LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 131


__ADS_3

Happy reading ..


◽◽◽◽


“Happy Birthday Anthony...”


“Gadiissss!!!!”


“Are you happy? (Apa kamu bahagia?)”


“Yes Papa”


“.........”


“So much! (Sangat!). I’m getting more happy now! (Aku semakin bahagia sekarang!)”


“Glad for it (Senang mendengarnya)”


“Thank you Papa!”


“My pleasure (Dengan senang hati), Anth”


“Now you both can get marry in front of me right? (Sekarang kalian berdua bisa menikah didepanku saat ini kan?) ....”


“Haish...”


“Do you want to marry Papa Putra right Gadis?... (Kamu mau kan menikahi Papa Putra ya Gadis?) ...”


Gadis tertawa kecil saja mendengar pertanyaan Anthony yang tanpa basa-basi lagi padanya itu untuk menikah dengan Putra.


“So how is it Gadis?... (Jadi bagaimana Gadis?)..”


“How about if you cut the cake first? (Bagaimana jika kamu memotong kuemu dulu?)...”


Gadis membujuk Anthony, sekaligus mencoba untuk mengalihkan topik. “Answer first, please (Tolong, dijawab dulu)”


Tapi sayang, bujukan dan pengalihan Gadis pada Anthony tidak mempan. Membuat semua orang tersenyum geli karena Gadis kemudian menggaruk kecil kepalanya, meski tidak gatal.


“Hey, Prince.... (Pangeran)....”


Putra sudah mensejajarkan dirinya dengan Anthony.


“It’s already late.... so better you cut the cake and give it all to us because we want to taste the delicious birthday cake that your Madre’s made, then you go back to sleep after that”


(Ini sudah larut .. jadi sebaiknya kamu potong kue itu dan membagikannya pada kami semua karena kami ingin merasakan kue ulang tahun buatan Madremu yang lezat itu, lalu kamu kembali pergi tidur setelahnya)


Anthony spontan saja mengerucutkan bibirnya.


“Beside, me and Gadis cannot just marry like that ..”


(Lagipula, aku dan Gadis tidak bisa menikah begitu saja) ...


“Why?.. (Kenapa?)..” Tanya Anthony. “Isn’t you love Gadis Papa? (Bukankah Papa mencintai Gadis?) ..”


“I am .. (Iya memang) .... But ... (Tapi)...”


“You don’t love Papa, Gadis? That’s why you don’t want marry him?”


(Kamu tidak mencintai Papa, Gadis? Jadi itu kenapa kamu tidak mau menikah dengannya?)


“Hey chatty Prince (Pangeran cerewet) ..” Damian menyela. “Better you cut the cake first, you see Pak Abdul and the others?. They’re waiting for you to cut the cake then they can go to take a rest .... (Sebaiknya kamu potong kue


dulu, kamu lihat itu Pak Abdul dan yang lainnya. Mereka menunggumu potong kue baru mereka bisa pergi beristirahat) ..” Sambung Damian sembari menunjuk ke arah Pak Abdul yang tersenyum ke arah mereka.


“Okay, okay”


Anthony pun mengiyakan.


“Good Prince (Pangeran yang baik)”


**


Dibantu oleh Putra, Anthony mulai memotong kue ulang tahunnya. “Who’s the first one you want to give the cake? (Siapa yang pertama ingin kamu berikan kue?)”


Putra berucap.


“Myself of course! (Tentu saja diriku sendiri!)”


Anthony memasukkan potongan kue pertama ke dalam mulutnya, dan membuat semua orang terkekeh melihatnya.


Kemudian Anthony memotong kue ulang tahunnya lagi dan Putra kembali membantunya meletakkan satu potongan lagi ke atas sebuah piring kecil.


“Give it to your Madre first (Berikan pada Madremu dulu). She’s the one who work very hard to prepare everything for your birthday this time.. (Dia yang paling bekerja keras untuk menyiapkan segalanya untuk ulang tahunmu kali


ini)..”


Anthony pun mengangguk seraya tersenyum dan memberikan kue yang sudah ia potong itu pada Bruna.


“Your Papa supposed to get this cake after you (Papamu yang seharusnya mendapatkan kue ini setelahmu)”


Bruna yang sudah menyamakan dirinya dengan tinggi Anthony saat Anthony mendekat padanya dan Addison menyarankan Anthony untuk memberikan potongan kuenya pada Putra dulu.


“Now I’m confused..... Papa told me to give the cake to Madre, and Madre told me to give the cake to Papa.. (Sekarang aku bingung ... Papa menyuruhku untuk memberikan kue ini ke Madre, dan Madre menyuruh untuk memberikan kue ini pada Papa)...”


Anthony menggaruk kepalanya.


“So it’s better for me (Jadi lebih baik untukku saja)”


Damian mencomot dengan cepat, kue diatas piring yang dipegang Anthony itu.


“Daddy Damii ....” Anthony langsung saja mencebik manja pada Damian yang kemudian tergelak setelah memasukkan kue ke dalam mulutnya, diikuti gelakan dari yang lainnya juga.


****


Anthony membagikan kue ulang tahunnya kepada semua orang yang ada bersamanya saat ini.


Tidak hanya pada para orang tua angkatnya, juga Gadis, tapi juga memberikan potongan kue pada Danny dan Arthur.


Pak Abdul dan empat orang lain asisten dalam Villa juga kebagian mendapatkan potongan kue dari Anthony yang diberikan langsung olehnya kepada lima orang asisten rumah tangga keluarganya itu.


Membuat kelima pekerja dalam Villa itu merasa terharu karena merasa dianggap oleh Tuan Muda mereka. Meski tadinya kelima orang pekerja Villa itu merasa sungkan untuk menerimanya, karena merasa tidak pantas.


Namun Putra tersenyum dan mengangguk pada mereka agar menerima apa yang Anthony beri dan lakukan, termasuk juga Addison, Bruna, Damian dan Garret yang sama seperti Putra mengkode agar mereka menerima potongan kue dari Anthony itu.


Rery dan Madelaine memang mengajari Anthony dengan baik. Keduanya mengajarkan pada Anthony untuk tidak membedakan orang berdasarkan status sosialnya. Dan Anthony memahaminya dengan baik juga.


Putra juga menerapkan hal yang sama padanya, termasuk empat orang orang tua angkat Anthony yang lainnya.


“Terima kasih Tuan Muda” Ucap ke lima asisten rumah tangga Villa pada Anthony secara bergantian setelah menerima piring berisikan sepotong kue ulang tahun dari Anthony.


“Te-ri-ma ka-sih kem-ba-li..”


Anthony menjawab ucapan terima kasih dari lima orang tersebut.


Kemudian Anthony menoleh pada Putra. “Is my answer’s right (Apa jawabanku benar), Papa?....”


Putra mengangguk dan tersenyum pada Anthony dan berdiri disisinya.


Anthony nampak senang dan puas, karena dia mengingat pelajaran bahasa yang beberapa kali diajarkan Putra padanya, dari negeri yang ia tinggali sekarang.


“Is that present for me? .... (Apa itu hadiah untukku?)....”


Anthony menunjuk ke arah belakang Suheil, dimana tangan pemuda itu ada dibelakang tubuhnya dengan memegang sebuah bungkusan.


“Engg ....” Suheil tersenyum kikuk. Ia mengerti pertanyaan Anthony tadi. Lalu Suheil mengusap tengkuknya sembari menoleh ke arah kedua orang tuanya.


“That one too? .... (Yang itu juga?) ....”


Anthony menunjuk juga ke arah tangan salah seorang asisten rumah tangga pria yang bernama Pak Tri.


“Engg ....”


Sama seperti Suheil, Pak Tri juga tersenyum kikuk.


“Be polite okay? (Yang sopan ya?)”


“I’m sorry Papa. I see it looks like a present.... (Maafkan aku Papa. Aku lihat itu seperti hadiah).... So I asked if that for me .... (Jadi aku bertanya apakah itu untukku)....”


“Then ask politely, okay?.... (Bertanyalah dengan sopan, ya?)....”


“Okay, Papa (Iya, Papa) ....” Anthony mengangguk paham.


“Maafkan aku Suheil, Pak Tri, apa yang kalian pegang di tangan kalian itu adalah hadiah untuk Anth?....” Putra yang mengambil alih untuk bertanya pada kedua orang yang ia sebut itu.


“I, iya Tuan ....” Jawab Suheil dan Pak Tri berbarengan.

__ADS_1


“Lalu mengapa tidak kalian berikan pada Anth?”


“Kami.... malu, Tuan....”


“Mengapa harus malu?....”


“Soalnya hadiah kami ini jelek rasanya Tuan”


“Kalian ini ....” Putra tersenyum kecil. “Jangan berkata seperti itu....”


Putra menatap satu-satu para pekerjanya itu.


“Apapun yang kalian berikan padanya, aku rasa Anth akan menerimanya dengan senang hati”


“Jadi kami boleh memberikan hadiah ulang tahun untuk Tuan Muda, Tuan?” Tanya Pak Abdul sedikit ragu-ragu.


“Tentu saja boleh”


Lima pekerja Villa itu nampak tersenyum lebar kemudian, lalu hadiah yang tadi urung diberikan untuk Anthony, akhirnya diberikan juga padanya.


“Thank you! (Terima kasih!)”


Anthony nampak senang dan tersenyum lebar pada lima orang tersebut setelah menerima dua hadiah yang dibungkus dengan sederhana.


“Welkom Tuan Muda ....”


Suheil yang menyahut. Mewakili empat lainnya yang tak paham. Sementara Putra mengulum senyum dan sisanya yang memperhatikan Anthony dengan kelima asisten rumah tangga mereka juga tersenyum saja.


Lalu Anthony segera berbalik kecil menghampiri empat orang tua angkatnya, dua paman serta Gadis yang sudah duduk-duduk dengan hadiah yang sudah juga mereka letakkan didekat mereka semua.


“Terima kasih Pak Abdul, Ibu Marsih, Suheil, Pak Tri, Ibu Minah ....”


“Kami yang seharusnya berterima kasih Tuan. Tuan memperbolehkan kami memberikan hadiah yang tidak seberapa ini pada Tuan Muda”


“Tidak perlu berterima kasih untuk itu....”


Putra bertutur dengan senyumnya pada kelima orang tersebut.


“Kalian pergilah beristirahat” Ucap Putra.


“Baik Tuan....”


“Nanti kalian tidak perlu bangun terlalu pagi untuk menyiapkan sarapan kami. Jika kami tertidur setelah ini juga, kami rasa kami akan bangun sangat siang” Ucap Putra.


“Iya Tuan”


“Beautiful Sweater! (Baju hangat yang cantik!)”


Suara seruan Anthony yang riang kemudian terdengar.


Putra dan kelima pekerjanya itu sama-sama menoleh ke arah Anthony.


Bersama dengan Anthony mengangkat sebuah sweater rajut yang sepertinya buatan tangan itu lalu memakainya.


“It fit to me! (Ini pas denganku!)”


Sekali lagi Anthony berseru riang.


“Wow a wooden truck! (Truk kayu!)”


Anthony yang sudah membuka satu hadiah yang diberikan oleh para pekerjanya itu kembali berseru riang.


“Aduh, Tuan Muda kenapa buka hadiah dari kita duluan?. Jadi malu kan ya?” Celetuk Ibu Marsih.


Empat lainnya manggut-manggut sementara Putra kembali mengulum senyumnya.


“Thank you! .... Eumm .... Te-ri-ma ka-sih ....”


Anthony sudah kembali mendekati lima orang asisten rumah tangganya itu dengan sweater hadiah yang masih dipakainya, serta membawa sebuah truk mainan dari kayu yang merupakan hadiah dari kelima orang tersebut.


“Pak Abdul, Ibu Marsih, Uncle Suheil .... Emm....”


“Pak Tri and Ibu Minah” Sambar Putra, karena Anthony belum terlalu mengenal kedua orang pelayan baru mereka itu.


“Pak-Tri dan Ibu-Minah! ....” Timpal Anthony dengan berseri. “Te-ri-ma ka-sih, I really like it! (Aku sangat menyukainya!)” Seru Anthony lagi.


“You welkom Tuan Muda....” Celetuk Suheil seraya cengengesan dan Anthony tersenyum lebar. Sisanya melempar senyum pada bocah yang ramah pada mereka itu.


“Anth sangat menyukai hadiah kalian” Ucap Putra. “Terima kasih ya?”


“Sama-sama Tuan” Ucap ke limanya. “Kalau begitu kami semua permisi Tuan”


“Silahkan”


Putra mengangguk ramah.


Kelima orang tersebut kemudian berpamitan untuk pergi beristirahat pada para majikannya yang lain, termasuk pada Gadis juga yang menunjukkan keramahannya.


**


Putra kini sudah bergabung dengan Anthony yang duduk diapit oleh Bruna dan Gadis dengan Addison, Damian, Garret, berikut Danny dan Arthur yang membantu membukakan hadiah-hadiah ulang tahun yang memang cukup banyak itu.


Canda tawa mewarnai suasana bercengkrama mereka yang berada dalam kamar baru Anthony itu saat ini. Damian juga terus mengambil beberapa gambar dari kameranya. Teringat jika mereka belum mempunyai foto bersama dalam satu keluarga baru mereka ini.


Dan Damian meminta Danny untuk mengambil foto dirinya bersama Putra, Anthony, Addison, Bruna dan Garret, termasuk juga Gadis.


“Where are you going Gadis?.. (Kamu mau kemana Gadis?) ..” Tanya Anthony karena Gadis hendak menyingkir saat mereka akan mengambil foto.


“You want to take the .. family picture.. (Kalian mau mengambil.. foto keluarga)..”


“Tetap di tempatmu”


Putra menahan Gadis.


“Tapi..”


“You stay right where you are, Gadis. You part of this family too (Kamu tetap ditempat-mu Gadis, Kamu juga bagian dari keluarga ini)” Timpal Addison. Dan sisanya mengiyakan dengan anggukan yang disertai senyuman.


“Padre was right Gadis .. (Padre benar Gadis) .. I love them and I love you, so we take the picture together (Aku menyayangi mereka dan aku menyayangimu, jadi kita berfoto bersama)” Ucap Anthony dan Gadis pun tersenyum


seraya mengangguk. Danny pun mengambil gambar sebuah keluarga yang nampak hangat itu.


Roll film dalam kamera milik Damian, dihabiskan untuk mencetak gambar momen itu.


Danny dan Arthur juga tidak lupa diajak serta ikut berfoto. Selain gambar diri Anthony yang paling banyak diambil. Kemudian satu-satu ayah angkatnya difoto berdua dengan Anthony, Bruna berfoto bersama Anthony dan Addison yang merupakan pasangannya.


“Now three of you (Sekarang kalian bertiga) ..” Ucap Bruna pada Putra, Anthony dan Gadis. “Smile Putra! (Senyum Putra!)” Seru Bruna yang sebal sekali karena Putra memang seringkali minim ekspresi.


Putra mendengus geli saja.


“It’s the picture of happy family okay?.. So smile! (Ini foto keluarga bahagia oke? .. Jadi tersenyumlah!)”


Damian menimpali dan kembali Putra mendengus geli, sementara Anthony dan Gadis terkekeh kecil saja.


Damian kemudian tersenyum setelah merasa mendapat hasil tangkapan foto yang bagus dari ketiga orang tersebut.


“Papa .. Gadis..” Panggil Anthony.


“Hem?” Sahut Putra.


“Iya, Anthony? ..” Gadis juga ikut menyahut.


“Are two of you already in love now?.. (Apa kalian berdua sudah menjalin cinta sekarang?) ..”


“Uhuk! Uhuk!” Gadis sampai tersedak salivanya sendiri. ‘Aih, bagaimana bocah umur tujuh tahun belum lama, sudah paham sama cinta-cintaan??’ Batin Gadis.


Putra terkekeh geli mendengar ucapan Anthony, termasuk yang lainnya yang memang masih berkumpul bersama di kamar Anthony yang baru itu.


“Papa ever said to me that you already love Gadis right? (Papa pernah bilang padaku kalau Papa sudah mencintai Gadis iya kan?) ..”


Putra manggut-manggut sembari menggigit kue kering.


“Have you told Gadis? (Apa sudah mengatakannya pada Gadis?)..” Tanya Anthony.


Putra mendengus geli dengan pertanyaan Anthony tersebut.


“Ask her then.. Did I told her that I love her yet or not? (Tanyakan saja padanya.. Apakah aku sudah mengatakan padanya jika aku mencintainya atau belum?)”


Putra kemudian menoleh dan tersenyum jahil pada Gadis yang langsung mendelik padanya.


“Did Papa told you already Gadis? That he loves you.. (Apa Papa sudah bilang padamu Gadis? Jika dia mencintaimu?) ..”


‘Ish! Kenapa harus membahasnya secara blak-blakan seperti ini sih?’ Gerutu Gadis dalam hatinya. Sementara bibirnya tersenyum canggung.


“Jawab Gadis..” Ucap Putra dengan nada sekaligus lirikan meledek pada Gadis. “Answer Anth’s question (Jawab itu pertanyaan Anth)”

__ADS_1


“No need to be shy with us.. (Tidak perlu malu-malu pada kamu)..”


Garret berucap sembari cengengesan, membuat Gadis jadi kian kikuk.


“Tell me (Katakan padaku), Gadis..”


Anthony menuntut jawaban Gadis.


Ragu-ragu serta malu-malu juga Gadis akhirnya mengangguk, karena semua mata sedang memandanginya saat ini.


“Really?! (Benarkah?!)”


Anthony nampak senang, dan Gadis mengangguk lagi.


“Do you accept my Papa?! (Apa kamu menerima Papaku?!), Do you love him too?? (Apa kamu juga mencintainya??) ..”


“Euumm..”


“Do you? .. (Kamu mencintai Papa?)..”


Anthony kembali mencecar Gadis yang kini sudah tersenyum geli itu.


"You love Papa right?! (Kamu mencintai Papa kan?!)" Sambar Anthony lagi.


“Ya I love your Papa too (Iya aku juga mencintai Papamu)..” Ucap Gadis seraya mengangguk.


“Really??!! (Benarkah??!!)”


“Hu’um” Gadis mengangguk lagi dengan tersenyum.


“Thank you Gadis I’m so happy! (Terima kasih Gadis aku sangat bahagia!)”


Anthony langsung saja memeluk Gadis dengan wajahnya yang berseri. Gadis juga memberikan pelukannya pada Anthony yang memang nampak bahagia itu.


“I also happy if you are happy Anthony (Aku juga bahagia jika kamu bahagia Anthony)..” Ucap Gadis tulus setelah mengurai pelukannya pada Anthony dengan mengelus lembut kepala bocah itu seraya tersenyum menatapnya.


“Did all of you hear it?! .. (Apa kalian semua mendengarnya?!) .. Gadis and Papa finally in love each other!.. (Gadis dan Papa akhirnya saling jatuh cinta!)..”


Anthony berhambur pada Addison dengan riang.


Addison dan yang lainnya tersenyum lebar melihat kebahagiaan di wajah Anthony.


“I’m sooo happyyy!! .. (Aku saangat bahagiaaaa!!) ..” Ucap Anthony dengan sangat berseri wajahnya.


“We’re happy for you too Anth (Kami juga ikut berbahagia untukmu Anth)” Ucap Addison.


“It means that Gadis will stay with us from now on Papa?.. (Itu artinya Gadis akan tinggal bersama kita disini Papa?)..”


“Of course she is (Tentu saja iya)”


“Hooorayy!!!! ..”


Anthony bersorak.


"And also means that you and Gadis will get marry right? (Dan juga berarti Papa dan Gadis akan menikah kan?)"


Putra manggut-manggut.


"Right after your Madre and Padre get marry, I will marry with Gadis (Tepat setelah Madre dan Padremu menikah, maka aku akan menikah dengan Gadis)"


“Hooorayy!!!! ..”


Anthony bersorak lagi.


“Since you’ve become happy, let’s have a rest now ..”


(Karena kamu sudah merasa bahagia, sekarang ayo kita beristirahat)..


“Okay Papa!”


“And this your new room, you can occupy it from now on .. (Dan kamar barumu ini, bisa kamu tempati mulai sekarang) ..”


“Yeayy!!!! ..” Anthony bersorak lagi.


“But maybe tomorrow night, hem?. Because now it’s a little bit messy. You might ....”


(Tapi bagaimana jika mulai besok malam, hem?. Karena sekarang kamar ini sedikit berantakan. Kamu bisa...)


“It’s okay Papa! My bed is neat! (Tidak apa-apa Papa! Tempat tidurku kan rapih!)”


Anthony langsung menyambar seraya menunjuk ranjangnya.


Putra manggut-manggut.


'However, Gadis will stay with me in my new room tonight (Bagaimanapun, Gadis kan akan tinggal bersamaku di kamarku yang baru malam ini)'


Putra membatin.


'I can't let Anth sleep alone in our former room also (Aku juga tidak mungkin membiarkan Anth tidur sendirian di kamar kami yang lama) ..'


Putra sedang menimbang-nimbang.


'Ah, I will clean this room so Anth can sleep here, I feel peace. And Gadis sleep with me, then I feel warm. So I cab feel peace and warm once in a time  (Aku akan membersihkan kamar ini jadi Anth dapat tidur disini, jadi aku merasa tenang. Dan Gadis tidur bersamaku, aku akan merasa hangat. Jadi aku merasa tenang dan hangat bersamaan), Haha'


Batin Papa yang punya rencana.


“Are you sure you’re not get disturbed?.. (Apa kamu yakin tidak akan merasa terganggu?) ..”


Bruna bersuara.


“Papa Putra was right. Maybe better tomorrow after we ask Pak Abdul and the others to clean up all of this first”


(Papa Putra benar. Mungkin sebaiknya besok saja setelah kita meminta Pak Abdul dan yang lainnya untuk membersihkan semua ini)


Bruna menyambung ucapannya, sembari mengedarkan pandangan dalam kamar baru Anthony yang memang sedikit berantakan karena bungkus-bungkus kado yang berserakan selain bekas kudapan dan minuman mereka tadi.


“It’s okay Madre, I can clean it up before I go to sleep! (Tidak apa-apa Madre, Aku bisa membersihkannya sebelum aku tidur!)”


“You don’t have to do that Anth.. (Kamu tidak perlu melakukan itu Anth)..” Sahut Bruna.


“Don’t worry Madre, I know how to do it! (Jangan khawatir Madre, aku tahu cara melakukannya!)”


“......”


“Daddy and Mommy teached me how to clean up my room at our former house at Ravenna (Daddy dan Mommy sudah mengajariku membersihkan kamarku di rumah kita yang dulu di Ravenna)..”


Anthony terus nampak bersemangat.


Bruna dan lainnya tersenyum saja melihat Anthony yang bersemangat itu.


"I .. (Aku).." Putra hendak berbicara.


“How about this, you, our Prince .. (Bagaimana jika begini, kamu, Pangeran) ..”


Namun Damian keburu menyambar, seraya sudah menjongkokkan dirinya disisi Anthony.


“Your Papa is already occupying that room (Papamu sudah menempati kamar itu)..”


Damian menunjuk pada kamar yang terhubung dengan kamar Anthony yang baru.


“You sleep with him tonight at there, also with Gadis! Hem? .. (Kamu tidur dengannya malam ini disana, juga bersama Gadis! Hem?)..”


‘What a not good idea (Sungguh ide yang kurang bagus)’


Putra membatin.


“Agree? (Setuju?) ..”


“Agree! (Setuju!)” Seru Anthony dengan riang.


‘Well Papa not! (Tapi Papa tidak!)’ Protes Putra dalam hati.


“That’s is a good idea! (Itu memang sebuah ide yang bagus!)”


Anthony berseru lagi.


‘Yaa good for you, but not good for me (Bagus untukmu, tidak bagus untukku)’


Papa Putra membatin lesu saat Anthony mengangguk antusias, mengiyakan ide Damian agar Anthony tidur bersama Putra dan Gadis di kamar Putra yang baru.


‘Haish, goodbye the fondness I imagine with Gadis tonight (Haish, selamat tinggal kemesraan yang aku bayangkan bersama Gadis malam ini)'


**


To be continue..

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ..


__ADS_2