LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 167


__ADS_3

Happy reading...


“But I have to lather all of your body (Tapi aku kan harus menyabuni seluruh tubuhmu), Anthony...”


Gadis berusaha membujuk Anthony.


“Come, take off your under pant ... (Ayo, buka celana dalammu ...)”


Dan Anthony menggeleng lagi dengan cepat. “No! (Tidak!)”


“Kalau begitu aku saja...” Putra bersuara. “Aku saja yang buka celana”


Putra berkata dengan entengnya sembari menyeringai jahil pada Gadis yang matanya sudah melotot tajam pada Putra.


“Jangan macam-macam!”


“Macam-macam bagaimana? Aku kan juga ingin mandi ...”


Putra menahan senyum gelinya melihat ekspresi Gadis yang sedang melotot tajamnya padanya itu.


“Satu macam saja”


“What is it Papa? Gadis?”


“(Kenapa Papa? Gadis?)”


Anthony yang menangkap dengan matanya interaksi aneh antara dua orang dewasa yang sedang berada di dekatnya itu sontak bertanya.


Pasalnya, Putra dan Gadis berbicara dengan bahasa Indonesia yang belum Anthony pahami artinya.


“Eemm ....” Gadis nampak bingung untuk menjawab.


“Nothing Anth ... (Bukan apa-apa Anth ...)” Sambar Putra.


“Okay”


Anthony menyahut.


“You can leave me to take a bath by myself Gadis .. I already get usual with that, right Papa?”


“(Kamu bisa meninggalkanku untuk mandi sendiri Gadis.. Aku sudah terbiasa melakukannya, benar kan Papa?)”


Anthony berucap untuk meyakinkan Gadis.


Dan Gadis pun tersenyum pada Anthony seraya mengangguk pada bocah tampan tersebut. “Alright then Anthony (Baiklah kalau begitu Anthony)...” Ucap Gadis pada Anthony.


“Kamu masih berhutang padaku ..”


Putra berbisik saat ia menahan lengan Gadis yang hendak melangkah keluar dari kamar mandi pribadi Anthony tersebut.


“Hutang apalagi????” Ketus Gadis.


“Memandikan ku”


**


Dua hari berselang


Dalam dua hari ini, Putra dan para saudara lelakinya disibukkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan pembangunan pabrik teh yang akan mereka dirikan dalam kawasan daerah yang masih berada tidak begitu jauh dari Villa mereka.


Sementara Bruna dan Gadis, disibukkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan. Dan Anthony kadang ikut sibuk bersama para ayah angkatnya, dan satu waktu bersama dua ibu angkatnya.


“Daddies!..”


Anthony segera berseru dan bangkit dari duduknya saat melihat empat ayah angkat serta satu paman angkatnya sudah kembali ke Villa selepas dari mengunjungi area dimana mereka akan membangun sebuah pabrik teh.


Anthony pun langsung menghampiri empat ayah angkatnya tersebut.


Hap!.


Garret yang berada di paling depan diantara tiga ayah angkatnya yang lain serta satu pamannya itu langsung menangkap tubuh kecil Anthony, dan mengangkatnya dalam gendongan.


“Fortunately you guys already comeback and not being late for lunch, because I already hungry.. (Untung saja kalian sudah kembali dan tidak terlambat untuk makan siang, karena aku sudah lapar..)”


Anthony langsung saja bercerocos.


“We’re also feel hungry already. That’s why we comeback soon (Kami juga sudah merasa lapar. Itulah mengapa kami kembali secepatnya) ..”


Putra bersuara. Ia sudah menghampiri Anthony yang berada dalam gendongan Garret.


“Is the lunch ready? (Apakah makan siang sudah siap?)..”


Lalu Putra bertanya.


“The lunch is ready .. (Makan siang sudah siap..)”


Gadis yang menjawab pertanyaan Putra.


Putra pun mengangguk.

__ADS_1


“Let’s have our lunch then ..”


“(Ayo kita makan siang jika begitu ..)”


Kemudian Bruna bersuara untuk mengajak tujuh orang lainnya ke ruang makan.


***


Suara deru mobil terdengar dari arah pekarangan depan Villa, saat kedelapan orang penghuni utama Villa sedang duduk di ruang santai yang berada di samping ruang makan. “Who’s coming? (Siapa yang datang?)”


Anthony bertanya.


“It’s Uncle Arthur ....”


“(Itu Uncle Arthur ....)”


Putra menyahut pasti.


****


Tak berapa lama Arthur memang muncul di tengah-tengah delapan orang yang sedang duduk-duduk santai di ruang keluarga dalam Villa tersebut. Ada Pak Abdul yang mengantar Arthur ke tempat para majikannya berada itu.


“Hi Ar”


“Hi Uncle Arthur”


Tujuh orang dewasa dan satu bocah tampan itu langsung menyapa Arthur saat pria itu muncul ke tengah-tengah mereka.


“Hi All”


Arthur pun membalas sapaan ke-delapan orang yang menyapanya itu.


“Hello Prince. How are you? .. (Apa kabarmu? ...)”


Arthur berbicara pada Anthony yang sedang duduk di lantai dengan Putra, Gadis dan Addison yang sedang bermain halma bersamanya.


“I’m good (Aku baik),Uncle Arthur” Sahut Anthony seraya menoleh pada Arthur yang sudah berjongkok sembari mengelus pelan kepalanya.


“Look what I bring for you (Lihat apa yang aku bawa untukmu) ....”


“What is it (Ini apa), Uncle?”


Anthony bertanya, seraya menerima sebuah paper bag dari Arthur.


“Chocolates”


Dan Anthony nampak langsung menjadi sumringah setelah mendengar jawaba Arthur, bersamaan bocah tampan tersebut mengeluarkan isi dari dalam paper bag yang diberikan Arthur padanya itu.


“You are very welcome (Sama-sama), Anthony”


“Do you come with them (Apa kamu datang bersama mereka), Ar?....”


Putra bersuara seraya bertanya pada Arthur yang sudah kembali berdiri setelah memberikan coklat yang ia bawa untuk bocah tampan tersebut.


Arthur mengangguk. “Yes I come with them (Ya aku datang bersama mereka)..” Jawab Arthur pada Putra.


“Mereka siapa? ..” Gadis spontan bertanya pada Putra.


“Pegawai Butik Gaun Pengantin”


Gadis pun manggut-manggut setelah mendengar jawaban Putra.


Bruna yang juga sudah tahu tentang kedatangan pegawai dari Butik Pengantin itu pun segera berdiri dari duduknya.


“Pergilah dengan Bruna untuk menemui pegawai Butik Pengantin itu, Gadis” Ucap Putra dan Gadis pun mengangguk.


“Come Gadis .. (Ayo Gadis..)”


Bruna bersuara untuk mengajak Gadis ikut bersamanya.


Gadis segera berdiri dari tempatnya.


“Anthony, I accompany Madre (Aku menemani Madre), ya?..”


“Okay, Gadis! ..”


Anthony menyahut riang.


“Putra, aku tinggal dulu ..”


“Ya”


Putra menyahut seraya mengangguk pada Gadis.


“Don’t forget to do a measurement to Gadis, Bru (Jangan lupa melakukan pengukuran pada Gadis, Bru)”


Lalu Putra berbicara pada Bruna yang langsung mengangguk kemudian. “Okay ..” Balas Bruna pada Putra.


Gadis sedikit mengernyit. Lalu menoleh sebentar pada Putra. “Me-...”

__ADS_1


“Pengukuran”


Putra langsung menyambar.


Karena Putra sudah bisa menebak apa yang hendak Gadis tanyakan.


Gadis pun langsung manggut-manggut.


“Bukannya Bruna sudah diukur waktu itu ya? ..”


Gadis berucap pelan, sembari mulai berjalan dengan Bruna.


Namun ucapan Gadis yang pelan itu masih dapat didengar Putra.


“Selain mengurusi tentang gaun pengantin Bruna, mereka juga akan mengukur mu”


“Mengukur ku? ..” Gadis menggumam dengan bertanya-tanya. Namun saat hendak bertanya lagi pada Putra, Bruna sudah keburu menariknya pelan untuk menemui staff Butik yang sudah datang ke Villa mereka itu.


*


‘Untuk apa aku diukur segala?..... Oh, mungkin untuk gaun pengiring pengantin’ Batin Gadis saat dirinya benar-benar sedang diukur oleh dua staff Butik yang sedang berbagi tugas untuk membentangkan meteran di beberapa bagian tubuh Gadis, sementara yang satunya mencatat setelah staff yang sedang mengukur tubuh Gadis itu mengucapkan bagian tubuh yang sedang diukur, berikut angka-angka.


Bruna duduk di sebuah sofa single pada ruang tamu Villa sementara Gadis sedang diukur, sembari melihat-lihat katalog milik Butik Gaun Pengantin tempat Bruna memesan gaun pengantinnya yang dibawa oleh dua staff yang sedang mengukur Gadis tersebut dan sesekali melihat pada Gadis yang sedang diukur.


“Bruna .....”


“Yes Gadis?.....”


“Is this for the bridesmaid gown? .....”


“(Apa ini untuk gaun pengiring pengantin wanita?.....)”


Bruna menyunggingkan senyumnya.


“Kind of..... (Seperti itu kira-kira .....)” Sahut Bruna.


“Humm.....”


Gadis pun manggut-manggut sembari berhum ria.


“What a smart sister I have..... I just come here to tell you that if she ask ..... (Saudariku yang pintar ..... Aku kesini untuk mengatakan hal itu jika ia bertanya .....)”


“I won’t have a good knowledge and ability in medical if I’m not smart, oh my Dear Brother..... (Aku tidak akan memiliki pengetahuan dan kemampuan yang bagus dalam kedokteran jika aku tidak pinta, wahai Saudaraku Sayang.....)”


Bruna berbisik ria dengan Putra yang tahu-tahu muncul dan langsung berbisik di telinganya, saat Gadis masih sedang diukur oleh dua staff Butik yang datang ke Villa mereka itu siang ini. Lalu Bruna dan Putra nampak terkekeh kecil setelah saling berbisik dengan sangat pelan itu.


‘Mereka sedang membicarakan apa sih?’ Batin Gadis yang bertanya-tanya, saat melihat Putra dan Bruna sedang nampak kasak-kusuk tak jauh dari tempatnya berdiri kala ia tengah diukur oleh dua orang staff dari Butik Gaun Pengantin tempat Bruna memesan gaun pengantin untuk pernikahannya dan Addison yang akan dilaksanakan kurang dari dua minggu ini.


Putra kemudian menegakkan dirinya dan menatap Gadis yang nampak telah selesai diukur oleh dua orang staff dari Butik Gaun Pengantin.


Putra mengulas senyuman saat ia menatap pada Gadis. Senyuman penuh arti, yang hanya Putra pahami sendiri maknanya.


*


Dua orang staff Butik dari Butik Gaun Pengantin tempat Bruna memesan gaun pengantinnya itu telah selesai mengukur beberapa bagian tubuh Gadis.


Nyatanya tidak hanya Gadis saja yang diukur oleh dua staff butik tersebut, namun Anthony, Putra, Damian, Garret, Danny dan Arthur juga.


Terkecuali Addison, karena pria itu sudah lebih dulu melakukan pengukuran untuk jas pengantinnya dihari yang sama saat Bruna datang dan memilih gaun pengantin untuk pernikahan mereka.


Gadis telah duduk didekat Bruna yang berpindah duduk di sofa panjang saat para pria satu per satu sedang diukur untuk pembuatan jas mereka yang akan di pakai saat hari pernikahan tiba.


“Apa semua ini akan selesai tepat waktu sebelum pernikahan Bruna dan Addison? .....” Tanya Gadis pada Putra yang duduk disampingnya pada sofa panjang, saat Anthony sedang diukur oleh staff Butik tersebut.


“Tentu Nona .....” Salah seorang pegawai Butik yang sedang mencatat itu yang menjawab pertanyaan Gadis sebelum Putra.


Putra menarik sudut bibirnya.


Lalu Putra menoleh dan berbicara pada Gadis.


“Benar”


Putra menanggapi jawaban dari salah seorang staff Butik tersebut.


“Tentu saja mereka harus menyelesaikan tepat waktu dari deadline yang aku berikan pada mereka”


Putra berucap.


“Karena aku sudah membayar lebih untuk semua ini”


Putra masih lanjut bicara.


“Jadi mereka harus berusaha dengan sangat baik, juga memberikan hasil yang terbaik untuk pakaian yang akan kita semua kenakan di hari pernikahan nanti”


Putra  berbicara lagi.


“Karena jika tidak, akan aku pastikan Butik mereka akan tutup selamanya”


*

__ADS_1


To be continue ..


__ADS_2