LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 39


__ADS_3

Happy reading ..


♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦


Putra menyapa dengan anggukan kepala dan senyuman tipisnya pada ketiga rekan Gadis yang keluar bersamanya dari ruang khusus perawat.


Putra juga sudah memperkenalkan Danny pada Gadis.


“Kita duluan kalau begitu ya Dis?” Ucap salah satu rekan Gadis yang nampak  mesam – mesem bersama dua rekan lainnya.


“Bareng aja yuk kalian. Aku sama si Tampan Anthony ini juga mau makan siang kok” Ucap Gadis pada rekan – rekannya. “Tidak masalah jika mereka bergabung bersama kita kan Tuan Putra?”


“Tidak masalah untukku” Sahut Putra ramah.


“Tuh, ga apa – apa kok. Yuk kita makan siang sama – sama”


“Engga ah”


“Iya, takut ganggu”


“Ih, apa sih kalian ini ...”


Gadis sedikit terkekeh dengan sikap ketiga rekannya yang sedang menggoda dirinya yang akan makan siang dengan Anthony, dan ayahnya yang tampan bukan main itu.


Putra dan Danny yang juga paham bahasa Indonesia itu hanya tersenyum saja melihat tiga rekan Gadis yang memang seperti sedang menggoda perawat itu yang kini sudah menggendong Anthony.


“Ya sudah ya Dis, kami tinggal dulu” Ucap rekan Gadis lagi. “Mari Tuan – Tuan” Pamit ketiga orang itu Pada Putra dan Danny. “Bay – Bay Anthony”


“By-e..”


Anthony balas melambai kepada tiga perawat yang ramai namun ramah itu.


“Ga usah buru – buru makannya Dis. Nanti kita yang urus kerjaan kamu. Puas – puasin tuh menghabiskan waktu sama Anthony dan papa tampan nya”


Gadis seketika mendelik pada rekannya yang sedang meledek dirinya itu. Pasalnya, meski berkata dengan pelan, tetap saja Gadis merasa pasti Putra mendengar perkataan salah satu rekannya itu.


“Jangan iseng kenapa sih ...”


Dan tiga orang rekannya itu kemudian tergelak.


“Titip Gadis ya Tuan Putraa...” Ledek tiga perawat itu sebelum mereka berlalu lebih dahulu.


**


Putra tersenyum menanggapi tiga rekan Gadis yang ramai barusan. “Maaf ya, Tuan Putra. Mereka memang suka iseng seperti itu” Gadis nampak merasa tidak enak dengan kelakuan tiga rekannya tadi.


“Aku tidak mempermasalahkannya” Sahut Putra. “Ehem. Saya-maksudnya” Ralat Putra.


Gadis mengangguk pelan, sembari tersenyum tipis.


“Mari, kita pergi juga”


“Iya”


“Silahkan” Putra mempersilahkan Gadis untuk berjalan lebih dahulu bersama Anthony, lalu ia dan Danny mengekori.


“Pa-pa Putra...” Anthony yang sedang berada dalam gendongan Gadis itu pun menoleh kebelakang. Ia memanggil Putra.


“Yes Anth?”


Putra segera mendekat pada Anthony yang sedang di gendong Gadis. Dan Gadis menghentikan langkahnya sejenak.


“You want me to carry you? ( Kamu ingin aku yang menggendongmu?)”


Anthony menggeleng.


“Or you want to get down?. Maybe Gadis feel tired to carry you”


“(Atau kamu mau turun?. Gadis mungkin juga lelah menggendongmu)”

__ADS_1


“Ye-s, Papa...” Sahut Anthony dan Putra mengangguk pelan sembari tersenyum.


“Kamu-anda... bisa menurunkan Anthony Nona Gadis” Ucap Putra pada Gadis yang langsung menoleh pada Anthony.


“Do you want to walk ya? ( Kamu mau berjalan ya? )” Tanya Gadis dengan lembut pada Anthony seraya tersenyum.


“Ye-s Gadis...”


“You don’t like me to ... ( Kamu tidak suka kalau aku )...”


Gadis nampak menggantung kata – katanya. Lalu ia menoleh pada Putra.


Gadis tersenyum canggung pada Putra.


“Itu... Tuan Putra...”


“Ya?”


“Gendong... menggendong. Tadi apa bahasa Inggrisnya?” Gadis membuat ekspresi lucu di wajahnya. Putra terkekeh kecil, sementara Danny tersenyum saja.


‘How I want to pinch her cheek that passionate (Ingin sekali kucubit gemas pipinya itu)’ Putra membatin spontan.


“Pa-pa Putra ...” Sentuhan tangan Anthony di pipi Putra menyadarkan pria yang tadi sejenak tenggelam dalam lamunan kekagumannya pada Gadis.


“Ah ehm!...” Putra sedikit terkesiap. “Tadi kamu bertanya apa?” Tanya Putra pada Gadis yang orangnya tersenyum sekarang. Danny ingin sekali cekikikan melihat Putra yang nampak salah tingkah.


“Menggendong. Apa bahasa Inggrisnya?”


“Oh, menggendong itu carry bahasa Inggrisnya” Jawab Putra dan Gadis pun manggut – manggut.


Lalu Gadis kembali beralih pada Anthony yang masih dalam gendongannya.


“You don’t like me to carry you, Anthony? ( Kamu tidak suka aku gendong, Anthony? )”


“I-like you to carry me Gadis, but now I want to walk with you and Papa .... ( Aku-suka kamu menggendongku Gadis, tapi sekarang aku ingin berjalan bersamamu dan Papa )....”


Gadis nampak menelaah ucapan Anthony, sementara Putra menjadi sedikit kikuk hingga ia sedikit berdehem. Danny mengulum senyumnya. “Anthony ingin berjalan bersama anda dan Papanya, Nona” Ucap Danny.


“Wou-ld you, Gadis ... ( A-pa kamu mau, Gadis .. )”


Anthony menunggu jawaban dari Gadis dengan ekspresi kepolosannya.


“Maafkan atas permintaan Anth jika itu membuatmu tidak nyaman. Aku-eum, saya akan memberikannya pengertian” Ucap Putra.


“Saya tidak merasa terganggu akan hal itu, Tuan. Jika memang itu bisa membuat Anthony senang. Karena aku juga rasanya senang jika melihat Anthony tersenyum”


Gadis yang sudah menurunkan Anthony, berbicara dengan mengelus kepala Anthony seraya tersenyum tulus pada bocah tersebut.


“Malah seharusnya saya yang menanyakan hal yang tadi anda tanyakan pada saya. Saya malah khawatir kalau anda yang merasa tidak nyaman atau keberatan atas permintaan Anthony”


“Jangan khawatir Nona Gadis, Tuan Putra rasanya tidak keberatan sama sekali soal itu”


Danny menginterupsi sebelum Putra hendak menjawab. Entah kenapa Danny spontan jadi gatal untuk menjadi mak comblang bagi Putra dan perawat cantik bernama Gadis itu.


“Saya rasa bahkan Tuan Putra akan merasa senang” Sambung Danny dan membuat Putra mendelik padanya.


Danny santai saja. Masih tetap menggoda Bos Besarnya itu.


“Bukan begitu Tuan Putra?” Danny memberikan tatapan jahil pada Putra yang orangnya langsung bersikap sok tenang dengan sedikit berdehem kala Gadis tersenyum kecil dan sedikit melirik padanya.


Putra mengangguk pelan.


“Aku tidak keberatan”


“Silahkan kalau begitu, Tuan Putra”


Danny merentangkan satu tangannya, sambil mesam – mesem menatap Putra yang memberikan lirikan sedikit sinis padanya. Dan Putra langsung berjalan disisi Anthony yang kini sudah ia apit bersama Gadis dan kemudian menyamakan langkah.


“A picture of a happy family ( Gambaran keluarga bahagia )”

__ADS_1


Danny yang berjalan dibelakang Putra, Anthony dan Suster Gadis itu menggumam sembari menyunggingkan senyuman.


Melihat tiga orang yang memang nampak seperti sebuah keluarga kecil bahagia, dimana Anthony lebih dulu menggandeng tangan Gadis yang selalu nampak tersenyum dan aktif berinteraksi dengan Anthony, kemudian Anthony menggandeng tangan Putra dan ketiganya berjalan bersama.


Bagi Anthony sendiri ia merasa sangat senang bisa berjalan bergandengan dengan Uncle yang sudah ia panggil dengan sebutan Papa, dan seorang perawat yang nampak penyayang seperti almarhumah Mommynya.


Anthony seolah sedang melepas rindu akan kenangan yang dia punya dengan kedua orang tuanya, yang selalunya akan berjalan seperti itu saat mereka sedang menghabiskan waktu berharga mereka sebagai sebuah keluarga dulu.


**


Cuaca siang itu begitu cerah. Seperti cerahnya hati Anthony yang bisa bertemu lagi dan menghabiskan sedikit waktu bersama seseorang yang ia sukai.


Putra pun sering menampakkan senyumnya, melihat interaksi Anthony dan Gadis yang terlihat menenangkan dimatanya.


Rasanya Putra bahagia, melihat Anthony sudah mulai banyak bicara  dan tersenyum berada di dekat perawat cantik bernama Gadis yang di kenal oleh Anthony terlebih dahulu tanpa sengaja.


Meski awalnya memang Putra bersikap defensif pada orang – orang baru disekitar mereka, karena Putra yang memang dengan tulus menyayangi Anthony terlebih setelah bocah itu menjadi yatim piatu dengan cara yang mengerikan, menjadi sedikit paranoid dengan keselamatan Anthony.


Selain itu rasa bersalah karena gagal melindungi Rery dan Madelaine selalunya bergelung dalam hati Putra. Karena ia tidak berada di sisi Rery dan Madelaine, maka Anthony harus kehilangan kedua orang tuanya untuk selama – lamanya, bahkan bocah itu menyaksikan sendiri kedua orang tuanya ditembak hingga tewas.


Anthony bahkan juga hampir kehilangan nyawa, jika ia telat diselamatkan. Namun begitu, Anthony pernah koma, setelah bangun dari koma anak itu bak raga tanpa nyawa selama beberapa waktu.


Namun dengan sabar dan ketulusan serta rasa sayang Putra yang mungkin Anthony rasa hampir sama dengan sang ayah, pada akhirnya dengan sangat perlahan Anthony bisa sedikit berinteraksi dengan Putra.


Namun dalam beberapa waktu, ya hanya sebatas anggukan dan gelengan saja respon yang Anthony berikan pada Putra. Itu pun sudah membuat Putra bahagia. Dan sekarang Anthony sudah mulai berbicara, dan itu karena wanita yang sedang dengan sabar menyuapi Anthony sekarang lalu menyuapi dirinya sendiri.


“Maaf merepotkan anda Nona Gadis” Ucap Putra disela ia menyantap hidangannya saat melihat Gadis menyuapi Anthony dengan sabar. Gadis pun langsung menoleh pada Putra yang duduk didepannya.


“Aku tidak merasa direpotkan Tuan..”


Gadis tersenyum lalu kembali menoleh pada Anthony dan menyuapinya lagi.


“Terima kasih”


“Tidak perlu berterima kasih, Tuan”


“Putra”


“Eum?”


“Anda bisa memanggil namaku saja Nona. Tidak perlu lagi memanggilku Tuan” Ucap Putra.


“Maaf Tuan, sepertinya nanti terdengar saya kurang sopan pada anda jika saya hanya menyebut nama Tuan”


Gadis menyahut pada Putra sembari menyuapi Anthony. Sementara Danny yang sudah menyelesaikan makannya, undur diri sejenak untuk menghisap batangan nikotin di bagian luar restoran.


“Aku, ehem. Saya meminta anda, untuk memanggil saya dengan nama saya. Jadi tidak ada masalah dengan kesopanan. Lagipula anda kan tidak bekerja padaku” Ucap Putra. “Mulai sekarang jangan lagi menyebut saya dengan Tuan”


Gadis nampak berpikir sejenak, dan kemudian ia mengangguk meski sedikit nampak ragu dan sungkan.


“Baiklah”


Putra tersenyum kecil.


“Cobalah” Ucap Putra. Gadis menoleh lagi pada Putra dan menelengkan sedikit kepalanya.


“Coba..”


“Cobalah. Sebut namaku”


Putra memandang pada Gadis dan tersenyum.


“Tanpa kata ‘Tuan’ didepannya”


Putra berkata lagi dengan tenangnya.


‘Karena aku ingin mendengar kamu menyebut namaku dengan suara lembutmu itu. Gadis....’


**

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2