
Happy reading .....
***************
Inggris,
Langit di atas sebuah kapal kargo masih sama gelapnya. Suhu bumi masih berada di level rendah di area sekitar kapal tersebut.
Butiran kristal yang turun dari atas langit yang menaungi kapal tersebut hanya turun titik per titik dengan jeda.
Namun angin musim dingin tetap terasa menyapa tubuh-tubuh yang dibalut pakaian tebal di atad sebuah kapal kargo yang sedang bergerak perlahan itu.
Hening sesaat suasana di bagian buritan sebuah kapa kargo tersebut. Hanya suara isakan seorang bocah saja yang terdengar, selain ratapan dari seorang pria dewasa setelah sebelumnya ia berteriak dengan begitu kencang.
Keheningan sesaat itupun pecah ketika sebuah suara bariton seorang pria yang sedang berdiri memandangi hamparan perairan luas di depannya terdengar.
“How the way you make Anthony drowned ( Bagaimana kau membuat Anthony tenggelam )?”
Adalah Putra yang berbicara itu.
“No, No! Please ----“
Lalu jawaban lirih terdengar dari orang yang Putra sedang pandang dengan datar dan dingin. Yang mana lirihannya Putra tak pedulikan. “You tied all over his body so tight, didn’t you ( Kau mengikat seluruh tubuhnya dengan sangat ketat, bukan begitu )?”
Putra tersenyum miring kemudian.
“Tied him ( Ikat dia )” ucap Putra setelahnya.
“NO!” teriak Pria yang sedang Putra ajak bicara itu.
Jaeden.
Langsung berteriak sembari mencoba bangkit dari tempatnya, setelah Putra menurunkan perintah untuk mengikat anak lelakinya selepas Putra mengingatkan Jaeden bagaimana pria itu pernah mencoba untuk membunuh Anthony dengan cara yang sungguh keterlaluan, selain tanpa perasaan.
***
“I’ll take you for a night diving, boy ( Aku akan membawamu untuk pergi menyelam di malam hari, nak )” ucap Putra pada anak lelaki Jaeden yang sudah diikat bagian atas tubuhnya oleh anak buah Putra itu.
“NOO!!” teriak Jaeden dengan sangat histeris. Dengan dirinya yang segera bergerak untuk pergi ke tempat Putra yang sudah hendak akan membawa anaknya pergi. “Noo....”
Jaeden melirih kemudian.
“Please...”
“I’m a man with a words ( Aku pria yang memegang kata-katanya )”
Putra juga berkata dikala Jaeden memohon dalam lirihannya itu, sambil memandang frustasi ke arah Putra yang sudah berdiri di depan anak lelakinya yang di jaga oleh anak buah Putra dan para saudaranya itu.
“That's why, when I said I’ll make you pay for what have you done to Rery and his little family... then I’ll do it ( Itulah kenapa, saat kukatakan aku akan membuatmu membayar atas apa yang sudah kau lakukan pada Rery dan keluarga kecilnya... maka akan aku lakukan )”
Putra tersenyum miring.
__ADS_1
“You made Rery saw Madelaine dead in front of his eyes, then you already felt it ( Kau membuat Rery melihat Madelaine meninggal di depan matanya, kau sudah merasakannya tadi )...”
***
“And what you have did to our beloved boy, Anthony. I’ll do the same thing to your son ( Dan apa yang sudah kau lakukan pada bocah kesayangan kami, Anthony. Aku akan melakukan hal yang sama pada anakmu )...”
Lalu Putra mengayunkan langkahnya dengan pasti.
“NOO!!...” Jaeden langsung berteriak histeris. “LET HIM GO!!...”
Jaeden masih berteriak histeris.
“RERY’S SON IS ALIVE! ( ANAKNYA RERY ITU HIDUP! )” teriak Jaeden lagi.“SO LET MY SON GO! ( JADI BIARKAN ANAKKU PERGI! )”
Putra tersenyum miring sekali lagi, lalu menjeda langkahnya sejenak.
“Anthony was ever comma, got trauma ( Anthony pernah koma, mendapat trauma )”
Putra berucap.
“And your son haven’t felt that yet ( Dan anakmu belum merasakannya )...”
Putra menambahkan.
“Saw his mom being shooted, has done. But being drowned, not yet ( Melihat ibunya ditembak, sudah. Tapi ditenggelamkan, belum )...” kata Putra lagi.
Putra melanjutkan langkahnya kemudian.
Sementara anak lelakinya memberi perlawanan dengan menahan tubuhnya yang hendak dibawa pergi oleh anak buah Putra sambil kembali menangis sedih dan juga histeris sambil memanggil-manggil ayahnya.
***
“JAY!!”
“FATHEEERRRR----“
“Let-him-go... Please... I beg on you ( Biarkan-dia-pergi... Tolong... Aku mohon padamu )...”
Rintihan Jaeden yang memohon dengan putus asa terdengar, bahkan pria itu sudah meneteskan lagi air mata. Dipadu dengan tangisan dari anak lelaki Jaeden yang tersedu sedan, kala ia dibawa pergi lebih menjauh lagi dari ayahnya secara paksa.
Menyedihkan memang melihatnya.
Namun tak sedikitpun Putra gubris.
Putra terus saja melangkah menjauh dari buritan untuk menaiki sebuah kapal kecil yang memang telah disediakan.
Ditemani oleh Damian, Putra dan tiga anak buah mereka menaiki kapal kecil tersebut dengan membawa anak lelaki Jaeden.
Yang kepergian Putra bersama lima lainnya itu, di ratapi Jaeden dengan lirihan sampai mereka menghilang dari pandangan Jaeden. Dimana pria itu mungkin sedang menyesali perbuatannya hingga kehilangan istri di depan mata dengan cara meninggalnya yang tragis, lalu kini anaknya akan ditenggelamkan di perairan dalam.
Sama, seperti saat itu Jaeden menyuruh salah satu sekutunya yang telah juga dihabisi Putra untuk menyingkirkan Anthony dengan menenggelamkan bocah tersebut di perairan dermaga Ravenna.
__ADS_1
Menyisakan Jaeden yang kini hanya bisa berandai-andai.
Andai dia tidak buta dengan ketamakan hingga tidak sampai membantai Rery dan istrinya, walau untuk istri Rery sendiri tidak Jaeden pernah niatkan untuk menghabisinya, atas dasar ia juga memiliki keserakahan perasaan yang merasa mencintai juga istri Rery seperti ia mencintai istrinya.
Andai saja waktu itu dirinya membawa saja anak lelaki Rery lalu ia tawan saja dan tidak berusaha membunuhnya, pasti apa yang terjadi pada anak dan istrinya tidak akan terjadi. Jika saja Rery dia biarkan hidup tenang di Ravenna bersama keluarga kecilnya, keluarganya sendiri tidak akan mengalami tragedi ini.
Iya, ‘andai saja’.
Dua kata yang mengiringi pemikiran dan kata hati Jaeden sekarang.
Yang sayangnya percuma, sekalipun penyesalannya menumpuk tinggi dalam dada.
Tamak dan pongahnya kala itu, tidak sampai memikirkan sebuah kalimat bijak yang berbunyi,
Diatas Langit Masih Ada Langit.
Jaeden yang merasa ‘tinggi’ saat itu karena telah lebih dulu menguasai ‘kerajaan’ ayah Rery di Inggris, tidak sampai memikirkan tentang seorang Putra yang ia ketahui bernama Putra Patrick Vinson Junior.
Orang yang ia ketahui hanyalah seorang anak kerabat ayah Rery yang ditempatkan secara khusus di sisi Rery setara dengan pengawal pribadi, yang pada kenyataannya, keberadaan seorang Putra di sisi Rery adalah lebih dari itu.
Sangat jauh lebih dari seorang pengawal pribadi.
Yang kurang lebih setelah setengah jam kemudian kembali muncul di buritan kapal utama, dengan beberapa orang yang bersamanya.
Hanya satu saja yang tidak ada yang Jaeden lihat datang bersama Putra.
Yakni anak lelakinya. Dengan Putra yang kini telah berada tepat di hadapan Jaeden dan berucap,
“Let’s see if your son as lucky as Anthony, but I doubted it. Because I get him inside the water of the ocean, not the dock ( Kita lihat apa anakmu seberuntung Anthony, tapi aku meragukannya. Karena aku memasukkannya ke dalam perairan lautan, bukan dermaga )”
Yang Putra katakan dengan begitu datar dan dinginnya sambil ia menatap pada Jaeden yang melayangkan pandangan tajam ingin membunuhnya. Dimana Putra menanggapinya dengan senyuman miring saja, selain hatinya senang melihat wajah Jaeden yang nampak menderita.
Lalu berikutnya Putra berkata, “How does it feel? ( Bagaimana rasanya? )----“
“Batard ( Bjingan )”
Dimana ucapan Putra ditukas Jaeden dengan umpatan.
Lunglai, namun tatapan Jaeden begitu tajam. Berkeinginan besar untuk membunuh Putra yang nampak santai saja setelah menghabisi anaknya dengan begitu tega.
Jaeden dendam pada Putra, sebagaimana Putra yang dendam padanya.
Yang tak peduli akan ada sebutan manusia tidak berperasaan tersemat jika berita tentang dirinya yang menembak seorang wanita tepat di kepala yang bersangkutan lalu menyingkirkan seorang bocah lelaki dengan menenggelamkannya di perairan akan tersebar.
Peduli setan.
Putra hanya ingin hidup tenang.
***
To be continue....
__ADS_1
Terima kasih masih setia.