LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 215


__ADS_3

Happy reading....


*******************


“I think I better prepare everything from now on ( Aku pikir sebaiknya aku mempersiapkan segalanya dari sekarang )”


Putra berdiri dari duduknya di sofa dalam ruang kerja Villa, dimana ia sedang berbicara dengan tiga saudara lelakinya tentang misi atas tujuan mereka yang direncanakan akan dilaksanakan dalam waktu dekat itu.


“Are you going to call Hiz now? ( Apa kau akan menghubungi Hiz? ) ....” tanya Garret.


“Also Vader ( Juga Vader )” jawab Putra.


“Are you going to send some men to Ravenna? ( Apa kau akan mengirim beberapa orang ke Ravenna? )”


Addison yang kini bertanya.


“Also to England ( Juga ke Inggris )”


Putra menjawab pasti. Addison, Garret dan Damian yang sudah diberitahukan soal rencana yang tadi sudah terbersit di otaknya, ketiga saudara Putra itu pun kemudian langsung manggut-manggut karena memahami skema rencana dari pola pikir Putra untuk misi mereka.


***


Addison, Garret dan Damian masih tetap berada di ruang kerja dalam Villa sampai Putra selesai menghubungi orang kepercayaan mereka di Inggris dan juga Ramone yang masih berada di Belanda.


Ke empat pria itu kemudian lanjut bercakap lagi sekaligus berdiskusi. “Then when we off from here? ( Lalu kapan kita berangkat dari sini? ) ...”


Addison bertanya.


“Not we Ad, just me.”


( Bukan kita Ad, tapi aku ).


Putra menyahut cepat. Membuat Addison, Garret dan Damian langsung menyorotkan matanya pada Putra.


“I better go alone ( Aku sebaiknya pergi sendiri )” sambung Putra. “I have enough back up from Vader, and maybe from Accursio too, so ( Aku memiliki dukungan yang cukup dari Vader atau mungkin dari Accursio juga, jadi ) --”


“Can’t accept that! ( Tidak bisa menerimanya! )” potong Garret seraya menampik ucapan Putra dengan segera.


“For sure! ( Benar sekali! )” timpal Damian.


“We will not let you go alone, for your information Mister Putra.”


( Kami tidak akan membiarkan kau pergi sendiri, asal kau tahu Tuan Putra ).


Addison ikut menimpali.


“Indeed! ( Sangat benar! )”


Garret dan Damian menyahut bersamaan.


Putra pun terdiam sejenak.


“That moth******ker was killed my Dad\, and you want me to stay still? ... heh! Hell No!”


( Keparat itu sudah membunuh ayahku, dan kau mau aku diam saja? ... heh! Itu sangat tidak mungkin! ).


Damian berkata dengan sinis.


Putra menatap Damian sembari melipat bibirnya.


“If you go the day after tomorrow, then I’ll go!. And you can’t stop me for that!”


( Jika kau pergi esok lusa, maka aku juga akan ikut pergi!. Dan kau tidak dapat menghentikanku untuk itu! ).


Damian menegaskan.


“We all will go together ( Kita semua akan pergi bersama )”


Addison menimpali.


“The animosity is not only yours ( Bukan hanya kau yang memiliki dendam ), Putra...”


Garret kembali ikut berkomentar. Dimana Putra bergeming, belum memberi tanggapan apapun pada ucapan-ucapan ketiga saudaranya itu.


Lalu Putra nampak melipat bibir dan menghela nafasnya.


“I can understand that---- ( Aku dapat mengerti jika---- )”


Tok ... Tok ...


Suara ketukan membuat Putra mengurungkan ucapan yang ingin ia katakan pada tiga saudaranya barusan.


“I’m sorry if I disturbing ( Aku minta maaf jika mengganggu ) ...” Itu Gadis yang sosoknya berdiri di dekat pintu ruang kerja yang terbuka dan memang tidak tertutup sedari Putra, Addison, Garret dan Damian masuk untuk berbicara dan berdiskusi disana.


“No Gadis, of course you’re not disturbing us ( Tidak Gadis, tentu saja kamu tidak mengganggu kami )”


Garret yang menyahut sembari tersenyum ramah, sama seperti tiga pria lainnya yang tersenyum juga pada Gadis.


“Masuklah.”


Putra berucap pada Gadis yang masih berdiri di dekat pintu itu, sembari memberikan gestur tubuh agar Gadis mendekat padanya.

__ADS_1


Gadis pun melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Putra yang langsung merengkuh pinggangnya.


“Apa Anth sudah selesai belajar, hem?...” tanya Putra pada istrinya itu.


“Iya sudah ...” jawab Gadis. “Makanya aku kesini, karena Anthony menanyakan kalian ...”


“Lalu mana dia? ...”


Putra sontak bertanya.


“Tadi Anthony mau langsung kesini, tapi aku menahannya, karena takut jika kalian sedang sibuk ... jadi dia sedang menunggu kalian di bawah ...”


Putra pun manggut-manggut mendengar penuturan Gadis.


“Tadinya aku minta untuk ke ruang keluarga dilantai ini saja, tapi Anthony meminta kue buatan Bruna lagi ...”


Gadis menyambung ucapannya, dan Putra mengangguk seraya tersenyum. “Ya sudah, kami akan turun ke bawah sebentar lagi.” Ujar Putra.


“Ya sudah ...”


Gadis mengangguk.


“Aku permisi dulu kalau begitu.”


Lalu Gadis memandang pada Addison, Garret dan Damian yang masih duduk di tempat mereka dan berbicara pada ketiganya, termasuk juga pada Putra yang masih merengkuh pinggangnya.


“Anthony wants to challenge all of you playing chest again, he said ( Katanya, Anthony ingin menantang kalian lagi bermain catur ) ...”


Empat orang ayah angkat muda dan tampan itu pun sontak terkekeh mendengar ucapan Gadis perihal Anthony yang penasaran ingin mengalahkan ke empat ayah angkatnya itu dalam permainan catur.


****


“We’ll talk about this tomorrow ( Kita bicarakan lagi soal ini esok hari )”


Putra berbicara selepas kepergian Gadis. Kemudian Addison, Garret dan Damian pun mengiyakan.


Setelahnya, empat ayah angkat muda dan tampan itu kemudian beringsut dari ruang kerja Villa, tak lama setelah Gadis keluar dari dalam ruangan tersebut.


***


Semua orang kini sudah kembali ke kamar mereka masing-masing.


Setelah tadi pada akhirnya Putra mengalah pada Anthony saat permainan catur dengan bocah tampan kesayangannya itu.


Semata-mata agar Anthony tidak tidur terlalu larut berdasarkan rasa penasarannya karena tidak bisa mengalahkan para Dadnya dalam permainan tersebut.


Kini Putra juga sudah berada di dalam kamarnya dan Gadis, setelah menemani Anthony di kamarnya sampai bocah tampan itu terlelap. Putra sudah menawarkan Anthony untuk tidur bersamanya dan Gadis, karena barangkali Anthony ingin tidur bersama dua orang tua angkat tersayangnya itu, namun bocah tampan itu menolak karena tidak mau dibilang manja.


Namun Anthony meminta jika Putra dan Gadis menemaninya sampai ia terlelap, sembari meminta Putra bercerita tentang perjalanannya ke Belanda. Dimana banyak pertanyaan dan ucapan yang terlontar dari Anthony, yang dengan sabar Putra jawab satu per satu.


Setelah juga merapihkan tidur Anthony dan menyelimutinya agar tidur bocah tampan tersebut senantiasa nyenyak dan nyaman.


****


“Aku ke kamar mandi dulu....”


Gadis langsung berpamitan untuk pergi ke kamar mandi kala ia dan Putra sudah masuk ke kamar , saat Putra sedang menutup pintu penghubung antara kamar mereka dengan kamar Anthony sembari ia melangkahkan kaki ke arah walk-in-closet untuk mengambil baju ganti yang akan ia kenakan saat tidur malam.


“Mau menggosok gigi, atau mau mengulang apa yang kita lakukan saat siang dan sore hari tadi, hem?”


Putra menggoda Gadis, seraya menghampiri istrinya itu dan memeluknya dari belakang, dengan menopangkan dagunya di salah satu pundak Gadis.


“Terserah kamu saja,” sahut Gadis sembari tersenyum tipis.


“Pasrah sekali, hem?....”


Putra masih bergelayut manja di pundak Gadis, sembari masih menggoda istrinya itu.


Gadis kembali menampakkan senyuman.


Namun senyuman Gadis sama tipis seperti yang sebelumnya.


“Aku ke kamar mandi dulu ya? Sekalian berganti baju.” Ucap Gadis namun nada suaranya terdengar datar, meskipun bibirnya menyunggingkan senyuman.


“Baiklah.” Putra kemudian melepaskan rengkuhannya pada Gadis.


***


“Kamu belum mengantuk?” Gadis telah selesai mengganti bajunya dengan sepasang piyama, juga telah membersihkan mulutnya.


Gadis menghampiri Putra yang saat ia keluar dari kamar mandi, ia tidak melihat suaminya itu di area dalam kamar.


Namun melihat gorden transparan yang melekat pada pintu penghubung antara kamar dan balkon menari karena tiupan angin, Gadis sudah menduga jika Putra sedang berada di balkon kamar mereka.


Putra yang sedang menyesap sebatang nikotin itu langsung menoleh kala mendengar suara Gadis yang menyapanya seraya bertanya.


“Belum.”


“Kalau begitu aku tidur duluan ya?...”


Gadis berucap lalu membalikkan badannya sebelum mendengar sahutan Putra.

__ADS_1


Namun tangan Gadis keburu diraih Putra sebelum ia sempat melangkah untuk masuk kembali ke area dalam kamar.


“Kamu mendengar pembicaraan kami di ruang kerja tadi, bukan?” Dan Putra yang peka itu sontak langsung bertanya untuk memastikan apa yang ia telah kira, sehubungan dengan sikap Gadis yang datar dan wajahnya yang sedikit muram.


Gadis menarik datar sudut bibirnya.


“Tidak semua...”


Kemudian Gadis menjawab.


“Hanya dari sejak Ad bilang dan bertanya padamu kapan kalian akan pergi dari sini...”


***


“Jadi sikap dingin mu ini karena itu?...” Putra menghadapkan Gadis padanya dengan memegang kedua bahu istrinya itu.


Rokok yang tadi Putra sempat nyalakan dan sesap sudah ia matikan di dalam asbak.


“Hanya karena itu?...”


Putra kembali bertanya.


“Hanya katamu?” balas Gadis yang tersenyum kecut pada Putra kemudian.


Lalu Gadis memandang pada Putra dengan nanar.


“Sudahlah...” Gadis memalingkan wajahnya dan hendak melepaskan dirinya dari Putra yang kedua tangan suaminya itu sedang merengkuh bahunya.


“Gadis...”


Kembali Putra mencekal lengan Gadis, namun tanpa tenaga tentunya.


Namun Gadis dengan segera melepaskan cekalan tangan Putra pada salah satu pergelangan tangannya itu.


“Kamu egois, Putra.”


“Gadis...” Putra kini menahan Gadis dengan memeluk tubuh istrinya itu. Namun Gadis tak balik memeluk Putra. “Maafkan aku.”


Putra mengecup pucuk kepala Gadis.


“Kita bicara didalam, hem?...”


Lalu Putra berucap sambil membawa Gadis masuk ke dalam area kamar karena angin di luar sedikit agak kencang.


Gadis tak menyahut, namun ia mengikuti saja langkah Putra yang membawanya masuk ke area dalam kamar mereka.


Gadis juga bergeming, saat Putra melepaskan pelukannya untuk menutup pintu dan gorden yang menghubung area dalam kamar dan balkon.


Gadis baru melangkah kembali, saat Putra sudah mendekat dan meraih serta menggenggam tangannya, lalu menggiringnya ke tempat tidur, kemudian mengajak Gadis untuk duduk di tepian ranjang.


“Maaf jika dimatamu aku ini egois... tapi kamu tahu betul alasan, mengapa aku begitu bersikukuh dengan tujuanku selama ini, bukan?... tolong, mengertilah... ja---“


“Aku selalu mencoba dan berusaha untuk mengerti diri kamu, Putra...” potong Gadis. “Tapi apa kamu mengerti posisiku?... apa kamu mengerti perasaan seorang istri yang merasa ketakutan setiap detiknya, karena teramat sangat mengkhawatirkan keselamatan suaminya?...”


Mata Gadis yang nampak berkaca-kaca itu menyorot lekat pada sepasang netra suaminya yang juga sedang menatapnya lekat.


“Apa kamu memahami itu?... tidak bukan?...”


“Aku paham, Ga -----“


“Jika kamu paham, kamu seharusnya tidak mengambil keputusan secara sepihak!”


Lagi, Gadis memotong ucapan Putra.


Dan mata Gadis yang sedikit basah itu, kini menyorot tajam pada Putra, dengan suara Gadis yang penuh penekanan, seperti ada kekesalan disana, namun Gadis tetap berusaha menjaga intonasi suaranya agar tidak sampai ia berteriak, mengingat ada Anthony yang sedang terlelap dalam kamar pribadi bocah tampan tersebut, yang tepat berada di samping kamarnya dan Putra.


Putra menghela nafasnya dan hembusannya terdengar sedikit berat.


“Gadis dengar-----“


“Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi...”


Dan Gadis memotong ucapan Putra sekali lagi.


“Aku mengantuk, selamat malam.”


“Aku belum selesai bicara Gadis...”


“Aku bilang aku sudah tidak ingin mendengar apa-apa lagi darimu Putra...”


Gadis menggeser sedikit dirinya, lalu melepaskan home room slippernya dan menaikkan kakinya ke atas ranjang.


“Karena aku sudah tahu apa yang akan kamu katakan.”


Gadis pun dengan cepat merebahkan dirinya, dan memunggungi Putra. Ia rasanya sudah malas untuk beradu argumen dengan Putra, selain hatinya terasa sedikit sesak.


“Jika tahu batinku akan tersiksa seperti ini, mungkin seharusnya dari pertama tidak membiarkanmu masuk dalam hidup dan hatiku, dan mungkin juga seharusnya aku tidak menikah denganmu.”


Gadis memang menggumam, dengan dirinya yang sudah tidur menyamping itu.


“Apa katamu?!” Namun Putra masih dapat menangkap gumaman Gadis, dan kini wajah Putra nampak geram. “Kamu katakan kalau kamu menyesal hidup bersamaku?!”

__ADS_1


***


To be continue..


__ADS_2