
Happy reading ....
***********
London, Inggris..
“Remember when I said that I will introduce you with my bestfriend who is the owner of this place?”
“(Ingat saat tadi aku mengatakan jika aku akan memperkenalkanmu dengan sahabatku yang merupakan pemilik dari tempat ini?)”
Mickey Pitts berbicara lagi pada Putra yang telah hendak pergi meninggalkan tempat bermain Poker, dimana kemenangan telak Putra dapatkan berdasarkan kemampuannya bermain permainan kartu jenis tersebut.
“Yes I remember.” Sahut Putra.
Dimana Putra menghentikan langkahnya dan menoleh miring sambil berdiri dengan santai pada Mickey yang sudah berdiri, namun masih berada disisi tempatnya duduk saat bermain Poker melawan Putra.
Yang Mickey Pitts pikir, Putra hanyalah pemain kartu amatir yang beruntung menang saat bermain permainan jenis kartu yang disebut Black Jack sebelum ia menantang Putra yang memperkenalkan dirinya sebagai Patrick itu untuk bermain jenis permainan kartu yang ia kuasai, karena Mickey adalah orang yang mampu membaca gerak-gerik orang dengan sangat cermat.
Yah setidaknya memang benar, namun itu sebelum Mickey Pitts bertemu dengan Putra. Yang mau tidak mau membuat pria itu mengingat ungkapan,
“Di atas langit masih ada langit.”
Atau,
“Don’t judge a book from it’s cover (Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya)”
Yang mana berarti, sehebat apapun orang, pasti ada orang yang kehebatannya melebihi orang yang hebat itu sendiri.
Sekalipun manusia itu adalah manusia paling hebat di muka bumi, toh masih ada yang lebih hebat di atasnya.
Sang Pencipta, tentu saja.
Lalu, jangan menilai seseorang dari luarnya saja.
Karena apa yang tampak oleh mata, belum tentu adalah kenyataannya.
Begitulah seorang Putra yang Mickey Pitts lihat sebagai seorang pria bernama Patrick yang nampak biasa saja.
Hanya tamu Kasino biasa yang kebetulan memenangkan uang dalam jumlah banyak di Kasino milik teman Mickey, yang Putra dan kawanannya sebut sebagai ‘Pria Chicago’.
Dimana si ‘Pria Chicago’ itu adalah sekutu besar Jaeden yang sedang Putra incar, sama seperti sekutunya yang Putra anggap sebagai musuh terbesarnya karena telah menghabisi Rery dan istrinya, serta mencoba juga untuk membuat nyawa Anthony melayang dengan perlakuan kejam Jaeden yang menenggelamkan Anthony di perairan dalam sebuah dermaga di Ravenna.
Namun begitu, Putra ingin bermain dulu dengan target sampingan sambil ia bermain juga secara tidak langsung dengan target utamanya. Karena hal apapun yang dilakukan si ‘Pria Chicago’ itu di Inggris, pasti akan berhubungan juga dengan Jaeden. Jika si ‘Pria Chicago’ itu merugi, maka Jaeden pun akan otomatis ikut merugi.
Maka itu yang Putra sedang lakukan sekarang, sambil menunggu Jaeden kembali ke Inggris.
Katakanlah jika Putra sedang melucuti Jaeden tanpa pria itu pernah mengiranya. Dan sebagaimana yang Putra inginkan-selain ingin menghabisi Jaeden, Putra ingin menghancurkan hidupnya terlebih dahulu. Membuat Jaeden tidak punya ‘apa-apa’ atau ‘siapa-siapa’ istilahnya setelah ia kembali ke Inggris.
Dan berada di dalam Kasino milik sekutu terbesar dan terkuat Jaeden, adalah bagian dari rencana Putra, setelah sebelumnya telah membumi hanguskan tiga tempat yang berhubungan dengan bisnis Jaeden, berikut sekutu Jaeden yang lain. Dimana salah satunya berhubungan dengan keluarga Damian.
Kasino tempatnya berada sekarang ini adalah tempat ke empat yang telah Putra targetkan untuk dihancurkan, berikut pemiliknya.
Namun tidak ingin Putra bumi hanguskan, karena sebuah Kasino adalah bisnis yang cukup dikatakan menguntungkan.
Dan Putra telah memiliki rencananya sendiri pada Kasino milik sekutu terbesar dan terkuat Jaeden ini.
Jadi disinilah Putra sekarang.
Masuk tanpa gentar ke kandang lawan, saat pemiliknya bahkan sedang ada di tempat.
Meski Putra belum bertemu langsung dengan si ‘Chicago Guy’ atau ‘Pria Chicago’ si pemilik Kasino yang saat ini memiliki predikat Kasino terbesar di Inggris.
Kasino yang baru saja Putra ‘rampok’ dengan cara halus, namun kiranya cukup membuat guncangan karena hasil yang Putra menangkan dari permainan yang Putra ikuti, lumayan sangat banyak.
Dimana hal itu menciptakan ketidak puasan pada seseorang yang sangat dipercaya oleh pemiliknya, untuk membereskan orang-orang yang berhasil mendapatkan keuntungan besar dalam Kasino tersebut.
__ADS_1
Yang mana, orang yang bersangkutan, mencoba untuk menghadang Putra pergi melenggang begitu saja, dengan uang yang sebelumnya pria yang bernama Mickey Pitts itu yakini akan jatuh ke tangannya.
Entah bagaimana caranya, Mickey Pitts harus dapat merebut kembali uang yang sedang ditenteng Putra dalam dua buah tas itu. Rencana cadangannya adalah mempertemukan Putra dengan si ‘Pria Chicago’ yang merupakan orang yang memberi Mickey kepercayaan, sambil Mickey akan mencari tahu lebih detail tentang Putra yang ia kenal sebagai Patrick, sekaligus mencari kelemahannya.
Dan mungkin saja, ‘Pria Chicago’ yang katakanlah Bos dari Mickey itu mengenal Putra alias Patrick.
Apapun itu, yang jelas Mickey Pitts akan melakukan banyak cara untuk membuat dirinya selamat dari amukan sang Bos karena telah kalah telak dalam jumlah uang yang sangat banyak, dimana uang tersebut adalah milik si ‘Pria Chicago’-pemilik Kasino tempat Mickey bernaung.
***
“Remember when I said that I will introduce you with my bestfriend who is the owner of this place?”
“(Ingat saat tadi aku mengatakan jika aku akan memperkenalkanmu dengan sahabatku yang merupakan pemilik dari tempat ini?)”
Mickey Pitts yang kembali berbicara lagi Putra yang telah hendak pergi meninggalkan tempat bermain Poker, dimana kemenangan telak Putra dapatkan berdasarkan kemampuannya bermain permainan kartu jenis tersebut.
Dimana Putra mengelabui Mickey dengan membuat gerak-gerik serta gestur palsu, untuk dibaca oleh Mickey Pitts yang sangat percaya diri, dan memperhatikan Putra dengan seksama dari sejak permainan Poker dimulai. Meski gurat wajah Mickey nampak terlihat biasa saja.
“Yes I remember.” Sahut Putra.
“Then I will take you to meet him now (Aku akan membawamu untuk menemuinya sekarang)”
Lalu Mickey Pitts kembali berbicara, selepas ia melirik arloji di pergelangan tangannya sambil ia menampakkan senyum keramahannya pada Putra setelahnya.
“Ah about that ( tentang itu )..”
Putra menyahut sambil sedikit berkesah.
“Maybe next time (Mungkin lain kali)..”
Kemudian Putra memberikan penolakannya atas undangan Mickey Pitts yang hendak memperkenalkannya dengan si pemilik Kasino.
Dimana wajah Mickey Pitts kemudian dengan spontan nampak tak senang, karena Putra yang nampak acuh tak acuh dengan undangannya itu.
“It will be very impolite to refused an invitation a person from the place that you’re visiting Mister Patrick (Akan berkesan sangat tidak sopan jika menolak undangan dari seseorang atas tempat yang kau kunjungi Tuan Patrick)”
Namun begitu, dengan cepat Mickey merubah ekspresi wajahnya dan bersikap serta berbicara seperti sebelumnya pada Putra.
Putra pun tersenyum tipis.
Sambil Putra memandang pada Mickey Pitts.
“Well -----“ Putra selanjutnya bersuara. “Forgive my manner, but I am (Maafkan sikapku. Tapi iya) ----“ ucap Putra. “I’m such an impolite man (Aku memang seorang pria yang tidak sopan)..”
Putra meringis remeh, lalu ia kembali tersenyum penuh arti pada Mickey Pitts yang rahangnya nampak mengeras.
“But thank you for the invitation by the way (Tapi biar bagaimanapun terima kasih untuk undangannya)”
Putra menampakkan lagi senyumnya.
“But I won’t take any risk if your bestfriend which is the owner of this place want take this money by another ‘match’ (Tapi aku tidak ingin mengambil resiko jika sahabatmu yang mana adalah pemilik tempat ini ingin mengambil uang yang kumiliki dengan ‘pertandingan’ lain)”
Dan tatapan berikut senyuman penuh arti, Putra layangkan pada Mickey Pitts.
Air muka Mickey berubah, dahinya spontan sedikit mengernyit.
“I know Mister Mickey.. I know exactly what kind of ways that almost all Casino’s owner used to avoid the big winner of this place not get out from their place for not go just like that (Aku tahu Tuan Mickey.. Aku tahu persis cara apa saja yang hampir digunakan oleh seluruh pemilik Kasino untuk mencegah para pemenang besar di tempat mereka untuk tidak pergi begitu saja )”
***
“As I know how to read my opponent expression in the card table (Sebaik aku mengetahui bagaimana membaca ekspresi wajah lawanku di meja kartu) ----“
Lagi, Putra tersenyum penuh arti pada Mickey Pitts yang rahangnya nampak mengeras lagi, dan menyorot Putra dengan tatapan matanya dengan sorot terkejut dan geram, terlebih disaat Putra melanjutkan kalimatnya.
“My advice for you Mister Mickey, never judge a book from it’s cover.. and control your high confidence (Saranku untukmu Tuan Mickey, jangan menilai buku dari sampulnya.. dan kendalikan kepercayaan dirimu yang tinggi itu)..”
__ADS_1
Sambil Putra menelengkan singkat kepalanya.
“Especially in front of me (Terutama dihadapanku)”
Kemudian Putra bicara lagi.
Namun kali ini tak ada senyuman yang Putra tampakkan pada Mickey Pitts.
Lalu Putra meluruskan kembali arah tubuhnya untuk kembali melangkah pergi dari hadapan Mickey.
“I wonder who the real are you, Mister Patrick (Aku penasaran tentang siapa dirimu sebenarnya, Tuan Patrick)”
Mickey Pitts berbicara saat Putra telah kembali melangkahkan kakinya.
“And why you look such in hurry (Dan kenapa kau terlihat terburu-buru)?”
Mickey kembali berbicara, namun Putra mengabaikannya dan terus berjalan.
“Seems that you know Mister Fisher and you avoiding to meet him. Is it you know each other (Sepertinya kau mengenal Tuan Fisher dan menghindar untuk berjumpa dengannya. Apa mungkin kalian mengenal satu sama lain)?-----“
Mickey Pitts masih berbicara dan mengejar langkah Putra yang sebenarnya tidak terlihat tergesa juga. Hanya mengabaikan saja Mickey yang sedang mengoceh.
“Or could be say.. you have, some kind of matter with him that’s why you hurry to go from here (Atau dapat dikatakan.. kau memiliki, sesuatu urusan dengannya maka dari itu kau begitu tergesa untuk segera pergi dari sini) ----“
Putra menghentikan lagi langkahnya.
“I never have any kind of matter with him before (Aku tidak pernah memiliki urusan apapun dengannya sebelum ini)”
Putra berbalik lagi dan menatap pada Mickey Pitts, dimana pria itu tersenyum miring pada Putra kemudian. “Well, then I have to make sure about it (Kalau begitu, maka aku harus memastikannya terlebih dahulu)..”
“Hem.” Putra berdehem dalam, saat menyadari jika ada dua orang yang berpakaian seperti bodyguard sudah akan mendekatinya.
“Please be cooperate while I’m taking you to him (Mohon agar dapat bekerjasama untuk membawamu menemuinya) ---“ ucap Mickey Pitts, yang mulai melakukan pemaksaan secara halus pada Putra.
Putra menyungging miring.
“How if I refuse to cooperate (Bagaimana jika aku menolak untuk bekerjasama)?”
*****
Mickey Pitts kembali dibuat terkejut oleh Putra, karena pria yang ia kenal sebagai seseorang yang bernama Patrick itu nampak tenang saja, meski Mickey yakin betul jika Putra sudah menangkap gerak – gerik dua anak buahnya yang ingin memepet Putra.
“Well, forgive me if I become impolite then have to push you (Jika seperti itu, maafkan aku andai aku bersikap kurang sopan lalu harus memaksamu)-“ jawab Mickey sambil menatap Putra penuh arti. “Now pl (Sekarang si)-“
Tepat saat Mickey Pitts mengkode dua orang anak buahnya untuk lebih memepet Putra, suara bising dan riuh terdengar dari lantai dua, tempat dimana banyak mesin permainan slot berjejer.
“What happen (Apa yang terjadi)?”-“ Perhatian Mickey Pitts sedikit teralih.
Sementara Putra menyeringai dalam hatinya. “Seems that there’s another big winner tonight here (Sepertinya ada pemenang besar lainnya malam ini)”
Dan perhatian Mickey Pitts kembali teralih ke Putra saat Putra bicara barusan.
“Sir, someone’s has win a jackpot in the slot machine (Tuan, seseorang telah memenangkan hadiah terbesar di mesin slot) ---“
Seorang staf Kasino datang dengan tergesa ke hadapan Mickey Pitts dan manajer Kasino yang sudah juga mengayunkan kakinya untuk pergi ke lantai dimana suara bising dan riuh itu terdengar.
“WHAT (APA)?!”
Mickey Pitts dan si manajer Kasino sama – sama memekik dengan wajah keterkejutan mereka yang begitu nampak jelas.
Sementara Putra sudah mengulum senyumnya.
*****
To be continue..
__ADS_1