LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 67


__ADS_3

Happy reading....


‘Kill? .... bukankah itu artinya membunuh? .... Putra, ingin membunuh seseorang?.... Apakah .... mereka ini penjahat?’ Gadis menggigit bibirnya. Dadanya sedikit berdebar, agak takut saat ini.


Gadis termangu di depan pintu ruangan tempatnya tadi berada.


Hingga..


“Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu?”


Sebuah suara membuat Gadis yang sedang berdiri diluar pintu ruangan dimana terdengar kalau Putra, Damian, Garret dan Danny sedang berbicara serius itu sedikit berjengkit ditempatnya berdiri  saat ini.


“Ah tidak. Aku baru saja dari toilet”


“Aku baru saja akan menyusulmu, Gadis”


“Pu – Putra..” Gadis yang sempat melamun selama beberapa lama itu tak sadar kalau didalam ruangan, ke empat pria itu hanya berdiskusi singkat. Hingga keberadaan Putra yang sudah diambang pintu membuat Gadis menjadi sedikit gugup.


“Kamu agak lama?”


“Emm itu – aku sedikit tersesat tadi mencari ruangan ini”


Gadis coba untuk tersenyum pada Putra yang tadi mengangguk atas jawaban Gadis.


“Ya sudah. Ayo kembali kedalam” Ajak Putra yang merangkul pinggang Gadis dan membawanya kembali duduk ke tempatnya.


Putra kemudian permisi untuk gantian pergi ke toilet setelah membawa Gadis kembali duduk.


***


“Ada apa?”


Putra menoleh pada Gadis yang kini sudah berada didalam mobil setelah mereka berdua berikut Danny, Damian dan Garret selesai makan malam di restoran dalam sebuah Hotel Casino ternama di Ibukota.


“Hm?. Ada apa, bagaimana?.....”


Gadis yang tadinya sedang memandang keluar dari balik jendela mobil itupun serta merta langsung menoleh saat mendengar Putra bertanya padanya.


“Aku perhatikan kamu lebih banyak terdiam sejak dari rest room ( toilet ) tadi” Ucap Putra.


“Tidak kok. Aku tidak apa – apa ..”


Gadis menampakkan senyumnya.


Putra menarik sedikit satu sudut bibirnya.


Lalu kembali menoleh pada jalanan didepannya. “Kamu mendengarnya bukan?”


Sesaat kemudian Putra berujar seraya bertanya. Menoleh kembali sebentar pada Gadis, dengan sedikit menyungging miring.


“A – apa? .... maksudmu, Putra?” Gadis balik bertanya dengan suara yang sedikit terdengar gugup.


“Pembicaraanku dengan tiga saudaraku saat kamu pergi ke rest room di restoran tadi” Sahut Putra datar.


Gadis melirik Putra.


“I – itu ..”


Gadis menundukkan wajahnya sembari memainkan jarinya yang tertopang diatas pahanya.


Ragu untuk berkata. “Apa saja yang kamu dengar?....”


Glek!


‘Aku harus menjawab apa ini?. Apa aku bilang saja kalau memang aku mendengar dia berencana membunuh seseorang?..’


“Hem, Gadis? ....”


Kembali Putra menolehkan wajahnya pada Gadis dengan tatapan datar. Gadis yang mendengar Putra yang seolah menuntut jawaban darinya itu memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap Putra yang sebentar menoleh kearah depan, lalu kembali menatapnya.


Putra nampak datar saja wajahnya.


“Apa kamu mendengar kalau aku hendak ‘menghabisi’ seseorang?”


Gadis tidak menyahut. Namun kemudian dia bersuara.


“Iya..”


“Membuatmu tidak nyaman?”


“A – pa .. itu benar?..”


Putra menyungging miring. “Jika aku jawab iya?”


Gadis meneguk salivanya.


“Lantas, apa kamu akan menarik keputusanmu untuk menjadi kekasih sekaligus calon istriku?”


“Aku...”


“Kamu silahkan saja berpikir seperti itu” Sambar Putra  sebelum Gadis menyelesaikan kalimatnya. “Tapi aku tidak akan melepaskanmu”


Putra menegaskan dengan suaranya yang terdengar tenang saja.


“Tak akan kulepas, meski kamu mau melepas”


Putra kembali menegaskan.


“Berlarilah sejauh mungkin, tapi aku akan menemukanmu”


Putra menambahkan.


“Dan jika itu terjadi... Kamu berusaha pergi, dan aku berhasil menemukanmu, aku akan menempatkanmu di tempat dimana kamu tidak akan bisa pergi kemana – mana lagi”


Glek!


***


“Maaf, membuat kamu pulang sedikit larut”


“Tidak apa – apa” Sahut Gadis sembari tersenyum setelah mobil Putra sampai di tempat biasanya Gadis turun setiap kali Putra mengantarnya pulang. Putra membantu Gadis melepaskan seatbeltnya. “Terima kasih ya”


Gadis tersenyum setelah Putra membantunya melepaskan seatbeltnya.


“Katakan, apa kamu takut padaku sekarang?” Tanya Putra.


Gadis melipat bibirnya.


“Sedikit” Jawab Gadis tanpa ragu.


Tapi kemudian,


Cup!


Gadis menangkup wajah Putra dan mendaratkan kecupan singkat dipipi Putra yang langsung tertegun dengan sikap Gadis barusan.


“Tapi yang jelas kamu mencintaiku, begitupun aku padamu”


Gadis belum melepaskan tangkupan tangannya dari wajah Putra.


“Kamu sendiri yang bilang kalau kita belum saling mengenal bukan?..”


Gadis menyunggingkan senyumnya. Menempelkan dahinya dengan dahi Putra.


“Aku takut.... aku tidak pungkiri itu. Tapi aku percaya kalau kamu memiliki alasan untuk setiap hal yang kamu lakukan dan putuskan”


Menjauhkan dahinya dari dahi Putra kemudian, namun masih menangkup wajah Putra yang nampak tertegun dan belum berkata apapun selain membiarkan Gadis berbicara, sembari menelisik manik mata Gadis dengan matanya.


“Aku tidak akan lari. Tenang saja” Gadis terkekeh kecil sembari memencet gemas hidung Putra. “Ya sudah, aku turun ya?. Te- .... hmmmphh”

__ADS_1


Gadis terbungkam.


Karena Putra langsung menarik tengkuk Gadis dan menahannya saat Putra menempelkan bibirnya dengan bibir Gadis.


Alih – alih protes, Gadis malah mengalungkan tangannya di leher Putra.


‘Baik buruknya kamu, Putra ... yang aku tahu aku mencintaimu’ Batin Gadis yang sedang memejamkan matanya.


Karena rasanya Gadis selalu tersihir oleh ciuman Putra untuk menikmatinya baik sejak di kapal layar tadi atau beberapa ciuman singkat sebelumnya dari Putra itu.


‘Tapi entah bagaimana nanti pendapatmu tentangku, jika kamu tahu kalau aku tidak hanya bekerja sebagai seorang perawat di Rumah Sakit .. apa kamu sendiri masih mau menerima perempuan yang hidupnya banyak masalah ini? ..’


*****


“Terima kasih..” Ucap Putra dengan nafas yang sedikit terengah setelah melepaskan bibir Gadis dari tautan bibirnya.


“Untuk apa?”


“Karena tidak berencana pergi dariku”


Gadis mendengus geli.


“Kamu kan yang bilang, percuma saja aku berusaha lari karena kamu pasti akan menemukanku?. Jadi buat apa aku lari?. Membuang tenagaku saja,  bukan?..”


Putra terkekeh kecil.


“Baguslah jika kamu memahaminya..”


Gadis ikutan terkekeh kecil.


“Iyaa aku paham Tuan Putraa.. yang penting kan kamu mencintaiku?... itu sudah cukup untukku, dan aku beryukur untuk itu ..”


Kembali menangkupkan tangannya ke wajah Putra dan menggoyangkannya, membuat Putra menjadi gemas seketika.


“Aku rasanya ingin menginap saja di rumahmu malam ini jika kamu seperti ini Gadis  ..” Putra menunjukkan wajah


konyolnya.


Lagi – lagi Gadis memencet gemas hidung Putra. “Dasar m*sum!. Sudah ah aku mau turun”


“Salahmu yang membuatku jadi pria mesum!....” Gantian Putra  yang memencet gemas hidung Gadis sebelum


akhirnya Gadis turun dan Putra juga ikut turun, berniat untuk mengantar Gadis sembari membantu membawakan beberapa dua tas belanja dari barang – barang yang sempat Putra belikan untuk Gadis.


*****


“Aku mengantarmu sampai ke rumahmu tidak masalah bukan?” Tanya Putra yang sudah turun dari mobil dan berdiri di dekat Gadis.


“Tidak masalah ...” Jawab Gadis.


Putra tersenyum kemudian dan mulai berjalan berdampingan dengan Gadis.


“Daerah rumahmu ini lumayan sepi, ya?. Membuatku khawatir” Ucap Putra sambil sesekali mengedarkan pandangannya.


“Ini sudah jam tidur, makanya sepi” Sahut Gadis. “Daerah disini aman. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan”


“Apa kamu yakin disini aman?” Tanya Putra.


“Huumm ....”


“Untung saja aku mengantarmu sampai kedalam daerah rumahmu ini”


“Kenapa memang?”


“Ya sepi seperti ini?”


“Tidak masalah kok. Aku kan sudah tinggal cukup lama disini. Pagi, siang, malam selalu aman. Kadang juga ada yang berkeliling bergantian menjaga daerah ini. Dan lagipula aku sudah biasa..”


“Biasa bagaimana?..”


“Ya pulang malam seperti ini”


Membuat Putra menaikkan satu alisnya. “Pulang malam di waktu seperti sekarang ini?”


Kini dahi Putra berkerut.


“Memang kamu dari mana sampai pulang di waktu seperti ini?”


‘Aish!’ Gadis membatin, sadar ia keceplosan akan sesuatu yang belum ia beritahukan pada Putra.


“Hem? ..” Putra menunggu jawaban.


Tiba – tiba Putra teringat akan sesuatu.


‘Ah iya, waktu aku mencoba mencarinya malam kemarin dua orang itu menyinggung soal pekerjaan lain yang Gadis lakukan .. aku penasaran’


“Itu .. aku kan kadang lembur di Rumah Sakit! .. Dan .. sesekali aku pulang dijam seperti ini, jika aku masuk siang lalu lembur jika banyak pasien ...”


“Hum,”


Putra manggut – manggut saja.


‘Kenapa aku merasa dia tidak jujur padaku?’ Putra membatin.


‘Nanti sajalah aku katakan padanya. Jika aku katakan sekarang, dia pasti memintaku bicara panjang lebar, sementara ini sudah lumayan malam dan aku merasa sedikit lelah..’


Gadis membatin juga sembari melirik Putra yang sedang manggut – manggut itu.


‘Tapi jika aku mengatakan pada Putra kalau aku bekerja di tempat macam JP itu, apa dia akan menganggapku buruk lalu meninggalkanku? ..’


*****


Langkah Gadis terhenti setelah berada didepan sebuah rumah sederhana berpagar putih dengan cat pagar yang sedikit pudar.


“Ini rumahku..” Ucap Gadis sembari tersenyum. “Bukan rumah pribadiku sih.. aku mengontrak rumah ini”


“Me – ngontrak?”


“Menyewa maksudnya”


Putra manggut – manggut.


Kemudian Putra memperhatikan rumah yang ada dihadapannya itu dengan seksama.


“Sebaiknya kamu mencari tempat tinggal yang lain, Gadis.. tempat ini rasanya tidak layak untuk kamu tempati”


Putra menyampaikan pendapat pribadinya pada sebuah bangunan yang nampaknya juga masih kalah besar dengan kamarnya dan Anthony di Villa mereka.


Gadis tersenyum.


Pada Putra yang sedang memandang prihatin pada rumah yang ditempati Gadis.


“Rumah ini masih cukup layak untuk ditinggali. Hanya kurang perawatan saja. Tapi aku cukup nyaman tinggal disini..”


“Aku yang merasa tidak nyaman mengetahui kalau kamu tinggal di bangunan seperti ini, Gadis..” Sahut Putra sembari memandang Gadis dengan tatapan prihatin.


Gadis kembali tersenyum. “Sudahlah, jangan terlalu kamu pikirkan soal tempat tinggalku ini..” Sahut Gadis.


Putra menatap Gadis dengan raut wajah yang seperti sedang berpikir dan menimbang – nimbang untuk membuat keputusan.


Gadis memperhatikannya.


Lalu Putra menatap Gadis lekat – lekat.


“Ayo!” Meraih satu tangan Gadis dan tentunya membuat Gadis keheranan.


“Ayo kemana? ...”


Gadis menahan tubuhnya.

__ADS_1


“Ikut denganku ke tempat tinggalku yang berada di Ibukota ini”


“A – pa katamu??? ...” Gadis sampai mendelik.


“Akan lebih baik jika kamu tinggal disana. Di tempat tinggalku, Anth dan keluargaku yang berada di Ibukota ini. Ayo” Putra meraih tangan Gadis yang terkejut itu.


“Ah, tidak, tidak. Tidak perlu” Tolak Gadis dengan cepat.


“Tempat tinggal kami lebih layak, Gadis ... lagipula dekat dengan Saint. Kamu akan lebih mudah berangkat ke tempat kerjamu jika kamu tinggal disana ... Aku akan membeli rumah lain nanti untuk tempat tinggal kami di Ibukota ini ...”


Putra tetap berusaha membujuk dan meyakinkan Gadis untuk mengikuti sarannya agar tinggal di rumah yang sudah Putra dan keluarganya beli itu. Namun Gadis tetap menolak.


“Tidak Putra, itu sungguh tidak perlu. Sudahlah, aku nyaman kok tinggal disini. Toh sudah dua tahun aku menempatinya, dan selama itu aku pun baik-baik saja... disini aman dan rumah ini tidak seburuk dengan apa yang kamu pikirkan... sudahlah, ya?”


“Tapi ...”


“Begini, setidaknya sampai kita menikah nanti, biarlah aku tinggal disini dulu ya?. Setelah menikah aku harus ikut tinggal bersamamu, bukan?” Bujuk Gadis pada Putra kini.


Putra pun terdiam, nampak sedang berpikir dan menimbang-nimbang.


“Baiklah...” Putra menyerah pada keinginan Gadis pada akhirnya.


Senyum kelegaan Gadis pun terbit. ‘Hahhh... syukurlah dia mau mengalah...’


“Atau begini, besok aku, Anth dan yang lainnya akan kembali ke Villa kami dan Danny akan pergi ke Inggris. Selama kami tidak menempati rumah kami itu, kamu tinggallah disana... bagaimana?”


“Putra, aku lelah ... kita bahas ini lain kali saja ya?. Toh katanya kamu akan pergi pagi-pagi kembali ke Villa kalian bukan?... akupun masih masuk pagi besok ... aku juga sudah mengantuk. Dan kamu sendiri juga sudah terlihat


lelah... jadi, nanti saja kita bicara saat kamu sudah kembali lagi kesini ... ya? ... aku mohon? ... ya?... Putra?”


“Hhh ...”


Putra mendengus.


“Ya sudah ...”


Kembali menyerah pada permintaan Gadis.


“Kita akan membahas ini pekan depan saat aku kembali lagi kesini...”


Gadis kembali mengembangkan senyumnya. “Terima kasih atas pengertian kamu, Putra”


Putra mengangguk. “Masuk dan beristirahatlah” Ucap Putra sembari menyerahkan tas belanja pada Gadis yang mengangguk dan menerima tas tersebut.


Putra mengayunkan satu langkahnya untuk lebih dekat pada Gadis.


Dimana Gadis malah mundur selangkah.


“Jangan mencium bibirku!” Sergah Gadis dengan cepat. Dan Putra mendengus geli.


“Iya, aku paham”


Cup!


Putra mengecup kening Gadis dengan singkat saja. “Aku akan merindukanmu, Gadis”


“Akupun begitu”


“Ah iya...”


Putra merogoh saku jasnya.


“Ini ...” Mengeluarkan sebuah buku kecil dan pena, menuliskan beberapa angka di selembar kertas yang kemudian Putra robek dan memberikannya pada Gadis.


“Ini...”


“Ini nomor telepon Villa kami... aku belum sempat membuat social card ku disini ...”


“Social card?” Tanya Gadis.


“Kartu nama”


“Ohhh”


“Yang kupunya hanya social card ku yang ku pakai di Italia”


Gadis manggut-manggut.


“Kamu memiliki nomor telepon yang bisa ku hubungi di rumahmu ini?” Tanya Putra.


“Tidak ada, Putra... Tidak ada telepon di rumah ini. Orang biasa sepertiku dan kami yang tinggal di lingkungan ini tidak ada yang memiliki telepon di rumahnya ... kami akan pergi ke toko Baba Liang jika ingin bertelepon. Ada telepon ber koin disana, atau kami pergi ke telepon umum di dekat pasar”


Putra manggut-manggut sembari memilin bibirnya.


“Aku sudah memiliki nomor telepon Saint, memang. Tapi aku berharap kamu akan menghubungiku juga, jika mungkin aku tidak sempat menghubungimu”


“Iya... aku akan menghubungimu sepulang kerja”


Putra sedang merogoh saku jasnya lagi.


“Ini ...”


Menyodorkan beberapa lembar uang yang nominalnya cukup besar pada Gadis dari dompetnya.


“Apa ini?”


“Uang”


Gadis terkekeh.


“Iya aku tahu ini uang, Putraa ... tapi mengapa kamu memberikannya padaku? ...”


“Jangan tersinggung” Ucap Putra. “Ini untuk biaya menelponku nanti ...” Sambung Putra.


Seketika Gadis menyentuh tangan Putra yang sedang menyodorkan beberapa lembar uang padanya itu, lalu mendorong pelan tangan Putra.


“Simpanlah, Putra” Ucap Gadis.


“Tolong, terimalah...”


“Aku tidak mau”


“Gadis ...”


“Uangku masih cukup kalau hanya untuk menelponmu nanti, Putra ...”


“Aku tidak menerima penolakan” Dengan cepat Putra menarik satu tangan Gadis dan meletakkan beberapa lembar uang yang tadi ia sodorkan dan ditolak oleh Gadis itu ke atas telapak tangan Gadis.


“Putra ...”


“Sekarang masuk dan beristirahatlah atau aku akan mencium bibirmu”


“Hish! Kamu ini, selalu saja ...”


“Ku hitung sampai tiga, jika tidak bergegas masuk, aku akan mencium bibirmu itu”


Gadis mendengus.


Namun tersenyum kemudian.


“Ya sudah, aku masuk ya?. Kamu hati-hati di jalan”


Putra mengangguk.


Putra masih berdiri di depan rumah Gadis, meskipun Gadis sudah masuk ke dalam rumah kontrakannya itu.


‘Aku tidak akan membiarkanmu hidup sulit meskipun kita belum menikah, Gadis ...’


*****

__ADS_1


To be continue ..


Dukungannya selalu dinanti sama Othor receh ini.


__ADS_2