LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 310


__ADS_3

Happy reading ..


♣♣


London, England,


“By the way Papa, can I talk to Daddy Dami and Daddy Garret too after you finish talk with Mama ( Ngomong-ngomong Papa, bisakah aku bicara dengan Daddy Dami dan Daddy Garret juga setelah Papa selesai berbicara dengan Mama )?”


“Sure Boy ( Tentu saja Nak ) –“ ucap Putra saat Anthony hendak mengakhiri pembicaraan dengannya.


“Thank you Papa!”


Ucapan terima kasih dengan riang dari Anthony pun terdengar dari seberang telepon.


Lalu Putra mendengar jika Anthony sedang berbicara pada seseorang.


Disaat itu, Putra beralih pada Damian dan Garret yang berada didekatnya. “Anth said he wants to talk with both of you later after I finish talk with Gadis ( Anth bilang jika ia ingin berbicara dengan kalian berdua setelah aku selesai bicara dengan Gadis )”


“Oh how I miss our Prince ( aku sangat merindukan Pangeran kita ) –“ tukas Damian. “By the way, what thing that make you upset just like that ( Ngomong – ngomong, apa yang membuatmu kaget seperti tadi)?”


Damian bertanya kemudian. Dan Putra hendak menjawab Damian, namun urung seketika dan langsung mengangkat tangannya karena terdengar sebuah suara menyapanya dari seberang telepon.  “Putra .....”


Dan Putra sudah nampak fokus lagi pada telepon.


“Gadis, istriku sayang .....” ucap Putra yang berbicara melalui salah satu lubang suara pada gagang telepon yang dipegangnya.


Damian dan Garret yang paham, akhirnya menyingkir dari dekat Putra. “We’ll be outside Putra ( Kami akan keluar Putra )” ucap Garret sambil memandang pada Putra yang sekilas mengangguk padanya saat Putra menyebut nama Gadis.



Sudut bibir Putra melengkung ke atas saat mendengar suara wanita yang ia rindukan dari seberang telepon.


“Pu-traaa .....”


“Apa kabarmu, sayangku Gadis? ....”


Putra langsung menyapa pada Gadis dengan mesranya, saat suara sang wanita tercinta memanggil namanya dengan sedikit lirih namun berkesan manja bagi Putra.


“Aku hampir mati merindukanmu,” jawab Gadis.


Putra pun terkekeh setelah mendengar sahutan Gadis barusan.


‘Ah damned!’


Putra mengumpat dalam hatinya, kala luka bekas tembakan sedikit terasa nyelekit akibat dirinya terkekeh barusan, selain rasanya Putra sudah duduk cukup lama, hingga ia merasakan pegal di punggungnya.


“Sshh-“


“Putra? ...” suara Gadis terdengar memanggilnya.


Putra sedang menghela nafasnya dengan pelan sekali kala suara Gadis itu ia dengar memanggilnya lagi.


“Putra, apa kamu baik – baik saja?-“ suara Gadis terdengar lagi, dengan nada yang sedikit cemas.


“Aku baik – baik saja Gadis,” sahut Putra tak seberapa lama, ketika menyadari kekhawatiran Gadis dari nada suaranya.


“Benarkah? ...”


“Iya benar. Aku tidak apa – apa-“


Putra menyahut dengan tenang.


“Tapi aku dengar kamu tertembak.” Gadis berujar. “Apa parah? ....”


Putra terkekeh kecil mendengar pertanyaan Gadis.


“Jika aku terluka parah, aku tidak mungkin berbicara santai denganmu di sambungan telephone saat ini Gadis-“


Gadis terdengar mendengus di seberang telepon.


“Kamu ini ....” tukas Putra setengah menggumam, lalu dirinya terdiam sesaat.


“Aku merindukanmu Putra .... sangat ....”

__ADS_1


“Akupun merindukanmu Gadis ....”


Putra membalas kalimat mesra Gadis.


“Lebih dari sangat-“


“Cepat pulang ya?” tukas Gadis.


Putra pun spontan menarik sudut bibirnya ke atas. “Pasti Gadis-“ sahut Putra. “Aku pasti lekas pulang jika semua disini telah selesai.”



“Gadis,” panggil Putra.


“Iya, Putra? ....“ jawab Gadis cepat.


“Jangan terlalu mengkhawatirkan diriku.”


Putra menelisik Gadis lewat bicaranya, dimana Gadis langsung menyahut.


“Aku kan mengkhawatirkan suamiku? .... apa salah? ....”


“Ya tidak salah memang .... tapi jika aku tangkap dari cerita Anth, aku yakin khawatirmu itu terlalu berlebihan jika kamu sampai histeris dalam tidurmu ....” jawab Putra.


“Itu karena aku syok mendengar kamu tertembak Putra.”


“Bermimpi buruk, hem?-“


“Lebih dari buruk.” Gadis menukas dengan cepat.


Putra pun mendengus. “Setelah ini, jangan lagi terlalu mengkhawatirkanku dan berpikir yang macam-macam, berspekulasi sendiri tentang sesuatu yang buruk terjadi padaku.”


Putra merepet kemudian.


“Dengar ini baik-baik,” kata Putra lagi. “Aku sudah berjanji padamu dan Anth jika aku akan pulang bukan?” lanjut Putra.


“Iya ....”


Dan Putra pun dengan cepat berucap lagi.


“Maka aku akan tunaikan janjiku itu. Jadi jangan lagi menyiksa dirimu dengan kekhawatiran yang berlebihan .... karena mendengar keadaanmu dari Anth tadi, aku jadi tidak tenang dan merasa bersalah padamu Gadis.”


“Maaf ....” lirih Gadis, dan Putra tersenyum tipis di tempatnya.


“Tidak perlu minta maaf. Aku hanya tidak ingin kamu sakit karena pikiranmu yang berlebihan tentangku-“


“Iya ....”


“Ngomong – ngomong Gadis ....”


Putra teringat sesuatu.


“Apa?-“


Gadis pun langsung merespon.


“Anth tadi mengatakan jika kamu sedang hamil? ....”


Putra teringat ucapan Anthony padanya.


“Apa .... itu benar? ....” dan bertanya dengan penuh harap pada Gadis.


“Sebenarnya belum pasti,” jawab Gadis.


“......”


“Hanya saat aku pingsan tadi Bru memeriksa keadaanku-“


“Kamu bahkan sampai pingsan Gadis,” potong Putra.


Gadis terdengar mendengus pelan dari seberang telepon.


“Aku begitu mengkhawatirkanmu Putra-“

__ADS_1


Putra menghela nafasnya mendengar ucapan Gadis, lalu menenangkan Gadis lagi setelahnya.



“Teruskan ceritamu tentang calon anak kita ....” ucap Putra dengan senyuman di wajahnya.


Terdengar dengusan pelan dari Gadis, yang orangnya juga sedang tersenyum ditempatnya.


“Tapi itu belum pasti.”


“Meski begitu ....” tukas Putra. “Aku sudah bahagia mendengarnya Gadis.”


Ucapan Putra membuat Gadis tersenyum hangat seiring rasa hatinya yang juga menghangat, karena dari ucapan Putra-jika suaminya itu juga mengharapkan kehadiran buah cinta mereka sama seperti dirinya.


“Bruna bilang, lebih baik aku memeriksakan hal ini ke dokter untuk memastikan-“


“Pergilah.”


“Kamu mengijinkan aku pergi ke luar Villa?”


“Jika itu untuk memeriksakan calon buah hati kita, aku mengijinkan.”


“Tapi ....” Gadis menggantungkan ucapannya.


“Kenapa?” tanya Putra.


“Aku ingat kamu mengatakan pada teman-temanku yang menghadiri pernikahan kita, untuk tidak bicara apa-apa dulu soal pernikahan kita itu. Jika aku memeriksakan kehamilanku, pasti aku akan ditanya sudah menikah atau belum.”


Putra tersenyum ditempatnya atas perkataan Gadis. “Katakan dengan lantang bahwa kamu sudah menjadi istriku.”


“Apa tidak apa-apa jika aku mengatakannya?-“ Gadis memastikan.


“Kenapa memangnya?” Putra balik bertanya. “Kamu malu mengaku jadi istriku?”


“Ish kamu ini Putra-“ Gadis lekas menyergah. “Ada juga aku yang bertanya seperti itu padamu.”


Putra mendengus geli ditempatnya.


“Selain Anth, bagiku, kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku Gadis.”


Lalu Putra berucap.


“Tidak mungkin aku malu mengakuimu sebagai istriku.”


Ucapan Putra membuat Gadis tersenyum hangat ditempatnya.


“Aku meminta teman-temanmu untuk tutup mulut sementara waktu, karena aku ingin mengumumkannya secara besar-besaran nanti. Sekaligus memperkenalkan keluarga kita ke publik disana. Dan dengan bangga akan aku umumkan kamu sebagai istriku Gadis.”


Ucapan Putra selanjutnya membuat Gadis tersenyum lagi. Hatinya bahagia. “Terima kasih Putra.”


“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu Gadis,” balas Putra. “Terima kasih karena sudah mau bersama pria yang tidak begitu baik ini.”


“Aku mencintaimu Putra ....”


“Aku pun begitu Gadis. Tunggu aku, hem?” pinta Putra.


“Pasti Putra ....”


Gadis menyahut lembut namun dengan nada pasti.


“Jaga dirimu baik – baik,” tukas Putra. “Ingat kata – kataku tadi-“


“Iya-“ potong Gadis dan Putra tersenyum geli ditempatnya. “Pokoknya segera pulang setelah urusanmu disana selesai loh ya? ....” Gadis berucap dengan nada manja kemudian. Dan Putra tersenyum lagi.


“Tentu aku akan segera pulang,” jawab Putra. “Tapi kamu harus menyiapkan satu hal.”


Gadis mengernyit ditempatnya. “Apa itu?” tanya Gadis kemudian.


“Hadiah kepulanganku,” jawab Putra dengan cepat. “Dirimu, dari ujung rambut sampai ujung kaki.”


♣♣


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2