LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 441


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia ...


“Ray!”


Suara Putra yang berseru memanggil seseorang saat dirinya telah berada di teras halaman belakang villa terdengar memanggil dengan tergesa.


“Tu – Tuan Putra –“


“Dimana Ray?” sambar Putra.


Karena yang kemudian datang dengan cepat ke hadapannya, bukanlah orang yang Putra panggil.


“A – da di pos depan , Tuan –“


“Panggilkan dengan segera.”


****


Satu anak buah yang menghadap Putra itu kemudian memundurkan langkahnya sambil meraih walkie talkie yang tersangkut di pinggangnya. Lalu bicara di alat tersebut. Sementara Putra masih berdiri di tempatnya. Dan tak seberapa lama kemudian, Pak Abdul datang menghampiri Putra. “Maaf, Tuan Putra...” ucap Pak Abdul.


“Ya?” jawab Putra.


“Ini salinan alamat yang anda minta tadi, Tuan –“


“Terima kasih Pak Abdul,” tukas Putra seraya meraih dengan cepat kertas dari tangan kepala pelayan villa Putra dan keluarganya itu. “Kau silahkan saja beristirahat, Pak Abdul...” ucap Putra kemudian.


Pak Abdul pun menjawab ucapan Putra padanya, dimana didetik berikutnya Putra memalingkan wajahnya dari Pak Abdul. Karena satu anak buah yang sebelumnya Putra panggil, telah datang menghadapnya.


“Iya Tuan Putra?” ucap sang anak buah yang telah datang ke hadapan Putra itu.


****


“Ada berapa orang yang bertugas saat ini?” Putra langsung melontarkan pada satu anak buahnya yang biasa dipanggil dengan nama ‘Ray’ itu.


“Ada lima orang lagi selain saya, Tuan.”


“Panggilkan mereka.”


“Semuanya, Tuan?” tanya Ray.


“Biarkan satu orang berada di depan.”


“Baik, Tuan Putra.”


****


Putra mengekori Ray yang kemudian bicara pada satu orang rekannya, dimana Pak Abdul yang ditinggalkan Putra di tempat pria itu berdiri setelah memberikan selembar kertas pada Putra yang kemudian berbalik dan melangkah masuk ke area dalam bangunan villa Putra dan keluarganya saat Putra telah berjalan menjauhinya.


“Mereka akan segera ke sini, Tuan.”


“Hem –“


****


“Siapa diantara kalian yang mengenal betul seluk beluk ibukota?”


Putra melontarkan pertanyaan, saat enam orang anak buah  telah ada di hadapannya.


Dimana Ray yang kemudian mengambil alih untuk menjawab. “Saya, Edil sama Bagus, Tuan.”


Putra lalu mengangguk sekali. Kemudian Putra menunjuk pada satu orang. “Kau, Bagus –“


“Saya, Tuan –“


“Dan kau, yang bernama Edil bukan?...”


Putra lalu menunjuk pada satu orang lagi.


“Iya, betul, Tuan... saya Edil. Siap laksanakan perintah,” jawab satu anak buah bernama Edil itu.


“Aku ingin kalian berdua pergi ke alamat ini,“ ucap Putra sambil menyodorkan selembar kertas yang langsung diambil dengan sopan oleh anak buahnya yang bernama Bagus. “Tahu daerah itu? –“


“Tau, Tuan –“


“Aku ingin kalian berdua pergi ke sana sekarang, ambil berkas dari seorang dokter yang bernama Ridwan yang tinggal di alamat tersebut, lalu segera kembali ke sini. Sanggup?”


“Sangat sanggup, Tuan – “


“Bagus. Segera berangkat kalau begitu –“


“Mohon maaf, Tuan Putra.” Anak buah Putra yang bernama Ray menginterupsi. “Biar saya saja yang melakukan tugas yang barusan Tuan Putra berikan pada Edil dan Bagus. Saya bisa mengendarai sepeda motor dengan sangat cepat, Tuan.”


“Aku ingin memberikanmu tugas yang lain,” jawab Putra yang menanggapi ucapan Ray barusan.

__ADS_1


****


“Kalian dapat berangkat sekarang.”


Putra berucap lagi pada dua orang anak buah yang sudah ia berikan tugas tadi, dimana keduanya sempat menahan langkah mereka kala Ray menginterupsi.


Dimana setelahnya, dua anak buah yang mendapat tugas pertama dari Putra langsung menyahut dan bergegas untuk melaksanakan perintah satu bos mereka itu.


Dan setelah dua orang itu pergi dari hadapan Putra, dirinya langsung bicara pada satu anak buahnya yang bisa dibilang adalah ketua dari para bodyguard yang bekerja pada Putra dan keluarganya.


“Ray,“ panggil Putra pada satu anak buahnya yang ditunjuk sebagai pemimpin para anak buah lain yang katakanlah bekerja sebagai pengawal pribadi bagi Putra dan keluarganya yang sekarang di negeri yang menjadi tempat tinggal utama mereka saat ini.


“Saya, Tuan.”


Ray langsung menyahut.


Dimana setelahnya, Putra langsung melontarkan pertanyaan pada Ray. “Kau tahu di mana tempat tinggal ibu dan saudari tiri istriku itu, bukan?”


“Sangat tau, Tuan –“


“Pergilah ke sana dan ajak beberapa orang bersamamu kemudian bawa dua wanita itu ke hutan di dekat area pabrik dan lakukan sesunyi mungkin. Kau paham maksudku bukan?”


“Paham, Tuan,” jawab Ray sigap.


“Bagus.”


“Ada yang lain lagi, Tuan?”


“Geledah seisi rumahnya, paksa mereka bicara tentang dimana meletakkan surat-surat berharga mereka dan bawa padaku berkas-berkas itu.”


“Baik, Tuan.”


“Sekali lagi, lakukan dengan sesunyi mungkin.”


“Siap, Tuan.”


“Pergilah sekarang.”


“Baik, Tuan.”


“Tetap bawa dua wanita itu ke hutan dekat area pabrik, ada atau tidaknya berkas-berkas seperti yang aku katakan tadi. Dan kabari aku jika kau sudah membawa mereka ke sana.”


****


“Putra –“


Damian dan Garret langsung menegur dan bertanya pada Putra yang berpapasan oleh keduanya yang tadinya hendak menghampiri Putra setelah Pak Abdul memberi laporan di ruang kerja utama.


“I want to kill ( Aku ingin membunuh ) –“


“Heu? –“


“Kill?... Who?...”


Arthur yang ada di belakang Damian dan Garret terkesiap setelah mendengar ucapan Putra yang setengah menggumam sambil pria itu berjalan menuju ruang kerja utama.


Sementara Garret menggumam lalu saling tatap tak mengerti dengan Damian.


Dan keduanya pun sama mengendikkan bahu tak paham. Kemudian langsung melangkahkan kaki dan mengikuti kemana Putra melangkah.


Arthur dan Devoss juga ikut mengekori Damian dan Garret yang menyusul Putra, dimana pria itu sudah masuk ke dalam ruang kerja utama.


****


“Ar,” ucap Putra saat dirinya melihat Arthur masuk ke dalam ruang kerja bersama dengan Garret, Damian berikut juga Devoss dan Pak Abdul di paling belakang.


“Ya?...” jawab Arthur dengan segera.


“Hubungi Dokter Ridwan, dan katakan padanya orang kita sudah berangkat ke tempatnya,” ucap Putra lagi dalam bahasa Indonesia, setelah mendengar sahutan Arthur.


“Okay.”


Arthur lantas cepat mengiyakan tanpa banyak tanya.


“Dev, prepare a car.”


Kemudian Putra bicara pada Devoss.


Pun memberikan satu tugas pada pria itu yang sama seperti Arthur, Devoss langsung mengiyakan perintah Putra tanpa banyak tanya dan langsung bergegas untuk melakukannya. Dimana saat Devoss sudah hendak melakukan apa yang ditugaskan Putra padanya, suara Putra terdengar lagi dan Devoss langsung paham maksud kalimat yang diucapkan Putra.


“The dark one –“


“Yes, Boss...” jawab Devoss sigap.


“What is it, Putra?...” Damian lantas bertanya, ketika Putra selesai dengan Arthur dan Devoss.


“That two f*ck*n’ women was poisoning Gadis ( Dua wanita keparat itu telah meracuni Gadis )”

__ADS_1


Putra lantas menjawab pertanyaan Damian dengan wajahnya yang nampak geram.


Lalu mulai bercerita detailnya, setelah ia menenggak minuman beralkohol dari botol yang sudah ia tuang sampai setengah gelasnya itu hingga habis dalam sekali tenggakan.


****


Kurang lebih satu jam kemudian, Putra kembali ke dalam kamarnya dan Gadis.


‘Semoga saja dia sudah tidur.’ Putra membatin, karena ia melihat ada Gadis yang berbaring miring di atas ranjang mereka.


Dimana Putra sebelumnya berpikir, jika Gadis yang Putra anggap sedang merajuk padanya selain sedang menjadi menyebalkan sikapnya di mata Putra kepadanya, mengikuti ucapannya untuk tidur bersama Anthony dan Bruna di kamar satu saudari Putra itu dan suaminya yang masih berada di Inggris.


****


“Putra?...” Putra yang berpikir jika Gadis sudah tidur itu, sedikit terkesiap ketika mendengar suara Gadis memanggil dari belakangnya yang hendak masuk ke dalam walk in closet dalam kamar mereka itu.


“Teruskan saja tidurmu...”


Putra kemudian menyahut datar dan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam walk in closet.


Gadis yang memang sudah tidur namun tidurnya tidak tenang itu, terbangun kala ia merasa mendengar suara pintu dan tak lama merasakan ada yang berjalan di dalam kamarnya.


Dimana saat Gadis membuka mata ia pun melihat sosok Putra yang berjalan lurus ke arah walk in closet mereka.


****


“Kamu... Mau pergi?...”


Gadis menyusul Putra yang nampak acuh tak acuh padanya ke dalam walk in closet mereka itu.


Kemudian langsung bertanya ketika Putra nampak meraih sepotong atasan yang bukanlah pakaian tidur.


Melainkan pakaian yang Putra ambil itu adalah sebuah baju lengan panjang berkerah tinggi dan berbahan agak tebal.


Sepotong baju yang memang tidak formal, namun Putra tidak akan juga memakainya untuk tidur. Makanya Gadis langsung mempertanyakan apakah suaminya itu hendak pergi.


“Ya.”


Putra menjawab singkat dan datar sambil mengganti atasannya.


“Malam-malam begini?...” tanya Gadis lagi.


“Hem.”


****


“Kemana?...”


Meski pertanyaannya sebelumnya hanya dijawab dengan deheman oleh Putra, Gadis tetap kembali melontarkan pertanyaan pada suaminya itu yang dalam pandangannya agak tergesa, selain Gadis merasa penasaran.


Namun kali ini Putra tak memberikan jawaban atas pertanyaan Gadis tersebut. Dan nampak sibuk membuka bagian lain lemari, kemudian mengeluarkan sebuah jaket berwarna hitam yang senada dengan kaos halter neck berlengan panjang yang sudah Putra kenakan, menggantikan atasan santainya.


Gadis menghela nafasnya agak frustasi karena merasa diabaikan oleh Putra. Namun ia tak patah arang untuk membangun komunikasi dengan Putra. “Putra...“ panggil Gadis lagi pada suaminya yang kini sedang setengah berjongkok dibagian lain lemari dalam walk in closet di kamarnya mereka itu.


Dimana tak lama kemudian Putra menarik sebuah kotak yang ada di sudut belakang lemari dan membukanya. Dan Gadis yang sebelumnya ingin mengajak Putra bicara tentang situasi mereka, jadi urung membahas hal yang sebelumnya ingin ia bahas dengan Putra itu, kala Putra sudah membuka kotak kayu yang sudah ada di hadapannya.


****


“A – ada apa ... Putra? ...”


Gadis lalu tergugu, ketika ia yang berdiri di dekat Putra yang setengah berjongkok itu, melihat apa yang ada di dalam kotak kayu yang sudah Putra buka.


Yang mana sebelumnya Gadis tidak pernah tahu tentang kotak tersebut.


Karena memang Gadis tidak pernah berani membuka bagian lain lemari dimana tidak ada barang-barang miliknya di sana, meskipun Putra tidak pernah memberi larangan pada Gadis untuk  mengutak-atik----istilahnya----apa yang ada di dalam lemari pada walk in closet mereka tersebut.


Putra tidak menjawab Gadis yang sebelumnya bertanya dengan tergugu setelah melihat isi kotak yang dibuka Putra. “Putra aku bertanya padamu,” tanya Gadis lagi yang kini dirinya sudah merasa was-was.


****


“Setelah urusanku selesai baru aku akan bicara padamu.”


Putra kemudian menjawab Gadis setelah menutup kembali kotak yang ia geser kembali ke tempatnya semula dan menutup lemari serta juga sudah menegakkan tubuhnya.


“Iya tapi ada apa? ... tadi ... saat aku mendatangi kamu ke ruang kerja ... sebelumnya ... jika aku tidak salah ... aku mendengar kamu menyinggung soal ibu dan Madya ...“


Gadis yang was-was selain takut karena Putra telah mengeluarkan sebuah pisau bersarung dari dalam kotak tersebut dan sebelumnya sempat ingin menyambangi Putra di ruang kerja utama namun urung karena Putra yang Gadis ketahui tidak sendirian dan Gadis dengar sayup-sayup ibu dan saudari tirinya disebut Putra secara tidak langsung, membuatnya otaknya jadi berpikir tentang sesuatu yang buruk.


Dimana hal buruk yang sedang Gadis pikirkan dan duga itu, kemudian diucapkan Putra dalam kalimatnya.


“Aku akan melenyapkan mereka.”


“A-apa? –“


“Jangan coba menghalangiku jika tidak ingin aku berlaku kasar padamu,” tegas Putra.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2