu kembali mencebik, dimana Putra langsung terkekeh geli karenanya.
“Sudah ah, aku harus menyiapkan makanan untuk makan malam, ini ....”
“Tidak perlu kamu pikirkan soal itu ....”
Putra berkata sembari menarik lagi Gadi dalam dekapannya.
“Ibu Marsih dan Ibu Minah sedang menyiapkannya ....”
Putra menjawab sembari merendahkan dirinya, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Gadis. “Gadis ....”
Suara Putra yang menyebut nama Gadis terdengar samar namun ada sedikit serak disana.
“Emmhhh ....”
Dimana Gadis langsung melenguh kala ia merasakan pijatan lembut di salah satu dadanya, seiring dengan kecupan sensual Putra di lehernya.
Gadis memejamkan matanya, merasakan sentuhan yang Putra yang terserap ke pori-porinya hingga Gadis merasakan bulu-bulu halus di tubuhnya meremang.
Kadang Gadis bertanya-tanya sendiri, apakah pria lain seperti suaminya ini, yang hasratnya begitu besar?.
Saking besarnya, kadang Putra tidak merasa cukup sekali bercinta dalam satu waktu.
Hanya menjeda beberapa saat saja, lalu memintanya lagi.
Apalagi kalau rasanya kesempatan untuk bercinta terbuka lebar dan banyak waktu, kesempatan itu tidak akan Putra sia-siakan, untuk bercinta dengan Gadis.
Ya, seperti saat ini contohnya.
Anthony tidak ada di kamarnya, dan masih tertidur di kamar Addison dan Bruna.
Jadi kemungkinan besar, jika Putra bisa menenggelamkan dirinya di dalam tubuh Gadis sekali lagi seperti siang tadi.
“Sekali lagi, ya? ....” Ucapan dan pertanyaan dari Putra tak lama keluar setelah pria itu sejenak mengurai cumbuannya pada Gadis.
Ucapan yang melingkup pertanyaan yang sudah Gadis duga. Yang sudah Gadis pahami, kalau suaminya itu tidak akan pernah menyiakan kesempatan untuk meminta jatah, kalau kesempatan untuk bercinta itu sudah terbuka lebar di depan mata suaminya itu.
“Eemmmhhh ....” Dan pada akhirnya suara d*sahan keluar dari mulut Gadis kala Putra sudah mencumbuinya dengan intens.
Membuat Putra kian bersemangat untuk sekali lagi menyatukan dirinya dengan Gadis. Merajai tubuh istrinya itu, sampai Gadis lemas tak berdaya.
***
To be continue ....
Terima kasih untuk kalian yang masih setia membaca karya ini.
__ADS_1