
Happy reading....
“Selamat malam ....”
‘Eh?’
Putra sedikit terkesiap setelah mendengar sapaan dari panggung Pub yang berada dibawahnya.
“Selamat menikmati malam anda disini”
Kepala Putra reflek menoleh, dan matanya melirik kearah panggung. Namun kemudian ia menyunggingkan senyum tipis, menggoyangkan sedikit kepalanya dan kembali beralih pada gelas yang sudah ia isi minuman dari sebuah botol kaca satu dari dua yang sudah dibawakan oleh waitress Pub tersebut.
‘It can’t be her (Tidak mungkin dia)’ Batin Putra. Lalu menyesap minuman dalam gelas yang sudah ia pegang.
“Seperti biasa, lagu kesayangan saya sebagai pembuka, semoga anda – anda semua terhibur” Terdengar suara penyanyi wanita Pub tersebut menyapa para pengunjung disana.
‘Similar, but not same .. (Serupa, tapi tak sama)....’
Putra yang sempat mengalihkan lagi pandangannya dari panggung itu pun membatin.
‘Beside Gadis is become a Nun. Isn’t she? So that singer could not be her (Lagipula Gadis itu calon biarawati bukan? Jadi tidak mungkin kalau penyanyi itu adalah dia)’
Namun sejenak kemudian Putra menoleh lagi ke arah panggung, saat musik mulai terdengar dan alunan suara nyanyian merdu si penyanyi wanita yang mendayu – dayu juga terdengar tak lama setelahnya.
Aku Berpisah Di Teras Saint Carolus / Air Mataku Jatuh Berlinang ...
Betapa Sedih Dan Duka Hatiku /S’lama Ini Ia Merawat Sakitku ...
🎶🎶🎶
Putra menikmati lagu yang sedang dinyanyikan penyanyi wanita yang sedang bernyanyi dalam Pub tempatnya dan tiga orang saudara Putra di tempat tersebut.
‘Kenapa aku jadi memikirkan Gadis? ....’ Putra menyunggingkan senyum tipis. Matanya belum beralih dari panggung.
“Hey, Putra!” Panggil Damian yang sudah duduk disamping Putra, dan membuat Putra yang tadinya sedang menikmati dendang dengan suara merdu itu sedikit terkesiap.
Namun Putra membetulkan sikapnya lagi dan kembali menyesap minuman dari gelasnya.
“Hem?”
Putra menyahut singkat pada Damian.
“Looks like you put an attention to that singer, hem?”
“(Sepertinya kau tertarik pada penyanyi itu, hem?)”
Putra menarik sudut bibirnya kemudian terkekeh kecil pada Damian.
“I am not you (Aku bukan kau). Who can’t stand to women (Yang tak bisa melihat wanita)”
“Hahahahaha! .....”
“But I saw that you kind of, have interest when your eyes watched that singer”
“(Tapi kulihat kau, cukup tertarik saat melihat penyanyi itu)”
“Both of you can talk anything and I won’t care! (Kalian berdua silahkan berbicara apapun dan aku tidak akan memperdulikannya!)”
“Hahahahaha! .....”
“Seriously you don’t want to try to go known that singer, Putra?”
“(Kau benar tidak mau mencoba berkenalan dengan penyanyi itu, Putra?)”
“Not interested (Tidak tertarik)”
Putra menggeleng yakin.
‘Because I feel that I don’t have any interest to any woman now, but one.. (Karena aku merasa jika aku tidak memiliki ketertarikan pada wanita sekarang, kecuali satu ...)’
“.......”
‘Oh poor me.. once I feel that I fond of a woman, but she’s an aspiring nun (Betapa menyedihkan nya aku ini ... sekalinya aku menyukai seorang wanita, tetapi dia seorang calon biarawati)’
**
Putra menyunggingkan senyumnya saat memperhatikan betapa semangat Anthony yang sedang disiapkan oleh Bruna untuk pergi menemui Gadis lagi.
“Look how handsome you are, Anth.. (Lihat betapa tampannya dirimu, Anth)..”
Bibir mungil Anthony membentuk senyuman pada Bruna.
“Tha – nk you Aunt Bruna ... (Te – rima kasih Bibi Bruna)...”
__ADS_1
Bruna membalas senyuman bocah kesayangannya dan empat pria dalam keluarganya itu.
“You are very welcome my lovely Anth (Sama – sama Anthonyku sayang)”
Bruna mencubit gemas pipi Anthony.
“But I refused to hear you call me Aunt now (Tetapi aku menolak kamu memanggilku Bibi sekarang)”
Anthony memandangi Bruna dengan wajah polosnya.
“It is not fair you know? You call Uncle Putra with Papa now and you still call me Aunt (Itu tidak adil tahu? Kamu memanggil Paman Putra dengan sebutan Papa sekarang dan kamu masih memanggilku Bibi)”
Bruna berlagak merajuk dengan wajah yang di buat lucu.
“Th - en what should I call you? (La – lu aku harus memanggilmu apa?)”
“Hemm .. let me think.. (Coba aku pikirkan..)”
Bruna menopang satu tangannya dengan tangan yang satunya sembari mengetuk – ngetuk dagunya.
Anthony dengan sabarnya menunggu si bibi ceriwis itu berpikir.
“Ho – w about Madre? (Ba – gaimana dengan Madre/Ibu?)” Ucap Anthony.
Bruna langsung saja mengembangkan senyumnya lagi.
“Really?! You want to call me with Madre?! (Benarkah?! Kamu mau memanggilku Madre/ Ibu?!)”
Anthony mengangguk dan tersenyum.
“Mad – re means Mom in English right?”
“(Mad – re berarti Ibu dalam bahasa Inggris kan?)”
Bruna mengangguk antusias dengan raut wajah bahagia dan haru sembari membelai kepala Anthony.
“I – will call you Madre Bruna (Aku – akan memanggilmu Ibu Bruna)” Ucap Anthony dengan ketulusan di wajahnya.
Senyum bahagia Bruna merekah. “Thank you Anth (Terima kasih Anth)”
Anthony manggut - manggut sembari tersenyum pada Bruna.
“Th – en I will call Uncle Ad, with Padre (La – lu aku akan memanggil Paman Ed, dengan sebutan Padre/Ayah)”
“I can’t imagine how happy he is when he heard about this! (Aku tidak bisa membayangkan bahagianya dia saat mendengar tentang ini!)”
“Tacky! ... (Norak!)...”
“Tsk!” Cebik Bruna pada Putra yang menghampiri dirinya dan Anthony.
Putra terkekeh kecil.
“Shall we go now, Anth? (Kita pergi sekarang, Anth?)”
Putra bertanya seraya mengusap kepala Anthony.
Anthonypun mengangguk antusias. Membuat Putra menaikkan sudut bibirnya.
“You want me to carry you or you want to walk? (Kamu ingin aku menggendongmu atau kamu ingin berjalan saja?)”
“I - want to walk (Aku – ingin berjalan saja)”
“Alright then (Baiklah jika begitu)”
***
Bagi Putra kebahagiaan Anthony adalah diatas segalanya. Maka apapun permintaan anak semata wayangnya Rery dan Madelaine itu sekuat tenaga akan Putra kabulkan tanpa terkecuali.
Terlebih sekarang Anthony sudah perlahan kembali menjadi seperti Anthony yang dikenalnya sejak bayi saat kedua orang tuanya masih hidup, setelah bocah tampan nan menggemaskan itu sempat menjadi ‘autis’, karena traumanya yang menyaksikan kedua orang tuanya dengan kejam.
Tapi perlahan Anthony membaik, dia bahkan sudah mulai banyak berbicara dan sering tersenyum.
Dan itu karena seorang perawat cantik yang tidak sengaja ditemui Anthony saat bocah itu tersasar ke ruang perawat setelah selesai melakukan terapi dengan seorang Psikiater terkenal di Rumah Sakit tersebut.
‘I feel like Mommy hug me when Gadis hug me (Aku merasa seperti Mommy memelukku saat Gadis memelukku)’
Itu yang pernah Anthony katakan pada Putra, yang membuat hati pria itu terenyuh sekaligus mencelos mendengarnya.
Jika Anthony dengan sengaja atau tidak sengaja membahas tentang kedua orang tuanya, rasa bersalah Putra atas kematian Rery dan Madelaine akan lebih terasa menyelimutinya.
Maka itu untuk menebus rasa bersalahnya, Putra sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau Anthony akan menjadi prioritas Putra untuk seumur hidupnya, selain sumpahnya untuk membalas kematian Rery dan Madelaine pada
seseorang yang bernama Jaeden.
__ADS_1
“By the way Anth (Ngomong – ngomong Anth)”
Anthony langsung mendongak setelah ia berada didalam mobil dengan Danny yang menyetir seperti biasa, dan dirinya meminta untuk duduk di kursi penumpang depan dengan dipangku oleh Putra. Kini Danny, Anthony dan Putra sudah dalam perjalanan untuk menemui Gadis di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
“But promise me that you won’t be sad after I tell you about something that I want to tell (Tetapi janji terlebih dahulu kalau kamu tidak akan menjadi sedih jika aku mengatakan padamu tentang sesuatu yang akan kukatakan ini)”
Anthony mengangguk. “I – s it something bad? (A – pa kah sesuatu yang buruk?)” Tanya Anthony.
“No. But maybe you don’t like it (Tidak. Tetapi mungkin kamu tidak menyukainya)” Jawab Putra.
“W – hat is it, Papa Putra? (A – pa itu Papa Putra?)”
“Do you remember our first place before here? (Apa kamu ingat tempat kita sebelum disini?)”
“Y – es Papa Putra, I – remember (I – ya Papa Putra, Aku – mengingatnya)”
“All of us, will going back there.. (Kita semua, akan kembali kesana) ...” Putra memperhatikan raut wajah Anthony.
Putra berpikir Anthony pastinya akan sedih, jika dia harus jauh dari Gadis sekarang ini.
Tapi mau bagaimana, Putra sudah juga bersumpah untuk membalas dendam atas kematian Rery dan Madelaine.
Hal yang sedang Putra rencanakan dan susun dengan begitu matang, meski membutuhkan waktu yang sedikit lama.
Karena orang yang nantinya akan ia hadapi bisa dikatakan saat ini memiliki kekuatan jauh lebih besar daripada dirinya dan saudara – saudaranya yang merupakan orang – orang paling setia dari almarhum Rery.
Putra sadar kalau ia dan saudaranya bergerak sedikit lambat disebabkan oleh apa yang pernah terjadi pada Anthony.
Maka dari itu kini setelah Anthony berangsur pulih, dirasa Putra kalau dirinya juga sudah harus fokus pada sumpahnya untuk membalas orang yang bernama Jaeden.
Namun tidak juga ingin mengenyampingkan Anthony, meski tujuan Putra adalah untuk membalas dendam kedua orang tua bocah tersebut. Karena tujuan Putra juga bukan hanya itu, apa yang dimiliki Jaeden sekarang, yang dikuasai saudara angkat Rery yang kejam dan serakah itu adalah milik Anthony.
Dan Putra akan mengambilnya kembali untuk Anthony. Maka itu ia dan saudara – saudara angkatnya harus sudah mulai menjalankan setiap rencana yang sudah mereka susun dengan baik.
Selain tetap harus memperhatikan kepentingan Anthony seterusnya.
Sedikit berat tanggung jawab yang harus ditanggung Putra rasanya. Namun Putra tak pernah sedikitpun mengeluh atas hal itu.
“I am very sorry about this, but me and your other Uncles have works to do at there (Aku sungguh minta maaf soal ini, tetapi aku dan paman – pamanmu memiliki pekerjaan yang harus kami lakukan disana)”
“......”
“Are you mad of me? (Apa kamu marah padaku?)”
Putra memelas.
Anthony menggeleng. “N – o (Ti – dak) Papa Putra” Ucap Anthony.
Putra tersenyum. “Really, you don’t mad to me? (Benarkah, kamu tidak marah padaku?)”
Anthony mengangguk.
“Thank you, Anth”
“I – t means that I won’t meet Gadis anymore?”
“(A – pa itu artinya aku tidak akan bertemu Gadis lagi?)”
“Not really (Tidak juga)”
Putra kembali mengusap kepala Anthony.
“I will take you to meet Gadis. But, not quite often like now (Aku akan membawamu menemui Gadis. Tetapi, tidak sesering seperti sekarang)”
“.....”
“Is .. that okay for you? (Apa itu tidak apa – apa untukmu?)”
“I – t is okay (Ti – dak apa – apa) Papa”
“I feel relieve, then (Aku merasa lega, jika begitu)”
“Pa – pa...”
“Hem?....”
“Be – cause I won’t meet Gadis everyday anymore, can I ask you something? (Ka – rena aku tidak akan bertemu dengan Gadis lagi setiap hari, bisakah aku meminta sesuatu padamu?)”
Putra mengangguk yakin. “You can ask me everything (Kamu bisa meminta apapun padaku) Anth” Sahut Putra. “What do you want to ask (Kamu mau minta apa), hem?”
“A - sk Gadis to stay with me in our house here before we go ( Min – ta Gadis untuk tinggal bersamaku di rumah kita yang ada disini sebelum kita pergi )”
“Heeemm??????”
__ADS_1
***
To be continue..