LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 428


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


“Ya sudah kalau begitu, Ibu Marsih. Buatkan saja aku kopi seperti biasa, dan antarkan ke ruang kerja utama ...”


“Baik, Tuan ...”


“Terima kasih, Ibu Marsih ...”


“Sama – sama, Tuan.”


--


“Permisi, Tuan ...”


“Jangan diambil.”


“Tapi ini kotor, Tuan ....”


“Tak apa .... Aku ingin mencari tahu, teh macam apa ini.“


“Oh, ya udah kalo gitu, Tuan.”


“Baiklah Ibu Marsih, saya mau ke ruang kerja sekarang. Dan jangan siapkan tempat untukku dan Gadis di meja makan, karena kemungkinan kami akan makan malam di kamar.”


“Baik, Tuan. Nanti akan saya minta Minah siapkan makanan Tuan Putra dan Nyonya Gadis. Kalau Tuan Muda bagaimana, Tuan?”


“Siapkan saja terlebih dahulu peralatan makan Anth di meja makan. Dimana nanti dia akan ikut makan malam aku akan tanyakan padanya saat dia bangun.”


“Iya, baik Tuan. saya akan menyiapkan juga sekalian makanan Tuan Muda bersama makanan Tuan Putra dan Nyonya Gadis, agar kalau Tuan Muda ingin makan malam bersama anda dan Nyonya Gadis, beliau tidak perlu menunggu lama.”


“Iya boleh. Sekali lagi terima kasih Ibu Marsih.”


“Sama – sama, Tuan.”


--


‘Mudah – mudahan aku bisa papasan sama suaminya Gadis. Kalo engga mubajir ini aku udah pake baju seksi begini.’


--


“Eh jongos hari ini masak apa?”


“Nama saya Marsih, Nona –“


“Emang saya peduli nama kamu siapa??”


“.....”


“Masak apa buat makan entar malem?!”


“Anda bisa melihatnya nanti kalau waktu makan malam udah tiba, Nona.”


“Songong banget kamu jongos! Tinggal sebutin aja itu makanannya apa aja.”


“Beberapa diantaranya makanan barat, Nona.”


“Terus kamu pikir saya ga ngerti makanan barat?! ....”


“Bukan begitu, Nona –“


“Alah udah! Udah! Sekarang siapin minuman sama makanan ringan buat saya sama ibu saya dan langsung bawain ke kamar!”


“Baik, Nona. Tapi setelah saya mengantarkan kopi Tuan Putra. Nona silahkan saja tunggu di kamar.”


“Kopi .... buat suaminya Gadis? ....”


“Iya, Nona ....”


‘Wah pucuk dicinta ulam pun tiba! ....’


--


“Sini! biar aku aja yang buatin.”


“Tidak apa biar saya saja, karena sudah tugas saya.”


“Aku bilang aku yang bikinin! Saya aduin kamu kurang ajar sama saya ke Gadis dan suaminya dipecat kamu!”


“Tapi –“


“Awas! Atau mau aku siram pake aer panas?!”


--


“Kopi buatanku jelas lebih enak daripada buatan jongos ....”

__ADS_1


“Saya percaya, Nona. Mari, biar saya yang antarkan kopi Tuan Putra –“


“Enak aja! Biar saya yang nganter. Ntar kalo suaminya Gadis bilang kopi saya enak, kamu sok ngaku – ngaku kopinya buatan kamu lagi?? –“


“Astagfirullah ....”


“Dimana suami saudariku yang ganteng itu?! –“


“Di ruang kerja utama, Nona. Lantai dua, dekat ruang santai di lantai itu ....”


“Oh iya aku tau. Dah hush!  aku yang anter ini kopi ke suaminya Gadis!”


**


**


‘Smells more like foliage than spices ( Aromanya lebih kepada dedaunan daripada rempah – rempah )’


Adalah Putra yang sedang membatin sambil mengendusi aroma cairan dalam cangkir bekas Gadis yang ia bawa serta dari kamarnya dan Gadis.


‘It’s really more taste like foliage marinade than seasoning tea ( Ini lebih kepada seperti rendaman dedaunan daripada teh rempah )’


Dimana Putra terus membatin, dalam ia sedang mencari tahu tentang minuman yang kata Gadis adalah teh rempah itu.


‘I remember I’ve tried a lot of food and drinks with those kinds of spices .... But I think I never taste spice like this. And there’s no stock of this tea in the kitchen storage .... kind of suspicious ( Aku ingat aku telah mencoba banyak makana dan minuman yang memiliki cita rasa rempah di dalamnya .... Tetapi aku tidak pernah merasakan yang seperti ini. Dan tidak ada persediaan teh seperti ini di dalam lemari penyimpanan dapur .... mencurigakan ) ....’


Otak Putra masih berputar terkait minuman yang Gadis bilang adalah teh rempah, yang hanya tersisa sedikit saja di dalam cangkir bekasnya. Namun Putra masih bisa gunakan untuk mendeteksi dengan dirinya yang mengingat – ingat tentang berbagai jenis rempah yang ia ketahui, dimana diantara kesemuanya itu --- tidak Putra rasa pernah Putra temukan aromanya dari dalam teh rempah yang telah diminum Gadis.


**


Putra menyandarkan dirinya pada sandaran kursi kerja yang ia duduki dalam diam.


Menatap nanar pada dalam cangkir bekas Gadis yang sedang Putra pegang di atas meja sambil ia gerakkan pelan sembari Putra berpikir sendirian.


‘Where I put that? ( Dimana aku meletakkannya, ya? )’


Putra lalu bertanya sendiri dalam hatinya, ketika ia teringat pada suatu benda.


**


Putra yang mengingat sebuah benda terkait minuman yang tadi diminum Gadis dan membuatnya penasaran karena tidak menemukan minuman tersebut di dapur villa, serta belum dapat menyimpulkan dengan pasti rempah seperti apa yang terkandung dalam minuman yang Gadis katakan sebagai teh rempah itu --- Putra pun jadi memiliki spekulasinya sendiri.


‘Maybe that two ladies don’t have any motif to harm Gadis, since if something bad happened to her, then both of them are not getting anything if they want to get some money from Gadis ( Mungkin dua wanita itu tidak memiliki motif untuk mencelakai Gadis, karena jika sesuatu yang buruk menimpa dirinya, maka kedua orang itu tidak akan mendapatkan apapun andai mereka berniat untuk mendapatkan uang dari Gadis ) ....’


Spekulasi yang Putra cetuskan sambil ia melirik ke arah sebelah kanannya. Dimana ada laci meja kerja di sana, dan hendak Putra buka.


Serta Putra juga sudah merundukkan tubuhnya untuk membuka sekaligus memeriksa salah satu laci meja kerja yang pegangannya sudah Putra pegang.


Tok .... Tok ....


Namun apa yang ingin Putra lakukan, ia hentikan dengan spontan.


Ketika suara ketukan pintu ruang kerja tempatnya berada itu terdengar.


“Ma ---“


“Permisi ....“


Putra baru saja ingin mempersilahkan masuk kepada orang yang mengetuk pintu ruang kerja tempatnya berada sekarang, yang Putra pikir adalah Ibu Marsih yang sebelumnya memang Putra minta untuk membuatkannya secangkir kopi dan membawakannya ke ruang kerja utama, tempat Putra berada sekarang ini.


“Mau apa kau?!“ Namun bukan Ibu Marsih nyatanya yang muncul ke hadapan Putra, hingga membuat Putra berseru tak suka pada orang yang masuk ke ruang kerja utama sebelum Putra selesai mempersilahkan --- selain Putra spontan membatin. ‘Dasar tidak punya etika! ....’


Putra merutuki seorang perempuan yang masuk dengan pakaian yang cukup terbuka bagian atasnya itu, yang sejak dari awal melihat keberadaannya di kamar pribadinya dan Gadis, Putra sudah antipati padanya.


“Jangan galak-galak atuh, Tuaan .... aku cuma mau anter kopi buat Tuan ....“


Alih – alih takut pada Putra yang nampak tak senang itu, perempuan tersebut yang adalah Madya—terus saja masuk lebih dalam ke ruang kerja utama dan menyahut dengan nada sok manja.


“Aku tidak meminum minuman dari sembarang orang dan aku menyuruh Ibu Marsih yang membuatkan sekaligus membawakannya ke sini. Bukan kau!“


**


“Ya ampun, Tuan ... saya kan keluarganya Gadis. Dan saya jamin, Tuan pasti suka sama kopi buatan saya ... ketagihan malah nanti ...”


Tetap Madya tak mempedulikan ketidaksukaan yang Putra tunjukkan padanya dengan kentara saat ini.


“Tsk.”


Putra lantas berdecak.


“Letakkan saja di meja itu dan pergilah.”


Lalu berbicara seraya memberi perintah pada Madya dengan ketus.


Tapi Madya begitu keras kepala. Selain sedang dibalut kepercayaan tinggi untuk menggoda Putra. Karena pakaian yang ia kenakan sekarang, Madya yakin akan menggoyahkan sikap arogansi Putra padanya.


Jadi Madya dengan percaya dirinya, malah meneruskan langkahnya untuk mendekati Putra yang masih terduduk di kursi meja kerja utama.


“Tuan Putra coba dulu, nanti kalo engga enak saya bawa lagi kopinya. Tapi saya yakin Tuan pasti suka ...”

__ADS_1


Sambil Madya berucap dengan nada suara manja yang dibuat – buat, dan tubuhnya yang ia buat berjalan melenggok agar setengah dadanya yang cukup terekspos itu bergoyang menggoda dan Madya yakin Putra akan meneguk liurnya.


“Diam di tempatmu!” Membuat Putra jadi tak tahan.


Bukan tak tahan karena tergoda, namun tak tahan karena jijik pada Madya dan berencana untuk menyeretnya keluar dari ruang kerja utama.


Madya tersenyum penuh arti karena merasa Putra memperhatikannya, selain suami saudari tirinya itu sudah nampak akan berdiri dari duduknya, dimana kali ini Madya mematuhi ucapan Putra dan dia menghentikan langkahnya.


‘Pasti dia mau menghampiri aku, karena ga tahan sama bodiku.’


Madya membatin percaya diri, sambil melempar senyuman simpul yang Madya anggap sudah begitu cukup untuk menggoda Putra dengan sebuah baki bertahtakan cangkir kopi di atasnya.


Sambil Madya berdiri dengan agak membusung, hingga dadanya nampak pongah --- seolah memang sengaja dipasang untuk dijamah.


‘Lihat saja, suami gantengnya si Gadis ini pasti ga tahan mau menjamahku yang jelas lebih menggoda daripada istrinya. Hihi.’


**


‘Aku sungguh muak melihatnya.’


Putra yang sudah hendak berdiri itu membatin selepas ia memperhatikan gerak – gerik Madya.


Rasanya sudah tak sabar untuk menyeret Madya keluar dari ruang kerja tempat Putra berada sekarang.


Tuk.


Namun saat Putra menyenggol cangkir bekas Gadis yang ada di dekatnya, Putra urung berdiri.


Terlintas sesuatu di otaknya. Sambil Putra lanjut membuka salah satu laci meja kerja dan melihat jika benda yang sebelumnya ia cari ada di sana.


“Bawa kesini kalau begitu,” ucap Putra kemudian, sambil mengeluarkan benda yang bentuknya seperti sumpit dan berbahan perak, lalu ia letakkan di samping cangkir bekas Gadis.


**


Putra memposisikan dirinya duduk dengan bersedekap memandangi Madya yang tentu saja menjadi nampak sumringah setelah mendengar ucapan Putra yang menyuruhnya untuk menyajikan kopi yang ia bawa langsung pada Putra.


Karena bagi Madya, ucapan Putra yang menyuruhnya memberikan kopi yang ia bawa langsung kepada Putra --- terdengar sebagai undangan bagi Madya. Dimana wanita itu berpikir, jika Putra pasti sudah tergoda olehnya. Dan tentu saja Madya tidak akan menyiakan hal itu.


Madya lalu kembali menjalankan aksinya dengan melangkah untuk lebih menggoda Putra. Meletakkan cangkir di atas meja pada hadapan Putra dengan agak menyorongkan tubuhnya hingga dadanya jadi begitu dekat dengan wajah Putra. Namun tidak sedikitpun Putra meliriknya.


Perhatian Putra justru lebih kepada cangkir berisikan kopi yang baru saja diletakkan Madya dimana wanita itu juga bicara, “Dicoba dulu, kalau ada yang kurang ... susu misalnya ...” ucap Madya setengah berbisik.


Sambil Madya bergerak sok sensual dan menempelkan dirinya menyamping pada Putra, dimana dengan lancangnya memegang bahu Putra yang Madya usap – usap begitu pelan dan sensual dan kemudian nampak merengkuh bahu Putra yang Madya berikan pijatan juga.


Putra sudah mengepalkan tangannya.


Bukan menahan diri untuk menyentuh dada Madya.


Namun Putra sudah merasa geram dengan tingkah perempuan yang sedang ada bersamanya ini, yang Putra anggap begitu murahan.


Tapi demi untuk memastikan sesuatu, Putra menahan kegeramannya dulu.


Setelah sempat melirik gerak – gerik Madya dengan ekor matanya, Putra kembali melihat kepada cangkir berisikan kopi yang belum lama diletakkan di atas meja tepat depan Putra.


‘Bagus! Setelah dia meminumnya, dia akan jatuh ke pelukanku dan akan menjamahku lalu suami Gadis ini pasti akan menjadi milikku! Lalu aku akan membuatnya terus menjamahku sampai aku hamil anaknya dan si Gadis ditendang dari sini! ...’


Madya membatin dengan menyeringai di tempatnya, saat Putra sudah memegang cangkir berisikan kopi yang ia bawa.


“Apa perlu aku bantu kamu untuk meminumnya, Tuan? ...” Madya semakin melancarkan aksi dengan sikap yang lebih berani, dengan dirinya yang merundukkan dirinya yang kemudian bersandar menopangkan dadanya di atas meja kerja samping Putra.


**


“Heh.”


“Bagaimana, Tuan? ...” Madya bicara, setelah Putra menggumam sangat samar dengan menyungging miring.


“Aku bantu Tuan meminumnya, Ya? ...”


Madya kembali bicara dengan nada sensual yang dibuat – buat.


Lalu tangannya hendak meraih cangkir yang Putra pegang dan satu tangan lainnya ia gesekkan telapaknya ke satu tangan Putra yang sedang menempel dengan meja.


Madya kian tersenyum saat tangannya yang hendak meraih cangkir Putra itu langsung disambar dan dipegang oleh Putra. Dan Madya yang merasa jika rencana akan berhasil itu, kini memepetkan dadanya di salah satu lengan Putra.


Dengan wajahnya, yang Madya juga mulai dekatkan dengan Putra. Namun belum sempat Madya bergerak lebih jauh, “ARGHH!”


Pekikan Madya terdengar.


Dengan wajah saudari tiri Gadis itu yang nampak kesakitan.


“WANITA MURAHAN!” Didetik berikutnya Putra berseru kencang, dan.


SPLASH!


Kopi panas dalam cangkir yang Putra pegang, ia siramkan ke wajah Madya dengan cepat.


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2