
Happy reading ..
◽◽◽◽
“Hey you guys, it’s almost twelve (Hey kalian, ini hampir jam dua belas)”
Bruna tahu-tahu muncul di ambang pintu kamar Anthony yang baru.
Mereka yang sedang berkumpul itu pun spontan menoleh ke arah Bruna, lalu mengangguk bersamaan menanggapi ucapan Bruna barusan.
“Yes we know my dear sister.... I just want to ask Add to wake Anth up and bring him here (Iya kami tahu adikku sayang... Aku baru mau meminta Add untuk membangunkan Anth dan membawanya kesini)”
Putra pun menyahut pada Bruna.
“Now get Anth here (Sekarang bawa Anth kesini) ......”
“Oh I can’t wait to see Anth’s reaction after this..... (Aku tidak sabar untuk melihat reaksi Anth setelah ini...)”
“Especially, when Anth saw the very special gift .... (Apalagi, setelah Anth melihat hadiah yang sangat spesial.....)” Ucap Damian sembari menunjuk pada Gadis yang tersenyum.
Dan mereka semua yang mendengar dan mengerti ucapan Dami itu spontan menoleh pada Gadis sembari tersenyum juga.
“Come, let’s wake up Anth now (Ayo, kita bangunkan Anth sekarang)”
Add mengajak Bruna, si kekasih hatinya itu, untuk pergi ke kamar lama Anthony dan Putra.
***
“Pak Abdul, Ibu Marsih, Suheil, Ibu Minah dan Pak Tri, kalian silahkan pergi beristirahat....”
Putra berucap pada ke lima orang yang ia sebutkan namanya itu, selepas Addison dan Bruna pergi untuk membangunkan Anthony.
“Saya mohon maaf karena membuat kalian bekerja hingga selarut ini”
“Tidak Tuan Putra, jangan meminta maaf begitu. Kami jadi yang merasa tidak enak ...”
Pak Abdul bersuara, mewakilkan empat lainnya yang kemudian manggut-manggut.
“Iya Tuan...” Sahut ke empat orang pekerja yang lain itu.
“Kami justru senang Tuan Putra.... Kalo boleh juga kami mau disini untuk ngucapin selamat ulang tahun sama Tuan Muda Anthony. Mohon maaf sebelumnya jika saya lancang Tuan Putra ...” Ucap Ibu Marsih, istri Pak Abdul.
“Itupun jika Tuan mengijinkan .....”
Suheil menimpali ucapan ibunya itu.
Bibir Putra kemudian membentuk senyuman.
“Tentu saja aku mengijinkan ....”
“Terima kasih Tuan Putra....” Ucap lima orang asisten rumah tangga dalam Villa itu.
Dan Gadis juga menarik sudut bibirnya, melihat interaksi Putra dengan lima pekerjanya itu.
‘Ternyata Putra baik sekali pada semua pekerjanya ....’
Gadis berkata dalam hatinya.
“Tolong matikan lampunya Pak Tri ...”
“Baik Tuan”
Asisten rumah tangga yang diminta Putra untuk mematikan lampu pun, segera melakukan apa yang Putra minta padanya.
Lalu Damian menyalakan beberapa lilin kecil yang sudah tertancap di puncak kue ulang tahun bertingkat dua itu namun tidak terlalu besar.
“Kamu bersembunyi di balik pintu dulu, ya Gadis?”
“Iya ......”
Gadis pun langsung melangkahkan kakinya untuk bersembunyi di tempat yang Putra minta padanya.
Dan Putra kemudian berdiri didekat kue ulang tahun yang sudah diletakkan di atas sebuah meja kecil.
Garret dan Damian sudah berdiri bersisian dengan Putra. Sementara sisanya berdiri berjarak dari ketiga orang tersebut.
Danny kemudian nampak menyembulkan kepalanya sedikit ke satu arah dari pembatas pintu kamar Anthony.
“He’s coming (Dia datang) ...” Ucap Danny dengan suara seperti orang berbisik.
***
Sementara itu, Addison dan Bruna sudah berada di kamar Putra dan Anthony yang lama.
“Anth...”
Bruna memanggil pelan pada Anthony yang sudah nampak pulas tidurnya.
Tidak tega sih, sebenarnya. Karena Bruna tahu jika Anthony belum lama terlelap.
“Anth...” Panggil Bruna lagi.
Tapi berhubung ini adalah hari spesialnya Anthony, dan Bruna serta yang lainnya ingin membahagiakan bocah tampan kesayangan mereka itu dengan memberikannya kejutan ulang tahun, jadi mau tidak mau Bruna sedikit tega membangunkan Anthony di tengah malam.
“Eeengg ....”
“Anth...”
“Mad-re....”
__ADS_1
Anthony memicingkan matanya.
“Is, it morning?..... (Ini, sudah pagi?...)”
“Eeemmm ....” Bruna sedikit bingung untuk menjawab.
“Yes, it’s already morning, Anth. (Iya, ini sudah pagi, Anth)...”
Addison keburu menyambar sebelum Bruna sempat menjawab Anthony, sembari merundukkan sedikit tubuhnya mengarah pada Anthony yang masih berbaring sambil mengucek-ngucek matanya itu.
“Padre ....” Ucap Anthony saat mendengar suara Addison sembari mengarahkan matanya kepada salah satu ayah angkatnya yang sedang merunduk dan tersenyum padanya itu.
Anthony mengangguk pelan, sembari mencoba bangun dari posisinya dan Bruna membantunya.
“Do you want to drink first, Anth? (Apa kamu ingin minum dulu, Anth?)....”
“No Madre (Tidak Madre)..”
“Come then ..... (Kalau begitu ayo ....)”
Addison pun mengangkat tubuh Anthony dan menggendongnya.
“Whe-re are we going Padre? (Ki-ta mau kemana Padre?)...” Tanya Anthony yang nampak masih sangat mengantuk itu.
Anthony bahkan mengalungkan tangannya dan meletakkan kepalanya di atas pundak Addison karena memang Anthony masih sangat mengantuk.
“I want to show you something (Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu)” Jawab Addison.
Anthony tidak bersuara. Hanya kepalanya saja yang terlihat bergerak seperti mengangguk.
Bruna dan Addison hanya mengulum senyum, dan membawa Anthony ke tempat semua orang dalam Villa yang ingin memberikan kejutan padanya itu sudah berkumpul.
*
“He’s coming (Dia datang) ...” Ucap Danny dengan suara seperti orang berbisik dan semua orang yang berada di dekat Danny itu pun segera siap di posisinya masing-masing.
Dan memang tak lama, tiga orang muncul di depan pintu kamar Anthony yang baru, yang lampunya sudah digelapkan itu dan hanya ada cahaya dari lilin yang sudah dinyalakan di atas kue ulang tahun Anthony.
Semua orang mengulum senyum karena Anthony yang nampak menggelayut manja dalam gendongan Addison itu dan posisinya membelakangi kamar serta orang-orang yang sudah menunggu, untuk memberi kejutan ulang tahun pada Anthony.
“Hey Anth”
Addison mengusap pelan punggung Anthony.
Terdengar Anthony menyahut dengan menggumam.
“You have something to see (Kamu harus melihat sesuatu) ...”
“Eeengg .....”
Anthony nampak bergerak perlahan sembari juga mengangkat kepalanya lalu menatap Addison sembari mengucek pelan matanya.
Addison menggerakkan kepalanya. Mengkode agar Anthony menoleh ke arah yang ia maksudkan.
Anthony yang masih nampak mengantuk itu pun menoleh sayu ke arah yang padre-nya tunjukkan dengan kode kepalanya itu.
“Happy Birthday (Selamat Ulang Tahun), Aaannntttthhhhhh! ....”
Dimana mata sayu Anthony menjadi tidak sayu lagi, seiring senyuman yang merekah di bibirnya.
Lalu Anthony menoleh pada Addison yang kemudian manggut-manggut dengan tersenyum padanya.
“Today is your birthday Handsome Boy! (Hari ini ulang tahunmu Anak Tampan!)”
“Happy Birthday!” Bruna memberikan selamat seraya mengecup pipi Anthony dengan juga tersenyum. Addison juga melakukan hal yang sama seperti yang Bruna lakukan pada Anthony.
“Today, is my birthday??? (Hari ini, ulang tahunku????)” Anthony bertanya dengan wajahnya berbinar campur terkejut dan tidak percaya, dengan suara imutnya. Semua orang menganggukkan kepalanya, seraya tersenyum pada bocah tampan tersebut.
“You don’t remember my boy? (Kamu tidak ingat anakku?)”
Putra memajukan dirinya.
“Papa!!!”
Senyum Anthony mengembang dengan wajahnya yang semakin berbinar saat melihat Putra yang sudah berjongkok di dekat meja dimana diatasnya ada kue ulang tahun Anthony hasil buatan tangan Bruna.
Dimana Anthonypun langsung berhambur untuk memeluk Putra.
“Happy Birthday, Anth... “
“Thank you, Papa Putra” Jawab Anthony yang kemudian mengurai pelukannya pada Putra lalu mengecup pipi Papa angkat kesayangannya itu.
Dimana Damian kemudian terdengar berkesah kecil dan bergegas keluar dari kamar baru Anthony tersebut. “Hey where are you going Dam?! (Kau mau kemana Dam?!)”
Damian yang sudah melesat dari kamar Anthony itu tidak menjawab seruan Addison yang berupa pertanyaan.
Dan Addison hanya geleng-geleng. Sementara yang lain mendengus geli, lalu satu per satu mengucapkan selamat pada Anthony seraya memberikan pelukan dan kecupan pada bocah tampan yang wajahnya begitu sumringah sekali saat ini.
Kecuali lima asisten rumah tangga yang masih tetap pada posisinya, menunggu para majikan selesai memberikan selamat pada satu-satunya Tuan Muda dalam keluarga tersebut.
Tak berapa lama Damian yang nampak berlari itupun sudah kembali dengan membawa sebuah kamera di tangannya.
“We need to save the moment (Kita harus menyimpan kenangan) ...” Ucap Dami “Am I right??? (Iya kan????).....”
Yang lain mengiyakan dengan anggukan. Lalu Dami memberikan ucapan, pelukan dan kecupan pada Anthony seperti yang lainnya.
“You may make a wish now (Kamu boleh membuat permintaan sekarang) ....” Ucap Putra pada Anthony yang sudah ia posisikan menghadap pada kue ulang tahunnya yang lilinnya sudah terbakar setengah.
Dimana tangan Putra mengarah dan mengkode pada Gadis yang bersembunyi di balik pintu kamar yang memang di belakangi oleh Anthony.
__ADS_1
Gadis berjalan perlahan, karena Putra juga mengkode dengan telunjuk yang ia tempelkan di bibirnya, saat Anthony sudah memalingkan wajahnya pada kue ulang tahunnya.
“Thank you Lord, because I can celebrate my birthday today, even my Daddy and Mommy is already with you now (Terima kasih Tuhan, karena aku bisa merayakan ulang tahunku hari ini, walaupun Daddy dan Mommyku sudah bersama dengan Mu sekarang) ...”
Anthony memejamkan mata, dengan kedua tangan mungilnya yang ia tautkan dengan erat. Dimana ucapannya, membuat semua orang yang mengerti menjadi berkaca-kaca netranya, selain sudah hening saat Putra meminta Anthony untuk membuat permintaan.
“But I promise I won’t be sad anymore, even you took Daddy and Mommy to stay with you in Heaven. Because I have Papa Putra, Padre, Madre, Daddy Dami and Daddy Garret with me. They Love very much and dote me a lot. Thank you Lord, for not making me alone when my Daddy and Mommy past away...”
(Tapi aku janji aku tidak akan lagi bersedih, walaupun Engkau mengambil Daddy dan Mommy untuk tinggal bersamamu di Surga. Karena aku punya Papa Putra, Padre, Madre, Daddy Dami dan Daddy Garret bersamaku. Mereka sangat menyayangi dan sangat memanjakan ku. Terima kasih Tuhan, untuk tidak membuatku sendirian saat Daddy dan Mommyku telah tiada....)
Dimana tenggorokan para orang dewasa yang paham ucapan Anthony rasa tercekat hingga bulir-bulir air mata di masing-masing mata mereka mulai turun, bersama juga dengan rasa haru yang menguar, mendengar kepolosan Anthony dalam ucapannya yang seolah sedang berbicara langsung pada Tuhan itu.
“I don’t want ask for toys as my birthday gift. All I ask, is you making Papa Putra, Padre, Madre, Daddy Dami and Daddy Garret always be healthy so I can always be with them forever... (Aku tidak meminta mainan untuk hadiah ulang tahunku. Aku hanya meminta, agar Papa Putra, Padre, Madre, Daddy Dami and Daddy Garret selalu sehat sehingga aku bisa terus bersama mereka selamanya...)”
“Oh Anth .....” Mereka yang disebutkan Anthony bergumam haru, sembari menghapusi air mata yang berjatuhan dari pelupuk mata.
“I love them very much as the way they love that much ..... (Aku sangat menyayangi mereka sebagaimana mereka juga sangat menyayangiku ....)”
Dan senyum juga nampak di wajah-wajah mereka yang sedang memperhatikan Anthony yang nampak masih belum selesai dengan apa yang sedang ia lakukan saat ini disela haru yang memeluk hati mereka.
“Ah also thank you Lord, because I have Uncle Danny also who is care to me a lot (Ah iya terima kasih juga Tuhan, karena aku juga punya Uncle Danny yang menyayangiku) ...”
Danny yang kebagian dalam doanya Anthony itu menarik bibirnya hingga melengkung sempurna.
“And Uncle Arthur too, who is nice also ... even I still not close to him, but I think he’s a nice guy (Dan Uncle Arthur juga, yang juga baik ... walaupun aku belum terlalu dekat dengannya, tapi aku rasa dia pria yang baik)”
Arthur yang kebagian juga dalam doa Anthony, nampak sumringah juga.
“Thank you Lord for making me have a lot of people who loves me around me (Terima kasih Tuhan telah membuatku memiliki banyak orang yang menyayangiku disekelilingku) ...”
“Finish my Boy? .... (Sudah selesai Anakku? ....)”
Putra mendekatkan dirinya pada Anthony yang kemudian membuka matanya.
“Oh, once again Lord! (Satu lagi Tuhan!)”
Anthony yang sudah membuka matanya itu kembali menutup matanya, tidak jadi menyahut pada Putra.
Membuat mereka yang disekeliling Anthony menjadi terkekeh, karena tingkah Anthony dikarenakan ada doa yang sepertinya tertinggal, lupa ia katakan.
“Hurry up Anth, your birthday candles is almost surcease .... (Cepat Anth, lilin ulang tahunmu sudah hampir habis....)”
Damian berceloteh, yang lain kembali terkekeh.
“I also want to say thank you to you Lord, because I can meet Gadis, and because she cares about me a lot. I wish, she can love like Mommy loves me. (Aku juga ingin berterima kasih padamu Tuhan, karena aku bisa bertemu Gadis, dan karena dia juga begitu perhatian padaku. Aku harap, dia bisa menyayangiku seperti Mommy menyayangiku...)”
Ada haru yang kembali menyeruak. Terutama di hati Gadis yang sudah berdiri dibelakang Anthony sedari tadi, tanpa bocah tampan itu menyadari karena sibuk berdoa sekaligus curhat pada Tuhannya.
“Actually I really wish that Gadis can be here to celebrate my birthday... But it’s okay if not, but I hope You can make Gadis to marry Papa Putra. Please Lord, okay?. Amen (Sebenarnya aku sangat berharap jika Gadis bisa ada disini untuk merayakan ulang tahunku... Tapi tidak apa-apa jika tidak juga, tapi aku harap Kau bisa membuat Gadis menikahi Papa Putra. Tolong Ya Tuhan, oke?. Aamiin)”
Doa yang setengah memaksa dari Anthony dan lagi-lagi membuat mereka yang berada didekatnya terkekeh.
“Oh my ... (Ya ampun ...)” Gumam Anthony saat ia sudah membuka mata dan melepaskan tautan kedua tangannya untuk meniup lilin di atas kue ulang tahunnya , ternyata lilin-lilin tersebut sudah meleleh habis dan padam.
Membuat semua orang terkekeh geli sekarang melihat wajah polos Anthony saat ia melihat lilin-lilin kecil di kue ulang tahunnya itu tidak tersisa.
“Lord get bored, because your prays is too long and he just sent his angels to blow the candle first .... (Tuhan bosan, karena doamu terlalu panjang dan dia tadi mengirim malaikatnya untuk meniup lilin itu duluan ...)” Celetuk Damian seraya meledek dan Anthony jadi terkekeh, termasuk yang lainnya.
“Well, it’s okay, it means that Lord will grant my prays..... (Ya sudah tidak apa-apa, itu artinya Tuhan akan mengabulkan doa-doaku ...)” Timpal Anthony polos dengan raut wajah yang menggemaskan sembari menatap kue ulang tahunnya.
“You are absolutely right! (Kau benar sekali!)”
Putra memencet gemas hidung mungil Anthony lalu ia berdiri.
“God has grant your wish (Tuhan sudah mengabulkan keinginanmu)”
Putra mengkode pada Pak Abdul untuk menyalakan lampu.
“Happy Birthday Anthony...”
Dimana wajah Anthony yang sedang menoel-noel kue ulang tahunnya dengan telunjuknya yang kemudian ia masukkan ke mulut mungilnya itu langsung saja melongo serta terpaku saat sebuah suara berikut sosoknya, terlihat ada di sisi Anthony kala lampu telah menyala.
“Gadiissss!!!!”
Tak menunggu lama untuk Anthony segera menghambur dan memeluk seseorang yang ia sebut itu, yang tadi menyapa sekaligus memberikan ucapan selamat padanya dengan senyuman yang lembut.
“Are you happy? (Apa kamu bahagia?)”
“Yes Papa”
Anthony manggut-manggut.
“So much! (Sangat!). I’m getting more happy now! (Aku semakin bahagia sekarang!)”
“Glad for it (Senang mendengarnya)”
“Thank you Papa!”
“My pleasure (Dengan senang hati), Anth”
“Now you both can get marry in front of me right? (Sekarang kalian berdua bisa menikah didepanku saat ini kan?) ....”
“Haish...”
****
To be continue..
Terima kasih masih setia disini...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ...