
Happy reading ....
*************
“Putra, sudah dulu ....” Gadis berucap manja pada Putra yang masih mengukungnya di dalam kamar mandi pada kamar pribadi mereka.
Setelah tadi hasil dari Gadis yang menantang Putra, saat suaminya itu memanggil Gadis untuk menggosok punggungnya dengan mengancam jika Gadis tidak segera datang, Putra akan membuatnya tidak bisa bangun sampai pagi, yang mana Gadis paham apa maksudnya.
Jadi Gadis menyegerakan dirinya untuk beranjak dari dalam bathtub, dan menghampiri Putra yang berada di bilik shower, yang mengatakan jika Gadis bermaksud menggodanya karena tampil polos tanpa malu-malu dihadapan Putra, yang mana itu adalah candaan Putra yang biasanya membuat wajah Gadis bersemu.
Tapi alih-alih bersemu, malah istrinya itu menantang diri Putra dan menyinggung keperkasaan Putra. Dimana hal itu membuat Putra selain gemas, tentunya tidak akan menyiakan kesempatan untuk dengan cepat menyerang Gadis tanpa berlama-lama lagi menunda.
Dan kini keduanya masih saling berhimpitan, dengan Gadis yang terduduk di lantai wastafel kamar mandi, serta belum Putra lepaskan, meski mereka sudah mencapai pada titik pelepasan.
“Siapa yang tadi menantangku, hem?” ucap Putra yang masih mengukung tubuh Gadis itu dan menatap lekat pada istrinya yang nafasnya baru saja kembali normal.
Gadis merungut. “Iya memang aku....” sembari tangannya masih melingkar di leher Putra yang tubuhnya sama polos dengan dirinya itu.
“Nah ya sudah kamu terimalah hasil darimu yang menantang keperkasaanku.” Potong Putra.
Gadis mencebik. “Iya itu kan aku lakukan agar kamu tidak marah padaku lebih lama....”
“Memangnya aku marah-marah padamu?”
“Ya tidak memang .... Tapi wajahmu datar saja tadi, membuat aku menjadi was-was ....”
Gadis mengerucutkan bibirnya, memasang wajah cemberut nan manja.
“Aku takut kamu masih marah padaku karena ucapanku semalam....”
Gadis melipat bibirnya, dan menatap Putra dengan tatapan memelas.
Membuat Putra menghela nafasnya sedikit berat, lalu menatap Gadis lebih lekat.
“Aku tidak marah padamu, Gadis. Aku hanya sedikit tersinggung dengan ucapanmu, yang terdengar jika kamu menyesal hidup bersamaku.”
Kemudian Putra menempelkan dahinya pada dahi Gadis.
“Aku mencintaimu Gadis, sangat .... Kamu, sama pentingnya seperti Anth untukku....”
Suara Putra sedikit lirih.
“Tapi membalas dendamku pada orang yang telah membunuh orang tua Anth yang mana adalah orang yang cukup berjasa dalam hidupku, saudaraku, kakak bagiku, juga satu hal yang penting untukku. Hal yang tidak mungkin aku batalkan ....”
Lalu Putra menarik dahinya yang tadi ia tempelkan di dahi Gadis.
“Jadi aku harap, kamu memahami itu, Gadis,” lanjut Putra. “Maaf, jika aku sedikit keras padamu semalam.”
Gadis kemudian menangkup wajah Putra. “Aku juga minta maaf atas perkataanku padamu semalam .... aku sungguh tidak serius dengan ucapanku itu.”
Putra pun mengangguk dan tersenyum kecil. “Jangan pernah berkata seperti itu lagi,” sahut Putra.
Gantian Gadis yang mengangguk, menanggapi ucapan Putra.
Dan didetik berikutnya, Gadis menempelkan bibirnya di bibir Putra.
“Apa ini sebuah ‘undangan’?” ucap Putra setelah Gadis mengurai ciumannya. “Aku anggap iya!”
Putra menarik tubuh Gadis lebih rapat dengan cepatnya, sebelum Gadis sempat menjawab. Dan Gadis sontak saja memekik, karena gerakan Putra yang tiba-tiba itu.
‘Tidak perlu menunggu besok pagi kalau dia sudah seperti ini!’ batin Gadis. ‘Habis ini aku rasa dengkul ku akan lemas, selain kakiku yang kram!’ rutuk Gadis kemudian. Masih didalam hatinya, karena mulut Gadis sudah lagi dibungkam Putra, seiring Putra menggerakkan pinggulnya.
“Put-ra-hh.... sebentar la-gi-hh waktu mak-han ma-lam eugh....”
Gadis yang bibirnya dilepas Putra sesaat itu memanfaatkan momen untuk mengingatkan Putra soal makan malam.
“Sebentar saja .... sudah terlanjur ....”
Dan selanjutnya, Gadis hanya bisa pasrah saja dalam kukungan dan hujaman Putra yang mendominasi permainan mereka yang kedua di dalam kamar mandi.
***
“Putra, Anthony masih tidur ....” ucap Gadis, setelah ia telah selesai dipacu Putra sebanyak dua kali di dalam kamar mandi. Dan kini Gadis serta Putra sudah membersihkan diri mereka, juga sudah rapih berpakaian.
‘Tahu begitu, tadi aku tidak buru-buru ....’ rutuk Putra dalam hatinya setelah mendengar ucapan Gadis yang tadi baru saja melihat Anthony di kamar bocah tampan tersebut, dan kini Gadis sudah menghampiri Putra yang masih berada di dalam walk in closet.
“Dibangunkan atau tidak?” tanya Gadis kemudian.
“Bangunkan saja ... Anth belum membersihkan dirinya, dan dia juga harus makan.” jawab Putra.
“Ya sudah, aku bangunkan Anthony dulu kalau begitu. Kamu duluan saja ke bawah,” ucap Gadis.
“Okay.”
***
__ADS_1
“Where’s Anth and Gadis? (Mana Anth dan Gadis?)....” Itu Addison yang bertanya pada Putra yang menghampiri dirinya dan Bruna yang sedang duduk di ruang santai keluarga yang berada di lantai bawah.
“Gadis just wake him up (Gadis sedang membangunkannya)”
Putra menjawab sekaligus mendudukkan dirinya di sofa single dalam ruangan tersebut, sambil menunggu anggota keluarga yang lain yang belum muncul.
“I will see if Gadis need help (Aku akan melihat jika Gadis butuh bantuan)” Bruna bangkit dari duduknya, Putra dan Addison mengangguk. Lalu Bruna melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar Anthony.
*
“If Anth, Gadis and Bru are come down already, you guys just start the dinner. Anth must be feel very hungry (Jika Anth, Gadis dan Bru sudah turun, kalian mulai saja makan malamnya. Anth pasti sudah merasa sangat lapar) ..”
Putra berucap.
Damian dan Garret juga sudah muncul dan duduk bergabung bersama Putra dan Addison di ruang santai keluarga yang berada di lantai bawah Villa mereka itu.
Danny yang sudah beberapa hari ini tidak menginap di Villa, karena sangat sibuk dengan restoran milik Putra dan keluarganya itu, saat ini telah datang kembali ke Villa.
“Hei, Dan!” sapa Putra, Addison, Damian dan Garret.
Danny pun menjawab sapaan ke empat pria yang sudah mengangkatnya sebagai bagian resmi dari keluarga mereka.
Kemudian Danny langsung pamit untuk pergi ke kamarnya yang memang sudah diadakan oleh Putra, sejak ia beserta yang lain sudah mengajak Danny untuk tinggal di Villa, dimana Danny menyetujuinya, meski sempat menolak karena sungkan.
“I want to call Vader and Hiz (Aku ingin menghubungi Vader dan Hiz)”
Putra kembali berucap pada Addison, Garret dan Damian selepas Danny sudah bergegas untuk pergi ke kamarnya, untuk sekedar berganti baju, karena Putra dan tiga saudaranya menyuruh ia untuk bergabung dalam makan malam.
Kemudian Putra pergi ke ruang kerja yang berada di lantai dua Villa, untuk menghubungi dua orang yang telah ia sebutkan tadi.
*
Putra sudah berada di dalam ruang rahasia, yang tersembunyi di dalam ruang kerja Villa. “Vader.....”
Ramone yang pertama Putra hubungi.
Putra dan Ramone menggunakan bahasa Belanda dalam percakapan mereka di telepon ini, bercampur juga dengan bahasa Inggris dan Indonesia, karena baik Putra dan Ramone menguasai tiga bahasa tersebut.
Putra juga fasih berbahasa Italia, namun Ramone tidak.
Jadi Putra dan Ramone berbicara dengan bahasa campur dari tiga negara yang Ramone kuasai itu saja.
“I’ll prepare everything soon, then (Akan aku persiapkan segalanya dengan cepat, kalau begitu)” ucap Ramone kala ia dan Putra telah sampai di ujung pembicaraan.
“No need to thank me (Tidak perlu berterima kasih padaku), Zoon...”
Ramone dengan cepat menyahut.
“Just make sure you and your brothers who’ll go with you\, kill that mot***fuc**r\, and comeback alive! (Pastikan saja kau dan para saudaramu yang ikut pergi denganmu, membunuh keparat itu, dan kembali dalam keadaan hidup!)”
“I will (Pasti)”
Putra berbicara dengan yakin.
“By the way, Vader. Can I ask one more favour from you? (Ngomong-ngomong Vader. Bisakah aku meminta tolong padamu untuk satu hal lagi?)...”
“Just tell me (Katakan saja padaku), Zoon....” tukas Ramone.
“If everything are good in Netherlands, would you please come and stay here while I’ll go? (Jika semua hal di Belanda dalam keadaan baik-baik saja, maukah kau datang dan tinggal disini selama aku pergi?) ..”
“For sure, yes! (Tentu saja!)”
“Thank you, Vader,” ucap Putra.
“As I said, no need to thank me! (Sudah aku katakan, tidak perlu berterima kasih padaku!)” gerutu Ramone dari seberang telepon.
Putra pun terkekeh mendengar suara Ramone yang terdengar sebal itu.
“Alright, alright...”
Putra mengiyakan saja ucapan Ramone, sebelum ia memutuskan panggilan telepon dengan ayah baptisnya itu.
Lalu Putra hendak menghubungi satu orang lagi setelah ia selesai berbicara dengan Ramone.
“Putra..” Namun urung, karena Putra mendengar Gadis memanggilnya.
“Sejak kapan kamu berada disitu?..” tanya Putra pada sang istri yang berdiri didekat pintu ruang rahasia tempat Putra berada sekarang.
“Baru saja.”
Putra yang sudah meletakkan kembali gagang telepon dan urung untuk melakukan satu panggilan lagi, kemudian berdiri untuk menghampiri Gadis.
“Benar begitu?” tanya Putra sembari merengkuh pinggang Gadis.
“Apa kamu tidak percaya padaku, Tuan Putra?” Gadis berucap manja, sembari melingkarkan tangannya di leher Putra.
__ADS_1
“Sedikit...”
Putra mengulum senyumnya.
“Tega sekali, tidak mempercayai istri sendiri.”
Gadis mengeluh sembari mengerucutkan bibirnya.
“Habis istriku ini suka menguping..” tukas Putra, sembari ia tersenyum geli.
“Salahkan dirimu, karena kamu adalah suami yang misterius, Tuan Putra.”
Putra mendengus geli.
“Kamu tahu?..”
“Apa? ..”
Putra mendekatkan bibirnya di telinga Gadis.
“Bagaimana kalau kita menyusul saja makan malam dengan yang lain?” kata Putra. Ada pikiran yang baru saja melintas di kepalanya.
“Kenapa memangnya?”
“Karena tiba-tiba aku ingin memakanmu”
“Heu?..” Gadis sedikit menarik kepalanya.
“Kita belum pernah mencobanya disini, bukan?”
“Mencoba apa?...”
Dengan polosnya Gadis bertanya.
“Hobiku, jika menyangkut dirimu.”
‘Oh Tuhaaann!!!! ...’ seketika Gadis bergidik, melihat seringai sang suami yang menghiasi ekspresi mesumnya saat ini.
“Bagaimana? Bagus bukan ideku?...”
Putra memainkan alisnya.
“Gila!”
“Ouch!”
Gadis mencubit Putra agar bisa melepaskan diri dari sang suami, yang mode mesumnya sedang menyala itu. Dan Putra sedikit mendesis sembari memegangi pinggangnya. Meski aslinya Putra tidak merasakan kesakitan sama sekali atas cubitan Gadis.
Tapi Putra juga terkekeh geli melihat Gadis yang sudah melepaskan diri darinya, dan berjalan dengan sangat cepat untuk keluar dari dalam ruang kerja.
“Gadis....” panggil Putra yang sudah dapat mengejar langkah Gadis yang tergesa, dibelakang istrinya itu. “Tidak baik menolak suami...” goda Putra.
“Masa bodoh!” sahut Gadis dengan cepat, sembari ia terus berjalan dengan cepat untuk menghindari Putra yang terkekeh dibelakangnya.
‘Gadis, Gadis... aku akan sangat merindukan ekspresimu yang seperti itu..’ Putra membatin, sembari tersenyum memandangi Gadis yang sedang berjalan cepat didepannya.
**
Seperti biasa setelah makan malam, para penghuni utama Villa akan duduk bercengkrama dan mengobrol santai.
Namun kali ini, mereka mengobrol di area teras halaman belakang. Sembari menemani Anthony yang sedang bermain kembang api, yang tadi Putra dan mereka yang pergi bersamanya ke Ibukota sengaja beli untuk Anthony.
Langit di atas Villa cukup cerah malam ini, dengan banyak bintang yang bertaburan disana. Meski hawa agak dingin, karena Villa mereka terletak di daerah dataran tinggi, namun tak menyurutkan mereka untuk duduk-duduk di teras halaman belakang Villa.
Walau juga, angin menyapa dengan sedikit mengagetkan kulit mereka yang sedang berada di halaman belakang Villa tersebut. Angin yang berhembus di sekitar Villa memang dingin, tapi bagi Putra dan keluarganya itu tak terlalu mengganggu mereka yang terbiasa dengan udara Eropa yang tentunya jauh lebih dingin dari udara di sekitar Villa.
****
Sepasang suami istri yang sempat bertengkar kemarin malam, dan sudah berbaikan sekarang, kini sudah sedang berada di kamar Anthony, diwaktu yang sudah cukup larut, dikarenakan Anthony asik bermain kembang api di halaman belakang.
Dan bocah tampan itu tidak mau berhenti, sampai semua kembang api habis dia nyalakan.
Setelahnya Putra meminta Anthony untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat, karena waktu sudah cukup larut.
Namun ya itu, Anthony merajuk karena ia bilang tidak mengantuk. Jadi Putra memikirkan cara untuk membujuk Anthony untuk mau pergi ke kamarnya, karena Putra juga ingin berdiskusi dengan para saudaranya.
Karena waktu pembalasan dendam mereka pada pria yang bernama Jaeden sudah hampir tiba.
****
To be continue....
Halo readers, jangan lupa dukungan kalian untuk karya ini yah.
Thank you, dan jangan lupa bahagia.
__ADS_1