
Happy reading...
*****
London, England ..
“Seems that they’re have finished (Sepertinya mereka sudah selesai) –“ Damian menggerakkan kepalanya dan menunjuk ke arah hotel yang sedang mereka perhatikan.
Putra dan lainnya menggangguk.
Kemudian Putra sedikit memberikan pengarahan pada kawanan yang akan menyertainya itu.
*****
“Make sure all of you still breathing after this.”
“(Pastikan kalian semua masih bernafas setelah ini)”
Putra berkata pada kawanannya sesaat sebelum ia memasuki mobil yang sedari awal memang Putra tumpangi.
*****
Beberapa menit disaat lobi hotel yang tadi diperhatikan oleh Putra dan kawanannya mulai terlihat ramai-dan terlihat juga wajah-wajah yang memang sudah jadi incaran Putra dan kawananannya itu, disaat itulah tanpa mereka yang sedang berada di lobi hotel itu sadari, jika Putra dan kawanannya sudah beriringan dalam mobil mereka di depan hotel tersebut.
Mata Putra sudah menyorot tajam ke arah orang-orang yang mulai bermunculan ke luar hotel yang sedari tadi sudah diintai oleh Putra dan kawanannya.
Tajam, namun juga nanar Putra melihat satu-satu orang yang keluar dari dalam lobi hotel dimana sebagian besar dari mereka Putra ketahui identitasnya, bahkan mengenal mereka dengan baik.
Pandangan mata Putra yang tajam itu, seiring tangannya yang sudah menggenggam senjata api, namun bukan senjata api milik Putra yang menjadi favoritnya. Melainkan sebuah pistol mitraliur dengan laras sepanjang 254mm, yang rata-rata tembakannya mencapai 600 peluru per menit.
Sungguh tepat untuk Putra gunakan dalam menghabisi orang-orang yang sudah ia targetkan dan sedang berada pada satu titik itu.
Yang kiranya, meski peluru ditembakkan dengan sembarang, tetap saja akan menyapa tubuh target jika tidak menghindar dengan sangat cepat.
__ADS_1
Putra melirik pada Devoss yang juga sudah siap dengan senjata api yang sama jenisnya dengan Putra, dimana Devoss juga melirik pada Putra.
“Give them sign (Berikan mereka sinyal), Jules---“ ucap Putra pada Jules yang juga tadi melirik Putra di saat yang bersamaan dengan Devoss.
Jules yang juga memegang senjata jenis yang sama dengan Putra dan Devoss itu lekas mengangguk, dan mempersiapkan senjatanya, lalu membuka lebar kaca jendela disamping kanannya seperti halnya Putra, Devoss.
Hanya Rus saja yang tetap berada pada posisinya sebagai pengemudi, dengan tidak memegang senjata, serta tidak membuka kaca mobil disampingnya seperti Putra, Devoss dan Jules.
Rus juga memiliki senjata api yang ia selipkan di bagian pinggang celananya, namun Putra memintanya untuk fokus pada kemudi agar laju mobil stabil dan Putra dapat menembak dengan tepat sasaran.
“Get in position!” seru Putra saat Jules telah mengeluarkan tangannya dari balik jendela mobil. “Now (Sekarang)!” seru Putra lagi saat Jules telah menggerakkan tangannya untuk mengkode kawanan mereka. “Traitors must die (Para pengkhianat harus mati)-“
Putra sudah dalam posisi siap menembak kala ia menggumam dengan sinis dan pandangan yang mendendam. Sorot matanya sudah berganti dingin selain tajam sekaligus nanar. Putra yang paling pertama menembak, setelah ia membidik target utamanya saat ini.
Lalu kawanannya menyusul dengan cepat memuntahkan kepingan – kepinga tajam dari pistol – pistol mereka.
Dan didetik berikutnya, suasana yang tadinya tidak begitu ramai-dimana hanya terdengar suara orang yang mengobrol, karena memang mereka yang sedang berjalan keluar dari lobi hotel itu beberapa sedang saling berbicara, kini mulai terdengar ricuh.
Putra menyungging miring karena ia sempat melihat target utamanya ada yang langsung tumbang terkena tembakan dari peluru yang ia muntahkan secara membabi buta. Selebihnya tak lagi Putra perhatikan karena mobil yang dikendarai Rus terus melaju saat ia, Devoss dan Jules fokus menembak.
Pria ataupun wanita yang tak sempat menghindar dari hujan peluru yang diarahkan Putra dan kawanannya pada mereka yang berada di depan lobi hotel itu, akan langsung tumbang di tempatnya masing-masing.
*****
Mobil – mobil yang dtumpangi Putra beserta para kawanannya itu, tidak berhenti saat mereka mulai menembaki sasaran mereka tanpa ampun, tanpa memilah – memilih lagi orang – orang yang mereka tembaki.
Dimana sepersekian detik, beberapa orang langsung jatuh terkapar bersimbah darah di tempatnya, lalu suasana semakin bising, karena suara senjata api mulai bersahutan tanpa jeda.
Suasana yang tadinya normal – normal saja di sekitar hotel dimana orang – orang yang nampak baru keluar dari pintu lobi dan sebagian besar telah hampir mencapai mobil mereka masing – masing, seketika langsung jatuh terkapar bersimbah darah di tempatnya.
Yakni mereka yang tidak sempat menghindar - dan memang sulit menghindar, karena serangan dari Putra dan kawanannya itu memang mendadak tertuju pada mereka tersebut. Namun begitu ada serangan balasan dari pihak yang menjadi target Putra, yang memang bersenjata.
“Cih!”
__ADS_1
Putra berdecih sinis, sambil ia sedikit merunduk, namun ia menghadap ke arah belakang dan memiringkan tubuhnya dan terus menembak untuk membalas serangan balasan yang datang dari pihak lawan.
Yang mana, tembakan balasan dari pihak lawan itu terjeda lama, karena kalah persenjataan dengan pihak Putra, meskipun pihak lawan tersebut lebih jumlah dari Putra dan kawanannya.
Namun memang, mereka yang tadinya lebih jumlah, tentu saja sudah tidak utuh lagi. Karena sebagian telah dipastikan tertembak dengan tidak hanya satu peluru saja yang bersarang di tubuh masing – masing mereka yang terkena muntahan peluru – peluru dari pistol Putra dan kawanannya.
Sementara itu, mereka yang tidak berada di area hotel yang sedang terjadi baku tembak dengan satu pihak yang mendominasi, langsung pergi kocar – kacir menyelamatkan diri mereka agar tidak terkena imbas dari baku tembak tersebut, demi juga tidak sampai terkena peluru nyasar yang bisa saja melesat ke tubuh mereka hanya dalam kedipan mata.
Suara desingan senjata yang berentet berikut semburan macam semburan api berwarna kuning keemasan membuat malam yang tadinya tenang itu bagai macam sebuah festival.
Ramai.
Namun keramaian dari desingan atas rentetan kepingan – kepingan tajam peluru yang dikeluarkan dari banyak senjata api berikut percikannya, membuat keramaian tersebut terasa mencekam.
“I wonder if there’s anyone of them were alive (Masih ada juga yang masih hidup diantara mereka)” celetuk Devoss kala ia dan Putra berikut Jules telah kembali duduk dalam posisi yang benar, karena sayup – sayup mereka mendengar suara desingan senjata masih bersahutan di belakang mobil yang Devoss tumpangi bersama tiga lainnya.
Putra menyungging miring, dengan masih menyiagakan pistolnya, meskipun mobil yang dikendarai Rus telah menjauh dari hotel tempat Putra mengeksekusi mereka – mereka yang menjadi targetnya.
“Consider they’re lucky (Anggap saja mereka beruntung)” sahut Putra.
“I wish our men behind can vanish their luckiness (Aku harap orang – orang kita di belakang dapat mengenyahkan keberuntungan mereka)”
Devoss berkomentar.
*****
Putra dan kawannya mengambil jalan terpisah selepas mereka selesai dengan misi mereka pada sebuah hotel dengan menembaki orang – orang yang sudah memang ditargetkan oleh Putra.
“You got company behind (Ada yang mengikutimu dibelakang)” suara Damian terdengar dari protofon yang kini sedang dipegang oleh Jules.
“**1*!” Putra dan Devoss sama – sama mengumpat, kala mobil mereka kemudian disapa oleh timah – timah panas dari belakang mobil mereka.
*****
__ADS_1
To be continue ..